Mengapa Berharap dan Kuatir?

July 16, 2009 by  
Filed under Buletin

Sahabatku …
Mengapa engkau kuatir akan hidupmu ?
Hidup ini sungguh indah
Jika kita mau  menikmatinya

Dan hidup ini akan suram
Jika kita tidak mau menerima kenyataan

Mengapa berharap …
Kalau semuanya belum pasti dan belum jelas
Apa yang bisa kita lakukan hari ini
Harus dapat diterima dengan baik.

Kuatir ? Mengapa mesti kuatir ?
Apakah yang bisa dilakukan dengan kekuatiran itu ?
Ia tidak bisa mengatasi timbulnya masalah
Ia justru membuat pikiran itu terganggu
Sehingga malam pun, kita tidak bisa tidur lagi.

Kekuatiran akan memenuhi dengan kesuraman
Meskipun katanya sinar matahari itu indah dan terang
Namun akan membuat keningmu berkerut
Dan membuat emosimu semakin naik.

Hidup kita menjadi tidak nyaman dengan orang lain
Karena kekuatiran yang selalu menghantui
Sahabatku …
Jika kekuatiran tidak bisa dihilangkan,
Berdoalah … sahabatku
Sebab doa dapat mengubah banyak hal
Dan dapat memperbaharui hidup kita.

Ia baik untuk memberi kelegaan
Dan untuk memberi tidurmu yang damai di malam hari
Ia membuatmu tersenyum,
serta membuat hidup dengan orang lain
Jadi nyaman dan penuh kasih

Mengapa berharap pada suatu jalan
Yang tidak pasti dan tidak jelas ?
Dan mengapa kuatir akan masa depan ?
Kekuatiran tidak akan bisa melakukan apa-apa.

Nikmatilah hidup ini
Injil berpesan : “Taburkanlah dalam hatimu dengan setia
Dan gembiralah  dalam karya yang telah anda mulai”.

“Because, life is beautiful “

Oleh : Pentinar Aritonang
( Mahasiswa Tingkat I )

Will You Still Love Me Tomorrow ..?

July 14, 2009 by  
Filed under Buletin, Mahasiswa

Oleh : Ermina Waruwu – Mhs Tingkat IV

Akankah kau tetap mencintaiku besok? Pernyataan ini merupakan ungkapan hati yang tidak pernah berhenti setiap hari, dalam usaha mewujudkan masa depan yang terbentang di depan. Masa depan sungguh tak bisa diketahui persis seperti apa wujudnya. Semuanya nampak lelap dalam impianku, impianmu dan impian kita semua.

Kita pasti mengetahui dan memahami bahwa waktu terus berjalan. Dan setiap kali waktu itu kita renungkan, setiap kali pula kita merenungkan makna kehidupan ini. Karena waktu tidak akan pernah kembali. Kehidupan jasmani dan rohanipun ikut berjalan bersama dengan waktu. Menghidupi waktu itu, kita sambil mengharapkan masa depan yang kian menyenangkan kita mengalami hidup bersama Kristus dalam diri sesama. Dalam tugas dan karya kita. Ada harapan, namun ada pula keputusasaan dan kesunyian jika “badai” mulai menghadang. Kita kerapkali merasa terbebani oleh masa depan yang tidak dapat diramalkan, maka kita seperti hidup bersama bayang-bayang kegembiraan dan kecemasan-kecemasan, bersama rasa suka dan duka masing-masing. Hidup jasmani dan rohani dalam waktu yang terus berputar seperti sahabat yang selalu berjalan bersama. Aku, engkau dan kita memilih yang mana? Aku, engkau dan kita boleh bermimpi dan mengharapkan sesuatu yang baik.

Waktu dapat dihitung dengan menggunakan kelender atau jam. Tapi, kehidupan jasmani dibatasi oleh waktu (waktu Kronos). Banyak hal yang didambakan dalam menjalani waktu yang seperti ini : umur yang panjang, rumah mewah, tanah yang luas, kehormatan, kedudukan/jabatan, dll. Nah, untuk apa pula semua pertentangan yang ada di sekitar kita? Ada peperangan, bencana, korban ketidakadilan, egoisme, dan bumi ini semakin panas dan seakan memberontak. Bukankah semua ini akan berakhir?  Waktu yang abadilah yang tidak berakhir. Ia adalah kehidupan yang sekarang dan kehidupan yang abadi sesudah kematian (waktu Aion). Bagaimana cara kita untuk berinvestasi agar keduanya ini seiring dan bisa tercapai? Apakah kita hanya berdiam diri saja, menonton, dan tidak pernah berpikir untuk berbuat mengisi hidup ini dengan buah-buah yang baik. Peluang selalu ada di depan kita untuk mempersatukan kehidupan jasmani dan rohani kita menuju kesempurnaan. Jika peluang itu tidak digunakan dengan baik, maka hidup jasmani dan rohani itu akan berlalu begitu saja. Peluang itu tidak akan kembali lagi (waktu Kairos). Maka kita boleh bertanya terhadap diri sendiri : apa yang sudah saya sumbangkan di dunia ini, agar dunia ini semakin indah dirasakan dan indah dipandang mata? Ataukah kita hanya bersungut-sungut dalam hati ?

Dengan sadar dan melihat serta merenungkan pertanyaan di atas, akankah setiap mimpi kita menjadi kenyataan dan akankah setiap harapan kita akan terwujud dan menjadi kenyataan? Ataukah hanya berlalu begitu saja? Mari memilih berinvestasi …!

“Mimpi” dan “harapan” adalah sesuatu yang indah dalam hidup. Hidup adalah kenyataan. Dan kenyataan itu harus dihadapi seorang diri saja. Hanya seorang diri saja. Kita selalu bertanya jika kita merasa seorang diri saja : Akankah kau tetap mencintaiku besok? Karena tak seorang pun yang dapat menguasai jalannya waktu. Kita tak bisa menghindar atau mengelak dari kenyataan. Waktu yang berlalu takkan kembali lagi. Waktu yang akan datang pula tak bisa kita kenal bagaimana wujudnya. Tetapi waktu saat ini, saat dimana kita semua berada dan mengalami, adalah suatu wujud/kenyataan kita sebagai insan yang hidup. Hidup saai ini adalah perwujudan kehidupan kita nanti. Maka diperlukan perjuangan dalam mencari pegangan yaitu Yesus Kristus sebagai jaminan hidup agar kita tidak berjalan dalam kegamangan belaka.

Kita dihadang oleh problema pada saat mengalami suatu kebimbangan yang tidak terpecahkan. Namun, semakin kita mencari pemecahan problem yang menghadang itu, namun jawaban yang kita kehendaki seakan juga semakin kabur. Tapi yang pasti perubahan terus terjadi. Dalam perubahan dan kebimbangan itu, kita merindukan seseorang yang mencintai kita, berjalan bersama kita dalam mengarungi hidup. Dan cepat atau lambat, kita semua akan sadar, betapa hidup fana ini terus melaju menuju akhir. Namun, hidup yang fana itu, akan berubah menjadi kehidupan abadi yaitu hidup bersama Allah, yang merupakan “mimpi” dan “harapan” kita yang seharusnya kita capai dalam hidup ini.

Will you still love me tomorrow? Yesus menjawab : “Ya”, Dia tetap mencintaiku, mencintai engkau dan kita semua, hari ini, besok, dan selama-lamanya dalam menghadapi kenyataan hidup bersama sang waktu. Tak ada lagi kebimbangan, karena Dia adalah Sang Penebus, yang tidak pernah mengecewakan setiap kita. Kita pasti akan berjumpa dengan-Nya. Dia yang telah bangkit selalu menanti, menghibur dan menolong kita dengan cinta-Nya. Maka kita diundang menjawab cinta-Nya dengan menghidupi sabda-Nya, kapan dan diman pun kita berada.

Reboisasi Mendesak

July 14, 2009 by  
Filed under Buletin

Oleh : Stefanus Zebua, S.Ag

Seiring dengan maraknya pembangunan maka kebutuhan masyarakat akan bahan-bahan bangunan semakin banyak. Situasi ini dilatarbelakangi oleh situasi alam yang memaksa masyarakat untuk menerima kenyataan yakni gempa bumi yang meluluhlantahkan berbagai sendi kehidupan di Pulau Nias, sehingga mulai membenahi kembali, membangun lagi entah melalui berbagai bantuan atau bertumpu pada kemampuan sendiri. Reaksi ini memang harus didukung dan masyarakat harus didorong untuk itu.

