Peroleh Izin Operasional

July 20, 2009 by  
Filed under Bidang Ilmu, News

STP Dian Mandala Gunungsitoli Keuskupan Sibolga telah mencatat sejarah panjang. Sudah selama 17 tahun mengelola pendidikan pastoral tingkat akademis bagi calon-calon Guru Agama Katolik, Katekis dan petugas pastoral. Tetapi jauh sebelum itu pendidikan tenaga kegerejaan ini sudah berawal di PGAK (Pendidikan Guru Agama Katolik) Dian Mandala, yang mulai beroperasi pada tahun 1979. Pimpinan masa itu antara lain: P. Paulinus Manaõ OFMCap, Sr.Theresia Hondrö SCMM, Sr. Bernadet Chandra SCMM, dan Bpk. Drs. Wilhelm Ndruru (alm). Sejalan dengan peraturan pemerintah, maka PGAK ditiadakan dan diganti dengan Institut Pastoral Dian Mandala Filial IPI Malang. Sejarah singkatnya sebagai berikut:

1.   Diterbitkan Surat Izin Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama RI No. G/PP.03.2/128/91, tanggal 2 Februari 1991, yang ditujukan kepada Rektor Institut Pastoral Indonesia (IPI) Malang untuk membuka Filial Program Diploma Dua (D2) dan Diploma Tiga (D3) Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik di Sekolah, mulai Tahun Kuliah 1991/1992 pada Keuskupan Sibolga – Sumatera Utara.

2.     Surat Keputusan Rektor IPI, Nomor: 11 Tahun 1991 dan Nomor: MLG-01/SK-DIP/IPI/III/1991, tanggal 18 Maret 1991, perihal Pembukaan Filial Program Diploma Dua (D2) dan Program Diploma Tiga (D3) Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Tinggi Pastoral Gunungsitoli – Nias – Keuskupan Sibolga.

3.     Surat Keputusan Uskup Sibolga, No: 039/KS – SK/91, tanggal 20 Maret 1991, tentang Pembukaan Filial IPI-Malang, Program D2 dan D3 Keuskupan Sibolga, cq. Gunungsitoli. Pimpinan pertama adalah Bpk. Drs. Wilhelm Ndruru (alm) dan menyusul kemudian Bpk. Zeno N. Halawa, S.Ag.

4.     Keputusan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Katolik Departemen Agama RI No: Dj.IV/Hk/005/42/2004 tentang Pemberian Ijin Penyelenggaraan Kuliah Kelas Jauh (KKJ) Program S1 Sekolah Tinggi Pastoral (STP-IPI) Malang di Nias Keuskupan Sibolga. Pimpinannya Bpk. Zeno N. Halawa, S.Ag hingga Februari 2008, menyusul dipimpin oleh P. Dr. U. Marinus Telaumbanua, OFMCap sejak tanggal 5 Maret 2008.

5.     Keputusan Ketua STP-IPI Malang Nomor 05/K/IPI/IV/2004 tentang Pembukaan Kuliah Jarak Jauh (KJJ) Program S1 Jurusan Katekese Pastoral di Nias Keuskupan Sibolga.

Jadi, sudah sejak tahun 1991 ada pengalaman berharga dalam hal seluk beluk pengelolaan dan pengaturan mekanisme Perguruan Tinggi Agama Katolik Swasta (PTAKS) yang pada tahun 2004 diberi nama Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala Gunungsitoli, Filial STP-IPI Malang di Nias.

Mendesaknya kebutuhan besar akan tenaga guru agama Katolik dan tenaga pastoral lainnya, tersedianya fasilitas yang memenuhi persyaratan akademis, sehat dan lengkap, tersedianya tenaga kependidikan dan tenaga administrasi yang tetap dikembangkan, adanya dukungan positif dan menggembirakan dari banyak pihak, adanya mahasiswa yang merasa terpanggil menjadi pelayan gerejani, adanya kemampuan finansial untuk pengelolaan yang baik dan kontinu maka dapat disimpulkan:

  • Sangat layak didirikan STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga dalam tahun akademik 2008/2009, yang berarti tidak lagi filial STP-IPI Malang.
  • Program yang dimohonkan adalah program Strata 1 (S1) jurusan Pastoral Kateketik.
  • Izin yang dimohonkan meliputi: Program S1 Reguler, Program KKK (Kuliah Kelas Khusus) dan Program KJJ (Kuliah Jarak Jauh). Ketiga program ini akan tepat menjawab kebutuhan masyarakat banyak, khususnya kebutuhan 630 sekolah (SD, SMP, SMA dan PT) se wilayah Keuskupan Sibolga. Implikaisnya tenaga pendidik pun akan berijazah S.Ag (Sarjana Agama).

Hari Selasa tanggal 26 Agustus 2008 Dirjen Bimas Katolik Depag RI Bpk. Drs. Stef Agus bersama Ibu dan rombongan datang ke Gunungsitoli untuk memenuhi permohonan Keuskupan Sibolga. Melalui SK Nomor Dj.IV/Hk.00.5/137/2008 Bapak Dirjen atas nama Pemerintah memberi izin penyelenggeraan pendidikan tenaga pastoral kegerejaan di STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga. Bapak Uskup Mgr. Dr. Ludovicus Simanullang, OFMCap. melalui Surat Keputusan Nomor 015.1/KS-SK/2008 telah menetapkan unsur pimpinan STP DM yakni: P. Dr. U. Marinus Telaumbanua, OFMCap (Ketua), Zeno N. Halawa, S.Ag (Puket I), Feronika Zai, S.Ag (Puket II), dan Stefan Y. Zebua (Puket III). Syukur kepada Tuhan Allah kita dan ribuan terimakasih kepada semua pihak.

Interaksi Guru dan Siswa

July 20, 2009 by  
Filed under Karya Tulis, Opini

(Sibarudin Giawa)

Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala (STP-DM) Gunungsitoli Keuskupan Sibolga menyajikan sejumlah mata kuliah yang membentangkan interaksi antara Guru Agama dan siswa. Di antaranya: Ilmu Didaktik Metode Khusus, Ilmu Kateketik, Evangelisasi dan semua Matakuliah seputar Katekese. Selain itu dalam mata kuliah Kristologi dipaparkan cara mengajar yang istemewa dari Yesus Kristus Sang Juruselamat, yang patut dan harus kita teladani dalam mewartakan Sabda Allah melalui katekese atau pengajaran agama di sekolah.

Hubungan Guru Agama dan Siswa

Guru Agama dan siswa melakukan kegiatan yang berbeda dalam proses pengajaran. Seorang guru atau katekis berusaha mengajar, mendidik dan membimbing para siswa atau pendengarnya. Bidikan yang mau dicapai adalah agar mereka terbentuk menjadi manusia yang sungguh dekat dengan Sabda Allah dan akhirnya menjadi pewarta sabda Allah kepada sesama. Seorang siswa berusaha meraih untuk dirinya pengetahuan demi  pembentukan dirinya melalui pengalaman bersama guru, orang tua dan lingkungan sekitarnya. Siswa berusaha mengenal dan mengimani Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus dan Roh-Nya yang menghidupi manusia, sehingga karena kekuatan Roh Allah seorang siswa mampu meneruskan pewartaan sabda Allah kepada sesama manusia.

Singkatnya Guru Agama atau Katekis dan siswa bersama-sama membangun tali rantai sabda Allah yang hidup dan berkesinambungan tanpa putus untuk selamanya. Bangunan tali rantai sabda Allah itu akan kokoh dan menjulur ke seluruh dunia. Guru agama mempersiapkan diri sebelum mengajar dan kemudian melakukan kegiatan mengajar dan mendidik dengan tujuan membentuk pribadi siswa menjadi manusia yng memiliki iman, pengharapan dan cinta kasih. Sebab orang yang mamiliki iman, harapan dan cinta kasih dalam dirinya Allah meraja. Cahaya kemuliaan Allah bersinar dalam dirinya dan memberi terang bagi sesama. Kehadiran Allah dalam dirinya tampak malalui kata-kata, sifat, pandangan yang mendominasi perbuatan sehari-hari. Inilah yang dimiliki dan dibagikan oleh seorang pengajar pendidikan agama kepada pendengarnya. Sebab seseorang tidak mungkin memberi sesuatu yang tidak ia miliki.

Kesenjangan

Guru Agama atau Katekis diharapakan mampu mengajar dan mendidik siswa untuk sampai pada pengenalan dan cinta akan Allah. Guru Agama yang memiliki spiritualitas yang benar akan mampu mengajar dan mendidik siswanya menuju pada tujuan yang diharapkan oleh Gereja. Inilah titik akhir yang mau dicapai oleh pengajar dalam pendidikan agama atau katekese. Untuk itu dalam proses pengajaran agama ada 3 aspek yang perlu diperhatikan yakni: konyitif, afektif dan operatif. Proses pengajaran pendidikan agama akan mengalami kesenjangan apabila seorang guru agama tidak menghidupi sabda Allah yang diwartakan melalui pendidikan agama atau ketekese; apabila tidak memiliki profil seorang pewarta sabda Allah yang terbukti dalam kehidupan moral dan spiritualitas katekis; apabila tidak mengetahui dan memiliki tujuan yang hendak dicapai pada setiap pewartaan; apabila sulit menyesuaikan bahan dan metode katekese atau pengajaran agama kepada para pendengarnya menurut sikonnya; apabila kurang menampakan rasa persahabatan dan apabila melupakan komponen kognitif, afektif dan operatif siswa.

Harapan dan Refleksi Seorang Guru Agama

Seorang Guru Agama atau Katekis mengemban tugas mulia dan suci. Tugas mulia itu membawa dan menuntut orang supaya hidupnya terpuji di hadapan Allah dan manusia. Seorang Katekis atau Guru Agama seharusnya menyadari bahwa tugas itu adalah suatu panggilan yang diterima dari Tuhan dan mengetahui apa yang mau dicapai dalam tugas itu.

Jadi seorang Guru Agama atau Katekis bukan hanya menyampaikan materi pengajaran (asal selesai materi) tetapi terutama membimbing atau mengarahakan para pendengarnya menuju pribadi yang mamiliki iman, pengharapan dan cinta kasih. Secara bersahabat siswa diajak untuk membuka diri menerima Yesus lewat pengajaran dan profil dari para pengajarnya.

Baiklah seorang Guru Agama atau Katekis memiliki rasa persahabatan kepada sesama terutama kepada siswa atau para pendengarnya baik pada proses pengajaran maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab ia sendiri mengemban tugas mewartakan cinta kasih yang dari Kristus.

Melalui paparan di atas kita sebagai pelayan sabda Allah diajak untuk melihat apa yang perlu dibenahi dan ditingkatkan untuk mencapai tujuan pewartaan. Untuk itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Sejauh mana saya telah menghidupi sabda Tuhan? Sejauh mana saya telah mendalami Kristus dalam mengemban tugas pewartaan sabda Allah? Apakah saya memiliki komitmen dalam mencapai tujuan pewartaan sabda Allah atau saya melaksanakannya hanya karena tugas (pokoknya selesai tugas dan tidak peduli akan situasi siswa), sehingga komitmen cenderung mengutamakan gengsi atau harga diri sebagai guru yang ingin ditakuti dan disanjung oleh siswanya?

Dalam bidang studi Kristologi Yesus memberi teladan agung kepada kita tentang bagaimana menjadi seorang guru yang baik. Seorang guru memiliki pribadi yang terpuji, patut diteladani dan bahkan menjadi figur bagi banyak orang. Yesus mengajak kita untuk mewartakan sabda Allah ke seluruh dunia agar semua orang menjadi murid-Nya dan melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya ( bdk Mat. 28:19-20). Dengan demikian kita melakukan dan mewartakan kehendak Tuhan dalam tugas dan bukan kehendak manusia.

Akhir kata semoga tugas kita sebagai pelayan sabda Allah dilandasi oleh contoh teladan Yesus Kristus Putra Allah, sehingga terang Roh Kudus menerangi hati semua orang dan damai sejahtera meraja di seluruh dunia.

Mengembangkan Persekutuan Hidup Beriman Umat Kristiani yg Semakin Bersumberdaya

July 20, 2009 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis

(Stefan Y. Zebua, S.Ag)

Ungkapan berswadaya, berswasembada, dan berswakarya diartikan agar setiap orang atau setiap kelompok mampu memenuhi kebutuhannya sendiri serta mampu berdiri di atas kaki sendiri. Juga berkemampuan untuk menciptakan usaha menuju kepada kemandirian.

Nada yang sama, sebenarnya Gereja telah suarakan sangat lama dan umat dimotivasi terus agar semakin mandiri. Gereja sebagai suatu institusi sejak Konsili Vatikan II telah melegitimasikan agar umat Allah semakin turut aktif dan semakin mengkonkritkan keterlibatannya dalam karya-karya kerasulan Gereja.

Keikutsertaan umat Allah dalam berbagai karya kerasulan Gereja adalah wujud konkrit dan tanda suatu persekutuan umat beriman yang terus mengalami perkembangan. Perkembangan ini lebih tajam dapat dipahami apabila umat beriman mampu dan dengan penuh kesadaran turut ambil bagian dalam berbagai kegiatan hidup menggereja dan aktip terjun  dalam kancah perjuangan masyarakat umum.

Tetapi harapan dan idealisme Gereja ini mengalami dinamika pasang surut, bahkan kalau boleh dikatakan lebih banyak surutnya. Persekutuan umat Allah dalam kenyataannya masih berjalan di tempat, belum menjadi suatu gerakan yang betul-betul dipahami sebagai suatu kebutuhan mendesak dan merupakan cita-cita bersama.

Apabila demikian kenyataannya, maka tentu ada masalah, ada kendala, ada kesulitan yang harus dicari jalan keluarnya. Romo Mangunwijaya Pr pernah berbicara tentang “Umat Akar Rumput” (UAR). Ungkapan ini menunjuk pada Umat Allah sebagai Basis. Umat Allah sebagai basis dipahami sebagai subyek, sebagai pelaksana dan dasar nyata dari seluruh program pembinaan yang diprogramkan secara bersama dalam persekutuan umat beriman.

Untuk menuju suatu persekutuan hidup beriman yang dicita-citakan, yang hidup dan berkembang, yang akhirnya menjadi suatu persekutuan hidup penuh dinamika dan persekutuan hidup yang mewartakan, maka perlu dikaji secara terus menerus metode dan cara yang tepat. Tujuan pengkajian agar persekutuan hidup yang ada menjadi milik bersama umat, persekutuan yang menjadi tanggungjawab bersama umat, persekutuan hidup yang diperjuangkan secara bersama oleh umat. Atas cara demilian ungkapan: dari umat, oleh umat dan untuk umat bukan hanya sebagai suatu slogan belaka, tetapi menjadi suatu kenyataan.

