Kompetensi Lulusan Guru Agama Katolik Dalam Pandangan Gereja Dewasa Ini

September 16, 2011 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra, News

(Oleh Dr. M. Purwatma)

Ketika menerima surat kepercayaan dari Duta Besar Equador untuk Tahta Suci Vatikan tanggal 22 Oktober 2010 (Zenith 22 Oktober 2010, Paus Benedictus XVI menekankan bahwa pendidikan lebih dari sekedar menanamkan pengetahuan, tetapi menanamkan cinta kebenaran. Lebih lanjut Paus menegaskan agar negara menjamin pengajaran agama di sekolah, karena Paus meyakini iman Katolik dapat memberi sumbangan besar dalam memajukan martabat pribadi manusia dan pengembangan masyarakat. Meskipun ada perbedaan situasi antara Equador dan Indonesia, namun pesan Paus ini menantang kita semua untuk meninjau apa yang mau dicapai melalui pendidikan agama baik di sekolah maupun di komunitas-komunitas basis, sehingga dapat menjadi acuan bagi perumusan kompetensi guru agama katolik lulusan Perguruan Tinggi Swasta Agama Katolik.

Peran Katekis dan Petugas Pastoral Awam dalam Gereja

 

Seorang guru agama pertama-tama adalah seorang pewarta. Tugas pewartaan memang merupakan tugas seluruh Gereja, namun dalam pelaksanaanya dilakukan oleh orang-orang yang dipanggil untuk tugas itu.  Fr. S. Devaraj (2007:849) mencatat bahwa peran awam dalam hidup dan perutusan Gereja setempat semakin meningkat dewasa ini. Di antara mereka itu ada orang-orang yang terpanggil secara khusus untuk melayani Kerajaan Allah dengan mewartakan sabda, mempersiapkan umat dalam menerima dan merayakan sakramen, serta membentuk jemaat berdasar nilai-nilai Injili. Mereka itulah para katekis awam yang sangat berperan dalam karya missi, khususnya di Asia dan Afrika.

Menelusuri dokumen-dokumen Gereja mengenai peran katekis dalam Gereja, Devaraj (2007:854), menyimpulkan bahwa katekis tidak lagi dipandang sebagai pelayan  pengganti dalam Gereja, tetapi sungguh-sungguh sebagai “rekan kerja yang tangguh bagi para imam” (AG 17). Perubahan peran katekis sebagai pembantu atau pengganti menjadi rekan sekerja para imam ini merupakan buah pembaharuan Konsili Vatikan II yang memandang Gereja sebagai Umat Allah, yang berakibat pada pemahaman baru mengenai pelayanan dalam Gereja pula. Paus Yohanes Paulus II menegaskan kaitan katekis dengan jemaat, dalam jemaat katekis merupakan “pekerja-pekerja khusus, saksi langsung dan para pewarta yang sangat dibutuhkan,  yang mewakili kekuatan utama jemaat-jemaat Kristiani, khususnya dalam Gereja-Gereja muda” (RMi 73). Dalam Gereja-gereja muda, para katekis tidak hanya berperan dalam pewartaan, tetapi praktis berperan dalam sebagian besar pelayanan Gereja. Devaraj (2007:856-860), menyebutkan tiga pelayanan yang melibatkan katekis dalam Gereja, yaitu pelayanan Sabda, pelayanan ibadah, dan pelayanan diakonia. Rumusan ini mempunyai dasar dalam Kitab Hukum Kanonik, yang bahwa para katekis “membaktikan diri bagi ajaran Injil yang harus diwartakan, bagi perayaan-perayaan liturgi, serta karya amalkasih yang harus diatur” (KHK, kan. 785 § 1).

