Kekatolikan Warga Masyarakat Nias

December 8, 2008 by  
Filed under Buletin, Opini

(dimuat di “WARTA KEUSKUPAN SIBOLGA”)

P. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Hantaran:

Topik ini lebih bersumber dari pengalaman masa kecil hingga usia sekarang.  Artinya, bukan suatu kajian cermat tapi lebih berupa ekspresi yang sudah tertanam di hati dan membekas dalam memori personal. Maksudnya, untuk lebih kenal sejarah katolisitas di Nias, buah kebaharuannya dan perjuangan ke masa depan. Mungkin saja bisa diangkat menjadi bahan permenungan dalam masa yubileum Prefektur / Keuskupan Sibolga (Nop. 2008-Nop. 2009).

  1. DICARI-CARI DAN DITUNGGU-TUNGGU

Benar catatan misionaris Kapusin Pionir Jerman di Nias bahwa warga Niaslah yang mencari-cari dan menjumpai para pastor Gereja Katolik. Kalau dicatat bahwa tahun 1939 mulai menetap Pastor di Nias dengan datangnya Pastor Burchardus van der Wijden dan kemudian Pastor Ildefonsus van Straalen, itu terjadi karena mereka diundang datang. Tentu ada penghubung sebelumnya yang makin jarang disebut-sebut dalam sejarah. Tatkala misionaris tiba, berbondong warga setempat menjumpai pastor. Mereka dipelopori oleh tokoh-tokoh adat dan masyarakat yang kemudian menjadi katekis yang amat berjasa. Begitu terus berlangsung sampai sekarang ini.

Stasi baru terbuka berawal dari sejumlah tandatangan kepala keluarga yang meminta dan malah mendesak pastor datang ke desa mereka. Ini berarti para gembala tidak mencaplok tetapi menampung aspirasi yang menggebu yang terkandung di hati warga. Biasanya aspirasi sedemikian dijawab dengan memenuhi kriteri tertentu. Kemudian katekis diutus untuk melihat komunitas baru dan tinggal beberapa waktu bersama mereka. Kalau ada tanda baik, mereka dihimpun belajar doa-doa harian. Menyusul penghibahan tanah yang elok dipandang tanpa ganti rugi untuk tempat “losu” (kapel darurat) yang dibangun atas swadaya warga sendiri. Mungkin sesudah 3-6 bulan baru pastor datang berkunjung untuk resmi menerima para ketekumen baru. Minimal sesudah 1 tahun kemudian mereka dibaptis dan menjadi anggota Gereja Katolik. Mendirikan gedung gereja permanen tergantung situasi. Kalau komunitas itu meyakinkan, ada harapan bertahan, akan mampu berkembang dan ada personil yang ditokohkan maka direstui pembangunan gereja beton. Hitung-hitung 50% biaya ditanggung oleh umat, yang lainnya ditanggung keuskupan. Memundak bahan bangunan di jalan setapak hingga ke puncak gunung memaksa kita geleng-geleng kepala. Saya belum bisa sebutkan indahnya hidup sebagai warga Gereja Katolik yang dirindukan oleh warga pedalaman Nias sehingga mau dan rela bersusah-payah.

  1. BUAH-BUAH KEBAHARUAN

Hal-hal yang kentara sangat baru bagi komunitas Katolik Nias:

1) Kerinduan menerima sakramen

Sakramen sudah diimani sebagai momen pertemuan pribadi dengan Allah sendiri. Allah yang mengampuni dialami lewat Sakramen Tobat; Allah yang hadir dalam derita dialami dalam Sakramen Pengurapan; Allah yang memberi tugas pengutusan didengar dalam Sakramen Krisma; Allah yang memberi makan dialami dalam Sakramen Ekaristi; Allah yang meridoi dan menguduskan hidup berkeluarga dialami dalam Sakramen Perkawinan; Allah yang memberi kelahiran baru dialami dalam Sakreman Baptis. Kunjungan pastor ke stasi sangat ditunggu karena imam akan kembali menghadirkan kebaharuan atas nama Allah. Kunjungan rutin sang gembala sekali 3 bulan sudah masuk agenda komunitas desa maka baiknya jangan pernah batal.