Persekutuan hidup yang hendak diberdayakan dan dimandirikan, pertama-tama harus disadari bahwa di dalamnya ada tiga pilar sentral yang harus dipahami, yakni: kebutuhan (need), masalah (problem) dan kemampuan (potency). Ketiga pilar ini akan menjadi katrol dalam usaha pemberdayaan, agar program-program kegiatan yang akan dijalankan mampu menjawab apa yang diharapkan sesuai dengan situasi konkrit yang sedang dihadapi.

Ada tiga pilar yang perlu dimengerti, dipahami dan disadari oleh umat beriman. Untuk tulisan kami berikut ini, kami akan menyajikan pilar yang pertama, yakni : Kebutuhan (need).

KEBUTUHAN

Dalam bahasa Kamus, kebutuhan mengandung pengertian sebagai berikut: sesuatu hal yang diinginkan oleh seseorang guna dipenuhi dalam hidupnya yang akhirnya mendapatkan kepuasan batin. Pengertian ini memberi muatan, bahwa setiap manusia dalam kodratnya yang normal memiliki berbagai keinginan atau kebutuhan. Dengan adanya kebutuhan, maka setiap manusia akan berupaya dengan berbagai usaha agar kebutuhan yang dimaksud dapat terpenuhi, yang terkadang dengan bantuan orang lain. Misalnya seorang anak, yang punya kebutuhan yang harus dipenuhi, namun si anak tidak dapat memenuhinya sendiri, maka harus melalui campur tangan orang lain yakni orangtua. Atau kita manusia dewasa memiliki kebutuhan yang tidak dapat kita upayakan sendiri, maka harus melalui bantuan pihak lain. Begitulah terus menerus dalam proses pemenuhan kebutuhan.

Kembali kepada konteks bagaimana usaha berbagai pihak dalam Gereja dalam memenuhi kebutuhan umat beriman? Tentu dalam konteks sebagai umat beriman yang mandiri. Pertanyaan kita ialah: Apakah kebutuhan umat yang mendesak untuk dipenuhi saat ini, dan bagaimana cara pemenuhannya, serta peluang apa yang ada untuk itu?

Dalam refleksi, kami memberi sumbangan pemikiran tentang kebutuhan yang mendesak di tengah-tengah umat sekarang ini, agar sungguh berdaya dan bermanfaat. Kami melihat beberapa hal, yaitu :

a.     Mengenal umat

Mengenal umat artinya tahu persis siapa umat, di mana domisilinya, bagaimana keadaan ekonomi umat, keadaan lingkungan umat, letak geografis teritorialnya dan lain sebagainya. Untuk dapat masuk di tengah-tengah mereka dan dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan apa yang dibutuhkan dalam persekutuan umat beriman, maka perlu suatu penelitian akan kebutuhan tersebut dengan tujuan agar apa yang akan diberikan/diprogramkan dalam pengembangan hidup beriman kristiani sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang sedang dirasakan dan dibutuhkan.

Pelayanan-pelayanan yang diberikan sebagai suatu wujud tanggungjawab dalam mengembangkan iman umat, dan dalam pengembangan persekutuan hidup beriman, sesungguhnya sudah baik dan berjalan dengan lancar. Tetapi,  perlu dikaji secara terus menerus. Bila secara riil nyata umat kita di teritorail tertentu masih berjalan di tempat, hal ini harus mengundang perhatian kita untuk mencari penyebab. Maka, solusi apa yang akan kita tawarkan? Misalnya: kita memprogramkan gerakan Katekse Umat. Kita tahu bahwa katekese umat penting dan sangat berguna dalam penguatan iman umat. Dalam proses katekese umat, umat saling membagi, saling berkomunikasi dengan tujuan agar satu dengan yang lain dapat menimba pengalaman-pengalaman iman yang dialami. Tetapi pertanyaan kita sekali lagi adalah: bagaimana proses itu sendiri, sudahkah sesuai dengan apa yang didambakan oleh umat? Oleh karena itu perlu analisis, perlu penelitian, barang kali metodenya perlu dimodifikasi atau lebih variatif. Tentu jawabannya kembali dari situasi lapangan yang sudah dan sedang kita jalankan. Menyimak hasil PKKI IX tahun 2008 di Manado “Katekese dalam Masyarakat yang tertekan”, kita ditantang bagaimana berkatekese bagi masyarakat yang sedang tertekan dalam ragam bentyuknya. Tertekan sangat luas, dan dalam sudut pandang apa kita lihat?

(Bersambung …).

Mengapa Berharap dan Kuatir?

July 16, 2009 by  
Filed under Buletin

Sahabatku …
Mengapa engkau kuatir akan hidupmu ?
Hidup ini sungguh indah
Jika kita mau  menikmatinya

Dan hidup ini akan suram
Jika kita tidak mau menerima kenyataan

Mengapa berharap …
Kalau semuanya belum pasti dan belum jelas
Apa yang bisa kita lakukan hari ini
Harus dapat diterima dengan baik.

Kuatir ? Mengapa mesti kuatir ?
Apakah yang bisa dilakukan dengan kekuatiran itu ?
Ia tidak bisa mengatasi timbulnya masalah
Ia justru membuat pikiran itu terganggu
Sehingga malam pun, kita tidak bisa tidur lagi.

Kekuatiran akan memenuhi dengan kesuraman
Meskipun katanya sinar matahari itu indah dan terang
Namun akan membuat keningmu berkerut
Dan membuat emosimu semakin naik.

Hidup kita menjadi tidak nyaman dengan orang lain
Karena kekuatiran yang selalu menghantui
Sahabatku …
Jika kekuatiran tidak bisa dihilangkan,
Berdoalah … sahabatku
Sebab doa dapat mengubah banyak hal
Dan dapat memperbaharui hidup kita.

Ia baik untuk memberi kelegaan
Dan untuk memberi tidurmu yang damai di malam hari
Ia membuatmu tersenyum,
serta membuat hidup dengan orang lain
Jadi nyaman dan penuh kasih

Mengapa berharap pada suatu jalan
Yang tidak pasti dan tidak jelas ?
Dan mengapa kuatir akan masa depan ?
Kekuatiran tidak akan bisa melakukan apa-apa.

Nikmatilah hidup ini
Injil berpesan : “Taburkanlah dalam hatimu dengan setia
Dan gembiralah  dalam karya yang telah anda mulai”.

“Because, life is beautiful “

Oleh : Pentinar Aritonang
( Mahasiswa Tingkat I )

Pembangunan Gedung Baru STP Dian Mandala

July 16, 2009 by  
Filed under News

Pada tanggal 29 Mei 2008, telah diadakan acara doa untuk memulai pelaksanaan pembangunan Gedung Baru STP Dian Mandala Gunungsitoli di lokasi Gedung SD Mutiara lama. Hadir pada saat itu, Panitia Pembangunan Gedung Baru STP Dian Mandala, P. Servas Dange, SVD mewakili Keuskupan Sibolga, Pak Vincent Lase mewakili BRR, Ketua DPRD Kab. Nias, ibu yang mewakili Darma Wanita Kab. Nias, Pak Petrus sebagai kontraktor yang akan mengerjakan pembangunan gedung STP ini, Pastor Paroki Santa Maria BPB Gunungsitoli serta dosen dan beberapa orang mahasiswa STP Dian Mandala.

Mengawali acara ini, Ketua Panitia Ibu Lenny Baeha menyampaikan kata sambutannya, dengan tetap mendukung dan meneruskan rencana pembangunan gedung STP Dian Mandala ini, yang dulu tertunda pada tahun 2004 yang lalu. Biaya yang dibutuhkan dalam pembangunan gedung ini, disampaikan oleh Ketua, sebesar 3M. Dana yang sudah ada masih belum cukup untuk itu. Maka Panitia mengharapkan partisipasi dari BRR, pihak Keuskupan dan Pemerintah Kabupaten Nias. Semua rencana ini tentu akan berhasil jika kita menyerahkannya ke dalam tangan Tuhan Yang Maha Esa, ujar beliau.

Diteruskan setelah itu, kata sambutan dari Pak Vincent Lase mewakili BRR. Beliau mengatakan bahwa sekitar tahun 2004-2006 yang lalu, kami menunggu proposal masuk dari Panitia Pembangunan Gedung STP ini, tetapi tidak tahu apa sebabnya maka sudah terlambat untuk mendapatkan bantuan tersebut. Dalam program BRR, pendidikan merupakan salah satu prioritas. Dan ini harus terus didukung. Tentu diharapkan hal ini akan masuk dalam program 2009. BRR selalu membantu dan mendukung pembangunan ini. Beliau mengatakan juga, bahwa semua ini terlaksana berdasarkan iman akan Tuhan, dan berharap semoga nantinya gedung ini akan bermanfaat dalam rangka mendukung pendidikan di Nias, menghasilkan SDM yang berkualitas, serta sistem pendidikan yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas calon-calon pemimpin masa depan.

P. Servas Dange, SVD mewakili Keuskupan Sibolga turut menyampaikan kata sambutannya. Pertama-tama beliau mengatakan rasa syukur kepada Tuhan bahwa rencana pembangunan Gedung STP Dian Mandala dapat terlaksana pada saat ini. Ucapan terimakasih juga kepada Panitia yang telah merancang pembangunan gedung baru STP Dian Mandala. Beberapa pesan dari Keuskupan yaitu:

-     Menurut keyakinan Keuskupan, gedung ini pasti kokoh, kuat dan indah. Tetapi harapan kita juga isi yang dihasilkan di dalamnya juga bagus. Mahasiswa yang dihasilkan adalah orang-orang beriman yang berbobot bagi Gereja dan masyarakat.

-     Menghimbau semua pihak untuk berpartisipasi mensukseskan pembangunan gedung baru ini, baik dari pihak pemerintah , lembaga legislatif, BRR dan pihak-pihak lainnya.

-     Pihak Keuskupan juga tidak lepas tangan untuk membantu kelancaran pembangunan Gedung ini. Keuskupan terus mendukung.

Ketua STP Dian Mandala P. Marinus Telaumbanua, OFMCap juga turut memberikan kata sambutannya dalam acara ini. Beliau bangga dan bersyukur atas terlaksananya  pembangunan gedung STP ini. Dan akan berusaha semakin meningkatkan kualitas yang akan dihasilkan  lembaga ini ke depan. Sebagai informasi, langkah awal dalam rencana kemandiriran STP ke depan ini, terbukti dengan diterimanya berkas-berkas kita di Jakarta. Semoga apa yang kita rencanakan ini akan segera terealisasi dengan baik, demi kemajuan sekolah ini dan demi untuk cita-cita kita bersama. Ditambahkan juga, supaya kontraktor melihat kembali denah gedung tersebut, karena belum termuat ruang perpustakaan. Karena, perpustakaan merupakan jantung sebuah Perguruan Tinggi. Ucapan terimakasih juga kepada Panitia dan semua pihak yang telah mendukung suksesnya pembangunan gedung baru STP Dian Mandala. Semoga Tuhan memberikan berkatnya kepada kita semua.

Dipertengahan acara ini, Pak Petrus (kontraktor) memaparkan denah Gedung Baru STP di atas tanah seluas 1,323 m², dan bertingkat atau berlantai dua (2).

Kata sambutan terakhir oleh Ketua DPRD Kabupaten Nias, menyampaikan dukungan atas pelaksanaan pembangunan gedung STP Dian Mandala ini, demi kemajuan pendidikan kita di Nias ini. . Rencana ini sudah dimasukkan dalam RAPBD Kabupaten Nias tahun ini. Kita berdoa semoga pembangunan ini dapat terwujud dan dapat berguna bagi Gereja dan juga masyarakat.

Karena pelaksanaan pembangunan  gedung baru ini didasarkan pada iman akan Yesus, maka acara ini ditutup dengan ibadat bersama yang dipimpin langsung oleh P. Agustinus Supardi, Pr sekalugus memberikan berkat kepada kontraktor dan para pekerja, supaya mereka dapat melaksanakan pekerjaan ini dengan baik dan terhindar dari segala bahaya dan kecelakaan.

Pembangunan Gedung Baru STP Dian Mandala ini, sekali lagi akan terlaksana dan terwujud berkat kasih dan kekuatan dari Allah, sehingga kelak dapat menghasilkan pekerja pastoral yang siap pakai, bagi Gereja dan masyarakat. Semoga Yesus menuntun dan membimbing kita dalam pelaksanaan pembangunan gedung baru ini.

Will You Still Love Me Tomorrow ..?

July 14, 2009 by  
Filed under Buletin, Mahasiswa

Oleh : Ermina Waruwu – Mhs Tingkat IV

Akankah kau tetap mencintaiku besok? Pernyataan ini merupakan ungkapan hati yang tidak pernah berhenti setiap hari, dalam usaha mewujudkan masa depan yang terbentang di depan. Masa depan sungguh tak bisa diketahui persis seperti apa wujudnya. Semuanya nampak lelap dalam impianku, impianmu dan impian kita semua.

Kita pasti mengetahui dan memahami bahwa waktu terus berjalan. Dan setiap kali waktu itu kita renungkan, setiap kali pula kita merenungkan makna kehidupan ini. Karena waktu tidak akan pernah kembali. Kehidupan jasmani dan rohanipun ikut berjalan bersama dengan waktu. Menghidupi waktu itu, kita sambil mengharapkan masa depan yang kian menyenangkan kita mengalami hidup bersama Kristus dalam diri sesama. Dalam tugas dan karya kita. Ada harapan, namun ada pula keputusasaan dan kesunyian jika “badai” mulai menghadang. Kita kerapkali merasa terbebani oleh masa depan yang tidak dapat diramalkan, maka kita seperti hidup bersama bayang-bayang kegembiraan dan kecemasan-kecemasan, bersama rasa suka dan duka masing-masing. Hidup jasmani dan rohani dalam waktu yang terus berputar seperti sahabat yang selalu berjalan bersama. Aku, engkau dan kita memilih yang mana? Aku, engkau dan kita boleh bermimpi dan mengharapkan sesuatu yang baik.

Waktu dapat dihitung dengan menggunakan kelender atau jam. Tapi, kehidupan jasmani dibatasi oleh waktu (waktu Kronos). Banyak hal yang didambakan dalam menjalani waktu yang seperti ini : umur yang panjang, rumah mewah, tanah yang luas, kehormatan, kedudukan/jabatan, dll. Nah, untuk apa pula semua pertentangan yang ada di sekitar kita? Ada peperangan, bencana, korban ketidakadilan, egoisme, dan bumi ini semakin panas dan seakan memberontak. Bukankah semua ini akan berakhir?  Waktu yang abadilah yang tidak berakhir. Ia adalah kehidupan yang sekarang dan kehidupan yang abadi sesudah kematian (waktu Aion). Bagaimana cara kita untuk berinvestasi agar keduanya ini seiring dan bisa tercapai? Apakah kita hanya berdiam diri saja, menonton, dan tidak pernah berpikir untuk berbuat mengisi hidup ini dengan buah-buah yang baik. Peluang selalu ada di depan kita untuk mempersatukan kehidupan jasmani dan rohani kita menuju kesempurnaan. Jika peluang itu tidak digunakan dengan baik, maka hidup jasmani dan rohani itu akan berlalu begitu saja. Peluang itu tidak akan kembali lagi (waktu Kairos). Maka kita boleh bertanya terhadap diri sendiri : apa yang sudah saya sumbangkan di dunia ini, agar dunia ini semakin indah dirasakan dan indah dipandang mata? Ataukah kita hanya bersungut-sungut dalam hati ?

