Kompetensi Lulusan Guru Agama Katolik Dalam Pandangan Gereja Dewasa Ini

September 16, 2011 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra, News

(Oleh Dr. M. Purwatma)

Ketika menerima surat kepercayaan dari Duta Besar Equador untuk Tahta Suci Vatikan tanggal 22 Oktober 2010 (Zenith 22 Oktober 2010, Paus Benedictus XVI menekankan bahwa pendidikan lebih dari sekedar menanamkan pengetahuan, tetapi menanamkan cinta kebenaran. Lebih lanjut Paus menegaskan agar negara menjamin pengajaran agama di sekolah, karena Paus meyakini iman Katolik dapat memberi sumbangan besar dalam memajukan martabat pribadi manusia dan pengembangan masyarakat. Meskipun ada perbedaan situasi antara Equador dan Indonesia, namun pesan Paus ini menantang kita semua untuk meninjau apa yang mau dicapai melalui pendidikan agama baik di sekolah maupun di komunitas-komunitas basis, sehingga dapat menjadi acuan bagi perumusan kompetensi guru agama katolik lulusan Perguruan Tinggi Swasta Agama Katolik. Read more

Pembentukan Karakter Melalui Pendidikan

September 16, 2011 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra

 (Oleh: Dalifati Ziliwu)

Pendahuluan

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang bercita-cita untuk menjadi satu Negara besar, kuat, disegani dan dihormati keberadaanya di tengah-tengah bangsa-bangsa lain di dunia. Setelah kemerdekaan pencapaian cita-cita ini belum menunjukkan tanda-tanda menggembirakan. Optimisme mencapai cita-cita itu terus-menerus diharapkan, namun ditemui berbagai  macam tantangan. Semangat nasionalisme dalam menegakkan dan membangun  NKRI seakan-akan tidak dapat diimbangi karena begitu banyaknya  persoalan-persoalan yang harus diselesaikan bangsa ini. Mencuaknya beberapa hal yang bergeser dari nilai dan norma yang harus dijunjung tinggi, penegakan hukum yang belum terwujud, dampak demokrasi yang tidak diinginkan, karakter manusia yang semakin merosot. Ini semua merupakan dampak sikap orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak ada rasa memiliki akan bangsa yang hanya bersikap mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

UU No.20 tahun 2003 Sisdiknas, menegaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan iman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesem-purnaan hidup anak-anak kita. Pendidikan karakter merupakan bagian integral yang sangat penting dari pendidikan kita

Upaya pemerintah melalui Permendiknas No.23 tahun 2006, mengamanatkan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berperilaku sesuai Pasal 3 UU No.20 Tahun 2003 Tentang pendidikan Nasional. Pada SKL SMA/MA mengupayakan peserta didik dapat memiliki : (1) Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja; (2) Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya; (3) Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya; (4) Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial; (5) Menghargai keberagaman agama, bangsa,  suku, ras, dan golongan sosial-ekonomi dalam lingkup global; (6) Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif; (7) Menunjukkan  kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan; (8) Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri; (9) Menunjukkan sikap kompetitif & sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik; (10) Menunjukkan kemampuan  menganalisis dan memecahkan masalah kompleks; (11) Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial; (12) Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia; (13) Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya; (14) Mengapresiasi karya seni dan budaya; (15) Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok; (16) Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan; (17)  Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun; (18) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; (19)  Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain; (20)  Menunjukkan ketrampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis; (21)  Menunjukkan ketrampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris; (22) Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi. Dari beberapa poin diatas ada 11 dari 22 Kompetensi Sangat  dekat dengan pembentukan  karakter seorang peserta didik.

Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa emas namun kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Thomas Lickona (seorang profesor pendidikan dari Cortland University) dalam quari (2010:8) mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda jaman yang kini terjadi, tetapi harus diwaspadai karena dapat membawa bangsa menuju jurang kehancuran. 10 tanda jaman itu adalah: (1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja/masyarakat; (2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk/tidak baku; (3) Pengaruh peer-group (geng) dalam tindak kekerasan, menguat; 4) Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba;   alkohol dan seks bebas; (5) Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; (6) Menurunnya etos kerja; (7) Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; (8) Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok; (9) Membudayanya kebohongan/ketidakjujuran; dan (10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian  antarsesama.

Hakekat Karakter

 

Menurut Simon Philips  dalam quari (2010: 10), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema dalam quari (2010:12) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Sementara Winnie dalam quari memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.

Dari pendapat di atas dipahami bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi, ‘orang berkarakter’ adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Dengan demikian, pendidikan membangun karakter, secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau baik, bukan yang negatif atau buruk. Hal ini didukung oleh Peterson dan Seligman dalam quari (2010: 16) yang mengaitkan secara langsung ’character strength’ dengan kebajikan. Character strength dipandang sebagai unsur-unsur psikologis yang membangun kebajikan (virtues). Salah satu kriteria utama dari ‘character strength’ adalah bahwa karakter tersebut berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya potensi dan cita-cita seseorang dalam membangun kehidupan yang baik, yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan bangsanya.

Pendidikan Karekter

Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturisasi dan sosialisasi). Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itu mencakup sekurang-kurangnya tiga hal paling mendasar, yaitu: (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan ketrampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.

Ki Hadjar Dewantara dari Taman Siswa di Yogyakarta bulan Oktober 1949 pernah berkata bahwa “Hidup haruslah diarahkan pada kemajuan, keberadaban, budaya, dan persatuan”. Sedangkan menurut Prof. Wuryadi, manusia pada dasarnya baik secara individu dan kelompok, memiliki apa yang jadi penentu watak dan karakternya yaitu dasar dan ajar. Dasar dapat dilihat sebagai apa yang disebut modal biologis (genetik) atau hasil pengalaman yang sudah dimiliki (teori konstruktivisme), sedangkan ajar adalah kondisi yang sifatnya diperoleh dari rangkaian pendidikan atau perubahan yang direncanakan atau diprogram.

Urgensi pengembangan karakter dalam dunia pendidikan dirasa sangat berpengaruh dan penting dalam membentuk kepribadian dan watak para pemimpin masa depan bangsa karena “Selama dimensi karakter tidak menjadi bagian dari kriteria keberhasilan dalam pendidikan, selama itu pula pendidikan tidak akan berkontribusi banyak dalam pembangunan karakter” (I Gedhe Raka), dan ”Dalam kenyataanya, pendidik berkarakterlah yang menghasilkan SDM handal dan memiliki jati diri. Oleh karena itu, jadilah manusia yang memiliki jati diri, berkarakter kuat dan cerdas.”

Pilar akhlak (moral) yang dimiliki (mengejawantah) dalam diri seseorang, sehingga ia menjadi orang yang berkarakter baik (good character), memiliki sikap jujur, sabar, rendah hati, tanggung jawab dan rasa hormat, yang tercermin dalam kesatuan organisasi pribadi yang harmonis dan dinamis. Tanpa nilai-nilai moral dasar (basic moral values) yang senantiasa mengejawantah dalam diri pribadi kapan dan di mana saja, orang dapat dipertanyakan kadar keimanan dan ketaqwaannya. Manusia yang berkarakter diharapkan mampu untuk : (1) Sadar sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sadar sebagai makhluk muncul ketika ia mampu memahami keberadaan dirinya, alam sekitar, dan Tuhan YME. Konsepsi ini dibangun dari nilai-nilai transendensi; (2) Cinta Tuhan. Orang yang sadar akan keberadaan Tuhan meyakini bahwa ia tidak dapat melakukan apapun tanpa kehendak Tuhan. Oleh karenanya memunculkan rasa cinta kepada Tuhan. Orang yang mencintai Tuhan akan menjalankan apapun perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; (3) Bermoral. Jujur, saling menghormati, tidak sombong, suka membantu, dll merupakan turunan dari manusia yang bermoral; (4) Bijaksana. Karakter ini muncul karena keluasan wawasan seseorang. Dengan keluasan wawasan, ia akan melihat banyaknya perbedaan yang mampu diambil sebagai kekuatan. Karakter bijaksana ini dapat terbentuk dari adanya penanaman nilai-nilai kebinekaan; (5) Pembelajar sejati. Untuk dapat memiliki wawasan yang luas, seseorang harus senantiasa belajar. Seorang pembelajar sejati pada dasarnya dimotivasi oleh adanya pemahaman akan luasnya ilmu Tuhan (nilai transendensi). Selain itu, dengan penanaman nilai-nilai kebinekaan ia akan semakin bersemangat untuk mengambil kekuatan dari sekian banyak perbedaan; (6) Mandiri. Karakter ini muncul dari penanaman nilai-nilai humanisasi dan liberasi. Dengan persamaan  subjek kehidupan maka ia tidak akan membenarkan adanya penindasan sesama manusia. Darinya, memunculkan sikap mandiahaman bahwa tiap manusia dan bangsa memiliki potensi dan samari sebagai bangsa; (7) Kontributif. Kontributif merupakan cermin seorang pemimpin.

