Peroleh Izin Operasional
July 20, 2009 by STP
Filed under Bidang Ilmu, News
STP Dian Mandala Gunungsitoli Keuskupan Sibolga telah mencatat sejarah panjang. Sudah selama 17 tahun mengelola pendidikan pastoral tingkat akademis bagi calon-calon Guru Agama Katolik, Katekis dan petugas pastoral. Tetapi jauh sebelum itu pendidikan tenaga kegerejaan ini sudah berawal di PGAK (Pendidikan Guru Agama Katolik) Dian Mandala, yang mulai beroperasi pada tahun 1979. Pimpinan masa itu antara lain: P. Paulinus Manaõ OFMCap, Sr.Theresia Hondrö SCMM, Sr. Bernadet Chandra SCMM, dan Bpk. Drs. Wilhelm Ndruru (alm). Sejalan dengan peraturan pemerintah, maka PGAK ditiadakan dan diganti dengan Institut Pastoral Dian Mandala Filial IPI Malang. Sejarah singkatnya sebagai berikut:
1. Diterbitkan Surat Izin Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama RI No. G/PP.03.2/128/91, tanggal 2 Februari 1991, yang ditujukan kepada Rektor Institut Pastoral Indonesia (IPI) Malang untuk membuka Filial Program Diploma Dua (D2) dan Diploma Tiga (D3) Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik di Sekolah, mulai Tahun Kuliah 1991/1992 pada Keuskupan Sibolga – Sumatera Utara.
2. Surat Keputusan Rektor IPI, Nomor: 11 Tahun 1991 dan Nomor: MLG-01/SK-DIP/IPI/III/1991, tanggal 18 Maret 1991, perihal Pembukaan Filial Program Diploma Dua (D2) dan Program Diploma Tiga (D3) Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Tinggi Pastoral Gunungsitoli – Nias – Keuskupan Sibolga.
3. Surat Keputusan Uskup Sibolga, No: 039/KS – SK/91, tanggal 20 Maret 1991, tentang Pembukaan Filial IPI-Malang, Program D2 dan D3 Keuskupan Sibolga, cq. Gunungsitoli. Pimpinan pertama adalah Bpk. Drs. Wilhelm Ndruru (alm) dan menyusul kemudian Bpk. Zeno N. Halawa, S.Ag.
4. Keputusan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Katolik Departemen Agama RI No: Dj.IV/Hk/005/42/2004 tentang Pemberian Ijin Penyelenggaraan Kuliah Kelas Jauh (KKJ) Program S1 Sekolah Tinggi Pastoral (STP-IPI) Malang di Nias Keuskupan Sibolga. Pimpinannya Bpk. Zeno N. Halawa, S.Ag hingga Februari 2008, menyusul dipimpin oleh P. Dr. U. Marinus Telaumbanua, OFMCap sejak tanggal 5 Maret 2008.
5. Keputusan Ketua STP-IPI Malang Nomor 05/K/IPI/IV/2004 tentang Pembukaan Kuliah Jarak Jauh (KJJ) Program S1 Jurusan Katekese Pastoral di Nias Keuskupan Sibolga.
Jadi, sudah sejak tahun 1991 ada pengalaman berharga dalam hal seluk beluk pengelolaan dan pengaturan mekanisme Perguruan Tinggi Agama Katolik Swasta (PTAKS) yang pada tahun 2004 diberi nama Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala Gunungsitoli, Filial STP-IPI Malang di Nias.
Mendesaknya kebutuhan besar akan tenaga guru agama Katolik dan tenaga pastoral lainnya, tersedianya fasilitas yang memenuhi persyaratan akademis, sehat dan lengkap, tersedianya tenaga kependidikan dan tenaga administrasi yang tetap dikembangkan, adanya dukungan positif dan menggembirakan dari banyak pihak, adanya mahasiswa yang merasa terpanggil menjadi pelayan gerejani, adanya kemampuan finansial untuk pengelolaan yang baik dan kontinu maka dapat disimpulkan:
- Sangat layak didirikan STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga dalam tahun akademik 2008/2009, yang berarti tidak lagi filial STP-IPI Malang.