Dengan sadar dan melihat serta merenungkan pertanyaan di atas, akankah setiap mimpi kita menjadi kenyataan dan akankah setiap harapan kita akan terwujud dan menjadi kenyataan? Ataukah hanya berlalu begitu saja? Mari memilih berinvestasi …!

“Mimpi” dan “harapan” adalah sesuatu yang indah dalam hidup. Hidup adalah kenyataan. Dan kenyataan itu harus dihadapi seorang diri saja. Hanya seorang diri saja. Kita selalu bertanya jika kita merasa seorang diri saja : Akankah kau tetap mencintaiku besok? Karena tak seorang pun yang dapat menguasai jalannya waktu. Kita tak bisa menghindar atau mengelak dari kenyataan. Waktu yang berlalu takkan kembali lagi. Waktu yang akan datang pula tak bisa kita kenal bagaimana wujudnya. Tetapi waktu saat ini, saat dimana kita semua berada dan mengalami, adalah suatu wujud/kenyataan kita sebagai insan yang hidup. Hidup saai ini adalah perwujudan kehidupan kita nanti. Maka diperlukan perjuangan dalam mencari pegangan yaitu Yesus Kristus sebagai jaminan hidup agar kita tidak berjalan dalam kegamangan belaka.

Kita dihadang oleh problema pada saat mengalami suatu kebimbangan yang tidak terpecahkan. Namun, semakin kita mencari pemecahan problem yang menghadang itu, namun jawaban yang kita kehendaki seakan juga semakin kabur. Tapi yang pasti perubahan terus terjadi. Dalam perubahan dan kebimbangan itu, kita merindukan seseorang yang mencintai kita, berjalan bersama kita dalam mengarungi hidup. Dan cepat atau lambat, kita semua akan sadar, betapa hidup fana ini terus melaju menuju akhir. Namun, hidup yang fana itu, akan berubah menjadi kehidupan abadi yaitu hidup bersama Allah, yang merupakan “mimpi” dan “harapan” kita yang seharusnya kita capai dalam hidup ini.

Will you still love me tomorrow? Yesus menjawab : “Ya”, Dia tetap mencintaiku, mencintai engkau dan kita semua, hari ini, besok, dan selama-lamanya dalam menghadapi kenyataan hidup bersama sang waktu. Tak ada lagi kebimbangan, karena Dia adalah Sang Penebus, yang tidak pernah mengecewakan setiap kita. Kita pasti akan berjumpa dengan-Nya. Dia yang telah bangkit selalu menanti, menghibur dan menolong kita dengan cinta-Nya. Maka kita diundang menjawab cinta-Nya dengan menghidupi sabda-Nya, kapan dan diman pun kita berada.

Reboisasi Mendesak

July 14, 2009 by  
Filed under Buletin

Oleh : Stefanus Zebua, S.Ag

Seiring dengan maraknya pembangunan maka kebutuhan masyarakat akan bahan-bahan bangunan semakin banyak. Situasi ini dilatarbelakangi oleh situasi alam yang memaksa masyarakat untuk menerima kenyataan yakni gempa bumi yang meluluhlantahkan berbagai sendi kehidupan di Pulau Nias, sehingga mulai membenahi kembali, membangun lagi entah melalui berbagai bantuan atau bertumpu pada kemampuan sendiri. Reaksi ini memang harus didukung dan masyarakat harus didorong untuk itu.

Bencana yang sudah terjadi berefek sangat negatif bahkan sangat menakutkan itu, kini telah menjadi satu rahmat yang eksepsional bagi masyarakat. Kelihatannya nias yang dulu terosilir dan daerah lain, kini tidak lagi. Daerah Nias di mata dunia internasional, bukan suatu tempat yang sulit dibayangkan lagi. Kini sudah familiar baik masyarakat nasional maupun internasional. Kondis ini memberi keberuntungan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Dibanding dengan keadaan sebelumnya, pasca gempa bumi, daerah nias beberapa langkah sudah maju. Infrastruktur mulus, pembangunan gedung sekolah berstandart, rumah-rumah penduduk dan pemukimannya tertata dengan baik, layaknya suatu pemukiman realstate. Disamping perkembangan dan kemajuan yang maha dahsyat itu, serentak dengan itu pula datang ancaman baru, bila tidak diantisipasi dengan baik.

Masyarakat memiliki materi-materi bahan bangunan yang dapat diandalkan dan juga berstandar. Hal ini merupakan suatu peluang masyarakat untuk meningkatkan perekonomian melaqlui penjualan kayu sebagai bahan bangunan. Bila kita perhatikan dengan seksama, kayu-kayu bangunan yang ditebang terlihat berton-ton kubik. Maka timbullah suatu persoalan, bagaimanakah menggantinya atau mereboisasinya ? Untuk mengembalikan keadaan alam seperti sedia kala utamanya pada penebangan kayu-kayu yang nota bene untuk bahan-bahan pembangunan, barangkali seluruh lapisan masyarakat perlu membuat suatu komitmen, agar tidak terjadi bencana kelongsoran, bencana banjir serta bagaimana usaha menumbuhkan, menciptakan masyarakat yang sadar, peka dan peduli akan lingkungan hidup yang bersih, sehat, menyegarkan dan menyejukkan. Ungkapan ini tidak hany ungkapan bayang-bayang yang cuma retorika belaka tetapi bagaimana wujud nyata dari suatu keprihatinan. Maka, penulis membatasi diri dalam beberapa hal saja, menyangkut upaya reboisasi dan penciptaan lingkungan yang familiaris dengan manusia. Pertama upaya dan tindak lanjut dari pemerintah kita perihal menata kembali keadaan alam yang semakin hari semakin memprihatinkan. Kedua out put program lembaga legislatif sebagai lembaga perwakilan rakyat yang memiliki kewenangan mengajukan usaha perbaikan kepada eksekutif. Ketiga peranan Dinas Pertanian dan Dinas Kehutanan perihal pembalakan hutan sembarangan yang disertai dengan legalitas izin pengusaha serta konsekuensi peremajaan kembali. Keempat perlunya menata dan memberi masukan kepada masyarakat untuk menghempang budaya tafake zi so, tanpa memikirkan yang sudah dipakai dapat tergantikan kembali.

Ungkapan tafake ua zi so ini sering kali menjadi neraka, karena ada tendensi pemikiran bahwa nanti bisa diganti. Nanti bisa diganti itu berarti sudah menunda sesuatu. Menunda sesuatu berarti akan menjadi lupa Alasan dan tindakan ini sudah menjadi kebiasaan yang sangat mendarah daging, dan apabila tidak diingatkan dan diberi penyadaran, serta motivasi maka kita akan terbuai.

Masih sangat segar dalam ingatan kita bersama tentang tema APP tahun 2007 yang mengupas sangat dalam tentang lingkungan hidup manusia. Tema ini tidak hanya sekedar mengingatkan akan resiko-resiko keserakahan kita bersama, tetapi mengajak kita semua untuk bertindak untuk usaha menata kembali alam lingkungan hidup kita seperti diharapkan oleh Sang Pencipta sejak awal mul;a bahwa : ALAM SEBAGAI CIPTAAN ALLAH SANGAT BAIK ADANYA. Mari kkita tata kembali lingkungan hidup kita yang semakin : FASMEN (FAMILIAR, ASRI, MENYEJUKKAN).

Studi Kelayakan Pendirian STP Dian Mandala

July 14, 2009 by  
Filed under Beranda, Sejarah, Umum

Untuk menetapkan hasil akhir dari studi kelayakan pendirian STP Dian Mandala Gunungsitoli Keuskupan Sibolga, kami sebagai tim menganggap perlu mengurutkan sejumlah hal yang agaknya menolong untuk memberi penilaian yang diperlukan pihak Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama RI.

  1. Sejarah singkat
  2. Latarbelakang dan tujuan pendirian
  3. Bentuk dan nama
  4. Lembaga penunjang
  5. Dosen dan tenaga kependidikan
  6. Tenaga administrasi
  7. Sumber dana
  8. Tanah yang dimiliki
  9. Bidang ilmu yang akan diselenggerakan
  10. Daya tampung mahasiswa
  11. Kebutuhan masyarakat
  12. Prospek minat mahasiswa
  13. Fasilitas fisik
  14. 14. Pembiayaan selama lima tahun
  15. 15. Kesimpulan

1. SEJARAH SINGKAT

Sesungguhnya STP Dian Mandala Gunungsitoli Keuskupan Sibolga sudah mencatat sejarah selama 17 tahun mengelola pendidikan pastoral tingkat akademis bagi calon-calon guru agama, katekis dan petugas pastoral. Tapi jauh sebelum itu pendidikan tenaga kegerejaan ini sudah berawal di PGAK (Pendidikan Guru Agama Katolik) DIAN MANDALA, yang mulai beroperasi pada tahun 1979 dengan hasil yang menggembirakan. Sejalan dengan peraturan pemerintah, maka PGAK dihapus dan digantikan dengan INSTITUT PASTORAL DIAN MANDALA FILIAL IPI MALANG. Sejarahnya kami kemukakan secara garis besar.

1)      Surat Izin Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama RI.No: G/PP.03.2/128/91, tgl. 2 Februari 1991, yang ditujukan kepada Rektor Institut Pastoral Indonesia Malang untuk membuka Filial Program Diploma Dua (DII) dan Diploma Tiga (DIII) Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik di Sekolah, mulai Tahun Kuliah 1991/1992 pada Keuskupan Sibolga – Sumatera Utara.

2)   Surat Keputusan Rektor Institut Pastoral Indonesia, Nomor: 11 Tahun 1991 dan Nomor: MLG – 01/SK-DIP/IPI/III/1991, tanggal 18 Maret 1991, perihal Pembukaan Filial Program Diploma Dua (DII) dan Program Diploma Tiga (DIII) Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Tinggi Pastoral Gunungsitoli – Nias – Keuskupan Sibolga.

3)      Surat Keputusan Uskup Sibolga, No: 039/KS-SK/91, tanggal 20 Maret 1991, tentang Pembukaan Filial IPI-Malang, Program Diploma Dua dan Tiga Keuskupan Sibolga, cq. Gunungsitoli.

4)      Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Departemen Agama RI No: Dj.IV/Hk 005/42/2004 tentang Pemberian Ijin Penyelenggaraan Kuliah Kelas Jauh (KKJ) Program S1 Sekolah Tinggi Pastoral (STP-IPI) Malang di Nias Keuskupan Sibolga.

5)   Keputusan Ketua STP-IPI Malang No. 05/K/IPI/IV/2004 tentang Pembukaan Kuliah Kelas Jauh Program S1 Jurusan Katekese Pastoral di Nias Keuskupan Sibolga.

Jadi sudah sejak tahun 1991 sudah ada pengalaman berharga dalam hal seluk beluk pengelolaan dan pengaturan mekanisme Perguruan Tinggi Swasta Katolik yang sejak tahun 2004 diberi nama SEKOLAH TINGGI PASTORAL DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI, FILIAL STP-IPI MALANG DI NIAS.

Mendesaknya kebutuhan besar akan tenaga guru agama Katolik dan tenaga pastoral lainnya, tersedianya fasilitas yang memenuhi persyaratan yang akademis, sehat dan lengkap, tersedianya tenaga kependidikan dan tenaga administrasi yang tetap dikembangkan, adanya dukungan positip dan menggembirakan dari banyak pihak, adanya mahasiswa yang merasa terpanggil menjadi pelayan gerejani, adanya kemampuan finansial untuk pengelolaan yang baik dan kontinu maka dapat disimpulkan:

1) Sangat layak didirikan STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga sesegera mungkin dalam tahun ajaran 2008/2009 ini.

2)   Program yang diinginkan adalah program S1.

3)   Ijin yang diberi hendaknya meliputi: Program S1 reguler, program KKK (Kuliah Kelas Khusus) dan program KJJ (Kuliah Kelas Jauh). Ketiga program ini akan tepat menjawab kebutuhan masyarakat banyak khususnya sekolah-sekolah, dan selain itu tenaga pendidik pun akan berijazah S1 (Sarjana Agama).

Demikianlah hasil kajian kami. Penuh harapan bahan ini akan berguna bagi tim supervisor dan bagi Bapak Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Departeman Agama Republik Indonesia untuk memberi ijin pengelolaan SEKOLAH TINGGI PASTORAL (STP) DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI, KEUSKUPAN SIBOLGA, PROVINSI SUMATERA UTARA.

2. LATARBELAKANG DAN TUJUAN PENDIRIAN STP DIAN MANDALA

A. LATARBELAKANG

Keuskupan Sibolga terletak di pantai barat Provinsi Sumatera Utara yang meliputi Kota Sibolga, Kapupaten Tapanuli Tengah, Kota Sidimpuan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Nias dan Kabupten Nias Selatan. Kehidupan beragama di seluruh wilayah pantai barat ini sungguh dinamis sekaligus terpelihara kerukunan yang dapat dibanggakan. Khusus tentang penduduk Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan sebanyak 98% beragama Kristen, dari antara itu mencapai 25% bergama Katolik dari sekitar 700.000 jiwa penduduk. Nias sebuah pulau yang dikelilingi lautan samudera, terpisah dari Sumatera sekitar 120 km dan punya karakteristik budaya yang spesifik dalam banyak hal.

1) Keadaan Umum Umat Beragama di Provinsi Sumatera Utara.

  1. Jumlah Penduduk Provinsi Sumatera Utara menurut data statistik (data tahun 2007) adalah 12.643.494 jiwa.
  2. Komposisi Penduduk Provinsi Sumatera Utara menurut pemeluk agama adalah sebagai berikut (data tahun 2004):

a.   Katolik                            :    6,1 %
b.   Kristen Protestan             :  29,6 %
c.   Islam                               :  59,2 %
d.   Hindu                              :  0, 4 %
e.   Budha                             :    4,7 %

———————————————–

Total                                     :  100 %

2) Statistik Keuskupan Sibolga per Desember Akhir 2006

Menurut Statistik Keuskupan Sibolga 2006, keadaan umat Katolik sebagai berikut:

a.   Paroki berjumlah                      =    22 unit
b.   Jumlah dekanat                         =    2 (Dekanat Tapanuli dan Dekanat Nias)
c.   Jumlah umat sebanyak              =    205.882 jiwa
d.   Jumlah stasi / kapel                   =    785 buah
e.   Jumlah katekumen                    =    4.515 jiwa
f.    Baptisan dewasa                       =    2.932 jiwa
g.   Baptisan anak-anak                  =    5.569 jiwa

3) Idealnya Jumlah Tenaga Pastoral di Keuskupan Sibolga

♦    Tenaga katekis paroki yang dibutuhkan untuk 785 stasi di seluruh Keuskupan Sibolga idealnya  minimal sebanyak 78 orang katekis. Dengan demikian seorang katekis akan mendampingi dan melayani sekitar 10 stasi yang menyebar di desa-desa di pegunungan, setengah dari antaranya masih hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki.