Pendidikan dilaksanakan dari, untuk, dan oleh manusia, berisi hal-hal yang menyangkut perkembangan dan kehidupan manusia serta diselenggarakan dalam hubungan antar manusia itu sendiri. Prayitno (2010:44) mengungkapkan bahwa dalam sosok manusia mengandung tiga komponen dasar yaitu hakikat manusia, dimensi kemanusiaan, dan pancadaya kemanusiaan. Sosok kemanusiaan itu selanjutnya disebut sebagai harkat dan martabat Manusia (HMM).

Hakekat manusia menurut Prayitno (2010:44), ada lima unsur yang menegaskan bahwa manusia adalah ciptaan Allah dalam kondisi: (1) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa; (2) Diciptakan paling sempurna; (3) Berderajat paling tinggi; (4) Berstatus sebagai khalifah di muka bumi; (5) Menyandang hak asasi manusia.

Prayitno (2010: 45) mengungkapkan bahwa Dimensi  kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia terdiri dari 5 dimensi yaitu: (1) Dimensi kefitrahan, kata kunci kebenaran dan keluhuran; (2) Dimensi keindifidualan, dengan kata kunci potensi dan perbedaan; (3) Dimensi kesosialan, kata kunci komunikasi dan kebersamaan; (4) Dimensi kesusilaan, dengan kata kunci nilai dan moral; (5) Dimensi keberagamaan, kata kunci iman dan taqwa. Kesatuan kelima dimensi kemanusiaan ini dapat mewujudkan karakter – cerdas seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Panca kemanusiaan, sang pencipta memberikan perangkat  dasar potensi kemanusiaan yang disebut pancadaya. Pancadaya yang dimaksud adalah: (1) Daya taqwa; (2) Daya Cipta; (3) Daya rasa; (4) Daya Karsa; (5) dan Daya karya. Dengan lima daya tersebut manusia berkembang dalam budaya dan kemampuan kemanusiaannya. Melalui pengembangan kelima daya itu pula kehidupan yang berkarakter-cerdas ditumbuh-suburkan.

Tiga komponen dasar manusia seutuhnya sebagaimana telah diuraikan di atas dapat disarikan dengan rumusan lima- i, yaitu: (1) Iman dan taqwa meliputi kaidah agama; (2) Inisiatif berarti semangat, kemauan untuk memulai dan mencoba, berdaya upaya, pantang menyerah, untuk mencapai sesuatu yang berguna; (3) Industrius berarti bekerja keras, tekun, disiplin, produktif, pertimbangan nilai tambah, jujur, jiwa wira usaha; (4) Individu mencakup kualitas potensi, perbedaan kedirian individu dan kemandirian; (5) Interaksi mengandung makna keterkaitan individu yang satu dengan individu lainnya.

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN HOLISTIK

Pendidikan holistik membentuk manusia secara utuh (holistik) yang berkarakter yaitu mengembangkan aspek/potensi spiritual, potensi emosional, potensi intelektual (intelegensi & kreativitas), potensi sosial, dan potensi jasmani siswa secara optimal. Membangun karakter itu harus dimulai sedini mungkin, atau bahkan sejak dilahirkan, dan harus dilakukan secara terus menerus dan terfokus, Pendidikan holistik juga untuk membentuk manusia pembelajar sepanjang hayat yang sejati (life long learners). Di samping itu, pendidikan karakter juga mengembangkan semua potensi anak sehingga menjadi manusia seutuhnya. Dalam hal ini, perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademiknya maupun segi sosial dan emosinya. Pendidikan selama ini hanya memberi penekanan pada aspek akademik saja dan tidak mengembangkan aspek social, emosi, kreativitas, dan bahkan motorik. “Anak hanya dipersiapkan untuk dapat nilai bagus, namun mereka tidak dilatih untuk bisa hidup.

PENDIDIKAN HOLISTIK

Pendidikan Holistik memiliki ciri kurikulum sebagai berikut: (1) Spiritualitas adalah jantung dari setiap proses dan praktek pembelajaran; (2) Pembelajaran diarahkan agar siswa menyadari akan keunikan dirinya dengan segala potensinya. Mereka harus diajak untuk berhubungan dengan dirinya yang paling dalam (inner self, sehingga memahami eksistensi, otoritas, tapi sekaligus bergantung sepenuhnya kepada pencipta Nya; (3)  Pembelajaran tidak hanya mengembangkan cara berpikir analitis/linier tapi juga intuitif; (4) Pembelajaran berkewajiban menumbuhkembangkan potensi kecerdasan jamak (multiple intelligences); (5)  Pembelajaran berkewajiban menyadarkan siswa tentang keterkaitannya dengan komunitasnya, sehingga mereka tak boleh mengabaikan tradisi, budaya, kerjasama, hubungan manusiawi, serta pemenuhan kebutuhan yang tepat guna (jawa: nrimo ing pandum; anti konsumerisme); (6) Pembelajaran berkewajiban mengajak siswa untuk menyadari hubungannya dengan bumi dan “masyarakat” non manusia seperti hewan, tumbuhan, dan benda benda tak bernyawa (air, udara, tanah) sehingga mereka memiliki kesadaran ekologis; (7) Kurikulum berkewajiban memerhatikan hubungan antara berbagai pokok bahasan dalam tingkatan transdisipliner, sehingga hal itu akan lebih memberi makna kepada siswa; (8) Pembelajaran berkewajiban mengantarkan siswa untuk menyeimbangkan antara belajar individual dengan kelompok (kooperatif, kolaboratif, antara isi dengan proses, antara pengetahuan dengan imajinasi, antara rasional dengan intuisi, antara kuantitatif dengan kualitatif; (9) Pembelajaran adalah sesuatu yang tumbuh, menemukan, dan memperluas cakrawala; (10) Pembelajaran adalah sebuah proses kreatif dan artistik.

Urgensi Pendidikan holistik karena merupakan Kunci sukses dalam menghadapi tantangan berat dalam hidup itu terletak pada kualitas sumberdaya manusia (SDM) Indonesia yang handal dan berbudaya. Oleh karena itu perlu implementasi penyelenggaraan pendidikan holistik secara baik. Beberapa hal yang mendapat penekanan lebih dalam menerapkan model pendidikan karakter. Pertama, “Knowing the good. Untuk membentuk karakter, anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami mengapa perlu melakukan hal tersebut. “Selama ini banyak orang yang tahu bahwa ini baik dan itu buruk, namun mereka tidak tahu apa alasannya melakukan hal yang baik dan meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Jadi masih ada gap antara knowing dan acting,”. Berikut ini dapat diuraikan 9 Indikator pendidikan karakter yaitu : (1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya (love God, trust, reverence, loyalty); (2) Tanggung jawab Kedisiplinan dan Kemandirian (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness); (3) Kejujuran/Amanah dan Arif (trustworthines, honesty, and tactful); (4) Hormat dan Santun (respect, courtesy, obedience); (5) Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama (love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation, cooperation); (6) Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja keras (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determination, enthusiasm); (7) Kepemimpinan dan Keadilan (justice, fairness, mercy, leadership); (8) Baik dan Rendah Hati (kindness, friendliness, humility, modesty); (9) Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan; (tolerance, flexibility, peacefulness, unity)

 

FUNGSI DAN PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER MURID

Pendidik (guru) yang  profesional mempunyai tugas  utama yaitu:  (1) Mendidik; (2) Mengajar: (3) Membimbing;(4) Mengarahkan; (4) Melatih;  (5) Menilai dan mengevaluasi. Dalam mengemban tugas utama seorang guru yang profesional harus memiliki beberapa indikator yang berkarakter. Indikator yang berkarakter dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Memiliki Pengetahuan yang luas dan mengamalkannya dalam kehidupan  sehari-hari secara aktif; (2) Meningkatkan kualitas keilmuan secara berkelanjutan; (3) Zuhud dalam kehidupan, mengajar dan mendidik untuk mencari ridho Tuhan; (4) Bersih jasmani dan rohani; (5) Pemaaf, penyabar, dan jujur; (6) Berlaku adil terhadap peserta didik dan kepada semua stakeholders pendidikan (7) Mempunyai watak dan sifat robbaniyah yang tercermin dalam pola pikir, ucapan, dan tingkah laku; (8) Tegas bertindak, profesional, dan proporsional; (9) Tanggap terhadap berbagai kondisi  yang mungkin dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan, dan  pola pikir peserta didik; (10) Menumbuhkan kesadaran diri sebagai da’i.