Pertama-tama katekis adalah seorang pewarta Injil, dia dipanggil untuk mewartakan kabar gembira keselamatan kepada semua orang. Pedoman untuk Katekis (1997: 18) mengatakan bahwa tugas khusus katekis ialah “mengajarkan katekese”. Dalam lingkup mengajarkan katekese ini dimasukkan pembinaan iman kaum muda dan dewasa, menyiapkan calon penerima sakramen inisiasi, memberi retret dll. Namun demikian, tugas pewartaan tidak hanya mencakup pada mereka yang sudah beriman, tetapi juga dalam rangka mengantar orang kepada iman. Pedoman untuk katekis memberi tekanan pada “semangat misioner yang jelas, yang ‘akan menjadi pemberi semangat misi itu sendiri di dalam lingkungan Gerejanya dan akan bersedia, kalau Roh memanggil mereka dan para pastornya mengangkat mereka, untuk pergi ke luar wilayah mereka untuk mewartakan Injil, menyiapkan para katekumen yang akan dibaptis, dan membangun komunitas Gereja yang baru.”. Pendek kata, tugas pewartaan katekis tidak terbatas dalam lingkup Gereja, tetapi membawa orang masuk ke dalam Gereja. Dalam hal ini General Directory for Catechesis menegaskan bahwa dalam fungsi ini katekese mencakup pewartaan kepada mereka yang belum percaya, untuk mengundang mereka ke dalam iman, memperkenalkan iman atau menginisiasikan orang dalam iman, pembinaan iman, homili, maupun berteologi (GDC 1997, no. 54). Dalam hal ini ada dua hal yang harus diperhatikan. Yang pertama proses pewartaan iman berkait erat dengan proses inkulturasi. Injil sudah selalu terbungkus dalam budaya tertentu, maka agar warta Injil menjadi hidup, warta Injil perlu diterangkan secara baru dalam konteks budaya yang baru. Yang kedua, sebagaimana ditegaskan dalam Evangelii Nuntiandi, penginjilan berarti membawa Injil kepada semua orang  sehingga mengubahnya dari dalam (EN 18), maka pelayanan Sabda haruslah menjadikan Sabda itu mengubah kehidupan orang.

Di Gereja-Gereja muda, katekis juga berperan dalam perayaan liturgi. Dalam jemaat-jeaat kecil, terutama yang jauh dari pusat, seorang katekis juga berperan sebagai pemimpin liturgi. Katekis seringkali harus bertindak sebagai animator liturgi, berperan penting dalam persiapan liturgi. Pedoman untuk Katekis menegaskan bahwa para katekis bertugas untuk “memimpin doa dalam kelompok, terutama pada liturgi hari Minggu ketika tidak ada imam, membantu orang sakit dan memimpin upacara penguburan” (1997: 18). Katekis juga berperan dalam pelayanan amal kasih (diakonia). Dalam jemaat-jemaat basis, katekis sekaligus berperan untuk menggerakkan hidup jemaat, maka juga sekaligus menjadi penggerak dalam pelayanan sosial-karitatif.

Dengan demikian, meski pelayanan utama seorang katekis adalah pewartaan Sabda, namun katekis juga berperan agar Sabda itu menjadi Sabda yang dihidupi dan dirayakan oleh umat. Dalam situsi itu, seorang katekis bertindak sekaligus petugas pastoral yang menjadikan jemaat hidup.

Tantangan Menggereja di Asia

 

Peran Katekis dalam Gereja terkait erat dengan kehidupan jemaat. Maka pergulatan jemaat setempatlah yang menjadi ajang dari pelaksanaan fungsi katekis, entah dalam pelayanan sabda, liturgi ataupun pelayanan yang lainnya. Secara khusus pantaslah diketengahkan apa yang sedang dihadapi oleh Gereja Asia, yang sedang mengembangkan suatu cara baru menggereja melalui jemaat-jemaat basis. Thomas C. Fox (2003: 202-211) menyebut beberapa situasi yang menjadi konteks menjadikan suatu cara baru menggereja di Asia.

Yang pertama ialah keadaan demografi Asia yang ditandai dengan kemiskinan dan ketidakadilan. Kehadiran Gereja di Asia akan ditentukan oleh sikapnya terhadap realitas kemiskinan dan ketidak adilan ini. Maka, mewartakan iman di Asia juga berarti mewartakan iman sebagai kabar gembira bagi mereka yang miskin ini, mereka yang menjadi korban ketidak adilan. Pantaslah digarisbawahi apa yang dikemukakan dalam SAGKI tahun 2005, bahwa Gereja Indonesia juga akan memilih berpihak pada korban.

Yang kedua ialah globalisasi. Pada Sidang FABC tahun 2000 para Uskup Asia memandang globalisasi sebagai tantangan utama. Memang banyak keuntungan dapat dipetik dari globalisasi, namun hanya sedikit oranglah yang menikmati buah globalisasi itu. Banyak orang justru terpinggirkan oleh karena globalisasi. Tantangan yang paling besar dari globalisasi ialah globalisasi kultural, yang justru akan diwarnai oleh budaya materialistis dan sekular. Globalisasi kultural ini akan semakin meminggirkan budaya-budaya lokal. Inilah tantangan iman bagi Gereja.