♦    Tenaga pembina angkatan usia muda untuk seluruh paroki idealnya sebanyak 22 orang. Hingga sekarang belum ada tenaga.

Kebutuhan Keuskupan Sibolga untuk Tenaga Pastoral dalam waktu 5 tahun ini sebanyak 78 + 22 = 100 orang.

4)      Keadaan Guru Agama Katolik di Dekanat Nias

Ø Kabupaten Nias (data tahun 2006)

No.

Jenis Sekolah

Jlh Sekolah

Jlh Guru Agama Katolik yang ada

Jlh Kebutuhan Guru Agama Katolik

Kekurangan

Guru Agama

1. SD 444 Unit 98 Orang 288 Orang 190
2. SMP 103 Unit 11 Orang 51 Orang 40
3. SMA 59 Unit 2 Orang 30 Orang 28
4. Perguruan Tinggi 2 Unit - Orang 2 Orang 2
111 orang 371 Orang 260

Ø Kabupaten Nias Selatan (data tahun 2005)

No.

Jenis Sekolah

Jumlah Sekolah

Jumlah Guru Agama Katolik yang ada

Jumlah Kebutuhan Guru Agama Katolik

Kekurangan

Guru Agama

1. SD 298 Unit 37 Orang 261 Orang 224
2. SMP 68 Unit 9 Orang 59 Orang 50
3. SMA 29 Unit 2 Orang 27 Orang 25
4. Perguruan Tinggi 1 Unit - Orang 1 Orang 1
48 orang 348 Orang 300

Total kekurangan Guru Agama Katolik di Dekanat Nias 260 + 300 = 560 orang.

Kekurangan Guru Agama di Dekanat Tapanuli bisa mencapai 130 orang (data akurat masih dalam penantian). Jadi di seluruh Keuskupan Sibolga dinantikan saat ini sebanyak 630 orang Guru Agama Katolik.

B. TUJUAN

Tujuan Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga adalah:

1).  Umum:

Menyelenggarakan Pendidikan dan Pengajaran atas dasar iman Katolik yang berpangkal pada moral Katolik, ajaran Gereja Katolik dan kebudayaan Indonesia secara ilmiah. Pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, penelitian, seminar, simposium, dan pengabdian kepada masyarakat dijalankan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

2).  Khusus:

2.1  Bersama Pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah di wilayah Keuskupan Sibolga, Provinsi Sumatera Utara mendukung dan menciptakan tenaga-tenaga Guru Agama Katolik dan Katekis yang beriman, profesional, handal dan berdedikasi tinggi dalam melayani umat dan siswa-siswi di sekolah maupun masyarakat keseluruhan.

2.2  Mendidik kaum awam Katolik untuk berperan serta dalam Karya Pastoral.

2. BENTUK DAN NAMA

1)      Perguruan Tinggi Agama Katolik Swasta ini diberi nama SEKOLAH TINGGI PASTORAL (STP) DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI, KEUSKUPAN SIBOLGA yang selanjutnya disingkat STP Dian Mandala.

2)      Sekolah Tinggi Pastoral ini adalah sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi Katolik Swasta yang didirikan dengan Surat Keputusan Uskup Keuskupan Sibolga Nomor 050/KS-SK/2007 tentang Pendirian Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga tertanggal 20 Desember 2007, yang bernaung di bawah pembinaan Departemen Agama Republik Indonesia.

3)      Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga berkedudukan di Gunungsitoli Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara, beralamat di Kampus Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Dian Mandala Gunungsitoli Keuskupan Sibolga, Jalan Karet Nomor 33 A Gunungsitoli-Nias 22815, Telp. (0639) 21901 – Fax (0639) 21901.

4)      Dalam perkembangannya, Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga dapat membuka Jurusan dan Program Studi sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan Pemerintah: ”Sekolah Tinggi terdiri atas satu program studi atau lebih yang menyelenggerakan Program Diploma Satu (DI), Progma Diploma Dua (D II), Program Diploma Tiga (D III) dan/atau Program Diploma Empat (D IV), dan yang memenuhi syarat dapat menyelenggerakan Progam S1, Program S2 dan/atau Program S3” (KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 234/U/2000 TENTANG PEDOMAN PEDIRIAN PERGURUAN TINGGI pasal 2 butir (4).

3. LEMBAGA YANG MENUNJANG

Lembaga yang menunjang kelangsungan dan keberadaan STP Dian Mandala yang secara nyata menyokong, mendukung, menganimasi dan sekaligus menghrapkan serta membutuhkan adalah:

1.   Keuskupan Sibolga: yang memperlihatkan kasih dan keprihatinan atas pendidikan iman putra/i Gereja di seluruh keuskupan. Untuk tujuan itu STP Dian Mandala didirikan dan dikelola oleh Keuskupan agar tersedia tenaga guru agama dan katekis yang menjadi tenaga utama dalam membina seluruh umat.

2.   Paroki-paroki: yang berjumlah 21 buah mengutus dan merekomendasikan calon-calon mahasiswa baru dan menerima mereka waktu program KKN dan mendapatkan pertolongan dari mahasiswa yang telah menamatkan studi di STP Dian Mandala.

3.   Deparetemen Agama setempat: melalui Kasie Bimas Katolik menunjukkan perhatian besar dan memberi informasi yang berharga perihal kebutuhan ketenagaan guru agama Katolik di wilayahnya masing-masing.

4.   Kantor Dinas Pendidikan setempat: khususnya di Kabupaten Nias yang menerima dengan senang hati proposal yang diajukan untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan untuk pengelolaan STP Dian Mandala.

5.   Komisi Kateketik, Komisi Liturgi dan Komisi Kitab Suci, Komisi Komunikasi Sosial dan PSE Keuskupan Sibolga: sangat menolong dalam menyebarkan informasi dan dengan ringan hati menjadi tenaga pengajar.

6.   Pemerintah Kabupaten Nias c/q Bapak Bupati Nias: melihat dengan baik kurangnya tanaga guru agama Katolik dan tenaga pembina umat basis di seluruh Kabupaten Nias yang terdiri dari 34 kecamatan. Dana bantuan untuk pembangunan kampus baru STP Dian Mandala diperoleh karena usaha Pemda Nias.

7.   Lembaga legislatip Kabupaten Nias: tetap menyetujui penyaluran dana bantuan tahunan untuk kelangsungan hidup STP Dian Mandala.

8.  Bila terwujud pemekaran Kabupaten / Kota di Pulau Nias maka akan bertambah kebutuhan tenaga terdidik di bidang keagaamaan untuk lingkungan sekolah maupun untuk pembimbingan masyarakat Katolik secara keseluruhan.

9.   Dewan Pembina STP Dian Mandala: dibentuk dan diangkat oleh Uskup Keuskupan Sibolga sebagai Badan Pengurus yang memikirkan, merancang, mengembangkan dan memantau arah dan gerak langkah STP Dian Mandala.

4. DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKA

Tabel 1: Rincian Tenaga Kependidikan dan Rencana Lima Tahun Ke depan.

TAHUN

Dosen Tetap

Jumlah

Dosen Tidak Tetap

Jumlah

Total

S1

S2

S3

S1

S2

S3

2008

5

1

1

7

14

3

-

17

24

2009

5

1

1

7

14

3

-

17

24

2010

4

3

1

8

13

5

-

18

24

2011

4

3

1

8

13

5

-

18

26

2012

3

4

1

8

13

5

-

18

26

2013

3

5

1

9

13

5

-

18

27

5. TENAGA ADMINISTRASI

Tabel 2: Tenaga Administrasi dan Rencana Lima Tahun Ke depan

Tahun

Pegawai

Jumlah

Tetap

Tidak Tetap

2008

1

2

3

2009

2

3

5

2010

3

3

6

2011

3

4

7

2012

3

4

7

2013

3

4

7

6. SUMBER DANA KEGIATAN

Keuskupan Sibolga selaku pemilik dan pendiri Sekolah Tinggi Pastoral (STP) bertindak sebagai penyandang dana utama dan pertama demi keberadaan dan kelangsungan hidup STP Dian Madala. Secara rinci kami urutkan sumber dana.

1)   Keuskupan Sibolga menyediakan tanah yang sekarang dijadikan lokasi baru Kampus Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga seluas = 2.500m.2

2)   Keuskupan Sibolga telah menyediakan dana untuk pembangunan Gedung Kampus Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga. Di dalamnya lengkap tersedia ruangan: Pimpinan (1), Dosen (1), Pegawai (1) Perpustakaan (1), Ruang Kuliah (4), Aula Pertemuan (1), Toilet/ Kamar Mandi (6) dan dapur kecil (1).

3)   Dana operasional Sekolah Tinggi Pastoral (STP) ini, berkisar Rp 10.000.000/bulan sepenuhnya menjadi tugas dan tanggung jawab Keuskupan Sibolga melalui Dewan Pembina STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga.

4)   Uang kuliah mahasiswa setiap semester turut menjadi dana pengelolaan pendidikan.

5)   Dana bantuan diterima dari Pemerintah Daerah Kabupaten Nias setiap tahun, yang besarnya tergantung pada Pemda Nias dan Badan Legislatip.

6) Dana bantuan pengelolaan diterima juga dari Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia setiap tahun.

7) Untuk penerimaan dana bantuan dari pelbagai pihak STP Dian Mandala telah mempunyai Nomor Rekening Bank: 3378-01-016465-53-5, BRI, 3378 UNIT SUDIRMAN GUNUNG SITOLI, a.n. STP DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI 22815.

7. TANAH YANG DIMILIKI

Keuskupan Sibolga telah menyediakan tanah yang sekarang dijadikan lokasi baru Kampus Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga seluas = 2.500m.2 Lokasi kampus baru ini terletak di Jln. Nilam no 4 GUNUNGSITOLI – NIAS, berjarak 100 m dari gedung lama.

8. BIDANG ILMU YANG DISELENGGERAKAN

1)   Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala menyelenggarakan pendidikan Jurusan Pastoral Kateketik, Program Studi Ilmu Pastoral Kateketik, dengan jenjang pendidikan Strata Satu (Sarjana Agama).

2)   Dalam menyelenggarakan pendidikan di Sekolah Tinggi Pastoral, diberlakukan Sistem Satuan Kredit Semester (SKS), dengan pengertian sebagai berikut :

a.   Sistem penyelenggaraan pendidikan yang terdiri dari beban studi mahasiswa, beban kerja tenaga pengajar dan beban penyelenggaraan program lembaga pendidikan yang dinyatakan dalam kredit.

b.   Semester adalah satuan waktu terkecil untuk menyelenggarakan lamanya masa program pendidikan suatu jenjang pendidikan Strata Satu dari awal sampai akhir, yang dibagi dalam awal penyelenggaraan semesteran.

c.   Satuan Kredit Semester adalah satuan yang digunakan untuk menyatakan besarnya beban studi mahasiswa, besarnya pengakuan atas keberhasilan usaha mahasiswa, besarnya usaha yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu program serta besarnya usaha untuk menyelenggarakan pendidikan bagi Perguruan Tinggi dan Dosen.

3)   Kurikulum yang memuat seluruh mata kuliah hingga jenjang S1 Jurusan Pastoral Kateketik, Program Studi Ilmu Pastoral Katektik pada Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga disusun menurut GBPP (yang diatur tersendiri).

9. DAYA TAMPUNG MAHASISWA

A. Rincian Mahasiswa pada tahun pertama dan Rencana Lima Tahun ke depan

Tahun

Keadaan Mahasiswa per Tahun

Tahun I

Tahhun II

Tahun III

Tahun IV

Cuti Akademik

Non Semester

Total
2008/2009

30

?

?

30

2009/2010

30

30

?

?

60

2010/2011

30

30

30

?

?

90

2011/2012

30

30

30

30

?

?

120
2012/2013

30

30

30

30

?

?

120

NB:Penyusutan jumlah mahasiswa mencapai 4% – 5% per tahun atas pelbagai alasan seperti: sakit, orangtua pindah ke tempat jauh, cuti akademik, living-cost, mendapat tawaran pekerjaan, pindah ke PT lain, dll.

B. Rincian Jumlah Mahasiswa STP Dian Mandala Gunungsitoli, Filial STP-IPI Malang dan perpindahan mereka ke STP Dian Mandala (setamat D II dan D III)

Keadaan Mahasiswa STP Dian Mandala Gunungsitoli, Filial STP – IPI Malang

Pengelompokan Mahasiswa

Agst. 2008

Feb.

2009

Agst. 2009

Feb.

2010

Agst. 2010

Feb.

2011

Agst. 2011

Mahasiswa semester III

55

55

Mahasiswa KKN (D II)

38

55

Mahasiswa D III

24

Mahasiswa Semester IX

16

Mahasiswa Non Semester

7

Pindah Ke STP Dian Mandala
Mahasiswa DM Semester VI

38

55

Mahasiswa DM Semester VII

38

55

Mahasiswa DM Semester VIII

24

38

55

Mahasiswa DM Semester IX

24

38

55

T o t a l

140

117

93

93

93

55

55

Keseluruhan jumlah mahasiswa di Kampus STP Dian Mandala Gunungsitoli:

Tahun 2008 (Agst):          170 orang

Tahun 2009 (Agst):          153 orang

Tahun 2010 (Agst):          183 orang

Tahun 2011 (Agst):          175 orang

Tahun 2012 (Agst):          120 orang

NB: Penyusutan jumlah mahasiswa mencapai 4% – 5% per tahun atas pelbagai alasan seperti: sakit, orangtua pindah ke tempat jauh, cuti akademik, living-cost, mendapat tawaran pekerjaan, pindah ke PT lain, dll.

10. KEBUTUHAN MASYARAKAT

1)   Dalam Kalangan Intern Gereja – Keuskupan Sibolga:

٭ Tenaga katekis paroki yang dibutuhkan untuk 785 stasi di seluruh Keuskupan Sibolga  sebanyak 78 orang katekis. Dengan demikian seorang katekis akan mendampingi dan melayani sekitar 10 stasi yang menyebar di desa-desa di pegunungan, setengah dari antaranya hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki.

٭ Tenaga pembina angkatan usia muda untuk seluruh paroki idealnya sebanyak 22 orang. Hingga sekarang belum ada tenaga.

Kebutuhan Keuskupan Sibolga untuk tenaga pastoral dalam waktu 5 tahun ini sebanyak 78 + 22 = 100 orang.