2) Devosi Jalan Salib dan Doa Rosario

Devosi membangkitkan citarasa keanakan, kemesraan dan keterpaduan perasasn hati. Mengikuti jalan salib meragakan detik-detik yang paling kritis dalam hidup Yesus Juruselamat dunia. Mencoba merasakan kesengasaraan itu dan menjaga diri agar dalam derita pun bisa bersikap seperti sang Guru Kehidupan. Setiap hari Jumat pada masa Prapaskah Umat Katolik di seluruh Nias tepanggil mengikuti ibadat Jalan Salib. Dengan berdoa Rosario warga Gereja mencoba mengalami kasih keibuan Bunda Maria. Biar terjadi seperti di kota Kana, ibu Maria menyampaikan kesesakan hati kepada Sang Mahapengasih yang kuasa mengubah air menjadi anggur berkwalitas. Umat menerima Maria sebagai ibu, yang sering disapa dan diagungkan perannya untuk keselamatan dan bantuannya dimohonkan. Sayang rasanya bahwa doa rosario hanya digalakkan oleh para pengurus pada bulan Oktober saja dan kelupaan yang bulan Mei. Menjelang ajal, agak umum dibisikkan kepada sipenderita untuk menyebut-nyebut nama ibu Maria.

3) Panggilan menjadi Biarawan-biarawati dan imam

Belum terbilang banyak, tetapi sungguh sesuatu yang tak terbayangkan dalam tatanan adat bahwa ada warga beriman Katolik yang sengaja dan sukarela tidak menikah, menundukkan kehendak kepada komunitas religiusnya dan tidak mengejar dan berpegang pada harta kekayaan. Tidak terpikirkan warga adat namun diterima. Ada lagi yang mau melulu hidup bagi Allah dan sesama lewat panggilan hidup sebagai imam, gembala umat. Setiap paroki dan malah stasi makin lama makin merindukan agar yang terpanggil untuk hidup khusus ini ada juga dari komunitasnya. Orangtua dan sanak keluarga secara rohani berbangga bahwa mereka telah mempersembahkan seorang dari keluarganya untuk kemuliaan Allah. Harapan bahwa mereka kerap didoakan tentu bisa diandaikan. Memang benar kalau dihitung, lebih banyak yang sudah memulai tetapi termasuk sedikit yang bertahan hingga akhir hidup. Saya sangka motivasi awal tidak sungguh membekas dan daya tahan terhadap tubrukan situasi kurang terbangun utuh. Bagaimanapun juga umat di Nias perlu lebih gencar berdoa untuk panggilan jenis khusus ini.

4). Bertugas tanpa imbalan jasa

Suatu yang sungguh baru bahwa para pengurus Gereja di tengah masyarakat tidak pernah diberi imbalan uang tapi melulu penugasan dan pengabdian tanpa pamrih berperiodik 3 tahun. Mereka mengayomi komunitasnya, hadir dalam suka dan kedukaan warga Gereja, menganimasi hidup kerohanian dan menghadirkan kebersamaan dan damai di stasi. Mereka dipilih resmi oleh umat dan diteguhkan oleh pimpinan paroki. Biasa merekalah yang korban bila pastor dan rombongannya berkunjung ke stasi dengan menyediakan penginapan dan jamuan. Kerasulan awam sudah dihidupi sebelum teks Konsili “Ad Gentes” diterbitkan.

5) Kunjungan Uskup suatu peneguhan

Sebagaimana halnya di Daratan Tapanuli, kunjungan uskup untuk memberkati gereja atau melayankan Sakramen Krisma adalah pesta iman warga Katolik Nias. Ketemu gembala agung disambut dengan pesiapan diri mulai dari perayaan liturgi, jamuan, penyambutan secara adat dan pemberian kenang-kenangan. Saya duga ada sebagian koleksi Musem Pusaka Nias berasal dari kenang-kenangan umat kepada Bapak Uskup Sibolga. Terakhir ini tatkala berkunjung ke Paroki Alasa beliau diberi seekor musang gemuk nan lincah. Kalau dari wilayah Selatan biasa dihadiahkan hasil ukiran batu atau ukiran kayu. Uskup berkunjung, bagi umat suatu peneguhan bahwa mereka anak keuskupan.

6). Penggunaan air kudus dan gambar-gambar kudus

Umat Nias hingga ke pelosok Pulau Tello dan Hibala sangat yakin akan berkat Tuhan yang mengalir lewat perecikan air kudus. Dalam banyak kesempatan dipergunakan, termasuk menghalau segala ketakutan dengan perecikan air kudus sekeliling rumah. Orang sakit juga banyak yang merasa dikuatkan lewat air kudus. Gambar, salib dan patung-patung biasa dipampang di rumah. Simbol-simbol ini menyimpan di dalamnya rahasia-rahasia iman.