Yang ketiga ialah fundamentalisme agama. Akhir-akhir ini fundamentalisme agama sangatlah merebak. Berkembangnya fundamentalisme agama membuat perpecahan dalam masyarakat. Apalagi ketika fundamentalisme itu disertai dengan kekerasan untuk memaksakan kehendak terhadap orang lain. Berhadapan fundamentalisme itu, Gereja mau membangun cara beriman yang terbuka, yang mau belajar dan hidup berdampingan dengan agama-agama lain. Untuk itu pembinaan dialog menjadi unsur penting dalam kehidupan beragama.

Yang keempat ialah situasi politik dan korupsi. Di banyak negara, termasuk di Indonesia kehidupan politik masih belum sehat. Korupsi masih merajalela, bahkan sekarang ini dapat dipandang sebagai kanker yang menggerogoti hidup bersama. Dalam konteks semacam itu, Gereja dipanggil untuk menghadirkan suatu komunitas alternatif, suatu komunitas basis yang memberdayakan anggota-anggotanya. Bahkan komunitas-komunitas ini dapat dikembangkan menjadi komunitas basis antar iman.

Yang kelima, Gereja di Asia berada dalam proses untuk mewujudkan jatidirinya sebagai Gereja setempat yang sejati. Upaya ini ditandai dengan upaya kontekstualisasi di bidang teologi dan di seluruh kehidupan Gereja. Oleh karena itu, Gereja harus selalu belajar dari agama-agama lain, belajar mendengarkan apa yang hidup di masyarakat.

Yang keenam, pewartaan melalui dialog. Sejak tahun 1974, para Uskup Asia meyakini bahwa untuk mewartakan Injil di Asia, maka Gereja Asia harus dibangun menjadi Gereja yang berdialog dengan realitas Asia, yaitu kemajemukan agama, budaya dan kemiskinan Asia. Dalam dialog orang berbicara dan mendengar, maka dalam dialogpun Gereja menyampaikan keyakinan imannya. Maka bagi para Uskup Asia, dialog tidak bertentangan dengan tugas pewartaan.

Yang ketujuh ialah solidaritas dengan mereka yang tersingkirkan. Solidaritas dengan mereka yang menjadi korban ini menjadikan Gereja menghadirkan nilai-nilai Injil secara riil. Melalui solidaritas inilah Injil dihadirkan dalam kehidupan bersama. Nota Pastoral K.W.I.tahun 2004 menunjuk solidaritas dengan mereka yang menjadi korban sebagai upaya Gereja menjadi tanda alternatif di tengah masyarakat yang sedang mengalami keterpurukan peradaban.

Yang kedelapan ialah spiritualitas keselarasan. Bersama para teolognya, para Uskup Asia menekankan pentingnya keselarasan. Keselarasan dipahami sebagai kehendak Allah yang menyelamatkan. Spiritualitas keselarasan mengembangkan semangat untuk mampu menerima macam-macam perbedaan dalam satu masyarakat. Tentu saja spiritualitas keselarasan tidak boleh dipahami sebagai situasi yang melanggengkan kekuasaan, dengan alasan selaras. Keselarasan yang sejati bila semua ditempatkan dalam kerangka kehendak Tuhan, semua ditempatkan dalam karya Allah yang mau menyelamatkan segala sesuatu.

Dalam konteks yang seperti itulah Gereja Asia mau menampilkan cara baru menggereja, khususnya melalui pemberdayaan jemaat-jemaat basis. Bila katekese mau berperan dalam pembentukan cara menggereja yang baru, maka katekese bertugas mengajarkan iman yang menjadi nyata dalam realitas-realitas itu.

Kompetensi Guru Agama

 

Pada akhirnya, baiklah dicoba diambil beberapa pokok bagi kompetensi guru agama lulusan Perguruan Tinggi Agama Katolik Swasta. Pertama-tama tugas seorang guru agama adalah mengajar agama. Maka kompetensi utama guru agama adalah kompetensi dalam mengajarkan iman. Maka pengenalan akan hidup beriman, baik ajaran-ajaran maupun praksis hidup beriman menjadi mutlak. Pedoman untuk Katekis (1997: 48) mengatakan bahwa “para katekis pertama-tama harus memahami hakikat ajaran Kristen sebelum mereka dapat menyampaikannya kepada orang lain secara jelas dan menarik, tanpa kekurangan apapun atau tanpa salah”.