Bencana yang sudah terjadi berefek sangat negatif bahkan sangat menakutkan itu, kini telah menjadi satu rahmat yang eksepsional bagi masyarakat. Kelihatannya nias yang dulu terosilir dan daerah lain, kini tidak lagi. Daerah Nias di mata dunia internasional, bukan suatu tempat yang sulit dibayangkan lagi. Kini sudah familiar baik masyarakat nasional maupun internasional. Kondis ini memberi keberuntungan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Dibanding dengan keadaan sebelumnya, pasca gempa bumi, daerah nias beberapa langkah sudah maju. Infrastruktur mulus, pembangunan gedung sekolah berstandart, rumah-rumah penduduk dan pemukimannya tertata dengan baik, layaknya suatu pemukiman realstate. Disamping perkembangan dan kemajuan yang maha dahsyat itu, serentak dengan itu pula datang ancaman baru, bila tidak diantisipasi dengan baik.

Masyarakat memiliki materi-materi bahan bangunan yang dapat diandalkan dan juga berstandar. Hal ini merupakan suatu peluang masyarakat untuk meningkatkan perekonomian melaqlui penjualan kayu sebagai bahan bangunan. Bila kita perhatikan dengan seksama, kayu-kayu bangunan yang ditebang terlihat berton-ton kubik. Maka timbullah suatu persoalan, bagaimanakah menggantinya atau mereboisasinya ? Untuk mengembalikan keadaan alam seperti sedia kala utamanya pada penebangan kayu-kayu yang nota bene untuk bahan-bahan pembangunan, barangkali seluruh lapisan masyarakat perlu membuat suatu komitmen, agar tidak terjadi bencana kelongsoran, bencana banjir serta bagaimana usaha menumbuhkan, menciptakan masyarakat yang sadar, peka dan peduli akan lingkungan hidup yang bersih, sehat, menyegarkan dan menyejukkan. Ungkapan ini tidak hany ungkapan bayang-bayang yang cuma retorika belaka tetapi bagaimana wujud nyata dari suatu keprihatinan. Maka, penulis membatasi diri dalam beberapa hal saja, menyangkut upaya reboisasi dan penciptaan lingkungan yang familiaris dengan manusia. Pertama upaya dan tindak lanjut dari pemerintah kita perihal menata kembali keadaan alam yang semakin hari semakin memprihatinkan. Kedua out put program lembaga legislatif sebagai lembaga perwakilan rakyat yang memiliki kewenangan mengajukan usaha perbaikan kepada eksekutif. Ketiga peranan Dinas Pertanian dan Dinas Kehutanan perihal pembalakan hutan sembarangan yang disertai dengan legalitas izin pengusaha serta konsekuensi peremajaan kembali. Keempat perlunya menata dan memberi masukan kepada masyarakat untuk menghempang budaya tafake zi so, tanpa memikirkan yang sudah dipakai dapat tergantikan kembali.

Ungkapan tafake ua zi so ini sering kali menjadi neraka, karena ada tendensi pemikiran bahwa nanti bisa diganti. Nanti bisa diganti itu berarti sudah menunda sesuatu. Menunda sesuatu berarti akan menjadi lupa Alasan dan tindakan ini sudah menjadi kebiasaan yang sangat mendarah daging, dan apabila tidak diingatkan dan diberi penyadaran, serta motivasi maka kita akan terbuai.

Masih sangat segar dalam ingatan kita bersama tentang tema APP tahun 2007 yang mengupas sangat dalam tentang lingkungan hidup manusia. Tema ini tidak hanya sekedar mengingatkan akan resiko-resiko keserakahan kita bersama, tetapi mengajak kita semua untuk bertindak untuk usaha menata kembali alam lingkungan hidup kita seperti diharapkan oleh Sang Pencipta sejak awal mul;a bahwa : ALAM SEBAGAI CIPTAAN ALLAH SANGAT BAIK ADANYA. Mari kkita tata kembali lingkungan hidup kita yang semakin : FASMEN (FAMILIAR, ASRI, MENYEJUKKAN).

Karakteristik Masyarakat Nias (4)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.


6. Ideal dan Karakteristik fisik, Psikologis dan Etik Masyarakat

Ø   Yang didambakan orang Nias dalam hidupnya ada 4 hal utama. Pertama mongaötö (berketurunan), kedua moharato (berkepunyaan), ketiga molakhömi (terpandang, agung) dan keempat tobali bawa (pengambil keputusan). Dalam acara adat, dimohonkan berkat seputar keempat komponen ini. Terkait dengan itu ada sejumlah ucapan pujian yang menyenangkan pribadi berdarah Nias: sindruhu ono namau ndraugö, ono fangali zatua, ono sangila ngaroro, ono götö-götö (sungguh anak penerus / pemenuh adat kebiasaan leluhur); atau pujian kepada desa: banua sato niha, banua solahkömi, ngaötö duha, banua safönu ba hada (kampung besar, agung dan pewaris adat).

Ø   Yang dielakkan: perendahan dan dipermalukan (abölö sökhi mate morai na aila(artinya baikan mati daripada malu) dan juga kalau dijadikan fotu (contoh berkelakuan buruk).

Ø Ciri-ciri fisik: rambut lurus, hidung agak pesek, bibir tipis, tulang pipi tidak menonjol, mata bulat tapi sejumlah orang agak sipit, tinggi badan sedang, warna kulit cerah dan bersih, berbadan tipis (sedikit saja yang gemuk-gemuk), tergolong atletis.

Ø   Sifat-sifat yang dominan: periang, hidup-hidup, lincah, suka pesta, nyanyi dan menari, cerdas, gampang bergaul, hobbi olahraga (sangat populer berolahraga bola volley), energik dan sangat tinggi harga diri.

Ø         Sifat umum lain yang cepat terlihat dan mengganggu: pemalu/penyegan, emosional, gampang meledak sampai adu kuat, omong berliku-tidak langsung, pandai bohong, gampang bersyak-wasangka dan cemburu, sangat melekat pada tahyul, perlente, keras kepala, suka bersaing, gampangan omong, angkuh dan  kurang ulet/gigih.

Karakteristik Masyarakat Nias (3)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Peran Perempuan

Masyarakat Nias menganut patrilineal, maka kaum prialah pewaris keturunnan dan harta warisan. Namun toh nampak peran istimewa wanita dalam adat kehidupan. Dalam pesta pernikahan misalnya di bagian Utara, kaum wanita membentuk kelompok adat dengan saling mangowai dan mame afo (acara sekapur sirih) dengan berbalas pantun dalam bentuk hendri-hendri. Di tiap desa akan selalu ada ina mbanua dan ere huhuo, seorang ibu yang dituakan dan mahir sebagai juru pantun. Kepada mereka ini akan dihidangkan makanan adat yang bernilai tinggi. Dalam pembicaan atau acara adat kaum perempuan diperkenankan untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Pada acara pernikahan mempelai wanita di utara diberi gelar adat keagungan (barasi atau balaki atau sa’usö). Menurut adat kuno si mempelai wanita akan ditandu dan dibawa ke rumah memplai pria. Di Selatan kaum perempuan harus diberi hak utama memakai inti jalan bila berpapasan. Ada kebiasaan bagi petugas pastoral, bila umat berencana ingin membangun gedung gereja, maka diupayakan mendengarkan suara dan pendapat kaum ibu sebab mereka yang akan lebih memberi hati dan dengan demikian harapan besar bangunan suci akan terwujud.

Keagamaan

Dulunya para leluhur menganut aliran kepercayaan animis dengan menjadikan patung leluhur sebagai medium pembawa berkat dan penyembuhan. Zending Protestan memulai misi evangelisasi pada tahun 1865 dan misionaris Gereja Katolik tiba tahun 1939. Praktis sejak tahun 1940 seluruh wilayah Nias telah menjadi penganut agama monoteis. Secara statistik yang beragama Kristen (Protestan dan Katolik) mencapai 96% selebihnya Islam dan Budha/Kongfucu. Tak heran bahwa di seluruh Nias bertebaran gereja-gereja besar kecil dan sejumlah ada yang bercorak rumah adat Nias. Gedung gereja sarana perhimpunan massa seakan-akan seperti rumah adat leluhur tempat bertemu sesama warga.

