Reboisasi Mendesak

July 14, 2009 by  
Filed under Buletin

Oleh : Stefanus Zebua, S.Ag

Seiring dengan maraknya pembangunan maka kebutuhan masyarakat akan bahan-bahan bangunan semakin banyak. Situasi ini dilatarbelakangi oleh situasi alam yang memaksa masyarakat untuk menerima kenyataan yakni gempa bumi yang meluluhlantahkan berbagai sendi kehidupan di Pulau Nias, sehingga mulai membenahi kembali, membangun lagi entah melalui berbagai bantuan atau bertumpu pada kemampuan sendiri. Reaksi ini memang harus didukung dan masyarakat harus didorong untuk itu.

Bencana yang sudah terjadi berefek sangat negatif bahkan sangat menakutkan itu, kini telah menjadi satu rahmat yang eksepsional bagi masyarakat. Kelihatannya nias yang dulu terosilir dan daerah lain, kini tidak lagi. Daerah Nias di mata dunia internasional, bukan suatu tempat yang sulit dibayangkan lagi. Kini sudah familiar baik masyarakat nasional maupun internasional. Kondis ini memberi keberuntungan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Dibanding dengan keadaan sebelumnya, pasca gempa bumi, daerah nias beberapa langkah sudah maju. Infrastruktur mulus, pembangunan gedung sekolah berstandart, rumah-rumah penduduk dan pemukimannya tertata dengan baik, layaknya suatu pemukiman realstate. Disamping perkembangan dan kemajuan yang maha dahsyat itu, serentak dengan itu pula datang ancaman baru, bila tidak diantisipasi dengan baik.

Masyarakat memiliki materi-materi bahan bangunan yang dapat diandalkan dan juga berstandar. Hal ini merupakan suatu peluang masyarakat untuk meningkatkan perekonomian melaqlui penjualan kayu sebagai bahan bangunan. Bila kita perhatikan dengan seksama, kayu-kayu bangunan yang ditebang terlihat berton-ton kubik. Maka timbullah suatu persoalan, bagaimanakah menggantinya atau mereboisasinya ? Untuk mengembalikan keadaan alam seperti sedia kala utamanya pada penebangan kayu-kayu yang nota bene untuk bahan-bahan pembangunan, barangkali seluruh lapisan masyarakat perlu membuat suatu komitmen, agar tidak terjadi bencana kelongsoran, bencana banjir serta bagaimana usaha menumbuhkan, menciptakan masyarakat yang sadar, peka dan peduli akan lingkungan hidup yang bersih, sehat, menyegarkan dan menyejukkan. Ungkapan ini tidak hany ungkapan bayang-bayang yang cuma retorika belaka tetapi bagaimana wujud nyata dari suatu keprihatinan. Maka, penulis membatasi diri dalam beberapa hal saja, menyangkut upaya reboisasi dan penciptaan lingkungan yang familiaris dengan manusia. Pertama upaya dan tindak lanjut dari pemerintah kita perihal menata kembali keadaan alam yang semakin hari semakin memprihatinkan. Kedua out put program lembaga legislatif sebagai lembaga perwakilan rakyat yang memiliki kewenangan mengajukan usaha perbaikan kepada eksekutif. Ketiga peranan Dinas Pertanian dan Dinas Kehutanan perihal pembalakan hutan sembarangan yang disertai dengan legalitas izin pengusaha serta konsekuensi peremajaan kembali. Keempat perlunya menata dan memberi masukan kepada masyarakat untuk menghempang budaya tafake zi so, tanpa memikirkan yang sudah dipakai dapat tergantikan kembali.

Ungkapan tafake ua zi so ini sering kali menjadi neraka, karena ada tendensi pemikiran bahwa nanti bisa diganti. Nanti bisa diganti itu berarti sudah menunda sesuatu. Menunda sesuatu berarti akan menjadi lupa Alasan dan tindakan ini sudah menjadi kebiasaan yang sangat mendarah daging, dan apabila tidak diingatkan dan diberi penyadaran, serta motivasi maka kita akan terbuai.

Masih sangat segar dalam ingatan kita bersama tentang tema APP tahun 2007 yang mengupas sangat dalam tentang lingkungan hidup manusia. Tema ini tidak hanya sekedar mengingatkan akan resiko-resiko keserakahan kita bersama, tetapi mengajak kita semua untuk bertindak untuk usaha menata kembali alam lingkungan hidup kita seperti diharapkan oleh Sang Pencipta sejak awal mul;a bahwa : ALAM SEBAGAI CIPTAAN ALLAH SANGAT BAIK ADANYA. Mari kkita tata kembali lingkungan hidup kita yang semakin : FASMEN (FAMILIAR, ASRI, MENYEJUKKAN).

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!