Prayitno mengungkapkan lima pilar untuk belajar yaitu : (1) Belajar untuk mengetahui (learning to know); (2) Belajar untuk melakukan (learning to do); (3) Belajar untuk hidup bersama (learning to live together); (4) Belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be); (5) Belajar beriman dan bertaqwa (learning to beliaeve in God). Pilar yang yang dijelaskan di atas merupakan pilar yang di pegang teguh untuk menghasilkan manusia yang berguna, berkarakter,  tentunya dalam pencapaiannya menjadi usaha yang sinergi antara pendidik dan peserta didik. Bila pilar belajar ini diaktualisasikan menjadi prinsip dalam kepribadian peserta didik yang dikondisikan dengan baik oleh pendidik melalui proses pembelajaran dan penyampaian materi, kita yakin dan percaya karakter yang diharapkan itu dapat terwujudkan.

Penutup

Dalam Membentuk karakter melalui satuan pendidikan sebaiknya harus mendapatkan perhatian serius dari penyelenggara proses pembelajaran di berbagai satuan pendidikan. Berusaha semaksimal mungkin penerapanya melalui  merencanakan pengajaran, pelaksanakan pengajaran , penilai,  mengevaluasi, dan tindak lanjut. Tidak mengarah hanya bidang akademik tetapi seimbang dengan pembinaan dan pembentukan karakter calon pemimpin bangsa sehingga ketika menjadi sebagai pemimpin mampu berkarakter yang baik dan positif bagi orang lain atau lingkungannya.

Daftar pustaka

 

Majelis Luhur persatuan Taman siswa, 1961. Karja Ki Hadjar Dewantoro.Yogyakarta: Pertjetakan Taman Siswa.

Prayitno, 2009. Dasar  Teori dan Praktis Pendidikan. Jakarta: Grasindo Gramedia

Prayitno, 2010. Pendidikan karakter Dalam Membangun Bangsa Medan. Pasca Sarjana Unimed.

Peraturan Pemerintah No.23 Tahun 2006. Tentang Standar Lulusan. Kompetensi

Undang-undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistim Pendidikan Nasional.

Quari, 2010. Agama Nilai Utama Dalam Membangun Karakter Bangsa. Medan: Pasca sarjana Unimed.

Zainal, 2009. Menjadi Guru Profesional Berstandar Nasional. Bandung: Yrama Widya

Interaksi Guru dan Siswa

July 20, 2009 by  
Filed under Karya Tulis, Opini

(Sibarudin Giawa)

Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala (STP-DM) Gunungsitoli Keuskupan Sibolga menyajikan sejumlah mata kuliah yang membentangkan interaksi antara Guru Agama dan siswa. Di antaranya: Ilmu Didaktik Metode Khusus, Ilmu Kateketik, Evangelisasi dan semua Matakuliah seputar Katekese. Selain itu dalam mata kuliah Kristologi dipaparkan cara mengajar yang istemewa dari Yesus Kristus Sang Juruselamat, yang patut dan harus kita teladani dalam mewartakan Sabda Allah melalui katekese atau pengajaran agama di sekolah.

Hubungan Guru Agama dan Siswa

Guru Agama dan siswa melakukan kegiatan yang berbeda dalam proses pengajaran. Seorang guru atau katekis berusaha mengajar, mendidik dan membimbing para siswa atau pendengarnya. Bidikan yang mau dicapai adalah agar mereka terbentuk menjadi manusia yang sungguh dekat dengan Sabda Allah dan akhirnya menjadi pewarta sabda Allah kepada sesama. Seorang siswa berusaha meraih untuk dirinya pengetahuan demi  pembentukan dirinya melalui pengalaman bersama guru, orang tua dan lingkungan sekitarnya. Siswa berusaha mengenal dan mengimani Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus dan Roh-Nya yang menghidupi manusia, sehingga karena kekuatan Roh Allah seorang siswa mampu meneruskan pewartaan sabda Allah kepada sesama manusia.

Singkatnya Guru Agama atau Katekis dan siswa bersama-sama membangun tali rantai sabda Allah yang hidup dan berkesinambungan tanpa putus untuk selamanya. Bangunan tali rantai sabda Allah itu akan kokoh dan menjulur ke seluruh dunia. Guru agama mempersiapkan diri sebelum mengajar dan kemudian melakukan kegiatan mengajar dan mendidik dengan tujuan membentuk pribadi siswa menjadi manusia yng memiliki iman, pengharapan dan cinta kasih. Sebab orang yang mamiliki iman, harapan dan cinta kasih dalam dirinya Allah meraja. Cahaya kemuliaan Allah bersinar dalam dirinya dan memberi terang bagi sesama. Kehadiran Allah dalam dirinya tampak malalui kata-kata, sifat, pandangan yang mendominasi perbuatan sehari-hari. Inilah yang dimiliki dan dibagikan oleh seorang pengajar pendidikan agama kepada pendengarnya. Sebab seseorang tidak mungkin memberi sesuatu yang tidak ia miliki.

Kesenjangan

Guru Agama atau Katekis diharapakan mampu mengajar dan mendidik siswa untuk sampai pada pengenalan dan cinta akan Allah. Guru Agama yang memiliki spiritualitas yang benar akan mampu mengajar dan mendidik siswanya menuju pada tujuan yang diharapkan oleh Gereja. Inilah titik akhir yang mau dicapai oleh pengajar dalam pendidikan agama atau katekese. Untuk itu dalam proses pengajaran agama ada 3 aspek yang perlu diperhatikan yakni: konyitif, afektif dan operatif. Proses pengajaran pendidikan agama akan mengalami kesenjangan apabila seorang guru agama tidak menghidupi sabda Allah yang diwartakan melalui pendidikan agama atau ketekese; apabila tidak memiliki profil seorang pewarta sabda Allah yang terbukti dalam kehidupan moral dan spiritualitas katekis; apabila tidak mengetahui dan memiliki tujuan yang hendak dicapai pada setiap pewartaan; apabila sulit menyesuaikan bahan dan metode katekese atau pengajaran agama kepada para pendengarnya menurut sikonnya; apabila kurang menampakan rasa persahabatan dan apabila melupakan komponen kognitif, afektif dan operatif siswa.

Harapan dan Refleksi Seorang Guru Agama

Seorang Guru Agama atau Katekis mengemban tugas mulia dan suci. Tugas mulia itu membawa dan menuntut orang supaya hidupnya terpuji di hadapan Allah dan manusia. Seorang Katekis atau Guru Agama seharusnya menyadari bahwa tugas itu adalah suatu panggilan yang diterima dari Tuhan dan mengetahui apa yang mau dicapai dalam tugas itu.

Jadi seorang Guru Agama atau Katekis bukan hanya menyampaikan materi pengajaran (asal selesai materi) tetapi terutama membimbing atau mengarahakan para pendengarnya menuju pribadi yang mamiliki iman, pengharapan dan cinta kasih. Secara bersahabat siswa diajak untuk membuka diri menerima Yesus lewat pengajaran dan profil dari para pengajarnya.

Baiklah seorang Guru Agama atau Katekis memiliki rasa persahabatan kepada sesama terutama kepada siswa atau para pendengarnya baik pada proses pengajaran maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab ia sendiri mengemban tugas mewartakan cinta kasih yang dari Kristus.

Melalui paparan di atas kita sebagai pelayan sabda Allah diajak untuk melihat apa yang perlu dibenahi dan ditingkatkan untuk mencapai tujuan pewartaan. Untuk itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Sejauh mana saya telah menghidupi sabda Tuhan? Sejauh mana saya telah mendalami Kristus dalam mengemban tugas pewartaan sabda Allah? Apakah saya memiliki komitmen dalam mencapai tujuan pewartaan sabda Allah atau saya melaksanakannya hanya karena tugas (pokoknya selesai tugas dan tidak peduli akan situasi siswa), sehingga komitmen cenderung mengutamakan gengsi atau harga diri sebagai guru yang ingin ditakuti dan disanjung oleh siswanya?