Macam-macam begu

Sekalipun telah menganut kepercayaan kepada Allah Yang Mahaesa (hampir 150 tahun), namun masyarakat masih dihantui ketakutan kepada begu-begu seperti bekhu zimate (begu dari orang meninggal), bekhu lauru dan bekhu gafore (pengatur takaran), bekhu hogu geu (begu pepohonan) dan bekhu gurifö (begu ternak). Warga juga masih takut kepada bekhu nadaoya, bekhu narödanö (penyangga bumi), bekhu bauwadanö si penyebab gempa dan takut kepada roh-roh leluhur. Sedangkan afökha kekuatan jahat dianggap sangat mengganggu dan merusak kehidupan manusia dan harus dihadapi terus-menerus.

Konstruksi masing-masing pribadi manusia

Menurut konsep kuno manusia terdiri dari boto (tubuh), noso (roh), eheha (buih berbusa saat meninggal), lumö-lumö (bayangan sesudah mati), bekhu (roh dari alam kematian), dan mökö-mökö (sisa jasad dalam makam).

  1. 1. Cosmogony

Kami urutkan beberapa versi perihal terciptanya cosmos (alam semesta) khususnya pulau Nias sendiri.

A). Myte Asal Muasal Dunia

Ø     Menurut catatan misionaris Jerman Thomas, suku Nias beranggapan bahwa dunia ini terdiri dari 9 lapis, yang ada satu sesudah yang lain. Pada lapisan kedelapan (di atas bumi ini) ada negeri bernama Teteholi Ana’a (Chatelin: 1881). Sang penguasanya adalah Sirao. Karena kepadatan penduduk dan di sana-sini mulai longsor, maka Sirao memerintahkan Hadiduli dan kemudian Silauma untuk menciptakan globe baru dari anasir angin dan rumput dll. Maka terjadilah bumi, tempat hidup manusia. Pada dasar globe ini melingkar cincin besar yang berubah menjadi ular raksasa berkat mantra-mantra dari sang menantu Silusi atau Silewe Nazarata.

Ø     Menurut S.W. Mendröfa, pada awalnya hanya ada Sihai yang bermukim di Tanö Nihae-hae nangi (1981). Tempat itu selalu terang benderang walaupun tidak ada matahari atau bulan dan bintang-bintang. Tempat itu tidak mengenal kematian. Suatu saat Sihai mempertemukan angin yang berjenis-jenis maka muncullah butiran sebesar biji jagung. Dari itu dia ciptakan manusia bernama Sitahu. Butiran itu seterusnya diberi kepada Sitahu yang menciptakan globe tertingi yakni lapis yang kesembilan. Begitu seterusnya dari butiran yang sama dia ciptakan globe kedelapan, ketujuh hingga yang pertama. Globe di atas bumi ini dinamai Teteholi di mana terdapat gunung Hili Maruge dan sungai Idanö Zea dengan  9 anak sungainya. Segumpal tanah dari Teteholi diambil oleh sang Sihai dan diciptaknnya globe bumi ini melalui asistennya Silauma. Kemudian asisten Sitahu diminta mengambil butiran angin lagi dan menanam di bumi pohon feto (sejenis palma). Tumbuh tunas baru dan terjadilah nadaoya, sang roh kejahatan penyebab penyakit. Barulah kemudian dari butiran yang sama tercipta air, api, matahari, ikan, binatang-binatang, burung-burung, pepohonan, bijian, umbian dan barang tembaga.

  • Menurut S. Zebua, Lowalangi atau Soaya mempertemukan angin di tempat tersembunyi di mana belum ada pemukiman manusia. Dari pertemuan itu muncullah butiran yang bertambah besar dan menjadi sebidang tanah, di atasnya didirikan rumah sembahyang. Kemudian berkembang terus dan akhirnya tercipta bumi ini (Zebua: sine data).

B. Sejumlah Legenda Asal Muasal Manusia

Koleksi Chatelin

Sirao di Teteholi Ana’a (dunia atas) berputra 9 orang. Siapa bakal pewaris dunia atas, ditentukan lewat pelombaan ketangkasan memanjat sebilah lembing yang ditancapkan di halaman. Yang mampu memanjat hingga ke pucuk dan bertengger di atasnya seumpawa seekor ayam jago dialah sang pewaris. Yang berjaya adalah si bungsu Luomewona, maka para saudaranya harus turun ke bumi, yakni:

Ø Bauwadanö menjadi penghuni dasar bumi

Ø     Sorogae menjadi pilar  bumi

Ø     Tuha Sangaröfa  menghuni dasar laut

Ø     Hia diturunkan di Mazingö (Gomo) bersama rumah adat yang sungguh berat

Ø     Gözö turun ke Nias bagian utara bersama Sawae

Ø     Daeli ke Idanoi bersama batu pengasah dan daun ubi jalar

Ø     Hulu Sebua ke barat sungai Oyo

Ø     Börönadu ke selatan menjadi cikal bakal kaum imam (ere)

Versi S.W. Mendröfa

Ø     Hia diturunkan di Mazingö Gomo

Ø     Gözö ke utara

Ø     Hulu ke Laehuwa

Ø     Daeli ke Laraga

Ø     Cucu Luomewöna ke Daso Noyo

Koleksi Johannes Hämmerle

Ø         Salawa Holia di Teteholi Ana’a berputra 3 orang yakni Hia, Gözö dan Ho. Hia berputra 9 orang di antaranya bernama Zedawa. Zedawa berputra 6 orang di antaranya bernama Mölö. Mölö berputra 5 orang yakni: Fau, Tachi, Boto, Maha dan Hondrö, yang menjadi moyang warga Nias daerah Selatan dan sekitarnya (Hämmerle: 1986

Karakteristik Masyarakat Nias (2)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

  1. 1. Sejarah dan Asal-usul

Elio Modigliani, antropolog/etnolog Italia dalam bukunya Un Viaggio a Nias (1890) menghimpun sejumlah catatan sejarah tentang Nias yang tertulis dalam manuskript pedagang Persia seperti Sulayman (thn 852 AD), Adjaib (thn 900-950 AD), Edris (thn 1154) dan Rashid ad Din (thn 1310 AD). Dalam catatan mereka tercatat nama Nias terutama dalam tulisan Edris. Nias muncul pertama kali dalam peta pada tahun 1610. Kontak dagang terjadi dengan Belanda (thn 1669), dengan Inggris (thn 1750) dengan Perancis (1809). Besar kemungkinan Thomas Stamfod Raffles telah mengunjungi Nias pada tahun 1820, yang berjuang untuk melarang perdagangan budak yang ternyata tidak berkenan di hati pemerintah Inggris.

Perihal asal-usul

  • Modigliani berkesimpulan bahwa etnis Nias berasal dari pantai Malabar di India Selatan (suku Koraver = Kurumber = Korawa) dengan ciri-ciri menanam padi, berburu, memahat kayu dan berperawakan Malesoid.

Ø   Kleiweg de Zwaan, antropolog Belanda melalui investigasi fisiognomik (1914) berpendapat bahwa etnis Nias tidaklah homogen tetapi terdiri unsur-unsur etnik yang bervarian. Ia membedakan utara dan selatan dan kombinasi lain. Dengan mengukur tinggi badan dari 1295 orang maka rata-rata tinggi badan 154.73 cm.  Dengan meneliti tengkorak-tengkorak beliau menyimpulkan bahwa etnis Nias termasuk Proto-Melayu.

Ø   F.M. Schnitger (1938) dengan meneliti batu-batu megalit dan arsitektur  menyimpulkan bahwa  etnis Nias berasal dari Nagas di Assam (lembah Irrawady). Menurut beliau orang-orang Nagas, Nias, Dayak, Philippinos dan Formosa adalah satu rumpun besar. Tentang batu-batu tugu di Nias Schnitger berkesimpulan “the megalith culture of Nias, however, came from Burma”. Agaknya leluhur bertolak dari India Selatan, baru menetap di Birma dan kemudian mencari pemukiman baru lagi. Sejumlah tiba dan menghuni pulau Nias.