2)   Dalam Dunia Pendidikan di Sekolah Umum (SD, SMP, SMA/SMK dan PT)

Tenaga Guru Agama Katolik di Dekanat Nias, Keuskupan Sibolga dibutuhkan sebanyak 560 orang, dengan rincian: untuk Kabupaten Nias sebanyak 260 orang dan untuk Kabupaten Nias Selatan sebanyak 300 orang. Diperkirakan kebutuhan tenaga guru agama Katolik di Dekanat Tapanuli sekitar = 130 orang. Total kebutuhan di seluruh keuskupan sebanyak 690 orang.

11. PROSPEK MINAT MAHASISWA

Jumlah mahasiswa bervariasi tergantung pada minat dan bakat, kemampuan finansial, dukungan dari pelbagai pihak dan penempatan bagi mereka yang telah tamat. Jumlah mahasiswa baru dalam 5 tahun terakhir:

Tahun                       Mahasiswa Baru

2003                          64
2004                          22
2005                          30
2006                          44
2007                          58

Dapat diperkirakan bahwa setiap tahun akan mendaftar sekitar 30 orang mahasiswa baru dari seluruh wilayah Keuskupan Sibolga.

12. FASILITAS FISIK

Tabel:    Rincian FASILITAS FISIK yang digunakan pada tahun pertama dan rencana lima tahun ke depan. Catatan: gedung baru akan mulai fungsional pada bulan Februari 2009 (semester genap)

No. JENIS RUANG

L U A S (m2)

2008

2009

2010

2011

2012

2013

1

Ruang Administrasi 16 156

2

Ruang Pimpinan 12 196

3

Ruang Dosen 24 46.8

4

Ruang Kuliah 190 315

5

Ruang Seminar 90 46.8

6

Ruang Perpustakaan 35 130

7

Ruang Toilet 30 43

8

Ruang Bimbingan 20 7.8

13. PEMBIAYAAN SELAMA LIMA TAHUN (2008-2013)

1) Dana investasi untuk tahun 2008-2013: untuk rehap, peralatan baru, studi lanjut dosen, perjalanan dinas, pengembangan pendidikan disediakan sebesar Rp 1.050.000.000 (satu miliar limapuluh juta rupiah).

2)   Biaya penyelenggaraan: gaji, honor, ATK, perpustakaan, majalah dan koran, telpon, listrik, pos, tehnisi, kebutuhan rutin, seminar, studi banding, penataran, rapat dll disediakan Rp 1.200.000.000 (satu miliar duaratus juta rupiah).

3)   Proyeksi aliran dana (2008-2013):

- Uang kuliah mahasiswa                                                     = Rp. 600.000.000,-
- Sumbangan Pemda Nias                                                   = Rp. 500.000.000,-
- Sumbangan Ditjen Bimas Katolik Depag RI               = Rp. 750.000.000,-
- Subsidi Keuskupan                                              = Rp. 400.000.000,-

14. KESIMPULAN

Mendesaknya kebutuhan besar akan tenaga guru agama Katolik dan tenaga pastoral lainnya, tersedianya fasilitas yang memenuhi persyaratan yang akademis, sehat dan lengkap, tersedianya tenaga kependidikan dan tenaga administrasi yang tetap dikembangkan, adanya dukungan positip dan menggembirakan dari banyak pihak, adanya mahasiswa yang merasa terpanggil menjadi pelayan gerejani, adanya kemampuan finansial untuk pengelolaan yang baik dan kontinu maka dapat disimpulkan:

1) Sangat layak didirikan STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga sesegera mungkin dalam tahun ajaran 2008/2009 ini.

2)   Program yang diinginkan adalah program S1.

3)   Ijin yang diberi hendaknya meliputi: Program S1 reguler, program KKK (Kuliah Kelas Khusus) dan program KJJ (Kuliah Kelas Jauh). Ketiga program ini akan tepat menjawab kebutuhan masyarakat banyak khususnya sekolah-sekolah, dan selain itu tenaga pendidik pun akan berijazah S1 (Sarjana Agama).

Demikianlah hasil kajian kami. Penuh harapan bahan ini akan berguna bagi tim supervisor dan bagi Bapak Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Departeman Agama Republik Indonesia untuk memberi ijin pengelolaan SEKOLAH TINGGI PASTORAL (STP) DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI, KEUSKUPAN SIBOLGA, PROVINSI SUMATERA UTARA.

Gunungsitoli, 16 Juli 2008

Tim Pelaksana Studi Kelayakan:

  1. P. Marinus Telaumbanua OFMCap.
  2. Zeno N. Halawa S.Ag
  3. Yulianus Pello Wau S.Ag
  4. Stefanus Zebua S.Ag
  5. Selestinus Laia A.Md

Sejarah Singkat STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga

July 14, 2009 by  
Filed under Sejarah

STP Dian Mandala Gunungsitoli Keuskupan Sibolga sudah mencatat sejarah. Sudah selama 17 tahun mengelola pendidikan pastoral tingkat akademis bagi calon-calon guru agama Katolik, katekis dan petugas pastoral. Tetapi jauh sebelum itu pendidikan tenaga kegerejaan ini sudah berawal di PGAK (Pendidikan Guru Agama Katolik) DIAN MANDALA, yang mulai beroperasi pada tahun 1979. Pimpinan masa itu antara lain: P. Paulinus Manaõ OFMCap., Sr. Theresia Hondrõ SCMM, Sr. Bernadet Chandra SCMM, Bpk. Drs. Wilhelm Ndruru (alm). Sejalan dengan peraturan pemerintah, maka PGAK ditiadakan dan digantikan dengan INSTITUT PASTORAL DIAN MANDALA FILIAL IPI MALANG. Sejarah singkatnya sebagai berikut:

1    Diterbitkan Surat Izin Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama RI.No: G/PP.03.2/128/91, tgl. 2 Februari 1991, yang ditujukan kepada Rektor Institut Pastoral Indonesia Malang untuk membuka Filial Program Diploma Dua (DII) dan Diploma Tiga (DIII) Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik di Sekolah, mulai Tahun Kuliah 1991/1992 pada Keuskupan Sibolga – Sumatera Utara.

2      Surat Keputusan Rektor Institut Pastoral Indonesia, Nomor: 11 Tahun 1991 dan Nomor: MLG – 01/SK-DIP/IPI/III/1991, tanggal 18 Maret 1991, perihal Pembukaan Filial Program Diploma Dua (DII) dan Program Diploma Tiga (DIII) Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Tinggi Pastoral Gunungsitoli – Nias – Keuskupan Sibolga.

  1. Surat Keputusan Uskup Sibolga, No: 039/KS-SK/91, tanggal 20 Maret 1991, tentang Pembukaan Filial IPI-Malang, Program Diploma Dua dan Tiga Keuskupan Sibolga, cq. Gunungsitoli. Pimpinan pertama adalah Bpk. Drs. Wilhelm Ndruru (alm.) dan menyusul kemudian Bpk. Zeno N. Halawa S.Ag.
  2. Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Departemen Agama RI No: Dj.IV/Hk 005/42/2004 tentang Pemberian Ijin Penyelenggaraan Kuliah Kelas Jauh (KKJ) Program S1 Sekolah Tinggi Pastoral (STP-IPI) Malang di Nias Keuskupan Sibolga. Pimpinannya Bpk. Zeno N. Halawa S.Ag hingga Maret 2008,  menyusul P. Marinus Telaumbanua OFMCap. sejak tgl 5 Maret 2008.

5      Keputusan Ketua STP-IPI Malang No. 05/K/IPI/IV/2004 tentang Pembukaan Kuliah Kelas Jauh (KJJ) Program S1 Jurusan Katekese Pastoral di Nias Keuskupan Sibolga.

Jadi sudah sejak tahun 1991 sudah ada pengalaman berharga dalam hal seluk beluk pengelolaan dan pengaturan mekanisme Perguruan Tinggi Agama Katolik Swasta (PTAKS) yang sejak tahun 2004 diberi nama SEKOLAH TINGGI PASTORAL DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI, FILIAL STP-IPI MALANG DI NIAS.

Mendesaknya kebutuhan besar akan tenaga guru agama Katolik dan tenaga pastoral lainnya, tersedianya fasilitas yang memenuhi persyaratan akademis, sehat dan lengkap, tersedianya tenaga kependidikan dan tenaga administrasi yang tetap dikembangkan, adanya dukungan positip dan menggembirakan dari banyak pihak, adanya mahasiswa yang merasa terpanggil menjadi pelayan gerejani, adanya kemampuan finansial untuk pengelolaan yang baik dan kontinu maka dapat disimpulkan:

1)    Sangat layak didirikan STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga sesegera mungkin dalam tahun ajaran 2008/2009 ini dengan status mandiri, yang berarti tidak lagi filial STP-IPI Malang.

2)     Program yang dimohonkan adalah program Strata 1 (S1).

3)     Ijin yang dimohonkan meliputi: Program S1 reguler, Program KKK (Kuliah Kelas Khusus) dan Program KJJ (Kuliah Jarak Jauh). Ketiga program ini akan tepat menjawab kebutuhan masyarakat banyak khususnya sekolah-sekolah, dan berimplikasi bahwa tenaga pendidik pun akan berijazah S1 (Sarjana Agama).

Hari Selasa tgl 26 Agustus 2008 Dirjen Bimas Katolik Bpk. Drs. Stef Agus datang ke Gunungsitoli untuk memenuhi permohonan Keuskupan Sibolga dan menyatakan keputusan resmi perihal kemandirian STP Dian Mandala dan program-program yang akan diselenggerakan di SEKOLAH TINGGI PASTORAL (STP) DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI, KEUSKUPAN SIBOLGA, PROVINSI SUMATERA UTARA. Uskup Keuskupan Sibolga Mgr. Dr. Ludovicus Simanullang OFMCap. melalui Surat Keputusan Nomor 015.1/KS-SK/2008 telah menetapan unsur pimpinan yakni: P. Dr. U Marinus Telaumbanua OFMCap. (Ketua), Zeno N. Halawa S.Ag (Puket I), Feronika Zai S.Ag (Puket II) dan Stefan Y. Zebua (Puket III).

Syukur kepada Tuhan Allah kita dan ribuan terimakasih kepada semua pihak.

Narasi Yubileum

July 14, 2009 by  
Filed under Mahasiswa, Sejarah

NARASI YUBILEUM MENGENANG DAN MENSYUKURI JASA PARA MISSIONARIS KEUSKUPAN SIBOLGA, SUMATERA UTARA

(Pembukaan Yubileum, 18 November 2008)

(Dipresentasikan oleh Mahasiswa STP Dian Mandala)

Narator 1: Walau sepintas…, pada pembukaan Yubileum dan Sinode Perdana Keuskupan Sibolga ini, mari kita kenang jasa para misionaris Keuskupan Sibolga. Kita syukuri Allah yang Mahapengasih atas jasa hamba-hambanya dan berterimakasih kepada mereka yang pernah ikut serta mematri wajah Kristus dalam benak, hati dan sikap kita.

Narator 2: Berlayar dari Pulau Penang Malaysia 2 orang misionaris Perancis menuju wilayah Sibolga. Namanya Pastor Jean-Pierre Vallon dan Jean-Laurent Berard. Mereka ditemani sepasang suami-isteri Nias yang sudah menetap di Penang pada masa itu. Akhir tahun 1831 mereka mulai menempuh perjalanan jauh, menumpang perahu layar bersama sejumlah muslim yang baru kembali dari Mekah menuju Aceh. Tiba di Sibolga kedua imam muda belia ini berpisah, yang satu menuju Padang dan yang satu lagi menuju Gunungsitoli.

Pada bulan Maret 1832 Pastor Jean-Pierre Vallon tiba di Nias dan tinggal di desa Lasara Gunungsitoli. Pada bulan Juni beliau jatuh sakit. Diduga karena malaria, beliau meninggal dunia pada bulan Juni 1832 dalam usia 30 tahun. Temannya dari Padang datang juga ke Gununsitoli setelah mendengar kematian rekannya sang saksi Kristus pertama di Pulau Nias. Beliau juga meninggal Juni 1832, juga pada usai 30 tahun. Mungkin sudah ada beberapa yang mulai percaya kepada Kristus di Lasara waktu itu. Tapi alam dan penyakit menguburkan impian dalam-dalam menunggu waktu yang tepat.

Narator 3: Sebagai tanda syukur kepada kedua misionaris asal Perancis 176 tahun lalu, kita diajak berdiri untuk mengenang dan mensyukuri upaya mereka. Krans bunga akan dihantar ke batu pusara mereka di dinding luar kiri gereja. (diantar Krans bunga, Koor  Mater Dei 1 ayat)

Narator 1: Awal pengakaran Gereja Katolik Keuskupan Sibolga terwujud dengan datanganya misionaris dari Belanda. Mulanya tiba di Gunungsitoli Pastor Projo Caspar de Hesselle pada tahun 1854, tapi beliau meninggal sangat cepat. Di pusaranya di dinding Gereja Santa Maria Gunngsitoli tertulis: “C. de Hessele, Missionarius Apostolicus, meninggal dunia 31 Agustus 1854”

Narator 2: Menyusullah berturut-turut misionaris Belanda yang sungguh menanamkan akar kekatolikan. Beginiliah kisahnya. Tahun 1929 tiba di Sibolga Pastor Kapusin Chrysologus Timmermans. Kegiatan pastoralnya mulanya hanya untuk warga Belanda dan Tionghoa kota Sibolga. Pada tahun 1930 menyusul tiba 6 orang Suster SCMM yang menolong di bidang pendidikan anak sekolah. Menyusul beberapa waktu kemudian para Frater CMM dari negeri Belanda.

Barulah pada tahun 1933 Pastor diberi izin keluar kota Sibolga dan membuka stasi Katolik di Pintubosi dan Pangaribuan dan yang lainnya.

Narator 3: Pada tahun 1939 Pastor Kapusin Burchradus van der Weijden tiba di Pulau Nias. Dan tgl 31 Agustus 1939… dirayakan Misa Kudus yang pertama di Nias di rumah Bapak Stefanus Sibee Laia, warga desa Lahusa Masio (kecamatan Lahusa sekarang). Beliau dan keluargnaya sudah menjadi Katolik selagi merantau di Padang

Narator 1: Tentang Pastor Van der Weijden ini, ada komentar Pastor Anicet Flechtker: “Karena tahu, betapa penting gerakan dan pengaruh para Katekis, ia (Pastor van der Weijden) terutama sibuk mendidik dan melatih dalam kursus-kursus orang yang berbakat untuk menjadi Katekis.”

Narator 2: Pada permulaan tahun 1940 tiba misionaris baru yakni Pastor Ildefonsus van Straalen, seorang periang dan punya rasa humor yang tinggi. Mereka berdua menetap di Hilisaimaetanö untuk membentuk komunitas Katolik dan mendidik para katekis sebanyak 3 gelombang. Mereka menciptakan cukup banyak buku teks yang kemudian dipergunakan oleh para Katekis untuk memimpin ibadat Hari Minggu, mengajar para Katekumen, memberi pembaptisan, mengunjungi orang sakit dan menguburkan yang meninggal.

