Karakteristik Masyarakat Nias (3)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Peran Perempuan

Masyarakat Nias menganut patrilineal, maka kaum prialah pewaris keturunnan dan harta warisan. Namun toh nampak peran istimewa wanita dalam adat kehidupan. Dalam pesta pernikahan misalnya di bagian Utara, kaum wanita membentuk kelompok adat dengan saling mangowai dan mame afo (acara sekapur sirih) dengan berbalas pantun dalam bentuk hendri-hendri. Di tiap desa akan selalu ada ina mbanua dan ere huhuo, seorang ibu yang dituakan dan mahir sebagai juru pantun. Kepada mereka ini akan dihidangkan makanan adat yang bernilai tinggi. Dalam pembicaan atau acara adat kaum perempuan diperkenankan untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Pada acara pernikahan mempelai wanita di utara diberi gelar adat keagungan (barasi atau balaki atau sa’usö). Menurut adat kuno si mempelai wanita akan ditandu dan dibawa ke rumah memplai pria. Di Selatan kaum perempuan harus diberi hak utama memakai inti jalan bila berpapasan. Ada kebiasaan bagi petugas pastoral, bila umat berencana ingin membangun gedung gereja, maka diupayakan mendengarkan suara dan pendapat kaum ibu sebab mereka yang akan lebih memberi hati dan dengan demikian harapan besar bangunan suci akan terwujud.

Keagamaan

Dulunya para leluhur menganut aliran kepercayaan animis dengan menjadikan patung leluhur sebagai medium pembawa berkat dan penyembuhan. Zending Protestan memulai misi evangelisasi pada tahun 1865 dan misionaris Gereja Katolik tiba tahun 1939. Praktis sejak tahun 1940 seluruh wilayah Nias telah menjadi penganut agama monoteis. Secara statistik yang beragama Kristen (Protestan dan Katolik) mencapai 96% selebihnya Islam dan Budha/Kongfucu. Tak heran bahwa di seluruh Nias bertebaran gereja-gereja besar kecil dan sejumlah ada yang bercorak rumah adat Nias. Gedung gereja sarana perhimpunan massa seakan-akan seperti rumah adat leluhur tempat bertemu sesama warga.

Macam-macam begu

Sekalipun telah menganut kepercayaan kepada Allah Yang Mahaesa (hampir 150 tahun), namun masyarakat masih dihantui ketakutan kepada begu-begu seperti bekhu zimate (begu dari orang meninggal), bekhu lauru dan bekhu gafore (pengatur takaran), bekhu hogu geu (begu pepohonan) dan bekhu gurifö (begu ternak). Warga juga masih takut kepada bekhu nadaoya, bekhu narödanö (penyangga bumi), bekhu bauwadanö si penyebab gempa dan takut kepada roh-roh leluhur. Sedangkan afökha kekuatan jahat dianggap sangat mengganggu dan merusak kehidupan manusia dan harus dihadapi terus-menerus.

Konstruksi masing-masing pribadi manusia

Menurut konsep kuno manusia terdiri dari boto (tubuh), noso (roh), eheha (buih berbusa saat meninggal), lumö-lumö (bayangan sesudah mati), bekhu (roh dari alam kematian), dan mökö-mökö (sisa jasad dalam makam).

  1. 1. Cosmogony

Kami urutkan beberapa versi perihal terciptanya cosmos (alam semesta) khususnya pulau Nias sendiri.

A). Myte Asal Muasal Dunia

Ø     Menurut catatan misionaris Jerman Thomas, suku Nias beranggapan bahwa dunia ini terdiri dari 9 lapis, yang ada satu sesudah yang lain. Pada lapisan kedelapan (di atas bumi ini) ada negeri bernama Teteholi Ana’a (Chatelin: 1881). Sang penguasanya adalah Sirao. Karena kepadatan penduduk dan di sana-sini mulai longsor, maka Sirao memerintahkan Hadiduli dan kemudian Silauma untuk menciptakan globe baru dari anasir angin dan rumput dll. Maka terjadilah bumi, tempat hidup manusia. Pada dasar globe ini melingkar cincin besar yang berubah menjadi ular raksasa berkat mantra-mantra dari sang menantu Silusi atau Silewe Nazarata.