7) Keagungan perlengkapan liturgi dan gedung ibadat

Rumat tradisonal Nias yang menjulang tinggi menandakan keagungan. Tugu batu di halaman rumah menggambarkan kerinduan akan suatu kemuliaan. Dalam konteks itu gedung ibadat yang agung, kompleks pastoran/susteran yang kokoh, pakaian liturgi Gereja Katolik yang berwarna-warni dan peralatan misa yang kuning-menguning rasanya memenuhi selera warga hingga kepedesaan. Ada rasa senang menyaksikan keagungan dan kemuliaan.

8). Orang kudus pelindung

Sedari awal karya misi dan semoga untuk seterusnya orang yang dibaptis diberi nama pelindung seorang kudus. Biasanya imam sendiri yang menetapkannya, tapi sudah ada perkembangan bahwa pemimpin komunitas sendiri dan malah orangtua yang memilih pelindung yang difavoritkan. Nama pelindung melengkapi nama panggilan yang ditetapkan oleh keluarga. Urutan yang cocok: nama pelindung, baru menyusul nama panggilan di rumah. Memang belum banyak berbicara nama pelindung ini karena tidak dirayakan.

3. PERJUANGAN HINGGA AKHIR

1) Dualisme iman dan keseharian

Dalam masyarakat masih kentara sekali mental dualisme: fa’alowalangi (hidup selaku anak Allah di surga) dan fa’aniha (kehidupan selaku insan yang gampang terluka dan malah mau berdosa). Agaknya hidup belum diformat sepenuhnya dalam bingkai keilahian tetapi tetap menyelinap (untuk tidak berkata menguasai) gelora kekalutan manusiawi seperti tidak mau malu, tidak kuasa menerima perendahan, tidak ingin disepelekan, tidak rela ditolak dll.

Akar dosa egoisme, primordialisme, golonganisme dan kepala batu masih mengakar dalam-dalam. Kesembilan buah-buah roh (Gal 5:22-23) agaknya belum berdaya mengubah kehidupan harian. Perdebatan yang lama untuk menetapkan pertapakan gereja atau tengkar-tengkir sewaktu pemilihan pengurus komunitas adalah tanda-tanda manusia lama yang seyogianya sudah sejak menjadi anggota Gereya sudah menghidupi jiwa manusia baru. Mungkin kebaharuan jiwa harus menjadi topik kotbah para gembala dan pengurus Gereja untuk seterusnya.

2) Kekurangpedulian sekaligus kekurangpamahan

Kurang peduli atau kurang paham akan hukum Gereja, liturgi dan ajaran iman (besar-kecil) terkait terutama dengan perkawinan, pertanda patokan adat dan pertimbangan kemanusiaan lebih mendominasi keputusan-keputusan penting.

Memang hampir tiak ada imam yang mampu menjelaskan setuntas-tuntasnya seluk beluk hukum perkawinan dalam Gereja Katolik yang begitu kompleks. Satu, sebab hukum itu akarnya tatanan romawi yang kadang tabrakan dengan perkawinan yang dimungkinkan oleh adat dan selera kemanusiaan. Kalau diurut permasalahannya terletak pada: pengumuman 3 kali menjelang nikah, hari pernikahan dan tahun liturgi, kelengkapan surat-surat, keharusan menghadap imam di paroki, pemahaman akan inti pernikahan / hidup berkeluarga, pernikahan yang berkaitan darah dan berkaitan dengan kekerabatan (menikah dengan ibu tiri, misalnya). Kedua, kami para pastor juga kadang terkesan kaku dalam penerapan hukum Gereja yang tidak dikupas habis di bangku kuliah. Ke masa depan, baik semua memahami bahwa pernikahan Katolik terikat pada hukum ilahi, hukum kodrat, hukum Gereja dan hukum sipil. Bagaimana menerapkannya pada warga yang terdidik sejak kecil dengan hukum adatnya yang termasuk unik?  Baiknya semua pihak menghadapi tiap kasus dengan tenang berkepala dingin sehingga terhalau kejengkelan dan kekurangenakkan perasaan. Dalam masyarakat Nias memproses suatu rencana pernikahan seumpama masuk jejaring yang kait-mengait, melibatkan banyak pihak, butuh perundingan yang berlarut dan biaya kerap di atas kemampuan riil. Proses ini perlu dimengerti dan diterima. Usul, bila ada kasus, baik sekali bagi kita para pastor untuk berkonsultasi dengan para pastor misionaris yang sudah mahir memilah-milah dan tentu dengan pihak keuskupan di Sibolga.