- Program yang dimohonkan adalah program Strata 1 (S1) jurusan Pastoral Kateketik.
- Izin yang dimohonkan meliputi: Program S1 Reguler, Program KKK (Kuliah Kelas Khusus) dan Program KJJ (Kuliah Jarak Jauh). Ketiga program ini akan tepat menjawab kebutuhan masyarakat banyak, khususnya kebutuhan 630 sekolah (SD, SMP, SMA dan PT) se wilayah Keuskupan Sibolga. Implikaisnya tenaga pendidik pun akan berijazah S.Ag (Sarjana Agama).
Hari Selasa tanggal 26 Agustus 2008 Dirjen Bimas Katolik Depag RI Bpk. Drs. Stef Agus bersama Ibu dan rombongan datang ke Gunungsitoli untuk memenuhi permohonan Keuskupan Sibolga. Melalui SK Nomor Dj.IV/Hk.00.5/137/2008 Bapak Dirjen atas nama Pemerintah memberi izin penyelenggeraan pendidikan tenaga pastoral kegerejaan di STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga. Bapak Uskup Mgr. Dr. Ludovicus Simanullang, OFMCap. melalui Surat Keputusan Nomor 015.1/KS-SK/2008 telah menetapkan unsur pimpinan STP DM yakni: P. Dr. U. Marinus Telaumbanua, OFMCap (Ketua), Zeno N. Halawa, S.Ag (Puket I), Feronika Zai, S.Ag (Puket II), dan Stefan Y. Zebua (Puket III). Syukur kepada Tuhan Allah kita dan ribuan terimakasih kepada semua pihak.
Popularity: 37% [?]
Interaksi Guru dan Siswa
July 20, 2009 by STP
Filed under Karya Tulis, Opini
(Sibarudin Giawa)
Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala (STP-DM) Gunungsitoli Keuskupan Sibolga menyajikan sejumlah mata kuliah yang membentangkan interaksi antara Guru Agama dan siswa. Di antaranya: Ilmu Didaktik Metode Khusus, Ilmu Kateketik, Evangelisasi dan semua Matakuliah seputar Katekese. Selain itu dalam mata kuliah Kristologi dipaparkan cara mengajar yang istemewa dari Yesus Kristus Sang Juruselamat, yang patut dan harus kita teladani dalam mewartakan Sabda Allah melalui katekese atau pengajaran agama di sekolah.
Hubungan Guru Agama dan Siswa
Guru Agama dan siswa melakukan kegiatan yang berbeda dalam proses pengajaran. Seorang guru atau katekis berusaha mengajar, mendidik dan membimbing para siswa atau pendengarnya. Bidikan yang mau dicapai adalah agar mereka terbentuk menjadi manusia yang sungguh dekat dengan Sabda Allah dan akhirnya menjadi pewarta sabda Allah kepada sesama. Seorang siswa berusaha meraih untuk dirinya pengetahuan demi pembentukan dirinya melalui pengalaman bersama guru, orang tua dan lingkungan sekitarnya. Siswa berusaha mengenal dan mengimani Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus dan Roh-Nya yang menghidupi manusia, sehingga karena kekuatan Roh Allah seorang siswa mampu meneruskan pewartaan sabda Allah kepada sesama manusia.
Singkatnya Guru Agama atau Katekis dan siswa bersama-sama membangun tali rantai sabda Allah yang hidup dan berkesinambungan tanpa putus untuk selamanya. Bangunan tali rantai sabda Allah itu akan kokoh dan menjulur ke seluruh dunia. Guru agama mempersiapkan diri sebelum mengajar dan kemudian melakukan kegiatan mengajar dan mendidik dengan tujuan membentuk pribadi siswa menjadi manusia yng memiliki iman, pengharapan dan cinta kasih. Sebab orang yang mamiliki iman, harapan dan cinta kasih dalam dirinya Allah meraja. Cahaya kemuliaan Allah bersinar dalam dirinya dan memberi terang bagi sesama. Kehadiran Allah dalam dirinya tampak malalui kata-kata, sifat, pandangan yang mendominasi perbuatan sehari-hari. Inilah yang dimiliki dan dibagikan oleh seorang pengajar pendidikan agama kepada pendengarnya. Sebab seseorang tidak mungkin memberi sesuatu yang tidak ia miliki.