Dalam bidang studi Kristologi Yesus memberi teladan agung kepada kita tentang bagaimana menjadi seorang guru yang baik. Seorang guru memiliki pribadi yang terpuji, patut diteladani dan bahkan menjadi figur bagi banyak orang. Yesus mengajak kita untuk mewartakan sabda Allah ke seluruh dunia agar semua orang menjadi murid-Nya dan melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya ( bdk Mat. 28:19-20). Dengan demikian kita melakukan dan mewartakan kehendak Tuhan dalam tugas dan bukan kehendak manusia.

Akhir kata semoga tugas kita sebagai pelayan sabda Allah dilandasi oleh contoh teladan Yesus Kristus Putra Allah, sehingga terang Roh Kudus menerangi hati semua orang dan damai sejahtera meraja di seluruh dunia.

Mengembangkan Persekutuan Hidup Beriman Umat Kristiani yg Semakin Bersumberdaya

July 20, 2009 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis

(Stefan Y. Zebua, S.Ag)

Ungkapan berswadaya, berswasembada, dan berswakarya diartikan agar setiap orang atau setiap kelompok mampu memenuhi kebutuhannya sendiri serta mampu berdiri di atas kaki sendiri. Juga berkemampuan untuk menciptakan usaha menuju kepada kemandirian.

Nada yang sama, sebenarnya Gereja telah suarakan sangat lama dan umat dimotivasi terus agar semakin mandiri. Gereja sebagai suatu institusi sejak Konsili Vatikan II telah melegitimasikan agar umat Allah semakin turut aktif dan semakin mengkonkritkan keterlibatannya dalam karya-karya kerasulan Gereja.

Keikutsertaan umat Allah dalam berbagai karya kerasulan Gereja adalah wujud konkrit dan tanda suatu persekutuan umat beriman yang terus mengalami perkembangan. Perkembangan ini lebih tajam dapat dipahami apabila umat beriman mampu dan dengan penuh kesadaran turut ambil bagian dalam berbagai kegiatan hidup menggereja dan aktip terjun  dalam kancah perjuangan masyarakat umum.

Tetapi harapan dan idealisme Gereja ini mengalami dinamika pasang surut, bahkan kalau boleh dikatakan lebih banyak surutnya. Persekutuan umat Allah dalam kenyataannya masih berjalan di tempat, belum menjadi suatu gerakan yang betul-betul dipahami sebagai suatu kebutuhan mendesak dan merupakan cita-cita bersama.

Apabila demikian kenyataannya, maka tentu ada masalah, ada kendala, ada kesulitan yang harus dicari jalan keluarnya. Romo Mangunwijaya Pr pernah berbicara tentang “Umat Akar Rumput” (UAR). Ungkapan ini menunjuk pada Umat Allah sebagai Basis. Umat Allah sebagai basis dipahami sebagai subyek, sebagai pelaksana dan dasar nyata dari seluruh program pembinaan yang diprogramkan secara bersama dalam persekutuan umat beriman.

Untuk menuju suatu persekutuan hidup beriman yang dicita-citakan, yang hidup dan berkembang, yang akhirnya menjadi suatu persekutuan hidup penuh dinamika dan persekutuan hidup yang mewartakan, maka perlu dikaji secara terus menerus metode dan cara yang tepat. Tujuan pengkajian agar persekutuan hidup yang ada menjadi milik bersama umat, persekutuan yang menjadi tanggungjawab bersama umat, persekutuan hidup yang diperjuangkan secara bersama oleh umat. Atas cara demilian ungkapan: dari umat, oleh umat dan untuk umat bukan hanya sebagai suatu slogan belaka, tetapi menjadi suatu kenyataan.

Persekutuan hidup yang hendak diberdayakan dan dimandirikan, pertama-tama harus disadari bahwa di dalamnya ada tiga pilar sentral yang harus dipahami, yakni: kebutuhan (need), masalah (problem) dan kemampuan (potency). Ketiga pilar ini akan menjadi katrol dalam usaha pemberdayaan, agar program-program kegiatan yang akan dijalankan mampu menjawab apa yang diharapkan sesuai dengan situasi konkrit yang sedang dihadapi.

Ada tiga pilar yang perlu dimengerti, dipahami dan disadari oleh umat beriman. Untuk tulisan kami berikut ini, kami akan menyajikan pilar yang pertama, yakni : Kebutuhan (need).

KEBUTUHAN

Dalam bahasa Kamus, kebutuhan mengandung pengertian sebagai berikut: sesuatu hal yang diinginkan oleh seseorang guna dipenuhi dalam hidupnya yang akhirnya mendapatkan kepuasan batin. Pengertian ini memberi muatan, bahwa setiap manusia dalam kodratnya yang normal memiliki berbagai keinginan atau kebutuhan. Dengan adanya kebutuhan, maka setiap manusia akan berupaya dengan berbagai usaha agar kebutuhan yang dimaksud dapat terpenuhi, yang terkadang dengan bantuan orang lain. Misalnya seorang anak, yang punya kebutuhan yang harus dipenuhi, namun si anak tidak dapat memenuhinya sendiri, maka harus melalui campur tangan orang lain yakni orangtua. Atau kita manusia dewasa memiliki kebutuhan yang tidak dapat kita upayakan sendiri, maka harus melalui bantuan pihak lain. Begitulah terus menerus dalam proses pemenuhan kebutuhan.

Kembali kepada konteks bagaimana usaha berbagai pihak dalam Gereja dalam memenuhi kebutuhan umat beriman? Tentu dalam konteks sebagai umat beriman yang mandiri. Pertanyaan kita ialah: Apakah kebutuhan umat yang mendesak untuk dipenuhi saat ini, dan bagaimana cara pemenuhannya, serta peluang apa yang ada untuk itu?

Dalam refleksi, kami memberi sumbangan pemikiran tentang kebutuhan yang mendesak di tengah-tengah umat sekarang ini, agar sungguh berdaya dan bermanfaat. Kami melihat beberapa hal, yaitu :

a.     Mengenal umat

Mengenal umat artinya tahu persis siapa umat, di mana domisilinya, bagaimana keadaan ekonomi umat, keadaan lingkungan umat, letak geografis teritorialnya dan lain sebagainya. Untuk dapat masuk di tengah-tengah mereka dan dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan apa yang dibutuhkan dalam persekutuan umat beriman, maka perlu suatu penelitian akan kebutuhan tersebut dengan tujuan agar apa yang akan diberikan/diprogramkan dalam pengembangan hidup beriman kristiani sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang sedang dirasakan dan dibutuhkan.

Pelayanan-pelayanan yang diberikan sebagai suatu wujud tanggungjawab dalam mengembangkan iman umat, dan dalam pengembangan persekutuan hidup beriman, sesungguhnya sudah baik dan berjalan dengan lancar. Tetapi,  perlu dikaji secara terus menerus. Bila secara riil nyata umat kita di teritorail tertentu masih berjalan di tempat, hal ini harus mengundang perhatian kita untuk mencari penyebab. Maka, solusi apa yang akan kita tawarkan? Misalnya: kita memprogramkan gerakan Katekse Umat. Kita tahu bahwa katekese umat penting dan sangat berguna dalam penguatan iman umat. Dalam proses katekese umat, umat saling membagi, saling berkomunikasi dengan tujuan agar satu dengan yang lain dapat menimba pengalaman-pengalaman iman yang dialami. Tetapi pertanyaan kita sekali lagi adalah: bagaimana proses itu sendiri, sudahkah sesuai dengan apa yang didambakan oleh umat? Oleh karena itu perlu analisis, perlu penelitian, barang kali metodenya perlu dimodifikasi atau lebih variatif. Tentu jawabannya kembali dari situasi lapangan yang sudah dan sedang kita jalankan. Menyimak hasil PKKI IX tahun 2008 di Manado “Katekese dalam Masyarakat yang tertekan”, kita ditantang bagaimana berkatekese bagi masyarakat yang sedang tertekan dalam ragam bentyuknya. Tertekan sangat luas, dan dalam sudut pandang apa kita lihat?

(Bersambung …).

