Pembentukan Karakter Melalui Pendidikan

September 16, 2011 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra

 (Oleh: Dalifati Ziliwu)

Pendahuluan

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang bercita-cita untuk menjadi satu Negara besar, kuat, disegani dan dihormati keberadaanya di tengah-tengah bangsa-bangsa lain di dunia. Setelah kemerdekaan pencapaian cita-cita ini belum menunjukkan tanda-tanda menggembirakan. Optimisme mencapai cita-cita itu terus-menerus diharapkan, namun ditemui berbagai  macam tantangan. Semangat nasionalisme dalam menegakkan dan membangun  NKRI seakan-akan tidak dapat diimbangi karena begitu banyaknya  persoalan-persoalan yang harus diselesaikan bangsa ini. Mencuaknya beberapa hal yang bergeser dari nilai dan norma yang harus dijunjung tinggi, penegakan hukum yang belum terwujud, dampak demokrasi yang tidak diinginkan, karakter manusia yang semakin merosot. Ini semua merupakan dampak sikap orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak ada rasa memiliki akan bangsa yang hanya bersikap mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

UU No.20 tahun 2003 Sisdiknas, menegaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan iman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesem-purnaan hidup anak-anak kita. Pendidikan karakter merupakan bagian integral yang sangat penting dari pendidikan kita

Upaya pemerintah melalui Permendiknas No.23 tahun 2006, mengamanatkan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berperilaku sesuai Pasal 3 UU No.20 Tahun 2003 Tentang pendidikan Nasional. Pada SKL SMA/MA mengupayakan peserta didik dapat memiliki : (1) Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja; (2) Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya; (3) Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya; (4) Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial; (5) Menghargai keberagaman agama, bangsa,  suku, ras, dan golongan sosial-ekonomi dalam lingkup global; (6) Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif; (7) Menunjukkan  kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan; (8) Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri; (9) Menunjukkan sikap kompetitif & sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik; (10) Menunjukkan kemampuan  menganalisis dan memecahkan masalah kompleks; (11) Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial; (12) Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia; (13) Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya; (14) Mengapresiasi karya seni dan budaya; (15) Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok; (16) Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan; (17)  Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun; (18) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; (19)  Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain; (20)  Menunjukkan ketrampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis; (21)  Menunjukkan ketrampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris; (22) Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi. Dari beberapa poin diatas ada 11 dari 22 Kompetensi Sangat  dekat dengan pembentukan  karakter seorang peserta didik.

Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa emas namun kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Thomas Lickona (seorang profesor pendidikan dari Cortland University) dalam quari (2010:8) mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda jaman yang kini terjadi, tetapi harus diwaspadai karena dapat membawa bangsa menuju jurang kehancuran. 10 tanda jaman itu adalah: (1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja/masyarakat; (2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk/tidak baku; (3) Pengaruh peer-group (geng) dalam tindak kekerasan, menguat; 4) Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba;   alkohol dan seks bebas; (5) Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; (6) Menurunnya etos kerja; (7) Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; (8) Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok; (9) Membudayanya kebohongan/ketidakjujuran; dan (10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian  antarsesama.

Hakekat Karakter

 

Menurut Simon Philips  dalam quari (2010: 10), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema dalam quari (2010:12) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Sementara Winnie dalam quari memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.

Dari pendapat di atas dipahami bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi, ‘orang berkarakter’ adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Dengan demikian, pendidikan membangun karakter, secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau baik, bukan yang negatif atau buruk. Hal ini didukung oleh Peterson dan Seligman dalam quari (2010: 16) yang mengaitkan secara langsung ’character strength’ dengan kebajikan. Character strength dipandang sebagai unsur-unsur psikologis yang membangun kebajikan (virtues). Salah satu kriteria utama dari ‘character strength’ adalah bahwa karakter tersebut berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya potensi dan cita-cita seseorang dalam membangun kehidupan yang baik, yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan bangsanya.

Pendidikan Karekter

Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturisasi dan sosialisasi). Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itu mencakup sekurang-kurangnya tiga hal paling mendasar, yaitu: (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan ketrampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.

Ki Hadjar Dewantara dari Taman Siswa di Yogyakarta bulan Oktober 1949 pernah berkata bahwa “Hidup haruslah diarahkan pada kemajuan, keberadaban, budaya, dan persatuan”. Sedangkan menurut Prof. Wuryadi, manusia pada dasarnya baik secara individu dan kelompok, memiliki apa yang jadi penentu watak dan karakternya yaitu dasar dan ajar. Dasar dapat dilihat sebagai apa yang disebut modal biologis (genetik) atau hasil pengalaman yang sudah dimiliki (teori konstruktivisme), sedangkan ajar adalah kondisi yang sifatnya diperoleh dari rangkaian pendidikan atau perubahan yang direncanakan atau diprogram.