Namun demikian, mengajar agama bukan sekedar transfer pengetahuan iman. Lokakarya yang diselenggarakan oleh Office of Education and Student Chaplainly FABC, mengenai Family Catechesis menegaskan bahwa tugas utama katekese ialah menjadikan murid Yesus, dan bukan sekedar meneruskan pengetahuan iman (FAPA IV, 73). Mempertimbangkan cara menggereja yang baru yang mau dikembangkan oleh para Uskup Asia, maka seorang guru agama bertugas membantu orang muda mengembangkan iman dan mampu hidup beriman dalam kehidupan bersama. Maka titik pangkalnya ialah membantu orang-orang muda menemukan pengalaman akan Allah dalam kehidupan mereka, sehingga pengalaman akan Allah itu menjiwai kehidupan mereka. Apa yang disinyalir oleh Uskup Agung Wuerl (2006: 362) mengenai konteks katekese di Amerika, juga pantas diperhatikan untuk situasi kita, yaitu bahwa budaya baru yang pelan-pelan mulai kehilangan perasaan religiusitasnya, karena pengaruh materialisme, sekularisme dan pragmatisme. Untuk itulah tugas pertama dari guru agama ialah membawa orang-orang muda kembali pada Allah, mengalami Allah dalam kehidupan mereka. Berpangkal pada pengalaman akan Allah yang menyapa mereka inilah, orang-orang muda dapat diajak mengembangkan cara menggereja yang baru sebagaimana dicita-citakan para Uskup Asia.

Dalam rangka membawa orang muda mengenal Allah dan hidup oleh imannya itulah perlu diperhatikan situasi sekarang yang diwarnai oleh pluralisme. Stefan Heil dan Hans-Georg Ziebertz (2004: 217) pelajaran agama sekarang ini ada dalam lingkungan pluralitas budaya. Pluralitas budaya ini menyangkut pola pikir orang-orang muda yang dihadapi oleh para guru agama. Orang muda yang datang mengikuti pendidikan agama juga tidak lagi homogen. Apa yang dimengerti oleh masing-masing peserta didik seringkali berbeda satu sama lain. Apalagi seringkali mereka juga tidak lagi familier dengan bahasa-bahasa agama. Maka guru agama perlu mempunyai kompetensi untuk mengenali macam-macam karakteristik dari para peserta didiknya dan menampilkan cara yang variatif dalam menyapa para peserta didiknya. Dalam hal ini kemampuan komunikasi serta berinteraksi dengan peserta didik menjadi syarat. Hal ini dapat dikembangkan dengan kemampuan dialog baik dengan para murid maupun dialog dengan agama-agama lain.

Bila dikembalikan pada cara menggereja di Asia, maka konteks hidup jemaat menjadi unsur penting dalam pembinaan iman. Oleh karena itu kemampuan untuk mengenal konteks juga merupakan kompetensi yang dibutuhkan, agar guru dapat membantu menjadikan murid menghidupi imannya dalam konteks zaman, agar iman bermakna bagi kehidupan.

Pada akhirnya seorang guru agama bertugas membantu orang muda hidup oleh imannya dalam jemaat konkret, dalam jemaat-jemaat basis. Bahkan para guru agamapun seringkali harus menjadi animator dalam kehidupan jemaat basis. Maka kemampuan membangun jemaat merupakan kompetensi yang dibutuhkan. Di dalamnya dapat dimasukkan kemampuan komunikasi, kemampuan memimpin, kemampuan berliturgi dan macam-macam ketrampilan yang diperlukan untuk mengembangkan jemaat.

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Congregation for Evangelization of People, 1997,Pedoman Untuk Katekis. Dokumen mengenai arah, panggilan, pembinaan dan promosi katekis di wilayah-wilayah yang berada di bawah wewenang CEP (terj. Komisi Kateketik KWI), Yogyakarta: Kanisius.

Congregation for the Clergy, General Directory for Catechesis, London: The Incorporated Truth Society, 1997.

Devaraj, Fr. S., “Lay Catechist in the Documents of the Church”, Vidyajyoti. Journal of Theological Reflection, 2006, 70: 849-862.

Eilers, Frans-Josef (ed), For All the Peoples of Asia. Federation of Asian Bishops’ Conferences Documents from 2002-2006, Quezon City: Claretian Publications, 2007.

Fox, Thomas C., Pentecost in Asia. A New Way of Being Church, Quezon City: Claretian Publications, 2003.

Heil, Stefan – Ziebertz, Hanz-Georg, “Teacher Professionalism in Religious Education”, Journal of Empirical Theology, 2004, 17 no. 2: 217-237.

Wuerl, D., “What a Catechist Is and Does”, Origins, 2006, 36 no. 23: 362-368.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!