Kesenjangan
Guru Agama atau Katekis diharapakan mampu mengajar dan mendidik siswa untuk sampai pada pengenalan dan cinta akan Allah. Guru Agama yang memiliki spiritualitas yang benar akan mampu mengajar dan mendidik siswanya menuju pada tujuan yang diharapkan oleh Gereja. Inilah titik akhir yang mau dicapai oleh pengajar dalam pendidikan agama atau katekese. Untuk itu dalam proses pengajaran agama ada 3 aspek yang perlu diperhatikan yakni: konyitif, afektif dan operatif. Proses pengajaran pendidikan agama akan mengalami kesenjangan apabila seorang guru agama tidak menghidupi sabda Allah yang diwartakan melalui pendidikan agama atau ketekese; apabila tidak memiliki profil seorang pewarta sabda Allah yang terbukti dalam kehidupan moral dan spiritualitas katekis; apabila tidak mengetahui dan memiliki tujuan yang hendak dicapai pada setiap pewartaan; apabila sulit menyesuaikan bahan dan metode katekese atau pengajaran agama kepada para pendengarnya menurut sikonnya; apabila kurang menampakan rasa persahabatan dan apabila melupakan komponen kognitif, afektif dan operatif siswa.
Harapan dan Refleksi Seorang Guru Agama
Seorang Guru Agama atau Katekis mengemban tugas mulia dan suci. Tugas mulia itu membawa dan menuntut orang supaya hidupnya terpuji di hadapan Allah dan manusia. Seorang Katekis atau Guru Agama seharusnya menyadari bahwa tugas itu adalah suatu panggilan yang diterima dari Tuhan dan mengetahui apa yang mau dicapai dalam tugas itu.
Jadi seorang Guru Agama atau Katekis bukan hanya menyampaikan materi pengajaran (asal selesai materi) tetapi terutama membimbing atau mengarahakan para pendengarnya menuju pribadi yang mamiliki iman, pengharapan dan cinta kasih. Secara bersahabat siswa diajak untuk membuka diri menerima Yesus lewat pengajaran dan profil dari para pengajarnya.
Baiklah seorang Guru Agama atau Katekis memiliki rasa persahabatan kepada sesama terutama kepada siswa atau para pendengarnya baik pada proses pengajaran maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab ia sendiri mengemban tugas mewartakan cinta kasih yang dari Kristus.
Melalui paparan di atas kita sebagai pelayan sabda Allah diajak untuk melihat apa yang perlu dibenahi dan ditingkatkan untuk mencapai tujuan pewartaan. Untuk itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Sejauh mana saya telah menghidupi sabda Tuhan? Sejauh mana saya telah mendalami Kristus dalam mengemban tugas pewartaan sabda Allah? Apakah saya memiliki komitmen dalam mencapai tujuan pewartaan sabda Allah atau saya melaksanakannya hanya karena tugas (pokoknya selesai tugas dan tidak peduli akan situasi siswa), sehingga komitmen cenderung mengutamakan gengsi atau harga diri sebagai guru yang ingin ditakuti dan disanjung oleh siswanya?
Dalam bidang studi Kristologi Yesus memberi teladan agung kepada kita tentang bagaimana menjadi seorang guru yang baik. Seorang guru memiliki pribadi yang terpuji, patut diteladani dan bahkan menjadi figur bagi banyak orang. Yesus mengajak kita untuk mewartakan sabda Allah ke seluruh dunia agar semua orang menjadi murid-Nya dan melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya ( bdk Mat. 28:19-20). Dengan demikian kita melakukan dan mewartakan kehendak Tuhan dalam tugas dan bukan kehendak manusia.