Narator 1: Begitulah jadi… tatkala Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942. Para pastor, Bruder dan Suster dari Belanda ditawan, dan dibuang terpencar-pencar. Sejumlah suster kita mati karena kerja yang kelewat berat dan karena diberi terlalu sedikit  makanan. Para Katekis di Nias dan Sibolga mengambil alih tugas kegembalaan. Umat jadinya bertambah. Uskup Anicetus B. Sinaga mencatat bahwa selama masa internir (1942-1950) umat di Nias dari 500 orang bertambah menjadi 3.500 jiwa,  sedang di Sibolga umat pribumi  berjumlah 400 orang. Mewakili keseluruhan katekis pantas disebut nama Bpk. B. Siregar dan Bpk. Hendrikus Sohiro Dakhi.

Narator 2: Sesudah merdeka, pada tahun 1951 Pastor Guido de Vet tiba di Nias dan menetap di Hilimaria Orahili. Beliau dikarunia talenta berkomunikasi yang prima: tau baik peribahasa Nias, menguasai baik tata-krama bertegur sapa dan pandai merebut hati para Siulu di Selatan dan para Salawa Mbanua di bagian Utara. Namanya lama diingat-ingat karena pergaulannya yang sungguh merakyat.

Narator 3: Kepada semua misionaris dari negeri Belanda kita acungkan jempol, kita tundukkan kepala tanda hormat, dan sebagai kenangan dengan berdiri kita saksikan arakan krans bunga, tanda cinta dan syukur kita (diantar krans bunga ke altar, Koor Mater Dei 1  ayat).

Narator 1: Sesudah Gereja di wilayah Sibolga diakarkan oleh tangan dan hati suci dari Belanda, datanglah rombongan misionaris lain. Mereka membangun dan memberi bentuk dan menunjuk arah ke depan. Rombongan besar ini datang dari Jerman dan Sud Tirol. Jumlah keseluruhan Imam dan Bruder Kapusin sebanyak 40 orang ditambah dengan  beberapa Suster OSF dan Suster Klaris, juga dari Jerman. Hanya sebagian kecil yang masih hidup dan tinggal di antara kita. Kebanyakan telah meninggal dunia menikmati hidup bahagia di surga; dan sejumlah lain sedang menikmati usia senja di negeri asal Jerman dan Tirol.

Narator 2: Rombongan pertama datang, dipimpin oleh Uskup Gratianus Grimm bersama Pastor Romanus Jansen, Pastor Norbert Kurzen, Bruder Pankratius, Br. Joakim dan Br. Blasius. Usia mereka rata-rata 52 tahun saat itu. Peristiwa bersejarah itu terjadi tgl 27 Maret 1955. Mereka menghadirkan misi kasih sayang. Ditumbuh-kembangkan stasi-stasi di pedalaman yang sulit terjangkau, dan dibangun pusat-pusat paroki yang menyebar ke seluruh Pulau Nias hingga ke Pulau Tello. Kemudian menyusul pembukaan paroki ke arah Padangsidimpuan/ Pinangsori, Tarutung-Bolak/Sorkam dan Tumba/Manduamas. Badan mereka kekar, tatapan wajahnya menembus hingga ke lubuk hati orang-orang penderita dan yang belum berpendidikan. Asrama-asma dibangun, juga panti-panti asuhan yang mengangkat harkat pribadi manusia. Didirikan gereja-gereja permanen dan bangunan-bangunan bernuansa adat lokal yang tahan gempa,  dan juga Sekolah Pertukangan LPTK Mela Sibolga, dikembangkan lagu-lagu gereja inkulturatip yang menyentuh rasa, dan dibangun Museum Pusaka Nias yang menjadi kebanggaan karena melestarikan identitas. Terimakasih atas segala jasa baik, terimakasih kepada prokurator, penghimpun dana di negeri Jerman dan daerah Tirol.

Narator 3: Begini isi catatan Pastor Barnabas, “Tgl 17 November 1959 daerah misi Sibolga dan Nias menjadi Prefektur Apostolik Sibolga. Sebelumnya wilayah ini  bagian Vikariat Medan. Tgl 15 Agustus 1960 Mgr. Grimm menjadi Administrator Apostolik Sibolga. Sedang pada pihak Ordo Pastor Norbert Kurzen menjabat Superior Regularis Misi Kapusin Sibolga.”

Narator 1: Wilayah gerejani Sibolga telah diangkat oleh Tahta Suci menjadi Prefektur Apostolik tgl 17 Nopember 1959, dan kemudian ditingkatkan menjadi Keuskupan pada tgl 24 Oktober 1980. Dan mulai hari ini … tgl 18 Nopember 2008 kita membuka tahun Yubelium sambil bersinode. Acara puncak yubileum nanti di Sibolga pada tgl 17 Nopember 2009, di bawah pimpinan Uskup Dr. Ludovicus Simanullang OFMCap.

Narator 2: Kita ingin bersyukur dan berdoa, berefleksi bersama, mengkaji dan mendata bersama, serta meniti bersama arah keuskupan tercinta. Semoga seluruh umat (yang sukarang sudah berjumlah 207.000 lebih) merasakan bahwa hidup keuskupan ada di tangan kita semua dan tanggungjawab kita. Mari bergandeng tangan baik imam (projo dan biarawan) maupun umat awam, bersama para biarawan/ti dari seluruh tarekat (Kapusin, SCMM, CMM, OSF, Klaris, OSC, BRUDER BUDI MULIA, SVD, FCJM, KSFL, Suster ALMA), dan dengan dukungan pemerintah daerah kita dan warga Kristen lainnya kita bertekad: ‘JADILAH SAKSI KRISTUS: MELALUI YUBILEUM 50 TAHUN PREFEKTUR APOSTOLIK / KEUSKUPAN SIBOLGA, MARILAH KITA MEMBANGUN GEREJA YANG MANDIRI DAN SOLIDER.”

Narator 3: Pemazmur berseru): “Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari” (Mzm 96:2).

Keselamatan itu terwujud dalam diri Kristus Tuhan, yang telah tiba di keuskupan kita lewat sapaan dan ulurkan kasih para misionaris, demi untuk membaharui kita dulu… kini dan selamanya. Kita sambut Kristus Penyelamat, Sang Raja Damai dengan Koor Yubileum sembari menghantar bunga lambang cinta, mengenang dan mensyukuri jasa para misionaris tercinta dari negeri Jerman dan Tirol. Selamat Beryubileum! (Krans bunga diantar ke altar).

Karakteristik Masyarakat Nias (5)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Bahasa Daerah Nias

Bahasa Daerah Nias sangat unik. Sungguh beda dengan keseluruhan bahasa daerah lain di Indonesia, terutama karena kata-kata terdiri dari huruf-huruf vokal (huruf hidup). Tak kenal konsonan double, setiap kali selalu diantarai dengan huruf vokal (misal, bilang pastor jadi pasitoro). Tidak kenal konsonan pada akhir kata, tidak kenal huruf p (pendeta dibilang fandrita) dan sangat dominan huruf z, f, kh, ndr dan huruf ö. Mengenal huruf d yang keras (möido= aku pergi) dan lembut (tuada= kakek kita) begitu juga huruf w yang keras (Lahewa) dan w yang lembut (Bawalia). Sangat biasa kata terdiri dari kombinasi huruf vokal (ue= rotan dan u’u = kumur). Lidah orang Nias agak berat mengucapkan kombinasi huruf mb (seperti membimbing) dan kombinasi huruf nd (seperti pendidikan, mendidik). Dikenal tiga buah dialek: utara (agak lembut), selatan (agak keras-keras) dan tengah (terkenal dengan huruf cu maka bilang tuada jadi cuada). Aksen ada beberapa: aksen Lahewa (terkenal dengan gelombang suara), aksen Sirombu (terkenal dengan hendre), aksen Nias Tengah (terkenal dengan cu dan ine). Sundermann melihat kesulitan bagi orang asing menguasai bahasa Nias karena konjunksi kata (morfofonemik) yakni terjadinya pertukaran kata seperti teu ke deu (hujan) misalnya teu toho (hujan deras), tohare deu (datang hujan).

Perasaan, kepercayaan dan tradisi diungkapkan lewat: amaedola (peribahasa), hoho (mite), umanö (cerita), fo’ere (doa), maedo-maedo (umpama, misal), dahö-dahö (teka-teki), lailö dan ngenu-ngenu (ratapan hidup). Sifat syair-syair ini kental dengan paralelisme, ritme irama dan ulangan idomatik. Sambil omong dengan mengalir saja mereka menyelipkan peribahasa atau pepatah atau pemeo untuk mengungkapakan pendapatnya atau secara halus menolak pendapat orang lain. Ini memang menyulitkan orang luar bila berhadapan dengan orang desa.

8. Ragam Seni

Biasa dikatakan bahwa warga Nias musikal, suka nyanyi. Alat-alat musik yang sempat dikenal: aramba, göndra, faritia, fondrahi, tutu, lagia, doli-doli (bue, hagita), sigu, tabalia (koko), tutuhao, famaerua, tamburu, duri mbewe dan duri ahe. Lagu traditional yang diiringi gerakan tari: hiwö, maluaya, maena, tari moyo dll. Menurut Bapak Ama Yana Zebua melodi musik Nias bervariasi: lento-amoroso, allegro-animoso/brioso dan moderato-maestoso. Agaknya tersirat dalam lagu “TANÖ NIHA”, lagu pujaan masyarakat Nias. Kalau ada pesta nikah atau pesta gereja atau pesta massa, biasa ada acara maena yang mengekspresikan  kekompakan, menandakan kemeriahan dan memperkokoh identitas.

9. Masalah Sosio-Ekonomi: yang Tumbuh dari Dalam dan Luar

1).  Penghasilan / pendapatan secara umum tidak tetap (tergantung musim dan cuaca). Biaya sekolah, pengobatan, tambahan gizi dan rekeasi hampir tidak ada. Karena itu penciptaan lahan pekerjaan sangat mendesak.

2).  Jumlah anggota dalam keluarga rata-rata banyak (pertambahan penduduk di atas 2% per tahun).

3).  Infrastruktur (jalan-jembatan) yang minim sekali sehingga hasil bumi dan barang kebutuhan kebanyakan masih dipundak. Sudah lumayan pelebaran jalan raya yang dihotmix, berkat bantuan kemanusiaan warga dunia yang tersalur lewat BRR NAD Aceh-Nias sesudah bencana gempa. Sepanjang masa akan disyukuri kabaharuan ini.

4).  Hampir tidak ada pabrik apalagi industri yang menyerap tenaga kerja. Harap dalam 30 tahun mendatang akan ada tambang minyak dan tambang batubara.

5).  Kendala bahasa (kurang terbiasa berbahasa Indonesia apalagi Bahasa Eropa modern) menghambat pergaulan dan komunikasi dengan orang luar.

6).  Gampang konflik yang menghambat terobosan usaha dan ragam kegiatan.

7).  Cukup berakar alam pikir / mentalitas: salio (yang cepat), sebua (yang besar-besar), saoha (yang gampang), soroma (yang nampak, kasat mata), saro (yang kokoh). Ini pertanda kurang sabaran dan tanpa mau banyak capek.

8).  Pemborosan dalam pesta-pesta keluarga khususnya dalam pesta nikah dengan biaya tinggi dan juga untuk pesta pemakaman orangtua. Mungkin warga Nias yang terbanyak makan daging babi dalam hitungan bulan. Asal ada sedikit pesta, potong babi besar/kecil, atau minimal beli daging kilo. Daging ayam atau ikan tidak terhitung makanan bernilai adat.

9).  Penyakit yang menahun: malaria, asma/tbc, kematian anak lahir, hypertensi. kolestrol karena terlalu kerap konsumsi daging babi. Penyakit stroke akhir-akhir ini merata di mana-mana juga.

10).Kelewat melindungi kaum perempuan sehingga mereka sulit bergerak atau berkreativitas.

11).Pujian warga terhadap pendatang dari suku lain atau pendatang dari luar negeri: I’ila dödöda (tau keinginan kita, mau memberi dan menolong), I’ila lida (tahu bahasa kita), I’ila hada khöda (paham  adat kita), fahuwu ia khöda (bersahabat dengan kita), I’a göda (dia ikut makan bersama kita).

Penutup

Bulan di langit memang selalu punya sisi gelapnya, tak ada gading yang utuh sempurna, tapi syukurlah matahari kan bersinar besok dan untuk seterusnya. Mudah-mudahan untaian goresan budaya ini walau hanya sekilas pandang memompakan semangat dan tekad baru untuk berbakti di tengah warga yang jauh dari pusat keramaian dan dari pusat dunia. Tenaga kependidikan, teristimewa yang di bidang pastoral-kateketik (kegembalaan dan pembinaan iman) perlu mendalami basic values dan local condition warga setempat. Mereka dituntut menyadari power yang sudah ada, meminimalisasi weekness dan memanfaatkan peluang. Begitu akan terbentang hamparan panen yang akan dituai. Nias yang baru dan maju akan bisa terwujud berkat budi, hati dan tangan yang dibaharui.

Karakteristik Masyarakat Nias (4)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.


6. Ideal dan Karakteristik fisik, Psikologis dan Etik Masyarakat

Ø   Yang didambakan orang Nias dalam hidupnya ada 4 hal utama. Pertama mongaötö (berketurunan), kedua moharato (berkepunyaan), ketiga molakhömi (terpandang, agung) dan keempat tobali bawa (pengambil keputusan). Dalam acara adat, dimohonkan berkat seputar keempat komponen ini. Terkait dengan itu ada sejumlah ucapan pujian yang menyenangkan pribadi berdarah Nias: sindruhu ono namau ndraugö, ono fangali zatua, ono sangila ngaroro, ono götö-götö (sungguh anak penerus / pemenuh adat kebiasaan leluhur); atau pujian kepada desa: banua sato niha, banua solahkömi, ngaötö duha, banua safönu ba hada (kampung besar, agung dan pewaris adat).

Ø   Yang dielakkan: perendahan dan dipermalukan (abölö sökhi mate morai na aila(artinya baikan mati daripada malu) dan juga kalau dijadikan fotu (contoh berkelakuan buruk).

Ø Ciri-ciri fisik: rambut lurus, hidung agak pesek, bibir tipis, tulang pipi tidak menonjol, mata bulat tapi sejumlah orang agak sipit, tinggi badan sedang, warna kulit cerah dan bersih, berbadan tipis (sedikit saja yang gemuk-gemuk), tergolong atletis.

Ø   Sifat-sifat yang dominan: periang, hidup-hidup, lincah, suka pesta, nyanyi dan menari, cerdas, gampang bergaul, hobbi olahraga (sangat populer berolahraga bola volley), energik dan sangat tinggi harga diri.

Ø         Sifat umum lain yang cepat terlihat dan mengganggu: pemalu/penyegan, emosional, gampang meledak sampai adu kuat, omong berliku-tidak langsung, pandai bohong, gampang bersyak-wasangka dan cemburu, sangat melekat pada tahyul, perlente, keras kepala, suka bersaing, gampangan omong, angkuh dan  kurang ulet/gigih.