  1. 2. Corak Hidup Masyarakat

Masyarakat Nias hidup dari bercocok tanam dan beternak. Jenis tanaman umum: padi, ubi, pisang, talas, sagu dan jagung dan ragam jenis sayuran seperti bayam, kangkung, kecipir dan kacang panjang. Hasil bumi utama karet, kopra, coklat, pisang, pinang, pala dan nilam. Ternak kesayangan utama adalah babi, ayam dan sejumlah kecil yang beternak kambing dan lembu. Hidangan adat adalah daging babi yang dimasak dengan merebus dan dihidangkan keseluruhan bagian (lambang kesempurnaan, ketulusan dan keutuhan). Mereka yang sekitar pantai hidup dari hasil tangkapan ikan dalam jumlah kecil. Buah-buahan yang populer: durian, langsat, manggis, rambutan, kuaeni, mangga, marpala dan kedondong. Durian Nias disanjung karna lebih manis dan lezat. Yang lebih top adalah “duria balaki”, dagingnya kuning dan tebal, berbiji kecil. Minuman lokal beralkol adalah tuak dari pohon kelapa dan aren. Agak khas tuak Gunngsitoli berwarna kemerahan karena raru dari kulit batang durian. Bila tuak mentah dididihkan maka akan dihasilkan arak yang dinamai tuo nifarö yang bisa membuat seseorang sesaat high. Jenis kayu-kayuan lumayan banyak yang dipakai untuk kebutuhan papan. Orang Nias berupaya sangat agar rumahnya dibangun oleh tukang yang pandai. Tentang kemahiran bertukang kayu, W. Marsden menulis (1811): “This people are remarkable for their docility and expertness in handycraft work, and become excellent house-carpenters and joiners …” Aktivitas lain adalah pandai emas, pandai besi, membuat anyaman dan berburu. Dalam bercocok tanam, membangun rumah dan pekerjaan lain, warga Nias sangat peduli pada sejumlah tabu pertanda sifat takluk pada tahyul-tahyul. Misalnya, mendirikan tiang-tiang rumah haruslah di pagi subuh. Peralatan pertanian sungguh sangat sederhana, bekerja lebih banyak dengan parang dan kampak. Mencangkul dan membajak kurang dikenal. Corak hidup ini menyebabkan masyarakat sangat melekat pada bidang tanah warisannya.

Magistra, Jurnal Pendidikan Pastoral-Kateketik, Tahun I, No.I, Juni 2009
  1. 3. Organisasi Sosio-politik dan Relasi Sosial

Ø   Masyarakat Nias tidak mengenal raja atau sultan dan tidak mengenal kerajaan. Hidup warga pada dasarnya diatur dalam lingkup banua (kampung/desa) dan dalam lingkup öri (federasi kampung). Adat-istiadat dalam hal pesta dan acara kematian telah ditata dalam hukum fondrakö=famadaya saembu antar beberapa öri (negeri). Menurut S.W. Mendröfa, fondrakö memuat norma untuk mencapai kepenuhan hidup yang terdiri 5 hal pokok (1981): amonita (terkait dengan bakti sembah dan pantang), fokhö fo’ölö (terkait dengan harta milik), hao-hao (perilaku yang terpuji), fowanua (cara berkomunitas dalam kampung) dan böwö masi-masi (terkait dengan anak dan orang berkesusahan). Sesudah kemerdekaan mulailah diterapkan sistim pemerintahan Negara Republik Indonesia yang kita kenal sekarang walikota, bupati, camat, kepala desa, sekretaris desa lengkap dengan badan yudikatip dan legislatip. Kalau dulunya yang dikenal di Utara adalah tuhenöri dan salawa bersama satua mbanua, kalau di Selatan dikenal istilah tuhenöri, siulu dan siila mbanua. Jabatan ini diperoleh karena keturunan dan prestasi adat.

Ø   Kesatuan terkecil warga adalah rumahtangga (ngambatö), yang membentuk keluarga inti (sifatalifusö), dan menghimpun diri menjadi (banua) dan federasi banua adalah negeri (öri). Masing-masing punya marga (sampai 300 marga) tapi marga kurang berperan dibanding dengan banua. Di antara se marga boleh menikah asal tidak dekat hubungan darah. Dalam berelasi, saat ketemu satu sama lain saling menyapa (ya’ahowu atau yaugö a) kemudian berjabat tangan (fatabe) dan bertukar sirih atau rokok (yae nafo, yae rokoda). Orang yang sudah berkeluarga diberi nama panggilan, misalnya Ama Zaroli atau Ina Roi. Sapaan ramah dan lembut antar satu sama lain terungkap dengan sapaan Bapak Ama Zaroli atau ibu Ina Roi. Cara ini termasuk sikap hormat atau fasumangeta.

Ø   Rumah adat Nias terbagi dalam 3 type: utara (oval), tengah (segiempat) dan selatan (segi empat yang berderet-deret). Tiang rumah relatip tinggi-tinggi terdiri dari pilar vertikal dan horizontal. Lantai luas selalu punya bangku yang lengket ke dinding dan atap menjulang tinggi ke atas beratap rumbia berlapis dua. Banyak penelitian mencengangkan tentang konstruksi rumah adat Nias baik dari keharmonisan, fungsi dan hygienisnya. Tapi tentu juga tergambarkan konsep mereka tentang dunia: bawah, tengah dan dunia atas yang sangat agung (Viaro: 1984). Rumusan Viaro: “All of them have a vertical tri-partition: infrastucture, domestic nucleus and superstructure.” Karna curah hujan banyak dan merajanya malaria serta kelembaban yang tinggi maka rumah kediaman diberdirikan di atas bukit atau di tempat ketinggian. Atap tinggi dan tajam agar air hujan turun mengalir dan sekurang-kurang punya 3 ventilasi di atap (bisa diturun-naikkan) agar cahaya matahari masuk ke seluruh sudut rumah. Lantai dan dinding rumah dari kayu pilihan yang ditata dengan rapi. Rumah-rumah adat Nias sangat cocok sebagai tempat pertemuan massa dan persidangan desa. Tiang-tiangnya sangat cocok menyangga beratnya rumah dan rupanya sesuai sekali untuk anti kegempaan. Pertingkatan dalam masyarakat memang terasa ada terutama di selatan antara keluarga siulu (bangsawan) dan sato (orang kebanyakan).

Karakteristik Masyarakat Nias (1)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Hantaran

Topik ini ramuan dari ragam tulisan, didukung juga oleh pengalaman dan pengamatan pibadi. Diperkaya dengan informasi-informasi lewat perjumpaan dengan banyak pihak selagi menjalankan tugas pastoral. Buah pemikiran ini tidak berdasar pada kajian yang spesifik ilmiah antropologis-etnologis, sehingga sungguh terbuka bagi pengembangan dan penafsiran yang mungkin berbeda. (Artikel ini penah dipresentasikan  dalam Rafe Hada II UNORC {United Nations Office of the Recovery Coordinator} Jumat tgl 30 Nopember 2007 di Museum Pusaka Nias Gunungsitoli).

Faktor-Faktor Pembentuk Budaya, Nilai-Nilai
dan Karakteristik Masyarakat
Nias

  1. 1. Letak Geografis Pulau Nias

Pulau Nias dan kepulauan sekitarnya terpisah dari daratan besar Pulau Sumatera berjarak sekitar 80 mil atau 120 km. Terletak di pantai barat Sumatera. Panjangnya k.l. 140 km dan lebar 40 km. Berstruktur pegunungan yang sambung-menyambung dengan aliran-aliran sungai besar-kecil yang sangat banyak. Curah hujan sangat tinggi mencapai 17 hari hujan dalam sebulan akibatnya juga kelembaban udara tinggi. Letak geografis ini menjadikan Nias ujung terjauh di pantai barat, dilihat dari pusat pemerintahan Negara Republik Indonesia di Jakarta dan dari ibukota Provinsi Sumatera Utara di Medan. Letak geografis inilah faktor penyebab masayarakat Nias sering luput dari perhatian pusat dan dari pemerintah propinsi Sumatra Utara. Untung saja ada hombo batu (atraksi loncat batu) dan lomba bersilancar, dan untung ada Museum Pusaka Nias, yang punya andil besar mempopulerkan Nias ke manca negara. Realisasi ketiga daerah otonom baru (Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias Utara dan Kabupaten Nias Barat, Mei 2009) membuka peluang percepatan pertumbuhan transportasi, kegiatan ekonomi rakyat dan pelayanan publik. Pantas disyukuri pengertian dan dukungan pemerintah pusat dan usaha keras Bupati kabupaten induk.

Bencana gempa (28 Maret 2005 dengan kekuatan 8.7 skala Richter) membuat Nias menjadi berita dunia hingga di bangku kuliah di Eckersly School Oxford, Inggris. Korban nyawa 846 orang dan hampir dua-pertiga gedung sekolah / kantor dan rumah penduduk begitu juga jalan dan jembatan anjlok dan ambruk.