Urgensi pengembangan karakter dalam dunia pendidikan dirasa sangat berpengaruh dan penting dalam membentuk kepribadian dan watak para pemimpin masa depan bangsa karena “Selama dimensi karakter tidak menjadi bagian dari kriteria keberhasilan dalam pendidikan, selama itu pula pendidikan tidak akan berkontribusi banyak dalam pembangunan karakter” (I Gedhe Raka), dan ”Dalam kenyataanya, pendidik berkarakterlah yang menghasilkan SDM handal dan memiliki jati diri. Oleh karena itu, jadilah manusia yang memiliki jati diri, berkarakter kuat dan cerdas.”

Pilar akhlak (moral) yang dimiliki (mengejawantah) dalam diri seseorang, sehingga ia menjadi orang yang berkarakter baik (good character), memiliki sikap jujur, sabar, rendah hati, tanggung jawab dan rasa hormat, yang tercermin dalam kesatuan organisasi pribadi yang harmonis dan dinamis. Tanpa nilai-nilai moral dasar (basic moral values) yang senantiasa mengejawantah dalam diri pribadi kapan dan di mana saja, orang dapat dipertanyakan kadar keimanan dan ketaqwaannya. Manusia yang berkarakter diharapkan mampu untuk : (1) Sadar sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sadar sebagai makhluk muncul ketika ia mampu memahami keberadaan dirinya, alam sekitar, dan Tuhan YME. Konsepsi ini dibangun dari nilai-nilai transendensi; (2) Cinta Tuhan. Orang yang sadar akan keberadaan Tuhan meyakini bahwa ia tidak dapat melakukan apapun tanpa kehendak Tuhan. Oleh karenanya memunculkan rasa cinta kepada Tuhan. Orang yang mencintai Tuhan akan menjalankan apapun perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; (3) Bermoral. Jujur, saling menghormati, tidak sombong, suka membantu, dll merupakan turunan dari manusia yang bermoral; (4) Bijaksana. Karakter ini muncul karena keluasan wawasan seseorang. Dengan keluasan wawasan, ia akan melihat banyaknya perbedaan yang mampu diambil sebagai kekuatan. Karakter bijaksana ini dapat terbentuk dari adanya penanaman nilai-nilai kebinekaan; (5) Pembelajar sejati. Untuk dapat memiliki wawasan yang luas, seseorang harus senantiasa belajar. Seorang pembelajar sejati pada dasarnya dimotivasi oleh adanya pemahaman akan luasnya ilmu Tuhan (nilai transendensi). Selain itu, dengan penanaman nilai-nilai kebinekaan ia akan semakin bersemangat untuk mengambil kekuatan dari sekian banyak perbedaan; (6) Mandiri. Karakter ini muncul dari penanaman nilai-nilai humanisasi dan liberasi. Dengan persamaan  subjek kehidupan maka ia tidak akan membenarkan adanya penindasan sesama manusia. Darinya, memunculkan sikap mandiahaman bahwa tiap manusia dan bangsa memiliki potensi dan samari sebagai bangsa; (7) Kontributif. Kontributif merupakan cermin seorang pemimpin.

Pendidikan dilaksanakan dari, untuk, dan oleh manusia, berisi hal-hal yang menyangkut perkembangan dan kehidupan manusia serta diselenggarakan dalam hubungan antar manusia itu sendiri. Prayitno (2010:44) mengungkapkan bahwa dalam sosok manusia mengandung tiga komponen dasar yaitu hakikat manusia, dimensi kemanusiaan, dan pancadaya kemanusiaan. Sosok kemanusiaan itu selanjutnya disebut sebagai harkat dan martabat Manusia (HMM).

Hakekat manusia menurut Prayitno (2010:44), ada lima unsur yang menegaskan bahwa manusia adalah ciptaan Allah dalam kondisi: (1) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa; (2) Diciptakan paling sempurna; (3) Berderajat paling tinggi; (4) Berstatus sebagai khalifah di muka bumi; (5) Menyandang hak asasi manusia.

Prayitno (2010: 45) mengungkapkan bahwa Dimensi  kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia terdiri dari 5 dimensi yaitu: (1) Dimensi kefitrahan, kata kunci kebenaran dan keluhuran; (2) Dimensi keindifidualan, dengan kata kunci potensi dan perbedaan; (3) Dimensi kesosialan, kata kunci komunikasi dan kebersamaan; (4) Dimensi kesusilaan, dengan kata kunci nilai dan moral; (5) Dimensi keberagamaan, kata kunci iman dan taqwa. Kesatuan kelima dimensi kemanusiaan ini dapat mewujudkan karakter – cerdas seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Panca kemanusiaan, sang pencipta memberikan perangkat  dasar potensi kemanusiaan yang disebut pancadaya. Pancadaya yang dimaksud adalah: (1) Daya taqwa; (2) Daya Cipta; (3) Daya rasa; (4) Daya Karsa; (5) dan Daya karya. Dengan lima daya tersebut manusia berkembang dalam budaya dan kemampuan kemanusiaannya. Melalui pengembangan kelima daya itu pula kehidupan yang berkarakter-cerdas ditumbuh-suburkan.