4. MEMFORMAT KEKRISTENAN SEJATI

Selaku seorang imam, sering saya sangat terharu melihat umat Katolik Nias yang dengan takwa berlutut di bangku gereja. Semua, kaum wanita dan pria dewasa begitu juga anak-anak. Sementara doa syukur agung mereka tahan terus berlutut. Tanpa kecuali miskin-kaya, yang berpendidikan, mahasiswa maupun orang yang sangat tak berwawasan memberi intensi ke altar, karena ada ujud yang mohon diberkati Tuhan Allah dan diinginkan campur tangan Allah sendiri. Tak jarang terjadi mereka kirimkan intensi ke pastoran, kepada Suster Klaris di Gunungsitoli, bahkan kepada Bapak Uskup untuk disatukan dalam kurban Kristus sewaktu perayaan ekaristi.

1). Doa dalam keluarga (nyanyi dan berdoa kadang baca teks alkitab) pagi dan malam syukur-syukur masih tersisa. Terkurasnya waktu untuk bekerja, bersekolah dan bermasyarakat menyebabkan makin menghilang kebiasaan saleh itu sekarang ini. Sebelum punah betul harus dicarikan penyelamatannya.

2). Partisipasi dan kehadiran dalam kedukaan warga Gereja dan sesama warga desa harus digalakkan. Terkadang tetangga sebelah rumah berduka, ada yang nongkrong di rumah sendiri, seakan mau berkata “peduli amat… itu urusanmu.” Hidup bersama sebagai saudara sangat sering ditandaskan Tuhan Yesus (“kamu semua adalah saudara” Mat. 23:8; 18:21) dan oleh surat-surat Rasul Paulus (“saling mengasihi sebagai saudara” Rm. 12:10; 2 Tes. 3:15; 1 Tim 6:2).

3). Kesediaan menyumbang dan beramal, membagi yang ada dari diri perlu juga ditingkatkan di masa depan. Ada kesan, warga Katolik Nias agak kikir menyumbang untuk sesuatu kegiatan baik kerohanian maupun kemasyarakatan (“Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” 2 Kor. 9:7; Kis. 20:35).

4). Panggilan untuk hidup menggapai kesempurnaan seperti dipraktekkan oleh para kudus sudah waktunya ditanamkan. Ringkasnya, menjadi pria dan wanita kudus harus menjadi dambaan dalam hati, jiwa dan cita warga Gereja di Nias di seluruh Kabupaten dan Kota (Kab. Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat dan Kota Gunungsitoli). Topik ini pun bisa ditampilkan dalam katekese dan hamili. Mungkin masih butuh ratusan tahun ke depan tetapi sejak kini disemaikan dalam hati umat oleh siapa saja. Berpangkal pada Injil Tuhan dan surat-surat para Rasul (Mat. 5:48; 1 Tes. 3:13) yang telah terwujud dalam Gereja sepanjang masa, panggilan untuk hidup kudus dan tak bercela harus dikobarkan dan dibiarkan menyala dalam batin umat Katolik. Pada waktu Reuni Tahunan, baik sekali bila dihadiahkan kepada para Lektor dan DPPI buku Kisah Hidup Orang-orang Kudus yang sudah tersedia dalam bahasa Indonesia.

5). Satu lagi harus diformat untuk ke depan yakni semangat misioner. Keluar dari daerah sendiri untuk menjadi saksi Kristus Tuhan di tempat lain malah di Negara lain perlu masuk agenda kehidupan umat. Kaum muda Nias haruslah siap sedia menghadirkan dan memberitakan Kristus di tempat jauh. Jadilah rasul-rasul kecil seperti para katekis kita di masa misionaris kita ditawan Jepang (1942-1950). Begitu kekatolikan kita akan kentara sungguh mengakar.

Penutup

Identitas dan karakteristik umat Katolik Nias harus ditanamkan, dikelola dan disuburkan hingga berbuah dan akan menyenangkan hati Allah terutama, dan juga hati sesama manusia. Kalau Musem Pusaka Nias berjuang melestarikan jati diri etnis maka umat Allah bersama para gembala dan biarawan/tinya berjuang terus agar terpatri mendalam citarasa kekatolikan walau kita hidup di atas pulau yang suka bergoyang.

Wasalam, Postnovisat Kapusin Gunungsitoli (8 Des. 08)