Karakteristik Masyarakat Nias (5)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Bahasa Daerah Nias

Bahasa Daerah Nias sangat unik. Sungguh beda dengan keseluruhan bahasa daerah lain di Indonesia, terutama karena kata-kata terdiri dari huruf-huruf vokal (huruf hidup). Tak kenal konsonan double, setiap kali selalu diantarai dengan huruf vokal (misal, bilang pastor jadi pasitoro). Tidak kenal konsonan pada akhir kata, tidak kenal huruf p (pendeta dibilang fandrita) dan sangat dominan huruf z, f, kh, ndr dan huruf ö. Mengenal huruf d yang keras (möido= aku pergi) dan lembut (tuada= kakek kita) begitu juga huruf w yang keras (Lahewa) dan w yang lembut (Bawalia). Sangat biasa kata terdiri dari kombinasi huruf vokal (ue= rotan dan u’u = kumur). Lidah orang Nias agak berat mengucapkan kombinasi huruf mb (seperti membimbing) dan kombinasi huruf nd (seperti pendidikan, mendidik). Dikenal tiga buah dialek: utara (agak lembut), selatan (agak keras-keras) dan tengah (terkenal dengan huruf cu maka bilang tuada jadi cuada). Aksen ada beberapa: aksen Lahewa (terkenal dengan gelombang suara), aksen Sirombu (terkenal dengan hendre), aksen Nias Tengah (terkenal dengan cu dan ine). Sundermann melihat kesulitan bagi orang asing menguasai bahasa Nias karena konjunksi kata (morfofonemik) yakni terjadinya pertukaran kata seperti teu ke deu (hujan) misalnya teu toho (hujan deras), tohare deu (datang hujan).

Perasaan, kepercayaan dan tradisi diungkapkan lewat: amaedola (peribahasa), hoho (mite), umanö (cerita), fo’ere (doa), maedo-maedo (umpama, misal), dahö-dahö (teka-teki), lailö dan ngenu-ngenu (ratapan hidup). Sifat syair-syair ini kental dengan paralelisme, ritme irama dan ulangan idomatik. Sambil omong dengan mengalir saja mereka menyelipkan peribahasa atau pepatah atau pemeo untuk mengungkapakan pendapatnya atau secara halus menolak pendapat orang lain. Ini memang menyulitkan orang luar bila berhadapan dengan orang desa.

8. Ragam Seni

Biasa dikatakan bahwa warga Nias musikal, suka nyanyi. Alat-alat musik yang sempat dikenal: aramba, göndra, faritia, fondrahi, tutu, lagia, doli-doli (bue, hagita), sigu, tabalia (koko), tutuhao, famaerua, tamburu, duri mbewe dan duri ahe. Lagu traditional yang diiringi gerakan tari: hiwö, maluaya, maena, tari moyo dll. Menurut Bapak Ama Yana Zebua melodi musik Nias bervariasi: lento-amoroso, allegro-animoso/brioso dan moderato-maestoso. Agaknya tersirat dalam lagu “TANÖ NIHA”, lagu pujaan masyarakat Nias. Kalau ada pesta nikah atau pesta gereja atau pesta massa, biasa ada acara maena yang mengekspresikan  kekompakan, menandakan kemeriahan dan memperkokoh identitas.

9. Masalah Sosio-Ekonomi: yang Tumbuh dari Dalam dan Luar

1).  Penghasilan / pendapatan secara umum tidak tetap (tergantung musim dan cuaca). Biaya sekolah, pengobatan, tambahan gizi dan rekeasi hampir tidak ada. Karena itu penciptaan lahan pekerjaan sangat mendesak.

2).  Jumlah anggota dalam keluarga rata-rata banyak (pertambahan penduduk di atas 2% per tahun).

3).  Infrastruktur (jalan-jembatan) yang minim sekali sehingga hasil bumi dan barang kebutuhan kebanyakan masih dipundak. Sudah lumayan pelebaran jalan raya yang dihotmix, berkat bantuan kemanusiaan warga dunia yang tersalur lewat BRR NAD Aceh-Nias sesudah bencana gempa. Sepanjang masa akan disyukuri kabaharuan ini.

4).  Hampir tidak ada pabrik apalagi industri yang menyerap tenaga kerja. Harap dalam 30 tahun mendatang akan ada tambang minyak dan tambang batubara.

5).  Kendala bahasa (kurang terbiasa berbahasa Indonesia apalagi Bahasa Eropa modern) menghambat pergaulan dan komunikasi dengan orang luar.

6).  Gampang konflik yang menghambat terobosan usaha dan ragam kegiatan.

7).  Cukup berakar alam pikir / mentalitas: salio (yang cepat), sebua (yang besar-besar), saoha (yang gampang), soroma (yang nampak, kasat mata), saro (yang kokoh). Ini pertanda kurang sabaran dan tanpa mau banyak capek.

8).  Pemborosan dalam pesta-pesta keluarga khususnya dalam pesta nikah dengan biaya tinggi dan juga untuk pesta pemakaman orangtua. Mungkin warga Nias yang terbanyak makan daging babi dalam hitungan bulan. Asal ada sedikit pesta, potong babi besar/kecil, atau minimal beli daging kilo. Daging ayam atau ikan tidak terhitung makanan bernilai adat.

9).  Penyakit yang menahun: malaria, asma/tbc, kematian anak lahir, hypertensi. kolestrol karena terlalu kerap konsumsi daging babi. Penyakit stroke akhir-akhir ini merata di mana-mana juga.

10).Kelewat melindungi kaum perempuan sehingga mereka sulit bergerak atau berkreativitas.

11).Pujian warga terhadap pendatang dari suku lain atau pendatang dari luar negeri: I’ila dödöda (tau keinginan kita, mau memberi dan menolong), I’ila lida (tahu bahasa kita), I’ila hada khöda (paham  adat kita), fahuwu ia khöda (bersahabat dengan kita), I’a göda (dia ikut makan bersama kita).

Penutup

Bulan di langit memang selalu punya sisi gelapnya, tak ada gading yang utuh sempurna, tapi syukurlah matahari kan bersinar besok dan untuk seterusnya. Mudah-mudahan untaian goresan budaya ini walau hanya sekilas pandang memompakan semangat dan tekad baru untuk berbakti di tengah warga yang jauh dari pusat keramaian dan dari pusat dunia. Tenaga kependidikan, teristimewa yang di bidang pastoral-kateketik (kegembalaan dan pembinaan iman) perlu mendalami basic values dan local condition warga setempat. Mereka dituntut menyadari power yang sudah ada, meminimalisasi weekness dan memanfaatkan peluang. Begitu akan terbentang hamparan panen yang akan dituai. Nias yang baru dan maju akan bisa terwujud berkat budi, hati dan tangan yang dibaharui.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!