Karena kebanyakan wilayahnya bergunung-gunung sungguh sangat terbatas jumlah jalan raya dan sungguh sulit transportasi. Banyak jalan sempit dan berliku-liku. Yang terbilang daerah datar hanyalah sekitar daerah pantai yang tidak seberapa luas. Faktor ini penyebab pulau Nias agak sulit dicapai dari pebagai penjuru, minim kontak dengan dunia luar yang  menyebabkan masyarakat agak tertutup dan tebilang tertinggal dalam banyak hal. Biaya transportasi dan komunikasi di kelima wilayah kabupaten/kota (Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat dan Kota Gunungsitoli) sungguh sangat mahal.

Kata Sambutan Ketua STP Dian Mandala

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

Sebagai Perguruan Tinggi yang otonom, SEKOLAH TINGGI PASTORAL (STP) DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI, KEUSKUPAN SIBOLGA disahkan pada tgl 13 Agustus 2008. Momentum itu telah dimeriahkan dan disyukuri dalam Perayaan Ekaristi Mahakudus pada tgl 26 bulan yang sama. Proses kelahirannya berjalan sangat mulus.

Selaku unit pendidikan tinggi dengan jenjang Strata 1 (S-1), maka Dian Mandala tanpa menunda ingin menunjukkan jati dirinya dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dalam rangka perwujudan diri diterbitkanlah Jurnal Pendidikan Pastoral-Kateketik. Diberi nama “MAGISTRA.”  Kata Latin magister/magistra berarti guru. Dalam hati terkandung harapan bahwa sekolah keagamaan STP Dian Mandala ini akan sungguh dialami sebagai guru yang menggembirakan dan menakjubkan. Seluruh perangkatnya baik visi-misinya, tata pamong, sistim pengayoman dan pengelolaannya, fasilitas, kurikulum, sistim informasi, suasana akademiknya, dukungan dari Pemda Nias dan Ditjen Bimas Katolik Depag RI, dan terlebih dosen-dosennya berdaya “mengkristalkan kegembiraan dalam belajar dan kebersamaan” (Educare, Mei 2009, hlm. 49).

Magistra ini akan terbit 2 kali setahun. Sebagai jurnal pendidikan pastoral-kateketik maka muatannya berkisar pada hal-hal ilahi, manusiawi dan kegerejaan. Pastoral punya karakter penggembalaan dan kateketik berfokus pada pewartaan yang bergaung dalam relung jiwa setiap insan ciptaan Sang Ilahi. Melalui aktivitas ini Gereja semakin berakar dan berkembang dan semakin dipersatukan dengan Kristus (LG art. 3).

Kita mohonkan curahan rahmat untuk segenap pengasuh jurnal ini sehingga tidak akan henti menyajikan dan mencerahi kita dengan untaian ide dan pandangan, yang mengingatkan kita akan Allah, diri manusia dan dunia sekitar kita. Sebab di dunia ini kita terpanggil memelihara martabat kita sebagai anak-anak terang (Luk.16:8).

Untuk melukiskan peranserta masing-masing dalam menyangga suatu karya agung, leluhur kita di Nias telah merumuskan kata-kata mutiara unik ini untuk kita: “Andrõ wa so gehomo, andrõ wa so ndriwa, tundrehera nawõra, fa lõ a’ozu aso’a.” Berkat tiang-tiang vertikal dan horizontal sebagai penyangganya, maka rumah adat tidak akan pernah rebah. Penyangga utama Magistra adalah kita semua murid Kristus, Sang Guru Kehidupan umat manusia.

(Pastor Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.)

Pengalaman Paskah

April 21, 2009 by  
Filed under Buletin

Oleh Bernard Niali Telaumbanua

1. Pengantar

Menarik menyimak acara SCTV pada malam paskah 2009 ini. Entah mengapa, setelah selesai upacara perayaan malam paskah, saya membuka chanel SCTV dan di sana sedang ditayangkan sebuah film The Passion Of Christ. Sejenak saya duduk mengikuti alur cerita film itu. Cerita-cerita tentang penyaliban Yesus sudah banyak. Tetapi film The Passion of Christ, karangan Mel Gibson ini amat khas. Ia menampilkan adegan-adegan secara keras dan fulgar. Penjatuhan hukuman mati, pencambukkan,  pemakuan pada salib terhadap Yesus dilakukan secara sadis. Karena moment penayangan film itu tepat pada saat umat kristiani sedang merayakan Paskah, maka kita saya merasa tersentak.

Timbullah pertanyaan spontan: mengapa Yesus menderita, disalibkan dan wafat? Saya berandai-andai sambil mengingat cerita-cerita kitab suci tentang diri Yesus. Kalau kita ikuti bacaan-bacaan misa hari minggu dalam masa prapaskah, maka kita akan mendapat beberapa perikop yang menceritakan kisah pertentangan antara Yesus dengan orang-orang Yahudi. Yesus menyembuhkan orang pada hari sabat. Perbuatan seperti itu adalah pelanggaran hukum Taurat. Yesus menyembukan orang yang sakit pincang dan mengatakan aku mengampuni dosamu. Lalu orang Yahudi menganggap Yesus menghojat Allah, sebab yang dapat menghapus dosa adalah Allah saja. Yesus dijebak dalam urusan politik dengan bertanya apakah wajib membayar pajak atau tidak. Yesus menjawab: berilah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah. Dalam suatu kasus hukum tentang perempuan yang tertangkap basah karena zinah. Maria Magdalena dihadapkan kepada Yesus. Mereka bertanya: apakah pendapatmu tentang wanita ini, sebab menurut hukum Musa, setiap orang yang kedapatan berzinah haruslah dilempari dengan batu sampai mati. Yesus menjawab: siapa yang tidak melakukan dosa di antara kamu, silahkan melemparkan batu pertama untuk menghukum wanita itu. Tetapi tak seorangpun mau melempari Yesus. Lalu Yesus berkata kepada wanita itu, akupun tidak menghukum engkau. Tetapi mulai sekarang jangan berbuat dosa lagi. Kisah yang paling tragis ialah ketika Yesus pergi ke Yerusalem dan melihat banyak orang menyalahgunakan bait Allah. Yesus marah dan mengusir mereka yang menajiskan bait Allah. Ia katakan: robohkanlah bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali. Kalau ditanya mengapa Yesus disalibkan? Jawabannya ialah karena Kasih. Yesus melakukan cara hidup baru itu karena kasih. Yesus mengajarkan mereka kasih Ilahi dari sang Bapa. Perjuangan kasih itu dilaksanakan sampai menyerahkan nyawanya sendiri di salib.

2. Arti Paskah

Rasul Paulus menyampaikan yang paling penting, yaitu warta paskah, kepada Jemaat di Korintus, sebagai berikut: bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, dan bahwa Ia telah dikuburkan dan bahwa Ia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci (lih.1Kor 15:3-8). Setelah selesai penyerahan diri hingga kematian itu, Yesus dibangkitkan oleh Allah. Pertanyaan kedua yang muncul ialah mengapa Yesus dibangkitkan?

Dikatakan bahwa Yesus dibangkitkan dari antara orang mati. Bukan Yesus bangkit dari mati. Artinya dalam peristiwa kebangkitan, Allahlah yang bertindak terhadap diri Yesus. Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati berarti Allah membenarkan Yesus, yang disalibkan karena kasih itu dan sekarang Allah membenarkanNya dengan membangkitkanNya dari antara orang mati. Di sini kita mendapat cara memahami yang baru yaitu bahwa kematian Yesus bukanlah kematian konyol, tetapi kematian demi kasih. Perjuangan Yesus selama di dunia ini dibenarkan oleh Allah dan oleh karena itu Allah membangkitkanNya.

3. Pengalaman Paska Para Murid

Kalau kita mengamati perikop-perikop Injil tentang kebangkitan Yesus, maka kita tidak mendapatkan satu tekspun yang menceriterakan bagaimana Yesus dibangkitkan. Yang diceriterakan hanyalah pertemuan beberapa orang murid dengan Yesus pada pagi sesudah penyalibanNya. Tak seorangpun di antara para murid yang menyaksikan bagaimana Yesus dibangkitkan. Yang mereka ketahui ialah bahwa beberapa kali para murid itu menampakkan diri kepada para murid itu. Penampakkan itu berawal dari warta yang diterima oleh seorang wanita, murid Yesus, yaitu Maria Magdalena, yang pada dini hari setelah hari penyaliban, buru-buru pergi ke makam Yesus untuk melumuri tubuh Yesus dengan rempah-rempah. Pada saat itulah wanita itu mendapat berita dari seorang malaikan bahwa Yesus sudah bangkit. Sekaligus malaikat itu menyuruh Maria Magdalena memberitahukan kabar kebangkitan itu kepada para murid lain, supaya mereka pergi ke Galilea dan di sana mereka akan bertemu dengan Dia.