Karakteristik Masyarakat Nias (5)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Bahasa Daerah Nias

Bahasa Daerah Nias sangat unik. Sungguh beda dengan keseluruhan bahasa daerah lain di Indonesia, terutama karena kata-kata terdiri dari huruf-huruf vokal (huruf hidup). Tak kenal konsonan double, setiap kali selalu diantarai dengan huruf vokal (misal, bilang pastor jadi pasitoro). Tidak kenal konsonan pada akhir kata, tidak kenal huruf p (pendeta dibilang fandrita) dan sangat dominan huruf z, f, kh, ndr dan huruf ö. Mengenal huruf d yang keras (möido= aku pergi) dan lembut (tuada= kakek kita) begitu juga huruf w yang keras (Lahewa) dan w yang lembut (Bawalia). Sangat biasa kata terdiri dari kombinasi huruf vokal (ue= rotan dan u’u = kumur). Lidah orang Nias agak berat mengucapkan kombinasi huruf mb (seperti membimbing) dan kombinasi huruf nd (seperti pendidikan, mendidik). Dikenal tiga buah dialek: utara (agak lembut), selatan (agak keras-keras) dan tengah (terkenal dengan huruf cu maka bilang tuada jadi cuada). Aksen ada beberapa: aksen Lahewa (terkenal dengan gelombang suara), aksen Sirombu (terkenal dengan hendre), aksen Nias Tengah (terkenal dengan cu dan ine). Sundermann melihat kesulitan bagi orang asing menguasai bahasa Nias karena konjunksi kata (morfofonemik) yakni terjadinya pertukaran kata seperti teu ke deu (hujan) misalnya teu toho (hujan deras), tohare deu (datang hujan).

Perasaan, kepercayaan dan tradisi diungkapkan lewat: amaedola (peribahasa), hoho (mite), umanö (cerita), fo’ere (doa), maedo-maedo (umpama, misal), dahö-dahö (teka-teki), lailö dan ngenu-ngenu (ratapan hidup). Sifat syair-syair ini kental dengan paralelisme, ritme irama dan ulangan idomatik. Sambil omong dengan mengalir saja mereka menyelipkan peribahasa atau pepatah atau pemeo untuk mengungkapakan pendapatnya atau secara halus menolak pendapat orang lain. Ini memang menyulitkan orang luar bila berhadapan dengan orang desa.

8. Ragam Seni

Biasa dikatakan bahwa warga Nias musikal, suka nyanyi. Alat-alat musik yang sempat dikenal: aramba, göndra, faritia, fondrahi, tutu, lagia, doli-doli (bue, hagita), sigu, tabalia (koko), tutuhao, famaerua, tamburu, duri mbewe dan duri ahe. Lagu traditional yang diiringi gerakan tari: hiwö, maluaya, maena, tari moyo dll. Menurut Bapak Ama Yana Zebua melodi musik Nias bervariasi: lento-amoroso, allegro-animoso/brioso dan moderato-maestoso. Agaknya tersirat dalam lagu “TANÖ NIHA”, lagu pujaan masyarakat Nias. Kalau ada pesta nikah atau pesta gereja atau pesta massa, biasa ada acara maena yang mengekspresikan  kekompakan, menandakan kemeriahan dan memperkokoh identitas.

9. Masalah Sosio-Ekonomi: yang Tumbuh dari Dalam dan Luar

1).  Penghasilan / pendapatan secara umum tidak tetap (tergantung musim dan cuaca). Biaya sekolah, pengobatan, tambahan gizi dan rekeasi hampir tidak ada. Karena itu penciptaan lahan pekerjaan sangat mendesak.

2).  Jumlah anggota dalam keluarga rata-rata banyak (pertambahan penduduk di atas 2% per tahun).

3).  Infrastruktur (jalan-jembatan) yang minim sekali sehingga hasil bumi dan barang kebutuhan kebanyakan masih dipundak. Sudah lumayan pelebaran jalan raya yang dihotmix, berkat bantuan kemanusiaan warga dunia yang tersalur lewat BRR NAD Aceh-Nias sesudah bencana gempa. Sepanjang masa akan disyukuri kabaharuan ini.

4).  Hampir tidak ada pabrik apalagi industri yang menyerap tenaga kerja. Harap dalam 30 tahun mendatang akan ada tambang minyak dan tambang batubara.

5).  Kendala bahasa (kurang terbiasa berbahasa Indonesia apalagi Bahasa Eropa modern) menghambat pergaulan dan komunikasi dengan orang luar.

6).  Gampang konflik yang menghambat terobosan usaha dan ragam kegiatan.

7).  Cukup berakar alam pikir / mentalitas: salio (yang cepat), sebua (yang besar-besar), saoha (yang gampang), soroma (yang nampak, kasat mata), saro (yang kokoh). Ini pertanda kurang sabaran dan tanpa mau banyak capek.

8).  Pemborosan dalam pesta-pesta keluarga khususnya dalam pesta nikah dengan biaya tinggi dan juga untuk pesta pemakaman orangtua. Mungkin warga Nias yang terbanyak makan daging babi dalam hitungan bulan. Asal ada sedikit pesta, potong babi besar/kecil, atau minimal beli daging kilo. Daging ayam atau ikan tidak terhitung makanan bernilai adat.

9).  Penyakit yang menahun: malaria, asma/tbc, kematian anak lahir, hypertensi. kolestrol karena terlalu kerap konsumsi daging babi. Penyakit stroke akhir-akhir ini merata di mana-mana juga.

10).Kelewat melindungi kaum perempuan sehingga mereka sulit bergerak atau berkreativitas.

11).Pujian warga terhadap pendatang dari suku lain atau pendatang dari luar negeri: I’ila dödöda (tau keinginan kita, mau memberi dan menolong), I’ila lida (tahu bahasa kita), I’ila hada khöda (paham  adat kita), fahuwu ia khöda (bersahabat dengan kita), I’a göda (dia ikut makan bersama kita).

Penutup

Bulan di langit memang selalu punya sisi gelapnya, tak ada gading yang utuh sempurna, tapi syukurlah matahari kan bersinar besok dan untuk seterusnya. Mudah-mudahan untaian goresan budaya ini walau hanya sekilas pandang memompakan semangat dan tekad baru untuk berbakti di tengah warga yang jauh dari pusat keramaian dan dari pusat dunia. Tenaga kependidikan, teristimewa yang di bidang pastoral-kateketik (kegembalaan dan pembinaan iman) perlu mendalami basic values dan local condition warga setempat. Mereka dituntut menyadari power yang sudah ada, meminimalisasi weekness dan memanfaatkan peluang. Begitu akan terbentang hamparan panen yang akan dituai. Nias yang baru dan maju akan bisa terwujud berkat budi, hati dan tangan yang dibaharui.

Karakteristik Masyarakat Nias (4)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.


6. Ideal dan Karakteristik fisik, Psikologis dan Etik Masyarakat

Ø   Yang didambakan orang Nias dalam hidupnya ada 4 hal utama. Pertama mongaötö (berketurunan), kedua moharato (berkepunyaan), ketiga molakhömi (terpandang, agung) dan keempat tobali bawa (pengambil keputusan). Dalam acara adat, dimohonkan berkat seputar keempat komponen ini. Terkait dengan itu ada sejumlah ucapan pujian yang menyenangkan pribadi berdarah Nias: sindruhu ono namau ndraugö, ono fangali zatua, ono sangila ngaroro, ono götö-götö (sungguh anak penerus / pemenuh adat kebiasaan leluhur); atau pujian kepada desa: banua sato niha, banua solahkömi, ngaötö duha, banua safönu ba hada (kampung besar, agung dan pewaris adat).

Ø   Yang dielakkan: perendahan dan dipermalukan (abölö sökhi mate morai na aila(artinya baikan mati daripada malu) dan juga kalau dijadikan fotu (contoh berkelakuan buruk).

Ø Ciri-ciri fisik: rambut lurus, hidung agak pesek, bibir tipis, tulang pipi tidak menonjol, mata bulat tapi sejumlah orang agak sipit, tinggi badan sedang, warna kulit cerah dan bersih, berbadan tipis (sedikit saja yang gemuk-gemuk), tergolong atletis.

Ø   Sifat-sifat yang dominan: periang, hidup-hidup, lincah, suka pesta, nyanyi dan menari, cerdas, gampang bergaul, hobbi olahraga (sangat populer berolahraga bola volley), energik dan sangat tinggi harga diri.

Ø         Sifat umum lain yang cepat terlihat dan mengganggu: pemalu/penyegan, emosional, gampang meledak sampai adu kuat, omong berliku-tidak langsung, pandai bohong, gampang bersyak-wasangka dan cemburu, sangat melekat pada tahyul, perlente, keras kepala, suka bersaing, gampangan omong, angkuh dan  kurang ulet/gigih.