Karakteristik Masyarakat Nias (3)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Peran Perempuan

Masyarakat Nias menganut patrilineal, maka kaum prialah pewaris keturunnan dan harta warisan. Namun toh nampak peran istimewa wanita dalam adat kehidupan. Dalam pesta pernikahan misalnya di bagian Utara, kaum wanita membentuk kelompok adat dengan saling mangowai dan mame afo (acara sekapur sirih) dengan berbalas pantun dalam bentuk hendri-hendri. Di tiap desa akan selalu ada ina mbanua dan ere huhuo, seorang ibu yang dituakan dan mahir sebagai juru pantun. Kepada mereka ini akan dihidangkan makanan adat yang bernilai tinggi. Dalam pembicaan atau acara adat kaum perempuan diperkenankan untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Pada acara pernikahan mempelai wanita di utara diberi gelar adat keagungan (barasi atau balaki atau sa’usö). Menurut adat kuno si mempelai wanita akan ditandu dan dibawa ke rumah memplai pria. Di Selatan kaum perempuan harus diberi hak utama memakai inti jalan bila berpapasan. Ada kebiasaan bagi petugas pastoral, bila umat berencana ingin membangun gedung gereja, maka diupayakan mendengarkan suara dan pendapat kaum ibu sebab mereka yang akan lebih memberi hati dan dengan demikian harapan besar bangunan suci akan terwujud.

Keagamaan

Dulunya para leluhur menganut aliran kepercayaan animis dengan menjadikan patung leluhur sebagai medium pembawa berkat dan penyembuhan. Zending Protestan memulai misi evangelisasi pada tahun 1865 dan misionaris Gereja Katolik tiba tahun 1939. Praktis sejak tahun 1940 seluruh wilayah Nias telah menjadi penganut agama monoteis. Secara statistik yang beragama Kristen (Protestan dan Katolik) mencapai 96% selebihnya Islam dan Budha/Kongfucu. Tak heran bahwa di seluruh Nias bertebaran gereja-gereja besar kecil dan sejumlah ada yang bercorak rumah adat Nias. Gedung gereja sarana perhimpunan massa seakan-akan seperti rumah adat leluhur tempat bertemu sesama warga.

Macam-macam begu

Sekalipun telah menganut kepercayaan kepada Allah Yang Mahaesa (hampir 150 tahun), namun masyarakat masih dihantui ketakutan kepada begu-begu seperti bekhu zimate (begu dari orang meninggal), bekhu lauru dan bekhu gafore (pengatur takaran), bekhu hogu geu (begu pepohonan) dan bekhu gurifö (begu ternak). Warga juga masih takut kepada bekhu nadaoya, bekhu narödanö (penyangga bumi), bekhu bauwadanö si penyebab gempa dan takut kepada roh-roh leluhur. Sedangkan afökha kekuatan jahat dianggap sangat mengganggu dan merusak kehidupan manusia dan harus dihadapi terus-menerus.

Konstruksi masing-masing pribadi manusia

Menurut konsep kuno manusia terdiri dari boto (tubuh), noso (roh), eheha (buih berbusa saat meninggal), lumö-lumö (bayangan sesudah mati), bekhu (roh dari alam kematian), dan mökö-mökö (sisa jasad dalam makam).

  1. 1. Cosmogony

Kami urutkan beberapa versi perihal terciptanya cosmos (alam semesta) khususnya pulau Nias sendiri.

A). Myte Asal Muasal Dunia

Ø     Menurut catatan misionaris Jerman Thomas, suku Nias beranggapan bahwa dunia ini terdiri dari 9 lapis, yang ada satu sesudah yang lain. Pada lapisan kedelapan (di atas bumi ini) ada negeri bernama Teteholi Ana’a (Chatelin: 1881). Sang penguasanya adalah Sirao. Karena kepadatan penduduk dan di sana-sini mulai longsor, maka Sirao memerintahkan Hadiduli dan kemudian Silauma untuk menciptakan globe baru dari anasir angin dan rumput dll. Maka terjadilah bumi, tempat hidup manusia. Pada dasar globe ini melingkar cincin besar yang berubah menjadi ular raksasa berkat mantra-mantra dari sang menantu Silusi atau Silewe Nazarata.

Ø     Menurut S.W. Mendröfa, pada awalnya hanya ada Sihai yang bermukim di Tanö Nihae-hae nangi (1981). Tempat itu selalu terang benderang walaupun tidak ada matahari atau bulan dan bintang-bintang. Tempat itu tidak mengenal kematian. Suatu saat Sihai mempertemukan angin yang berjenis-jenis maka muncullah butiran sebesar biji jagung. Dari itu dia ciptakan manusia bernama Sitahu. Butiran itu seterusnya diberi kepada Sitahu yang menciptakan globe tertingi yakni lapis yang kesembilan. Begitu seterusnya dari butiran yang sama dia ciptakan globe kedelapan, ketujuh hingga yang pertama. Globe di atas bumi ini dinamai Teteholi di mana terdapat gunung Hili Maruge dan sungai Idanö Zea dengan  9 anak sungainya. Segumpal tanah dari Teteholi diambil oleh sang Sihai dan diciptaknnya globe bumi ini melalui asistennya Silauma. Kemudian asisten Sitahu diminta mengambil butiran angin lagi dan menanam di bumi pohon feto (sejenis palma). Tumbuh tunas baru dan terjadilah nadaoya, sang roh kejahatan penyebab penyakit. Barulah kemudian dari butiran yang sama tercipta air, api, matahari, ikan, binatang-binatang, burung-burung, pepohonan, bijian, umbian dan barang tembaga.

  • Menurut S. Zebua, Lowalangi atau Soaya mempertemukan angin di tempat tersembunyi di mana belum ada pemukiman manusia. Dari pertemuan itu muncullah butiran yang bertambah besar dan menjadi sebidang tanah, di atasnya didirikan rumah sembahyang. Kemudian berkembang terus dan akhirnya tercipta bumi ini (Zebua: sine data).

B. Sejumlah Legenda Asal Muasal Manusia

Koleksi Chatelin

Sirao di Teteholi Ana’a (dunia atas) berputra 9 orang. Siapa bakal pewaris dunia atas, ditentukan lewat pelombaan ketangkasan memanjat sebilah lembing yang ditancapkan di halaman. Yang mampu memanjat hingga ke pucuk dan bertengger di atasnya seumpawa seekor ayam jago dialah sang pewaris. Yang berjaya adalah si bungsu Luomewona, maka para saudaranya harus turun ke bumi, yakni:

Ø Bauwadanö menjadi penghuni dasar bumi

Ø     Sorogae menjadi pilar  bumi

Ø     Tuha Sangaröfa  menghuni dasar laut

Ø     Hia diturunkan di Mazingö (Gomo) bersama rumah adat yang sungguh berat

Ø     Gözö turun ke Nias bagian utara bersama Sawae

Ø     Daeli ke Idanoi bersama batu pengasah dan daun ubi jalar

Ø     Hulu Sebua ke barat sungai Oyo

Ø     Börönadu ke selatan menjadi cikal bakal kaum imam (ere)

Versi S.W. Mendröfa

Ø     Hia diturunkan di Mazingö Gomo

Ø     Gözö ke utara

Ø     Hulu ke Laehuwa

Ø     Daeli ke Laraga

Ø     Cucu Luomewöna ke Daso Noyo

Koleksi Johannes Hämmerle

Ø         Salawa Holia di Teteholi Ana’a berputra 3 orang yakni Hia, Gözö dan Ho. Hia berputra 9 orang di antaranya bernama Zedawa. Zedawa berputra 6 orang di antaranya bernama Mölö. Mölö berputra 5 orang yakni: Fau, Tachi, Boto, Maha dan Hondrö, yang menjadi moyang warga Nias daerah Selatan dan sekitarnya (Hämmerle: 1986

Karakteristik Masyarakat Nias (2)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

  1. 1. Sejarah dan Asal-usul

Elio Modigliani, antropolog/etnolog Italia dalam bukunya Un Viaggio a Nias (1890) menghimpun sejumlah catatan sejarah tentang Nias yang tertulis dalam manuskript pedagang Persia seperti Sulayman (thn 852 AD), Adjaib (thn 900-950 AD), Edris (thn 1154) dan Rashid ad Din (thn 1310 AD). Dalam catatan mereka tercatat nama Nias terutama dalam tulisan Edris. Nias muncul pertama kali dalam peta pada tahun 1610. Kontak dagang terjadi dengan Belanda (thn 1669), dengan Inggris (thn 1750) dengan Perancis (1809). Besar kemungkinan Thomas Stamfod Raffles telah mengunjungi Nias pada tahun 1820, yang berjuang untuk melarang perdagangan budak yang ternyata tidak berkenan di hati pemerintah Inggris.

Perihal asal-usul

  • Modigliani berkesimpulan bahwa etnis Nias berasal dari pantai Malabar di India Selatan (suku Koraver = Kurumber = Korawa) dengan ciri-ciri menanam padi, berburu, memahat kayu dan berperawakan Malesoid.

Ø   Kleiweg de Zwaan, antropolog Belanda melalui investigasi fisiognomik (1914) berpendapat bahwa etnis Nias tidaklah homogen tetapi terdiri unsur-unsur etnik yang bervarian. Ia membedakan utara dan selatan dan kombinasi lain. Dengan mengukur tinggi badan dari 1295 orang maka rata-rata tinggi badan 154.73 cm.  Dengan meneliti tengkorak-tengkorak beliau menyimpulkan bahwa etnis Nias termasuk Proto-Melayu.

Ø   F.M. Schnitger (1938) dengan meneliti batu-batu megalit dan arsitektur  menyimpulkan bahwa  etnis Nias berasal dari Nagas di Assam (lembah Irrawady). Menurut beliau orang-orang Nagas, Nias, Dayak, Philippinos dan Formosa adalah satu rumpun besar. Tentang batu-batu tugu di Nias Schnitger berkesimpulan “the megalith culture of Nias, however, came from Burma”. Agaknya leluhur bertolak dari India Selatan, baru menetap di Birma dan kemudian mencari pemukiman baru lagi. Sejumlah tiba dan menghuni pulau Nias.

  1. 2. Corak Hidup Masyarakat

Masyarakat Nias hidup dari bercocok tanam dan beternak. Jenis tanaman umum: padi, ubi, pisang, talas, sagu dan jagung dan ragam jenis sayuran seperti bayam, kangkung, kecipir dan kacang panjang. Hasil bumi utama karet, kopra, coklat, pisang, pinang, pala dan nilam. Ternak kesayangan utama adalah babi, ayam dan sejumlah kecil yang beternak kambing dan lembu. Hidangan adat adalah daging babi yang dimasak dengan merebus dan dihidangkan keseluruhan bagian (lambang kesempurnaan, ketulusan dan keutuhan). Mereka yang sekitar pantai hidup dari hasil tangkapan ikan dalam jumlah kecil. Buah-buahan yang populer: durian, langsat, manggis, rambutan, kuaeni, mangga, marpala dan kedondong. Durian Nias disanjung karna lebih manis dan lezat. Yang lebih top adalah “duria balaki”, dagingnya kuning dan tebal, berbiji kecil. Minuman lokal beralkol adalah tuak dari pohon kelapa dan aren. Agak khas tuak Gunngsitoli berwarna kemerahan karena raru dari kulit batang durian. Bila tuak mentah dididihkan maka akan dihasilkan arak yang dinamai tuo nifarö yang bisa membuat seseorang sesaat high. Jenis kayu-kayuan lumayan banyak yang dipakai untuk kebutuhan papan. Orang Nias berupaya sangat agar rumahnya dibangun oleh tukang yang pandai. Tentang kemahiran bertukang kayu, W. Marsden menulis (1811): “This people are remarkable for their docility and expertness in handycraft work, and become excellent house-carpenters and joiners …” Aktivitas lain adalah pandai emas, pandai besi, membuat anyaman dan berburu. Dalam bercocok tanam, membangun rumah dan pekerjaan lain, warga Nias sangat peduli pada sejumlah tabu pertanda sifat takluk pada tahyul-tahyul. Misalnya, mendirikan tiang-tiang rumah haruslah di pagi subuh. Peralatan pertanian sungguh sangat sederhana, bekerja lebih banyak dengan parang dan kampak. Mencangkul dan membajak kurang dikenal. Corak hidup ini menyebabkan masyarakat sangat melekat pada bidang tanah warisannya.

Magistra, Jurnal Pendidikan Pastoral-Kateketik, Tahun I, No.I, Juni 2009
  1. 3. Organisasi Sosio-politik dan Relasi Sosial

Ø   Masyarakat Nias tidak mengenal raja atau sultan dan tidak mengenal kerajaan. Hidup warga pada dasarnya diatur dalam lingkup banua (kampung/desa) dan dalam lingkup öri (federasi kampung). Adat-istiadat dalam hal pesta dan acara kematian telah ditata dalam hukum fondrakö=famadaya saembu antar beberapa öri (negeri). Menurut S.W. Mendröfa, fondrakö memuat norma untuk mencapai kepenuhan hidup yang terdiri 5 hal pokok (1981): amonita (terkait dengan bakti sembah dan pantang), fokhö fo’ölö (terkait dengan harta milik), hao-hao (perilaku yang terpuji), fowanua (cara berkomunitas dalam kampung) dan böwö masi-masi (terkait dengan anak dan orang berkesusahan). Sesudah kemerdekaan mulailah diterapkan sistim pemerintahan Negara Republik Indonesia yang kita kenal sekarang walikota, bupati, camat, kepala desa, sekretaris desa lengkap dengan badan yudikatip dan legislatip. Kalau dulunya yang dikenal di Utara adalah tuhenöri dan salawa bersama satua mbanua, kalau di Selatan dikenal istilah tuhenöri, siulu dan siila mbanua. Jabatan ini diperoleh karena keturunan dan prestasi adat.

Ø   Kesatuan terkecil warga adalah rumahtangga (ngambatö), yang membentuk keluarga inti (sifatalifusö), dan menghimpun diri menjadi (banua) dan federasi banua adalah negeri (öri). Masing-masing punya marga (sampai 300 marga) tapi marga kurang berperan dibanding dengan banua. Di antara se marga boleh menikah asal tidak dekat hubungan darah. Dalam berelasi, saat ketemu satu sama lain saling menyapa (ya’ahowu atau yaugö a) kemudian berjabat tangan (fatabe) dan bertukar sirih atau rokok (yae nafo, yae rokoda). Orang yang sudah berkeluarga diberi nama panggilan, misalnya Ama Zaroli atau Ina Roi. Sapaan ramah dan lembut antar satu sama lain terungkap dengan sapaan Bapak Ama Zaroli atau ibu Ina Roi. Cara ini termasuk sikap hormat atau fasumangeta.