Pertanyaan ketiga kita ialah mengapa justru Maria Magdalena? Yang paling cepat berinisiatif mengunjungi makam Yesus dan yang pertama mendapat berita kebangkitan adalah Maria Magdalena, yaitu wanita yang dengannya Yesus pernah mengusir roh jahat dan dibebaskan dari hukuman rajam oleh orang-orang farisi. Ketika itu, Yesus mengatakan: akupun tidak menghumummu. Tetapi mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi. Dari keadaan mati karena hukum rajam, kini Maria Magdalena dibebaskan dan diberi hidup yang baru. Peristiwa itu terukir dalam-dalam pada Maria Magdalena. Peristiwa itu juga yang mendorong Maria Magdalena mengikuti Yesus secara lebih erat. Karena cintanya kepada Yesus, maka Maria Magdalena, dalam keadaannya sebagai seorang wanita, pada pagi-pagi hari itu mengunjungi makam Yesus untuk melumuri tubuhnya dengan rempah-rempah. Apa yang terjadi? Maria Magdalena bertemu dengan Yesus yang bangkit. Rupanya kepekaan hati manusia, seperti Maria Magdalena menentukan dalam menerima iman akan Yesus sang Penyelamat. Hal yang sama dengan itu ialah bahwa pengalaman diampuni, membuat Maria mencari Tuhan di pagi hari yang buta. Maria dengan hati yang peka dan pengalaman cinta ingin bertemu Tuhan. Hasilnya ialah bahwa ia menjadi rasul, pewarta berita sukacita paskah: Kristus telah bangkit. Maka rasul yang pertama adalah seorang wanita, Maria Magdalena.

4. Mereka Mengenal Dia Dalam Penjelasan Kitab Suci dan Pemecahan Roti

Sejak Yesus ditangkap di taman zaitun, para murid Yesus tercerai-berai. Benar apa yang pernah dikatakan Yesus kepada Petrus, murid pemberani itu: sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal aku tiga kali. Para murid lain tercerai berai dan putus asa. Dua orang murid pulang ke kampung Emaus kecewa dan putus asa. Para murid takut terhadap orang Yahudi, jangan-jangan merekapun akan ditangkap karena menjadi pengikut Yesus. Dalam suasana takut demikian, muncul lagi berita yang menghebohkan: bahwa Yesus yang disalibkan itu telah bangkit.

Para murid itu mengenal Yesus dalam pertemuanNya dengan mereka. Petrus dan murid yang dikasihi, yang berlari-lari melihat kubur Yesus pada pagi hari ini, digembirakan oleh malaikat. Kedua murid yang dalam perjalanan ke Emaus itu akhirnya menyadari bahwa Ia adalah Yesus, ketika Yesus menjelaskan kepada mereka arti Kitab Suci yang tertulis tentang Dia. Lalu kedua murid itu mengajak Yesus tinggal bersama-sama mereka. Ketika itu, Ia memberkati dan membagi-bagikan roti. Maka terbukalah mata mereka dan sadar bahwa Ia adalah Yesus.

Karena pertemuan dengan Yesus yang bangkit, maka teringatlah para murid itu atas apa yang telah dikatakan Yesus kepada mereka dalam pengajaranNya: “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup.” Dengan mengalami pertemuan dengan Yesus yang dibangkitkan, para murid menjadi percaya atas apa yang dikatakan oleh Yesus ketika Ia masih bersama-sama mereka sebelum dia disalibkan. Sekarang mereka dengan berani memberi kesaksian bahwa Yesus yang tersalibkan itu adalah Kristus, Tuhan, jalan kebenaran dan kehidupan. Para murid sehati-sejiwa berdoa dan berkumpul sambil menantikan kedatangan Yesus itu sambil mengajak orang untuk bertobat dari dosa-dosa, berbuat yang baik bahkan tak segan-segan menanggung penderitaan demi Dia yang bangkit.

Mereka dengan iman yang teguh membentuk persekutuan orang beriman dan mengajak orang-orang dari segala bangsa untuk percaya kepada Dia yang telah bangkit dan memberi harapan kepada mereka yang putus asa. Dalam semua kata-katamu dan perbuatanmu, biarlah semua orang lain melihat dan merasakan cara hidup yang disemangati oleh keyakinan, pelayanan, sebagaimana kamu telah dipanggil oleh Tuhan, bahwa kamu telah memilih jalanNya sampai kamu melihat Dia seperti Ia janjikan: Ia mendahului kamu di Galilea, di sana kamu akan melihat Dia.

5. Paska Kita

Bagi kita Paska berarti perayaan iman kristiani:Yesus Kristus yang telah wafat dibangkitkan oleh Allah menjadi hakim dan pembela kita di hadapan Allah. Dengan iman, kita memiliki dasar pasti akan kehidupan yang terberkati karena dijiwai oleh kasih, keadilan dan damai, seperti telah diajarkan dan dilaksanakan oleh Yesus.

Kebangkitan Yesus juga adalah jaminan kebangkitan kita sebagai umat Allah. Bahwa kitapun akan dibenarkan Allah kalau kita percaya kepada PuteraNya Yesus Kristus sebagai penyelamat dunia dan sekarang kita punya cara menghayati kehidupan, yaitu seperti yang telah diajarkan dan diamanatkan oleh Yesus Kristus, yang kita akui sebagai: Jalan, Kebenaran dan Hidup.

Atas dasar iman paskah ini, kita teringat akan nubuatan kebangkitan, seperti telah dikatakan oleh nabi Hosea dalam perjanjian lama (lih.Hos 6:1-6). Kitab Hosea mau mengemukakan penampakkan Tuhan yang istimewa sebagai Penyelamat, yang mengampuni dan memberi hidup kepada umat yang hidup di hadapanNya. Beginilah firman Tuhan Allah: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umatKu,…….Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. (Yeh 37: 12-14). Allah membenarkan pengorbanan hidup Yesus sebagai jalan penebusan manusia.

Mandat paskah adalah bahwa manusia mesti hidup dalam kasih, damai dan keadilan yang disertai dari sikap tobat. Maria Magdalena telah mengalami pengampunan dari Yesus. Karena itu pula ia bertobat dan menjadi manusia baru. Kata Yesus kepada Maria Magdalena: Akupun tidak menghumummu. Tetapi mulai sekarang jangan berbuat dosa lagi. Marilah kita hidup sesuai kehendak Allah sebab Ia yang telah memanggil kita dan akan membangkitkan kita, sehingga kita hidup di hadapanNya.

Maka sebagai pengikut Yesus, berjuang dan setialah membangun hidup dalam kasih dan pelayanan, seperti diajarkan Yesus. Kita percaya bahwa pengorbanan dan kematian karena kasih bukanlah kekonyolan dan bahkan kebangkitan bukanlah akhir segalanya, melainkan awal kehidupan baru. Dia yang telah dibangkitkan Allah hidup dalam Roh, mencurahkan RohNya kepada para muridNya untuk berani hidup dalam kasih, damai dan keadilan. Selamat Paskah, Alleluia.

Gunungsitoli, 21 April 2009
Salam

Kekatolikan Warga Masyarakat Nias

December 8, 2008 by  
Filed under Buletin, Opini

(dimuat di “WARTA KEUSKUPAN SIBOLGA”)

P. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Hantaran:

Topik ini lebih bersumber dari pengalaman masa kecil hingga usia sekarang.  Artinya, bukan suatu kajian cermat tapi lebih berupa ekspresi yang sudah tertanam di hati dan membekas dalam memori personal. Maksudnya, untuk lebih kenal sejarah katolisitas di Nias, buah kebaharuannya dan perjuangan ke masa depan. Mungkin saja bisa diangkat menjadi bahan permenungan dalam masa yubileum Prefektur / Keuskupan Sibolga (Nop. 2008-Nop. 2009).