Karakteristik Masyarakat Nias (3)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Peran Perempuan

Masyarakat Nias menganut patrilineal, maka kaum prialah pewaris keturunnan dan harta warisan. Namun toh nampak peran istimewa wanita dalam adat kehidupan. Dalam pesta pernikahan misalnya di bagian Utara, kaum wanita membentuk kelompok adat dengan saling mangowai dan mame afo (acara sekapur sirih) dengan berbalas pantun dalam bentuk hendri-hendri. Di tiap desa akan selalu ada ina mbanua dan ere huhuo, seorang ibu yang dituakan dan mahir sebagai juru pantun. Kepada mereka ini akan dihidangkan makanan adat yang bernilai tinggi. Dalam pembicaan atau acara adat kaum perempuan diperkenankan untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Pada acara pernikahan mempelai wanita di utara diberi gelar adat keagungan (barasi atau balaki atau sa’usö). Menurut adat kuno si mempelai wanita akan ditandu dan dibawa ke rumah memplai pria. Di Selatan kaum perempuan harus diberi hak utama memakai inti jalan bila berpapasan. Ada kebiasaan bagi petugas pastoral, bila umat berencana ingin membangun gedung gereja, maka diupayakan mendengarkan suara dan pendapat kaum ibu sebab mereka yang akan lebih memberi hati dan dengan demikian harapan besar bangunan suci akan terwujud.

Keagamaan

Dulunya para leluhur menganut aliran kepercayaan animis dengan menjadikan patung leluhur sebagai medium pembawa berkat dan penyembuhan. Zending Protestan memulai misi evangelisasi pada tahun 1865 dan misionaris Gereja Katolik tiba tahun 1939. Praktis sejak tahun 1940 seluruh wilayah Nias telah menjadi penganut agama monoteis. Secara statistik yang beragama Kristen (Protestan dan Katolik) mencapai 96% selebihnya Islam dan Budha/Kongfucu. Tak heran bahwa di seluruh Nias bertebaran gereja-gereja besar kecil dan sejumlah ada yang bercorak rumah adat Nias. Gedung gereja sarana perhimpunan massa seakan-akan seperti rumah adat leluhur tempat bertemu sesama warga.

Macam-macam begu

Sekalipun telah menganut kepercayaan kepada Allah Yang Mahaesa (hampir 150 tahun), namun masyarakat masih dihantui ketakutan kepada begu-begu seperti bekhu zimate (begu dari orang meninggal), bekhu lauru dan bekhu gafore (pengatur takaran), bekhu hogu geu (begu pepohonan) dan bekhu gurifö (begu ternak). Warga juga masih takut kepada bekhu nadaoya, bekhu narödanö (penyangga bumi), bekhu bauwadanö si penyebab gempa dan takut kepada roh-roh leluhur. Sedangkan afökha kekuatan jahat dianggap sangat mengganggu dan merusak kehidupan manusia dan harus dihadapi terus-menerus.

Konstruksi masing-masing pribadi manusia

Menurut konsep kuno manusia terdiri dari boto (tubuh), noso (roh), eheha (buih berbusa saat meninggal), lumö-lumö (bayangan sesudah mati), bekhu (roh dari alam kematian), dan mökö-mökö (sisa jasad dalam makam).

  1. 1. Cosmogony

Kami urutkan beberapa versi perihal terciptanya cosmos (alam semesta) khususnya pulau Nias sendiri.

A). Myte Asal Muasal Dunia

Ø     Menurut catatan misionaris Jerman Thomas, suku Nias beranggapan bahwa dunia ini terdiri dari 9 lapis, yang ada satu sesudah yang lain. Pada lapisan kedelapan (di atas bumi ini) ada negeri bernama Teteholi Ana’a (Chatelin: 1881). Sang penguasanya adalah Sirao. Karena kepadatan penduduk dan di sana-sini mulai longsor, maka Sirao memerintahkan Hadiduli dan kemudian Silauma untuk menciptakan globe baru dari anasir angin dan rumput dll. Maka terjadilah bumi, tempat hidup manusia. Pada dasar globe ini melingkar cincin besar yang berubah menjadi ular raksasa berkat mantra-mantra dari sang menantu Silusi atau Silewe Nazarata.

Ø     Menurut S.W. Mendröfa, pada awalnya hanya ada Sihai yang bermukim di Tanö Nihae-hae nangi (1981). Tempat itu selalu terang benderang walaupun tidak ada matahari atau bulan dan bintang-bintang. Tempat itu tidak mengenal kematian. Suatu saat Sihai mempertemukan angin yang berjenis-jenis maka muncullah butiran sebesar biji jagung. Dari itu dia ciptakan manusia bernama Sitahu. Butiran itu seterusnya diberi kepada Sitahu yang menciptakan globe tertingi yakni lapis yang kesembilan. Begitu seterusnya dari butiran yang sama dia ciptakan globe kedelapan, ketujuh hingga yang pertama. Globe di atas bumi ini dinamai Teteholi di mana terdapat gunung Hili Maruge dan sungai Idanö Zea dengan  9 anak sungainya. Segumpal tanah dari Teteholi diambil oleh sang Sihai dan diciptaknnya globe bumi ini melalui asistennya Silauma. Kemudian asisten Sitahu diminta mengambil butiran angin lagi dan menanam di bumi pohon feto (sejenis palma). Tumbuh tunas baru dan terjadilah nadaoya, sang roh kejahatan penyebab penyakit. Barulah kemudian dari butiran yang sama tercipta air, api, matahari, ikan, binatang-binatang, burung-burung, pepohonan, bijian, umbian dan barang tembaga.

  • Menurut S. Zebua, Lowalangi atau Soaya mempertemukan angin di tempat tersembunyi di mana belum ada pemukiman manusia. Dari pertemuan itu muncullah butiran yang bertambah besar dan menjadi sebidang tanah, di atasnya didirikan rumah sembahyang. Kemudian berkembang terus dan akhirnya tercipta bumi ini (Zebua: sine data).

B. Sejumlah Legenda Asal Muasal Manusia

Koleksi Chatelin

Sirao di Teteholi Ana’a (dunia atas) berputra 9 orang. Siapa bakal pewaris dunia atas, ditentukan lewat pelombaan ketangkasan memanjat sebilah lembing yang ditancapkan di halaman. Yang mampu memanjat hingga ke pucuk dan bertengger di atasnya seumpawa seekor ayam jago dialah sang pewaris. Yang berjaya adalah si bungsu Luomewona, maka para saudaranya harus turun ke bumi, yakni:

Ø Bauwadanö menjadi penghuni dasar bumi

Ø     Sorogae menjadi pilar  bumi

Ø     Tuha Sangaröfa  menghuni dasar laut

Ø     Hia diturunkan di Mazingö (Gomo) bersama rumah adat yang sungguh berat

Ø     Gözö turun ke Nias bagian utara bersama Sawae

Ø     Daeli ke Idanoi bersama batu pengasah dan daun ubi jalar

Ø     Hulu Sebua ke barat sungai Oyo

Ø     Börönadu ke selatan menjadi cikal bakal kaum imam (ere)

Versi S.W. Mendröfa

Ø     Hia diturunkan di Mazingö Gomo

Ø     Gözö ke utara

Ø     Hulu ke Laehuwa

Ø     Daeli ke Laraga

Ø     Cucu Luomewöna ke Daso Noyo

Koleksi Johannes Hämmerle

Ø         Salawa Holia di Teteholi Ana’a berputra 3 orang yakni Hia, Gözö dan Ho. Hia berputra 9 orang di antaranya bernama Zedawa. Zedawa berputra 6 orang di antaranya bernama Mölö. Mölö berputra 5 orang yakni: Fau, Tachi, Boto, Maha dan Hondrö, yang menjadi moyang warga Nias daerah Selatan dan sekitarnya (Hämmerle: 1986

Karakteristik Masyarakat Nias (2)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

  1. 1. Sejarah dan Asal-usul

Elio Modigliani, antropolog/etnolog Italia dalam bukunya Un Viaggio a Nias (1890) menghimpun sejumlah catatan sejarah tentang Nias yang tertulis dalam manuskript pedagang Persia seperti Sulayman (thn 852 AD), Adjaib (thn 900-950 AD), Edris (thn 1154) dan Rashid ad Din (thn 1310 AD). Dalam catatan mereka tercatat nama Nias terutama dalam tulisan Edris. Nias muncul pertama kali dalam peta pada tahun 1610. Kontak dagang terjadi dengan Belanda (thn 1669), dengan Inggris (thn 1750) dengan Perancis (1809). Besar kemungkinan Thomas Stamfod Raffles telah mengunjungi Nias pada tahun 1820, yang berjuang untuk melarang perdagangan budak yang ternyata tidak berkenan di hati pemerintah Inggris.