Tiga komponen dasar manusia seutuhnya sebagaimana telah diuraikan di atas dapat disarikan dengan rumusan lima- i, yaitu: (1) Iman dan taqwa meliputi kaidah agama; (2) Inisiatif berarti semangat, kemauan untuk memulai dan mencoba, berdaya upaya, pantang menyerah, untuk mencapai sesuatu yang berguna; (3) Industrius berarti bekerja keras, tekun, disiplin, produktif, pertimbangan nilai tambah, jujur, jiwa wira usaha; (4) Individu mencakup kualitas potensi, perbedaan kedirian individu dan kemandirian; (5) Interaksi mengandung makna keterkaitan individu yang satu dengan individu lainnya.

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN HOLISTIK

Pendidikan holistik membentuk manusia secara utuh (holistik) yang berkarakter yaitu mengembangkan aspek/potensi spiritual, potensi emosional, potensi intelektual (intelegensi & kreativitas), potensi sosial, dan potensi jasmani siswa secara optimal. Membangun karakter itu harus dimulai sedini mungkin, atau bahkan sejak dilahirkan, dan harus dilakukan secara terus menerus dan terfokus, Pendidikan holistik juga untuk membentuk manusia pembelajar sepanjang hayat yang sejati (life long learners). Di samping itu, pendidikan karakter juga mengembangkan semua potensi anak sehingga menjadi manusia seutuhnya. Dalam hal ini, perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademiknya maupun segi sosial dan emosinya. Pendidikan selama ini hanya memberi penekanan pada aspek akademik saja dan tidak mengembangkan aspek social, emosi, kreativitas, dan bahkan motorik. “Anak hanya dipersiapkan untuk dapat nilai bagus, namun mereka tidak dilatih untuk bisa hidup.

PENDIDIKAN HOLISTIK

Pendidikan Holistik memiliki ciri kurikulum sebagai berikut: (1) Spiritualitas adalah jantung dari setiap proses dan praktek pembelajaran; (2) Pembelajaran diarahkan agar siswa menyadari akan keunikan dirinya dengan segala potensinya. Mereka harus diajak untuk berhubungan dengan dirinya yang paling dalam (inner self, sehingga memahami eksistensi, otoritas, tapi sekaligus bergantung sepenuhnya kepada pencipta Nya; (3)  Pembelajaran tidak hanya mengembangkan cara berpikir analitis/linier tapi juga intuitif; (4) Pembelajaran berkewajiban menumbuhkembangkan potensi kecerdasan jamak (multiple intelligences); (5)  Pembelajaran berkewajiban menyadarkan siswa tentang keterkaitannya dengan komunitasnya, sehingga mereka tak boleh mengabaikan tradisi, budaya, kerjasama, hubungan manusiawi, serta pemenuhan kebutuhan yang tepat guna (jawa: nrimo ing pandum; anti konsumerisme); (6) Pembelajaran berkewajiban mengajak siswa untuk menyadari hubungannya dengan bumi dan “masyarakat” non manusia seperti hewan, tumbuhan, dan benda benda tak bernyawa (air, udara, tanah) sehingga mereka memiliki kesadaran ekologis; (7) Kurikulum berkewajiban memerhatikan hubungan antara berbagai pokok bahasan dalam tingkatan transdisipliner, sehingga hal itu akan lebih memberi makna kepada siswa; (8) Pembelajaran berkewajiban mengantarkan siswa untuk menyeimbangkan antara belajar individual dengan kelompok (kooperatif, kolaboratif, antara isi dengan proses, antara pengetahuan dengan imajinasi, antara rasional dengan intuisi, antara kuantitatif dengan kualitatif; (9) Pembelajaran adalah sesuatu yang tumbuh, menemukan, dan memperluas cakrawala; (10) Pembelajaran adalah sebuah proses kreatif dan artistik.