Ø   Rumah adat Nias terbagi dalam 3 type: utara (oval), tengah (segiempat) dan selatan (segi empat yang berderet-deret). Tiang rumah relatip tinggi-tinggi terdiri dari pilar vertikal dan horizontal. Lantai luas selalu punya bangku yang lengket ke dinding dan atap menjulang tinggi ke atas beratap rumbia berlapis dua. Banyak penelitian mencengangkan tentang konstruksi rumah adat Nias baik dari keharmonisan, fungsi dan hygienisnya. Tapi tentu juga tergambarkan konsep mereka tentang dunia: bawah, tengah dan dunia atas yang sangat agung (Viaro: 1984). Rumusan Viaro: “All of them have a vertical tri-partition: infrastucture, domestic nucleus and superstructure.” Karna curah hujan banyak dan merajanya malaria serta kelembaban yang tinggi maka rumah kediaman diberdirikan di atas bukit atau di tempat ketinggian. Atap tinggi dan tajam agar air hujan turun mengalir dan sekurang-kurang punya 3 ventilasi di atap (bisa diturun-naikkan) agar cahaya matahari masuk ke seluruh sudut rumah. Lantai dan dinding rumah dari kayu pilihan yang ditata dengan rapi. Rumah-rumah adat Nias sangat cocok sebagai tempat pertemuan massa dan persidangan desa. Tiang-tiangnya sangat cocok menyangga beratnya rumah dan rupanya sesuai sekali untuk anti kegempaan. Pertingkatan dalam masyarakat memang terasa ada terutama di selatan antara keluarga siulu (bangsawan) dan sato (orang kebanyakan).

Karakteristik Masyarakat Nias (1)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Hantaran

Topik ini ramuan dari ragam tulisan, didukung juga oleh pengalaman dan pengamatan pibadi. Diperkaya dengan informasi-informasi lewat perjumpaan dengan banyak pihak selagi menjalankan tugas pastoral. Buah pemikiran ini tidak berdasar pada kajian yang spesifik ilmiah antropologis-etnologis, sehingga sungguh terbuka bagi pengembangan dan penafsiran yang mungkin berbeda. (Artikel ini penah dipresentasikan  dalam Rafe Hada II UNORC {United Nations Office of the Recovery Coordinator} Jumat tgl 30 Nopember 2007 di Museum Pusaka Nias Gunungsitoli).

Faktor-Faktor Pembentuk Budaya, Nilai-Nilai
dan Karakteristik Masyarakat
Nias

  1. 1. Letak Geografis Pulau Nias

Pulau Nias dan kepulauan sekitarnya terpisah dari daratan besar Pulau Sumatera berjarak sekitar 80 mil atau 120 km. Terletak di pantai barat Sumatera. Panjangnya k.l. 140 km dan lebar 40 km. Berstruktur pegunungan yang sambung-menyambung dengan aliran-aliran sungai besar-kecil yang sangat banyak. Curah hujan sangat tinggi mencapai 17 hari hujan dalam sebulan akibatnya juga kelembaban udara tinggi. Letak geografis ini menjadikan Nias ujung terjauh di pantai barat, dilihat dari pusat pemerintahan Negara Republik Indonesia di Jakarta dan dari ibukota Provinsi Sumatera Utara di Medan. Letak geografis inilah faktor penyebab masayarakat Nias sering luput dari perhatian pusat dan dari pemerintah propinsi Sumatra Utara. Untung saja ada hombo batu (atraksi loncat batu) dan lomba bersilancar, dan untung ada Museum Pusaka Nias, yang punya andil besar mempopulerkan Nias ke manca negara. Realisasi ketiga daerah otonom baru (Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias Utara dan Kabupaten Nias Barat, Mei 2009) membuka peluang percepatan pertumbuhan transportasi, kegiatan ekonomi rakyat dan pelayanan publik. Pantas disyukuri pengertian dan dukungan pemerintah pusat dan usaha keras Bupati kabupaten induk.

Bencana gempa (28 Maret 2005 dengan kekuatan 8.7 skala Richter) membuat Nias menjadi berita dunia hingga di bangku kuliah di Eckersly School Oxford, Inggris. Korban nyawa 846 orang dan hampir dua-pertiga gedung sekolah / kantor dan rumah penduduk begitu juga jalan dan jembatan anjlok dan ambruk.

Karena kebanyakan wilayahnya bergunung-gunung sungguh sangat terbatas jumlah jalan raya dan sungguh sulit transportasi. Banyak jalan sempit dan berliku-liku. Yang terbilang daerah datar hanyalah sekitar daerah pantai yang tidak seberapa luas. Faktor ini penyebab pulau Nias agak sulit dicapai dari pebagai penjuru, minim kontak dengan dunia luar yang  menyebabkan masyarakat agak tertutup dan tebilang tertinggal dalam banyak hal. Biaya transportasi dan komunikasi di kelima wilayah kabupaten/kota (Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat dan Kota Gunungsitoli) sungguh sangat mahal.

Kata Sambutan Ketua STP Dian Mandala

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

Sebagai Perguruan Tinggi yang otonom, SEKOLAH TINGGI PASTORAL (STP) DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI, KEUSKUPAN SIBOLGA disahkan pada tgl 13 Agustus 2008. Momentum itu telah dimeriahkan dan disyukuri dalam Perayaan Ekaristi Mahakudus pada tgl 26 bulan yang sama. Proses kelahirannya berjalan sangat mulus.

Selaku unit pendidikan tinggi dengan jenjang Strata 1 (S-1), maka Dian Mandala tanpa menunda ingin menunjukkan jati dirinya dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dalam rangka perwujudan diri diterbitkanlah Jurnal Pendidikan Pastoral-Kateketik. Diberi nama “MAGISTRA.”  Kata Latin magister/magistra berarti guru. Dalam hati terkandung harapan bahwa sekolah keagamaan STP Dian Mandala ini akan sungguh dialami sebagai guru yang menggembirakan dan menakjubkan. Seluruh perangkatnya baik visi-misinya, tata pamong, sistim pengayoman dan pengelolaannya, fasilitas, kurikulum, sistim informasi, suasana akademiknya, dukungan dari Pemda Nias dan Ditjen Bimas Katolik Depag RI, dan terlebih dosen-dosennya berdaya “mengkristalkan kegembiraan dalam belajar dan kebersamaan” (Educare, Mei 2009, hlm. 49).

Magistra ini akan terbit 2 kali setahun. Sebagai jurnal pendidikan pastoral-kateketik maka muatannya berkisar pada hal-hal ilahi, manusiawi dan kegerejaan. Pastoral punya karakter penggembalaan dan kateketik berfokus pada pewartaan yang bergaung dalam relung jiwa setiap insan ciptaan Sang Ilahi. Melalui aktivitas ini Gereja semakin berakar dan berkembang dan semakin dipersatukan dengan Kristus (LG art. 3).

Kita mohonkan curahan rahmat untuk segenap pengasuh jurnal ini sehingga tidak akan henti menyajikan dan mencerahi kita dengan untaian ide dan pandangan, yang mengingatkan kita akan Allah, diri manusia dan dunia sekitar kita. Sebab di dunia ini kita terpanggil memelihara martabat kita sebagai anak-anak terang (Luk.16:8).

Untuk melukiskan peranserta masing-masing dalam menyangga suatu karya agung, leluhur kita di Nias telah merumuskan kata-kata mutiara unik ini untuk kita: “Andrõ wa so gehomo, andrõ wa so ndriwa, tundrehera nawõra, fa lõ a’ozu aso’a.” Berkat tiang-tiang vertikal dan horizontal sebagai penyangganya, maka rumah adat tidak akan pernah rebah. Penyangga utama Magistra adalah kita semua murid Kristus, Sang Guru Kehidupan umat manusia.

(Pastor Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.)

Pembiayaan Selama Lima Tahun (2008-2013)

July 7, 2009 by  
Filed under Mahasiswa, Mahasiswa Baru, News

1) Dana investasi untuk tahun 2008-2013: untuk rehap, peralatan baru, studi lanjut dosen, perjalanan dinas, pengembangan pendidikan disediakan sebesar Rp 1.050.000.000 (satu miliar limapuluh juta rupiah).

2)   Biaya penyelenggaraan: gaji, honor, ATK, perpustakaan, majalah dan koran, telpon, listrik, pos, tehnisi, kebutuhan rutin, seminar, studi banding, penataran, rapat dll. diprediksi Rp 1.200.000.000 (satu miliar duaratus juta rupiah).

3)   Proyeksi aliran dana (2008-2013):

- Uang kuliah mahasiswa = Rp. 600.000.000,-

- Sumbangan Pemda Nias = Rp. 500.000.000,- (5xRp 100 juta)

- Sumbangan Ditjen Bimas Katolik Depag RI = Rp. 1.750.000.000,- (5xRp 350 juta)

- Subsidi Keuskupan = Rp. 400.000.000,-

Perihal subsidi keuskupan, kami para fungsionaris sudah bertekad untuk meminta semakin sedikit. Insya Allah Bapak Uskup, sesudah 5 tahun subsidi tidak kami mohon lagi mengingat kebutuhan-kebutuhan pendanaan untuk 21 paroki tidak pernah tetap ada habisnya sepanjang tahun.

KESIMPULAN

Mendesaknya kebutuhan besar akan tenaga guru agama Katolik dan tenaga pastoral lainnya, tersedianya fasilitas yang memenuhi persyaratan yang akademis, sehat dan lengkap, tersedianya tenaga kependidikan dan tenaga administrasi yang tetap dikembangkan, adanya dukungan positip dan menggembirakan dari banyak pihak, adanya mahasiswa yang merasa terpanggil menjadi pelayan gerejani, adanya kemampuan finansial untuk pengelolaan yang baik dan kontinu maka dapat disimpulkan:

1) Sangat layak didirikan STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga pada tahun ajaran 2008/2009 ini.

2)   Program yang diselenggerakan adalah program S1.

3)   Ijin yang diberi hendaknya meliputi: Program S1 reguler, program KKK (Kuliah Kelas Khusus) dan program KJJ (Kuliah Kelas Jauh). Ketiga program ini akan tepat menjawab kebutuhan masyarakat banyak khususnya sekolah-sekolah, dan selain itu tenaga pendidik pun akan berijazah S1 (Sarjana Agama).

Di antara kami dosen sempat memang muncul pertanyaan: Apa karakter/keunggulan STP Dian Mandala nantinya? Kami masih bermenung, mungkin di bidang kerasulan, mungkin di bidang penerbitan buku-buku bina iman, mungkin dengan menggalakkan Komunitas Basis Gerejani atau akan unggul di bidang analisis sosial.

Mari kita nantikan dan kita sambut Keputusan Dirjen Bimas Katolik Depag RI Bpk. Drs. Stef Agus. Beliau membawa kado yang amat berharga bagi Keuskupan Sibolga yang dengan sepenuh hati mendukung pemerintah dalam hal pendidikan yang berkwalitas demi kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara Republik Indoesia. Motto STP kita: “STP DIAN MANDALA BERCAHAYALAH” (Mt 5:16).

Akhir kata kami kutip seruan Pemazmur (Mzm 33:20-21): “Jika kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong kita dan perisai kita. Ya, karena Dia hati kita bersukacita sebab kepada Nama-Nya yang kudus kita percaya.”

Sekian dan terimakasih, P. Marinus Telaumbanua OFMCap. (Selasa, 14 Oktober 2008)

Prospek Minat Mahasiswa

July 7, 2009 by  
Filed under Mahasiswa

Jumlah mahasiswa bervariasi tergantung pada minat dan bakat, kemampuan finansial, dukungan dari pelbagai pihak dan penempatan bagi mereka yang telah tamat. Jumlah mahasiswa baru dalam 5 tahun terakhir:

Tahun                       Mahasiswa Baru

2003                          64

2004                          22

2005                          30

2006                          44

2007                          58

2008                          67

Dapat diperkirakan bahwa setiap tahun akan mendaftar sekitar 30 orang mahasiswa baru dari seluruh wilayah Keuskupan Sibolga.

Keadaan Aktual Guru Agama Katolik di Dekanat Nias

July 7, 2009 by  
Filed under Mahasiswa, Mahasiswa Baru, News

Ø Kabupaten Nias (data tahun 2007)

No.

Jenis Sekolah

Jlh Sekolah

Jlh Guru Agama Katolik yang ada

Jlh Kebutuhan Guru Agama Katolik

Kekurangan

Guru Agama

1. SD 444 Unit 98 Orang 288 Orang 190
2. SMP 103 Unit 11 Orang 51 Orang 40
3. SMA 59 Unit 2 Orang 30 Orang 28
4. Perguruan Tinggi 2 Unit - Orang 2 Orang 2
111 orang 371 Orang 260

Ø Kabupaten Nias Selatan (data tahun 2008)

No.

Jenis Sekolah

Jumlah Sekolah

Jumlah Guru Agama Katolik yang ada

Jumlah Kebutuhan Guru Agama Katolik

Kekurangan

Guru Agama

1. SD 298 Unit 37 Orang 261 Orang 224
2. SMP 68 Unit 9 Orang 59 Orang 50
3. SMA 29 Unit 2 Orang 27 Orang 25
4. Perguruan Tinggi 1 Unit - Orang 1 Orang 1
48 orang 348 Orang 300

Total kekurangan Guru Agama Katolik di Dekanat Nias 260 + 300 = 560 orang.

Kekurangan Guru Agama di Dekanat Tapanuli bisa mencapai 130 orang (data akurat masih dalam penantian). Jadi di seluruh Keuskupan Sibolga dinantikan saat ini sebanyak 630 orang Guru Agama Katolik.

Apakah sungguh ada Kebutuhan Masyarakat?

July 7, 2009 by  
Filed under Opini

1)   Dalam Kalangan Intern Gereja – Keuskupan Sibolga:

٭ Tenaga katekis paroki yang dibutuhkan untuk 785 stasi di seluruh Keuskupan Sibolga  sebanyak 78 orang katekis. Dengan demikian seorang katekis akan mendampingi dan melayani sekitar 10 stasi yang menyebar di desa-desa di pegunungan, setengah dari antaranya hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki.

٭ Tenaga pembina angkatan usia muda untuk seluruh paroki idealnya sebanyak 22 orang. Hingga sekarang belum ada tenaga.

Kebutuhan Keuskupan Sibolga untuk tenaga pastoral dalam waktu 5 tahun ini sebanyak 78 + 22 = 100 orang.

2)   Dalam Dunia Pendidikan di Sekolah Umum (SD, SMP, SMA/SMK dan PT)

Tenaga Guru Agama Katolik di Dekanat Nias, Keuskupan Sibolga dibutuhkan sebanyak 560 orang, dengan rincian: untuk Kabupaten Nias sebanyak 260 orang dan untuk Kabupaten Nias Selatan sebanyak 300 orang. Diperkirakan kebutuhan tenaga guru agama Katolik di Dekanat Tapanuli sekitar 130 orang. Total kebutuhan di seluruh keuskupan sebanyak 690 orang.

Next Page »