Perihal asal-usul

  • Modigliani berkesimpulan bahwa etnis Nias berasal dari pantai Malabar di India Selatan (suku Koraver = Kurumber = Korawa) dengan ciri-ciri menanam padi, berburu, memahat kayu dan berperawakan Malesoid.

Ø   Kleiweg de Zwaan, antropolog Belanda melalui investigasi fisiognomik (1914) berpendapat bahwa etnis Nias tidaklah homogen tetapi terdiri unsur-unsur etnik yang bervarian. Ia membedakan utara dan selatan dan kombinasi lain. Dengan mengukur tinggi badan dari 1295 orang maka rata-rata tinggi badan 154.73 cm.  Dengan meneliti tengkorak-tengkorak beliau menyimpulkan bahwa etnis Nias termasuk Proto-Melayu.

Ø   F.M. Schnitger (1938) dengan meneliti batu-batu megalit dan arsitektur  menyimpulkan bahwa  etnis Nias berasal dari Nagas di Assam (lembah Irrawady). Menurut beliau orang-orang Nagas, Nias, Dayak, Philippinos dan Formosa adalah satu rumpun besar. Tentang batu-batu tugu di Nias Schnitger berkesimpulan “the megalith culture of Nias, however, came from Burma”. Agaknya leluhur bertolak dari India Selatan, baru menetap di Birma dan kemudian mencari pemukiman baru lagi. Sejumlah tiba dan menghuni pulau Nias.

  1. 2. Corak Hidup Masyarakat

Masyarakat Nias hidup dari bercocok tanam dan beternak. Jenis tanaman umum: padi, ubi, pisang, talas, sagu dan jagung dan ragam jenis sayuran seperti bayam, kangkung, kecipir dan kacang panjang. Hasil bumi utama karet, kopra, coklat, pisang, pinang, pala dan nilam. Ternak kesayangan utama adalah babi, ayam dan sejumlah kecil yang beternak kambing dan lembu. Hidangan adat adalah daging babi yang dimasak dengan merebus dan dihidangkan keseluruhan bagian (lambang kesempurnaan, ketulusan dan keutuhan). Mereka yang sekitar pantai hidup dari hasil tangkapan ikan dalam jumlah kecil. Buah-buahan yang populer: durian, langsat, manggis, rambutan, kuaeni, mangga, marpala dan kedondong. Durian Nias disanjung karna lebih manis dan lezat. Yang lebih top adalah “duria balaki”, dagingnya kuning dan tebal, berbiji kecil. Minuman lokal beralkol adalah tuak dari pohon kelapa dan aren. Agak khas tuak Gunngsitoli berwarna kemerahan karena raru dari kulit batang durian. Bila tuak mentah dididihkan maka akan dihasilkan arak yang dinamai tuo nifarö yang bisa membuat seseorang sesaat high. Jenis kayu-kayuan lumayan banyak yang dipakai untuk kebutuhan papan. Orang Nias berupaya sangat agar rumahnya dibangun oleh tukang yang pandai. Tentang kemahiran bertukang kayu, W. Marsden menulis (1811): “This people are remarkable for their docility and expertness in handycraft work, and become excellent house-carpenters and joiners …” Aktivitas lain adalah pandai emas, pandai besi, membuat anyaman dan berburu. Dalam bercocok tanam, membangun rumah dan pekerjaan lain, warga Nias sangat peduli pada sejumlah tabu pertanda sifat takluk pada tahyul-tahyul. Misalnya, mendirikan tiang-tiang rumah haruslah di pagi subuh. Peralatan pertanian sungguh sangat sederhana, bekerja lebih banyak dengan parang dan kampak. Mencangkul dan membajak kurang dikenal. Corak hidup ini menyebabkan masyarakat sangat melekat pada bidang tanah warisannya.

Magistra, Jurnal Pendidikan Pastoral-Kateketik, Tahun I, No.I, Juni 2009
  1. 3. Organisasi Sosio-politik dan Relasi Sosial

Ø   Masyarakat Nias tidak mengenal raja atau sultan dan tidak mengenal kerajaan. Hidup warga pada dasarnya diatur dalam lingkup banua (kampung/desa) dan dalam lingkup öri (federasi kampung). Adat-istiadat dalam hal pesta dan acara kematian telah ditata dalam hukum fondrakö=famadaya saembu antar beberapa öri (negeri). Menurut S.W. Mendröfa, fondrakö memuat norma untuk mencapai kepenuhan hidup yang terdiri 5 hal pokok (1981): amonita (terkait dengan bakti sembah dan pantang), fokhö fo’ölö (terkait dengan harta milik), hao-hao (perilaku yang terpuji), fowanua (cara berkomunitas dalam kampung) dan böwö masi-masi (terkait dengan anak dan orang berkesusahan). Sesudah kemerdekaan mulailah diterapkan sistim pemerintahan Negara Republik Indonesia yang kita kenal sekarang walikota, bupati, camat, kepala desa, sekretaris desa lengkap dengan badan yudikatip dan legislatip. Kalau dulunya yang dikenal di Utara adalah tuhenöri dan salawa bersama satua mbanua, kalau di Selatan dikenal istilah tuhenöri, siulu dan siila mbanua. Jabatan ini diperoleh karena keturunan dan prestasi adat.

Ø   Kesatuan terkecil warga adalah rumahtangga (ngambatö), yang membentuk keluarga inti (sifatalifusö), dan menghimpun diri menjadi (banua) dan federasi banua adalah negeri (öri). Masing-masing punya marga (sampai 300 marga) tapi marga kurang berperan dibanding dengan banua. Di antara se marga boleh menikah asal tidak dekat hubungan darah. Dalam berelasi, saat ketemu satu sama lain saling menyapa (ya’ahowu atau yaugö a) kemudian berjabat tangan (fatabe) dan bertukar sirih atau rokok (yae nafo, yae rokoda). Orang yang sudah berkeluarga diberi nama panggilan, misalnya Ama Zaroli atau Ina Roi. Sapaan ramah dan lembut antar satu sama lain terungkap dengan sapaan Bapak Ama Zaroli atau ibu Ina Roi. Cara ini termasuk sikap hormat atau fasumangeta.

Ø   Rumah adat Nias terbagi dalam 3 type: utara (oval), tengah (segiempat) dan selatan (segi empat yang berderet-deret). Tiang rumah relatip tinggi-tinggi terdiri dari pilar vertikal dan horizontal. Lantai luas selalu punya bangku yang lengket ke dinding dan atap menjulang tinggi ke atas beratap rumbia berlapis dua. Banyak penelitian mencengangkan tentang konstruksi rumah adat Nias baik dari keharmonisan, fungsi dan hygienisnya. Tapi tentu juga tergambarkan konsep mereka tentang dunia: bawah, tengah dan dunia atas yang sangat agung (Viaro: 1984). Rumusan Viaro: “All of them have a vertical tri-partition: infrastucture, domestic nucleus and superstructure.” Karna curah hujan banyak dan merajanya malaria serta kelembaban yang tinggi maka rumah kediaman diberdirikan di atas bukit atau di tempat ketinggian. Atap tinggi dan tajam agar air hujan turun mengalir dan sekurang-kurang punya 3 ventilasi di atap (bisa diturun-naikkan) agar cahaya matahari masuk ke seluruh sudut rumah. Lantai dan dinding rumah dari kayu pilihan yang ditata dengan rapi. Rumah-rumah adat Nias sangat cocok sebagai tempat pertemuan massa dan persidangan desa. Tiang-tiangnya sangat cocok menyangga beratnya rumah dan rupanya sesuai sekali untuk anti kegempaan. Pertingkatan dalam masyarakat memang terasa ada terutama di selatan antara keluarga siulu (bangsawan) dan sato (orang kebanyakan).

Karakteristik Masyarakat Nias (1)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Hantaran

Topik ini ramuan dari ragam tulisan, didukung juga oleh pengalaman dan pengamatan pibadi. Diperkaya dengan informasi-informasi lewat perjumpaan dengan banyak pihak selagi menjalankan tugas pastoral. Buah pemikiran ini tidak berdasar pada kajian yang spesifik ilmiah antropologis-etnologis, sehingga sungguh terbuka bagi pengembangan dan penafsiran yang mungkin berbeda. (Artikel ini penah dipresentasikan  dalam Rafe Hada II UNORC {United Nations Office of the Recovery Coordinator} Jumat tgl 30 Nopember 2007 di Museum Pusaka Nias Gunungsitoli).