Urgensi Pendidikan holistik karena merupakan Kunci sukses dalam menghadapi tantangan berat dalam hidup itu terletak pada kualitas sumberdaya manusia (SDM) Indonesia yang handal dan berbudaya. Oleh karena itu perlu implementasi penyelenggaraan pendidikan holistik secara baik. Beberapa hal yang mendapat penekanan lebih dalam menerapkan model pendidikan karakter. Pertama, “Knowing the good. Untuk membentuk karakter, anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami mengapa perlu melakukan hal tersebut. “Selama ini banyak orang yang tahu bahwa ini baik dan itu buruk, namun mereka tidak tahu apa alasannya melakukan hal yang baik dan meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Jadi masih ada gap antara knowing dan acting,”. Berikut ini dapat diuraikan 9 Indikator pendidikan karakter yaitu : (1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya (love God, trust, reverence, loyalty); (2) Tanggung jawab Kedisiplinan dan Kemandirian (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness); (3) Kejujuran/Amanah dan Arif (trustworthines, honesty, and tactful); (4) Hormat dan Santun (respect, courtesy, obedience); (5) Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama (love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation, cooperation); (6) Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja keras (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determination, enthusiasm); (7) Kepemimpinan dan Keadilan (justice, fairness, mercy, leadership); (8) Baik dan Rendah Hati (kindness, friendliness, humility, modesty); (9) Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan; (tolerance, flexibility, peacefulness, unity)

 

FUNGSI DAN PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER MURID

Pendidik (guru) yang  profesional mempunyai tugas  utama yaitu:  (1) Mendidik; (2) Mengajar: (3) Membimbing;(4) Mengarahkan; (4) Melatih;  (5) Menilai dan mengevaluasi. Dalam mengemban tugas utama seorang guru yang profesional harus memiliki beberapa indikator yang berkarakter. Indikator yang berkarakter dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Memiliki Pengetahuan yang luas dan mengamalkannya dalam kehidupan  sehari-hari secara aktif; (2) Meningkatkan kualitas keilmuan secara berkelanjutan; (3) Zuhud dalam kehidupan, mengajar dan mendidik untuk mencari ridho Tuhan; (4) Bersih jasmani dan rohani; (5) Pemaaf, penyabar, dan jujur; (6) Berlaku adil terhadap peserta didik dan kepada semua stakeholders pendidikan (7) Mempunyai watak dan sifat robbaniyah yang tercermin dalam pola pikir, ucapan, dan tingkah laku; (8) Tegas bertindak, profesional, dan proporsional; (9) Tanggap terhadap berbagai kondisi  yang mungkin dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan, dan  pola pikir peserta didik; (10) Menumbuhkan kesadaran diri sebagai da’i.

Prayitno mengungkapkan lima pilar untuk belajar yaitu : (1) Belajar untuk mengetahui (learning to know); (2) Belajar untuk melakukan (learning to do); (3) Belajar untuk hidup bersama (learning to live together); (4) Belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be); (5) Belajar beriman dan bertaqwa (learning to beliaeve in God). Pilar yang yang dijelaskan di atas merupakan pilar yang di pegang teguh untuk menghasilkan manusia yang berguna, berkarakter,  tentunya dalam pencapaiannya menjadi usaha yang sinergi antara pendidik dan peserta didik. Bila pilar belajar ini diaktualisasikan menjadi prinsip dalam kepribadian peserta didik yang dikondisikan dengan baik oleh pendidik melalui proses pembelajaran dan penyampaian materi, kita yakin dan percaya karakter yang diharapkan itu dapat terwujudkan.

Penutup

Dalam Membentuk karakter melalui satuan pendidikan sebaiknya harus mendapatkan perhatian serius dari penyelenggara proses pembelajaran di berbagai satuan pendidikan. Berusaha semaksimal mungkin penerapanya melalui  merencanakan pengajaran, pelaksanakan pengajaran , penilai,  mengevaluasi, dan tindak lanjut. Tidak mengarah hanya bidang akademik tetapi seimbang dengan pembinaan dan pembentukan karakter calon pemimpin bangsa sehingga ketika menjadi sebagai pemimpin mampu berkarakter yang baik dan positif bagi orang lain atau lingkungannya.

Daftar pustaka

 

Majelis Luhur persatuan Taman siswa, 1961. Karja Ki Hadjar Dewantoro.Yogyakarta: Pertjetakan Taman Siswa.

Prayitno, 2009. Dasar  Teori dan Praktis Pendidikan. Jakarta: Grasindo Gramedia

Prayitno, 2010. Pendidikan karakter Dalam Membangun Bangsa Medan. Pasca Sarjana Unimed.

Peraturan Pemerintah No.23 Tahun 2006. Tentang Standar Lulusan. Kompetensi

Undang-undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistim Pendidikan Nasional.

Quari, 2010. Agama Nilai Utama Dalam Membangun Karakter Bangsa. Medan: Pasca sarjana Unimed.

Zainal, 2009. Menjadi Guru Profesional Berstandar Nasional. Bandung: Yrama Widya

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!