Ø     Menurut S.W. Mendröfa, pada awalnya hanya ada Sihai yang bermukim di Tanö Nihae-hae nangi (1981). Tempat itu selalu terang benderang walaupun tidak ada matahari atau bulan dan bintang-bintang. Tempat itu tidak mengenal kematian. Suatu saat Sihai mempertemukan angin yang berjenis-jenis maka muncullah butiran sebesar biji jagung. Dari itu dia ciptakan manusia bernama Sitahu. Butiran itu seterusnya diberi kepada Sitahu yang menciptakan globe tertingi yakni lapis yang kesembilan. Begitu seterusnya dari butiran yang sama dia ciptakan globe kedelapan, ketujuh hingga yang pertama. Globe di atas bumi ini dinamai Teteholi di mana terdapat gunung Hili Maruge dan sungai Idanö Zea dengan  9 anak sungainya. Segumpal tanah dari Teteholi diambil oleh sang Sihai dan diciptaknnya globe bumi ini melalui asistennya Silauma. Kemudian asisten Sitahu diminta mengambil butiran angin lagi dan menanam di bumi pohon feto (sejenis palma). Tumbuh tunas baru dan terjadilah nadaoya, sang roh kejahatan penyebab penyakit. Barulah kemudian dari butiran yang sama tercipta air, api, matahari, ikan, binatang-binatang, burung-burung, pepohonan, bijian, umbian dan barang tembaga.

  • Menurut S. Zebua, Lowalangi atau Soaya mempertemukan angin di tempat tersembunyi di mana belum ada pemukiman manusia. Dari pertemuan itu muncullah butiran yang bertambah besar dan menjadi sebidang tanah, di atasnya didirikan rumah sembahyang. Kemudian berkembang terus dan akhirnya tercipta bumi ini (Zebua: sine data).

B. Sejumlah Legenda Asal Muasal Manusia

Koleksi Chatelin

Sirao di Teteholi Ana’a (dunia atas) berputra 9 orang. Siapa bakal pewaris dunia atas, ditentukan lewat pelombaan ketangkasan memanjat sebilah lembing yang ditancapkan di halaman. Yang mampu memanjat hingga ke pucuk dan bertengger di atasnya seumpawa seekor ayam jago dialah sang pewaris. Yang berjaya adalah si bungsu Luomewona, maka para saudaranya harus turun ke bumi, yakni:

Ø Bauwadanö menjadi penghuni dasar bumi

Ø     Sorogae menjadi pilar  bumi

Ø     Tuha Sangaröfa  menghuni dasar laut

Ø     Hia diturunkan di Mazingö (Gomo) bersama rumah adat yang sungguh berat

Ø     Gözö turun ke Nias bagian utara bersama Sawae

Ø     Daeli ke Idanoi bersama batu pengasah dan daun ubi jalar

Ø     Hulu Sebua ke barat sungai Oyo

Ø     Börönadu ke selatan menjadi cikal bakal kaum imam (ere)

Versi S.W. Mendröfa

Ø     Hia diturunkan di Mazingö Gomo

Ø     Gözö ke utara

Ø     Hulu ke Laehuwa

Ø     Daeli ke Laraga

Ø     Cucu Luomewöna ke Daso Noyo

Koleksi Johannes Hämmerle

Ø         Salawa Holia di Teteholi Ana’a berputra 3 orang yakni Hia, Gözö dan Ho. Hia berputra 9 orang di antaranya bernama Zedawa. Zedawa berputra 6 orang di antaranya bernama Mölö. Mölö berputra 5 orang yakni: Fau, Tachi, Boto, Maha dan Hondrö, yang menjadi moyang warga Nias daerah Selatan dan sekitarnya (Hämmerle: 1986

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!