  1. DICARI-CARI DAN DITUNGGU-TUNGGU

Benar catatan misionaris Kapusin Pionir Jerman di Nias bahwa warga Niaslah yang mencari-cari dan menjumpai para pastor Gereja Katolik. Kalau dicatat bahwa tahun 1939 mulai menetap Pastor di Nias dengan datangnya Pastor Burchardus van der Wijden dan kemudian Pastor Ildefonsus van Straalen, itu terjadi karena mereka diundang datang. Tentu ada penghubung sebelumnya yang makin jarang disebut-sebut dalam sejarah. Tatkala misionaris tiba, berbondong warga setempat menjumpai pastor. Mereka dipelopori oleh tokoh-tokoh adat dan masyarakat yang kemudian menjadi katekis yang amat berjasa. Begitu terus berlangsung sampai sekarang ini.

Stasi baru terbuka berawal dari sejumlah tandatangan kepala keluarga yang meminta dan malah mendesak pastor datang ke desa mereka. Ini berarti para gembala tidak mencaplok tetapi menampung aspirasi yang menggebu yang terkandung di hati warga. Biasanya aspirasi sedemikian dijawab dengan memenuhi kriteri tertentu. Kemudian katekis diutus untuk melihat komunitas baru dan tinggal beberapa waktu bersama mereka. Kalau ada tanda baik, mereka dihimpun belajar doa-doa harian. Menyusul penghibahan tanah yang elok dipandang tanpa ganti rugi untuk tempat “losu” (kapel darurat) yang dibangun atas swadaya warga sendiri. Mungkin sesudah 3-6 bulan baru pastor datang berkunjung untuk resmi menerima para ketekumen baru. Minimal sesudah 1 tahun kemudian mereka dibaptis dan menjadi anggota Gereja Katolik. Mendirikan gedung gereja permanen tergantung situasi. Kalau komunitas itu meyakinkan, ada harapan bertahan, akan mampu berkembang dan ada personil yang ditokohkan maka direstui pembangunan gereja beton. Hitung-hitung 50% biaya ditanggung oleh umat, yang lainnya ditanggung keuskupan. Memundak bahan bangunan di jalan setapak hingga ke puncak gunung memaksa kita geleng-geleng kepala. Saya belum bisa sebutkan indahnya hidup sebagai warga Gereja Katolik yang dirindukan oleh warga pedalaman Nias sehingga mau dan rela bersusah-payah.

  1. BUAH-BUAH KEBAHARUAN

Hal-hal yang kentara sangat baru bagi komunitas Katolik Nias:

1) Kerinduan menerima sakramen

Sakramen sudah diimani sebagai momen pertemuan pribadi dengan Allah sendiri. Allah yang mengampuni dialami lewat Sakramen Tobat; Allah yang hadir dalam derita dialami dalam Sakramen Pengurapan; Allah yang memberi tugas pengutusan didengar dalam Sakramen Krisma; Allah yang memberi makan dialami dalam Sakramen Ekaristi; Allah yang meridoi dan menguduskan hidup berkeluarga dialami dalam Sakramen Perkawinan; Allah yang memberi kelahiran baru dialami dalam Sakreman Baptis. Kunjungan pastor ke stasi sangat ditunggu karena imam akan kembali menghadirkan kebaharuan atas nama Allah. Kunjungan rutin sang gembala sekali 3 bulan sudah masuk agenda komunitas desa maka baiknya jangan pernah batal.

2) Devosi Jalan Salib dan Doa Rosario

Devosi membangkitkan citarasa keanakan, kemesraan dan keterpaduan perasasn hati. Mengikuti jalan salib meragakan detik-detik yang paling kritis dalam hidup Yesus Juruselamat dunia. Mencoba merasakan kesengasaraan itu dan menjaga diri agar dalam derita pun bisa bersikap seperti sang Guru Kehidupan. Setiap hari Jumat pada masa Prapaskah Umat Katolik di seluruh Nias tepanggil mengikuti ibadat Jalan Salib. Dengan berdoa Rosario warga Gereja mencoba mengalami kasih keibuan Bunda Maria. Biar terjadi seperti di kota Kana, ibu Maria menyampaikan kesesakan hati kepada Sang Mahapengasih yang kuasa mengubah air menjadi anggur berkwalitas. Umat menerima Maria sebagai ibu, yang sering disapa dan diagungkan perannya untuk keselamatan dan bantuannya dimohonkan. Sayang rasanya bahwa doa rosario hanya digalakkan oleh para pengurus pada bulan Oktober saja dan kelupaan yang bulan Mei. Menjelang ajal, agak umum dibisikkan kepada sipenderita untuk menyebut-nyebut nama ibu Maria.

3) Panggilan menjadi Biarawan-biarawati dan imam

Belum terbilang banyak, tetapi sungguh sesuatu yang tak terbayangkan dalam tatanan adat bahwa ada warga beriman Katolik yang sengaja dan sukarela tidak menikah, menundukkan kehendak kepada komunitas religiusnya dan tidak mengejar dan berpegang pada harta kekayaan. Tidak terpikirkan warga adat namun diterima. Ada lagi yang mau melulu hidup bagi Allah dan sesama lewat panggilan hidup sebagai imam, gembala umat. Setiap paroki dan malah stasi makin lama makin merindukan agar yang terpanggil untuk hidup khusus ini ada juga dari komunitasnya. Orangtua dan sanak keluarga secara rohani berbangga bahwa mereka telah mempersembahkan seorang dari keluarganya untuk kemuliaan Allah. Harapan bahwa mereka kerap didoakan tentu bisa diandaikan. Memang benar kalau dihitung, lebih banyak yang sudah memulai tetapi termasuk sedikit yang bertahan hingga akhir hidup. Saya sangka motivasi awal tidak sungguh membekas dan daya tahan terhadap tubrukan situasi kurang terbangun utuh. Bagaimanapun juga umat di Nias perlu lebih gencar berdoa untuk panggilan jenis khusus ini.

4). Bertugas tanpa imbalan jasa

Suatu yang sungguh baru bahwa para pengurus Gereja di tengah masyarakat tidak pernah diberi imbalan uang tapi melulu penugasan dan pengabdian tanpa pamrih berperiodik 3 tahun. Mereka mengayomi komunitasnya, hadir dalam suka dan kedukaan warga Gereja, menganimasi hidup kerohanian dan menghadirkan kebersamaan dan damai di stasi. Mereka dipilih resmi oleh umat dan diteguhkan oleh pimpinan paroki. Biasa merekalah yang korban bila pastor dan rombongannya berkunjung ke stasi dengan menyediakan penginapan dan jamuan. Kerasulan awam sudah dihidupi sebelum teks Konsili “Ad Gentes” diterbitkan.

5) Kunjungan Uskup suatu peneguhan

Sebagaimana halnya di Daratan Tapanuli, kunjungan uskup untuk memberkati gereja atau melayankan Sakramen Krisma adalah pesta iman warga Katolik Nias. Ketemu gembala agung disambut dengan pesiapan diri mulai dari perayaan liturgi, jamuan, penyambutan secara adat dan pemberian kenang-kenangan. Saya duga ada sebagian koleksi Musem Pusaka Nias berasal dari kenang-kenangan umat kepada Bapak Uskup Sibolga. Terakhir ini tatkala berkunjung ke Paroki Alasa beliau diberi seekor musang gemuk nan lincah. Kalau dari wilayah Selatan biasa dihadiahkan hasil ukiran batu atau ukiran kayu. Uskup berkunjung, bagi umat suatu peneguhan bahwa mereka anak keuskupan.

6). Penggunaan air kudus dan gambar-gambar kudus

Umat Nias hingga ke pelosok Pulau Tello dan Hibala sangat yakin akan berkat Tuhan yang mengalir lewat perecikan air kudus. Dalam banyak kesempatan dipergunakan, termasuk menghalau segala ketakutan dengan perecikan air kudus sekeliling rumah. Orang sakit juga banyak yang merasa dikuatkan lewat air kudus. Gambar, salib dan patung-patung biasa dipampang di rumah. Simbol-simbol ini menyimpan di dalamnya rahasia-rahasia iman.

7) Keagungan perlengkapan liturgi dan gedung ibadat

Rumat tradisonal Nias yang menjulang tinggi menandakan keagungan. Tugu batu di halaman rumah menggambarkan kerinduan akan suatu kemuliaan. Dalam konteks itu gedung ibadat yang agung, kompleks pastoran/susteran yang kokoh, pakaian liturgi Gereja Katolik yang berwarna-warni dan peralatan misa yang kuning-menguning rasanya memenuhi selera warga hingga kepedesaan. Ada rasa senang menyaksikan keagungan dan kemuliaan.