Akhir kata semoga tugas kita sebagai pelayan sabda Allah dilandasi oleh contoh teladan Yesus Kristus Putra Allah, sehingga terang Roh Kudus menerangi hati semua orang dan damai sejahtera meraja di seluruh dunia.
Popularity: 56% [?]
Mengembangkan Persekutuan Hidup Beriman Umat Kristiani yg Semakin Bersumberdaya
July 20, 2009 by STP
Filed under Artikel, Karya Tulis
(Stefan Y. Zebua, S.Ag)
Ungkapan berswadaya, berswasembada, dan berswakarya diartikan agar setiap orang atau setiap kelompok mampu memenuhi kebutuhannya sendiri serta mampu berdiri di atas kaki sendiri. Juga berkemampuan untuk menciptakan usaha menuju kepada kemandirian.
Nada yang sama, sebenarnya Gereja telah suarakan sangat lama dan umat dimotivasi terus agar semakin mandiri. Gereja sebagai suatu institusi sejak Konsili Vatikan II telah melegitimasikan agar umat Allah semakin turut aktif dan semakin mengkonkritkan keterlibatannya dalam karya-karya kerasulan Gereja.
Keikutsertaan umat Allah dalam berbagai karya kerasulan Gereja adalah wujud konkrit dan tanda suatu persekutuan umat beriman yang terus mengalami perkembangan. Perkembangan ini lebih tajam dapat dipahami apabila umat beriman mampu dan dengan penuh kesadaran turut ambil bagian dalam berbagai kegiatan hidup menggereja dan aktip terjun dalam kancah perjuangan masyarakat umum.
Tetapi harapan dan idealisme Gereja ini mengalami dinamika pasang surut, bahkan kalau boleh dikatakan lebih banyak surutnya. Persekutuan umat Allah dalam kenyataannya masih berjalan di tempat, belum menjadi suatu gerakan yang betul-betul dipahami sebagai suatu kebutuhan mendesak dan merupakan cita-cita bersama.
Apabila demikian kenyataannya, maka tentu ada masalah, ada kendala, ada kesulitan yang harus dicari jalan keluarnya. Romo Mangunwijaya Pr pernah berbicara tentang “Umat Akar Rumput” (UAR). Ungkapan ini menunjuk pada Umat Allah sebagai Basis. Umat Allah sebagai basis dipahami sebagai subyek, sebagai pelaksana dan dasar nyata dari seluruh program pembinaan yang diprogramkan secara bersama dalam persekutuan umat beriman.
Untuk menuju suatu persekutuan hidup beriman yang dicita-citakan, yang hidup dan berkembang, yang akhirnya menjadi suatu persekutuan hidup penuh dinamika dan persekutuan hidup yang mewartakan, maka perlu dikaji secara terus menerus metode dan cara yang tepat. Tujuan pengkajian agar persekutuan hidup yang ada menjadi milik bersama umat, persekutuan yang menjadi tanggungjawab bersama umat, persekutuan hidup yang diperjuangkan secara bersama oleh umat. Atas cara demilian ungkapan: dari umat, oleh umat dan untuk umat bukan hanya sebagai suatu slogan belaka, tetapi menjadi suatu kenyataan.
Persekutuan hidup yang hendak diberdayakan dan dimandirikan, pertama-tama harus disadari bahwa di dalamnya ada tiga pilar sentral yang harus dipahami, yakni: kebutuhan (need), masalah (problem) dan kemampuan (potency). Ketiga pilar ini akan menjadi katrol dalam usaha pemberdayaan, agar program-program kegiatan yang akan dijalankan mampu menjawab apa yang diharapkan sesuai dengan situasi konkrit yang sedang dihadapi.