8). Orang kudus pelindung

Sedari awal karya misi dan semoga untuk seterusnya orang yang dibaptis diberi nama pelindung seorang kudus. Biasanya imam sendiri yang menetapkannya, tapi sudah ada perkembangan bahwa pemimpin komunitas sendiri dan malah orangtua yang memilih pelindung yang difavoritkan. Nama pelindung melengkapi nama panggilan yang ditetapkan oleh keluarga. Urutan yang cocok: nama pelindung, baru menyusul nama panggilan di rumah. Memang belum banyak berbicara nama pelindung ini karena tidak dirayakan.

3. PERJUANGAN HINGGA AKHIR

1) Dualisme iman dan keseharian

Dalam masyarakat masih kentara sekali mental dualisme: fa’alowalangi (hidup selaku anak Allah di surga) dan fa’aniha (kehidupan selaku insan yang gampang terluka dan malah mau berdosa). Agaknya hidup belum diformat sepenuhnya dalam bingkai keilahian tetapi tetap menyelinap (untuk tidak berkata menguasai) gelora kekalutan manusiawi seperti tidak mau malu, tidak kuasa menerima perendahan, tidak ingin disepelekan, tidak rela ditolak dll.

Akar dosa egoisme, primordialisme, golonganisme dan kepala batu masih mengakar dalam-dalam. Kesembilan buah-buah roh (Gal 5:22-23) agaknya belum berdaya mengubah kehidupan harian. Perdebatan yang lama untuk menetapkan pertapakan gereja atau tengkar-tengkir sewaktu pemilihan pengurus komunitas adalah tanda-tanda manusia lama yang seyogianya sudah sejak menjadi anggota Gereya sudah menghidupi jiwa manusia baru. Mungkin kebaharuan jiwa harus menjadi topik kotbah para gembala dan pengurus Gereja untuk seterusnya.

2) Kekurangpedulian sekaligus kekurangpamahan

Kurang peduli atau kurang paham akan hukum Gereja, liturgi dan ajaran iman (besar-kecil) terkait terutama dengan perkawinan, pertanda patokan adat dan pertimbangan kemanusiaan lebih mendominasi keputusan-keputusan penting.

Memang hampir tiak ada imam yang mampu menjelaskan setuntas-tuntasnya seluk beluk hukum perkawinan dalam Gereja Katolik yang begitu kompleks. Satu, sebab hukum itu akarnya tatanan romawi yang kadang tabrakan dengan perkawinan yang dimungkinkan oleh adat dan selera kemanusiaan. Kalau diurut permasalahannya terletak pada: pengumuman 3 kali menjelang nikah, hari pernikahan dan tahun liturgi, kelengkapan surat-surat, keharusan menghadap imam di paroki, pemahaman akan inti pernikahan / hidup berkeluarga, pernikahan yang berkaitan darah dan berkaitan dengan kekerabatan (menikah dengan ibu tiri, misalnya). Kedua, kami para pastor juga kadang terkesan kaku dalam penerapan hukum Gereja yang tidak dikupas habis di bangku kuliah. Ke masa depan, baik semua memahami bahwa pernikahan Katolik terikat pada hukum ilahi, hukum kodrat, hukum Gereja dan hukum sipil. Bagaimana menerapkannya pada warga yang terdidik sejak kecil dengan hukum adatnya yang termasuk unik?  Baiknya semua pihak menghadapi tiap kasus dengan tenang berkepala dingin sehingga terhalau kejengkelan dan kekurangenakkan perasaan. Dalam masyarakat Nias memproses suatu rencana pernikahan seumpama masuk jejaring yang kait-mengait, melibatkan banyak pihak, butuh perundingan yang berlarut dan biaya kerap di atas kemampuan riil. Proses ini perlu dimengerti dan diterima. Usul, bila ada kasus, baik sekali bagi kita para pastor untuk berkonsultasi dengan para pastor misionaris yang sudah mahir memilah-milah dan tentu dengan pihak keuskupan di Sibolga.

4. MEMFORMAT KEKRISTENAN SEJATI

Selaku seorang imam, sering saya sangat terharu melihat umat Katolik Nias yang dengan takwa berlutut di bangku gereja. Semua, kaum wanita dan pria dewasa begitu juga anak-anak. Sementara doa syukur agung mereka tahan terus berlutut. Tanpa kecuali miskin-kaya, yang berpendidikan, mahasiswa maupun orang yang sangat tak berwawasan memberi intensi ke altar, karena ada ujud yang mohon diberkati Tuhan Allah dan diinginkan campur tangan Allah sendiri. Tak jarang terjadi mereka kirimkan intensi ke pastoran, kepada Suster Klaris di Gunungsitoli, bahkan kepada Bapak Uskup untuk disatukan dalam kurban Kristus sewaktu perayaan ekaristi.

1). Doa dalam keluarga (nyanyi dan berdoa kadang baca teks alkitab) pagi dan malam syukur-syukur masih tersisa. Terkurasnya waktu untuk bekerja, bersekolah dan bermasyarakat menyebabkan makin menghilang kebiasaan saleh itu sekarang ini. Sebelum punah betul harus dicarikan penyelamatannya.

2). Partisipasi dan kehadiran dalam kedukaan warga Gereja dan sesama warga desa harus digalakkan. Terkadang tetangga sebelah rumah berduka, ada yang nongkrong di rumah sendiri, seakan mau berkata “peduli amat… itu urusanmu.” Hidup bersama sebagai saudara sangat sering ditandaskan Tuhan Yesus (“kamu semua adalah saudara” Mat. 23:8; 18:21) dan oleh surat-surat Rasul Paulus (“saling mengasihi sebagai saudara” Rm. 12:10; 2 Tes. 3:15; 1 Tim 6:2).

3). Kesediaan menyumbang dan beramal, membagi yang ada dari diri perlu juga ditingkatkan di masa depan. Ada kesan, warga Katolik Nias agak kikir menyumbang untuk sesuatu kegiatan baik kerohanian maupun kemasyarakatan (“Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” 2 Kor. 9:7; Kis. 20:35).

4). Panggilan untuk hidup menggapai kesempurnaan seperti dipraktekkan oleh para kudus sudah waktunya ditanamkan. Ringkasnya, menjadi pria dan wanita kudus harus menjadi dambaan dalam hati, jiwa dan cita warga Gereja di Nias di seluruh Kabupaten dan Kota (Kab. Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat dan Kota Gunungsitoli). Topik ini pun bisa ditampilkan dalam katekese dan hamili. Mungkin masih butuh ratusan tahun ke depan tetapi sejak kini disemaikan dalam hati umat oleh siapa saja. Berpangkal pada Injil Tuhan dan surat-surat para Rasul (Mat. 5:48; 1 Tes. 3:13) yang telah terwujud dalam Gereja sepanjang masa, panggilan untuk hidup kudus dan tak bercela harus dikobarkan dan dibiarkan menyala dalam batin umat Katolik. Pada waktu Reuni Tahunan, baik sekali bila dihadiahkan kepada para Lektor dan DPPI buku Kisah Hidup Orang-orang Kudus yang sudah tersedia dalam bahasa Indonesia.

5). Satu lagi harus diformat untuk ke depan yakni semangat misioner. Keluar dari daerah sendiri untuk menjadi saksi Kristus Tuhan di tempat lain malah di Negara lain perlu masuk agenda kehidupan umat. Kaum muda Nias haruslah siap sedia menghadirkan dan memberitakan Kristus di tempat jauh. Jadilah rasul-rasul kecil seperti para katekis kita di masa misionaris kita ditawan Jepang (1942-1950). Begitu kekatolikan kita akan kentara sungguh mengakar.

Penutup

Identitas dan karakteristik umat Katolik Nias harus ditanamkan, dikelola dan disuburkan hingga berbuah dan akan menyenangkan hati Allah terutama, dan juga hati sesama manusia. Kalau Musem Pusaka Nias berjuang melestarikan jati diri etnis maka umat Allah bersama para gembala dan biarawan/tinya berjuang terus agar terpatri mendalam citarasa kekatolikan walau kita hidup di atas pulau yang suka bergoyang.

Wasalam, Postnovisat Kapusin Gunungsitoli (8 Des. 08)