Ada tiga pilar yang perlu dimengerti, dipahami dan disadari oleh umat beriman. Untuk tulisan kami berikut ini, kami akan menyajikan pilar yang pertama, yakni : Kebutuhan (need).
KEBUTUHAN
Dalam bahasa Kamus, kebutuhan mengandung pengertian sebagai berikut: sesuatu hal yang diinginkan oleh seseorang guna dipenuhi dalam hidupnya yang akhirnya mendapatkan kepuasan batin. Pengertian ini memberi muatan, bahwa setiap manusia dalam kodratnya yang normal memiliki berbagai keinginan atau kebutuhan. Dengan adanya kebutuhan, maka setiap manusia akan berupaya dengan berbagai usaha agar kebutuhan yang dimaksud dapat terpenuhi, yang terkadang dengan bantuan orang lain. Misalnya seorang anak, yang punya kebutuhan yang harus dipenuhi, namun si anak tidak dapat memenuhinya sendiri, maka harus melalui campur tangan orang lain yakni orangtua. Atau kita manusia dewasa memiliki kebutuhan yang tidak dapat kita upayakan sendiri, maka harus melalui bantuan pihak lain. Begitulah terus menerus dalam proses pemenuhan kebutuhan.
Kembali kepada konteks bagaimana usaha berbagai pihak dalam Gereja dalam memenuhi kebutuhan umat beriman? Tentu dalam konteks sebagai umat beriman yang mandiri. Pertanyaan kita ialah: Apakah kebutuhan umat yang mendesak untuk dipenuhi saat ini, dan bagaimana cara pemenuhannya, serta peluang apa yang ada untuk itu?
Dalam refleksi, kami memberi sumbangan pemikiran tentang kebutuhan yang mendesak di tengah-tengah umat sekarang ini, agar sungguh berdaya dan bermanfaat. Kami melihat beberapa hal, yaitu :
a. Mengenal umat
Mengenal umat artinya tahu persis siapa umat, di mana domisilinya, bagaimana keadaan ekonomi umat, keadaan lingkungan umat, letak geografis teritorialnya dan lain sebagainya. Untuk dapat masuk di tengah-tengah mereka dan dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan apa yang dibutuhkan dalam persekutuan umat beriman, maka perlu suatu penelitian akan kebutuhan tersebut dengan tujuan agar apa yang akan diberikan/diprogramkan dalam pengembangan hidup beriman kristiani sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang sedang dirasakan dan dibutuhkan.
Pelayanan-pelayanan yang diberikan sebagai suatu wujud tanggungjawab dalam mengembangkan iman umat, dan dalam pengembangan persekutuan hidup beriman, sesungguhnya sudah baik dan berjalan dengan lancar. Tetapi, perlu dikaji secara terus menerus. Bila secara riil nyata umat kita di teritorail tertentu masih berjalan di tempat, hal ini harus mengundang perhatian kita untuk mencari penyebab. Maka, solusi apa yang akan kita tawarkan? Misalnya: kita memprogramkan gerakan Katekse Umat. Kita tahu bahwa katekese umat penting dan sangat berguna dalam penguatan iman umat. Dalam proses katekese umat, umat saling membagi, saling berkomunikasi dengan tujuan agar satu dengan yang lain dapat menimba pengalaman-pengalaman iman yang dialami. Tetapi pertanyaan kita sekali lagi adalah: bagaimana proses itu sendiri, sudahkah sesuai dengan apa yang didambakan oleh umat? Oleh karena itu perlu analisis, perlu penelitian, barang kali metodenya perlu dimodifikasi atau lebih variatif. Tentu jawabannya kembali dari situasi lapangan yang sudah dan sedang kita jalankan. Menyimak hasil PKKI IX tahun 2008 di Manado “Katekese dalam Masyarakat yang tertekan”, kita ditantang bagaimana berkatekese bagi masyarakat yang sedang tertekan dalam ragam bentyuknya. Tertekan sangat luas, dan dalam sudut pandang apa kita lihat?
(Bersambung …).
Popularity: 58% [?]