Faktor-Faktor Pembentuk Budaya, Nilai-Nilai
dan Karakteristik Masyarakat
Nias

  1. 1. Letak Geografis Pulau Nias

Pulau Nias dan kepulauan sekitarnya terpisah dari daratan besar Pulau Sumatera berjarak sekitar 80 mil atau 120 km. Terletak di pantai barat Sumatera. Panjangnya k.l. 140 km dan lebar 40 km. Berstruktur pegunungan yang sambung-menyambung dengan aliran-aliran sungai besar-kecil yang sangat banyak. Curah hujan sangat tinggi mencapai 17 hari hujan dalam sebulan akibatnya juga kelembaban udara tinggi. Letak geografis ini menjadikan Nias ujung terjauh di pantai barat, dilihat dari pusat pemerintahan Negara Republik Indonesia di Jakarta dan dari ibukota Provinsi Sumatera Utara di Medan. Letak geografis inilah faktor penyebab masayarakat Nias sering luput dari perhatian pusat dan dari pemerintah propinsi Sumatra Utara. Untung saja ada hombo batu (atraksi loncat batu) dan lomba bersilancar, dan untung ada Museum Pusaka Nias, yang punya andil besar mempopulerkan Nias ke manca negara. Realisasi ketiga daerah otonom baru (Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias Utara dan Kabupaten Nias Barat, Mei 2009) membuka peluang percepatan pertumbuhan transportasi, kegiatan ekonomi rakyat dan pelayanan publik. Pantas disyukuri pengertian dan dukungan pemerintah pusat dan usaha keras Bupati kabupaten induk.

Bencana gempa (28 Maret 2005 dengan kekuatan 8.7 skala Richter) membuat Nias menjadi berita dunia hingga di bangku kuliah di Eckersly School Oxford, Inggris. Korban nyawa 846 orang dan hampir dua-pertiga gedung sekolah / kantor dan rumah penduduk begitu juga jalan dan jembatan anjlok dan ambruk.

Karena kebanyakan wilayahnya bergunung-gunung sungguh sangat terbatas jumlah jalan raya dan sungguh sulit transportasi. Banyak jalan sempit dan berliku-liku. Yang terbilang daerah datar hanyalah sekitar daerah pantai yang tidak seberapa luas. Faktor ini penyebab pulau Nias agak sulit dicapai dari pebagai penjuru, minim kontak dengan dunia luar yang  menyebabkan masyarakat agak tertutup dan tebilang tertinggal dalam banyak hal. Biaya transportasi dan komunikasi di kelima wilayah kabupaten/kota (Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat dan Kota Gunungsitoli) sungguh sangat mahal.

Kata Sambutan Ketua STP Dian Mandala

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

Sebagai Perguruan Tinggi yang otonom, SEKOLAH TINGGI PASTORAL (STP) DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI, KEUSKUPAN SIBOLGA disahkan pada tgl 13 Agustus 2008. Momentum itu telah dimeriahkan dan disyukuri dalam Perayaan Ekaristi Mahakudus pada tgl 26 bulan yang sama. Proses kelahirannya berjalan sangat mulus.

Selaku unit pendidikan tinggi dengan jenjang Strata 1 (S-1), maka Dian Mandala tanpa menunda ingin menunjukkan jati dirinya dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dalam rangka perwujudan diri diterbitkanlah Jurnal Pendidikan Pastoral-Kateketik. Diberi nama “MAGISTRA.”  Kata Latin magister/magistra berarti guru. Dalam hati terkandung harapan bahwa sekolah keagamaan STP Dian Mandala ini akan sungguh dialami sebagai guru yang menggembirakan dan menakjubkan. Seluruh perangkatnya baik visi-misinya, tata pamong, sistim pengayoman dan pengelolaannya, fasilitas, kurikulum, sistim informasi, suasana akademiknya, dukungan dari Pemda Nias dan Ditjen Bimas Katolik Depag RI, dan terlebih dosen-dosennya berdaya “mengkristalkan kegembiraan dalam belajar dan kebersamaan” (Educare, Mei 2009, hlm. 49).

Magistra ini akan terbit 2 kali setahun. Sebagai jurnal pendidikan pastoral-kateketik maka muatannya berkisar pada hal-hal ilahi, manusiawi dan kegerejaan. Pastoral punya karakter penggembalaan dan kateketik berfokus pada pewartaan yang bergaung dalam relung jiwa setiap insan ciptaan Sang Ilahi. Melalui aktivitas ini Gereja semakin berakar dan berkembang dan semakin dipersatukan dengan Kristus (LG art. 3).

Kita mohonkan curahan rahmat untuk segenap pengasuh jurnal ini sehingga tidak akan henti menyajikan dan mencerahi kita dengan untaian ide dan pandangan, yang mengingatkan kita akan Allah, diri manusia dan dunia sekitar kita. Sebab di dunia ini kita terpanggil memelihara martabat kita sebagai anak-anak terang (Luk.16:8).

Untuk melukiskan peranserta masing-masing dalam menyangga suatu karya agung, leluhur kita di Nias telah merumuskan kata-kata mutiara unik ini untuk kita: “Andrõ wa so gehomo, andrõ wa so ndriwa, tundrehera nawõra, fa lõ a’ozu aso’a.” Berkat tiang-tiang vertikal dan horizontal sebagai penyangganya, maka rumah adat tidak akan pernah rebah. Penyangga utama Magistra adalah kita semua murid Kristus, Sang Guru Kehidupan umat manusia.

(Pastor Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.)

Apakah sungguh ada Kebutuhan Masyarakat?

July 7, 2009 by  
Filed under Opini

1)   Dalam Kalangan Intern Gereja – Keuskupan Sibolga:

٭ Tenaga katekis paroki yang dibutuhkan untuk 785 stasi di seluruh Keuskupan Sibolga  sebanyak 78 orang katekis. Dengan demikian seorang katekis akan mendampingi dan melayani sekitar 10 stasi yang menyebar di desa-desa di pegunungan, setengah dari antaranya hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki.

٭ Tenaga pembina angkatan usia muda untuk seluruh paroki idealnya sebanyak 22 orang. Hingga sekarang belum ada tenaga.

Kebutuhan Keuskupan Sibolga untuk tenaga pastoral dalam waktu 5 tahun ini sebanyak 78 + 22 = 100 orang.

2)   Dalam Dunia Pendidikan di Sekolah Umum (SD, SMP, SMA/SMK dan PT)

Tenaga Guru Agama Katolik di Dekanat Nias, Keuskupan Sibolga dibutuhkan sebanyak 560 orang, dengan rincian: untuk Kabupaten Nias sebanyak 260 orang dan untuk Kabupaten Nias Selatan sebanyak 300 orang. Diperkirakan kebutuhan tenaga guru agama Katolik di Dekanat Tapanuli sekitar 130 orang. Total kebutuhan di seluruh keuskupan sebanyak 690 orang.

Kekatolikan Warga Masyarakat Nias

December 8, 2008 by  
Filed under Buletin, Opini

(dimuat di “WARTA KEUSKUPAN SIBOLGA”)

P. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Hantaran:

Topik ini lebih bersumber dari pengalaman masa kecil hingga usia sekarang.  Artinya, bukan suatu kajian cermat tapi lebih berupa ekspresi yang sudah tertanam di hati dan membekas dalam memori personal. Maksudnya, untuk lebih kenal sejarah katolisitas di Nias, buah kebaharuannya dan perjuangan ke masa depan. Mungkin saja bisa diangkat menjadi bahan permenungan dalam masa yubileum Prefektur / Keuskupan Sibolga (Nop. 2008-Nop. 2009).

  1. DICARI-CARI DAN DITUNGGU-TUNGGU

Benar catatan misionaris Kapusin Pionir Jerman di Nias bahwa warga Niaslah yang mencari-cari dan menjumpai para pastor Gereja Katolik. Kalau dicatat bahwa tahun 1939 mulai menetap Pastor di Nias dengan datangnya Pastor Burchardus van der Wijden dan kemudian Pastor Ildefonsus van Straalen, itu terjadi karena mereka diundang datang. Tentu ada penghubung sebelumnya yang makin jarang disebut-sebut dalam sejarah. Tatkala misionaris tiba, berbondong warga setempat menjumpai pastor. Mereka dipelopori oleh tokoh-tokoh adat dan masyarakat yang kemudian menjadi katekis yang amat berjasa. Begitu terus berlangsung sampai sekarang ini.

Stasi baru terbuka berawal dari sejumlah tandatangan kepala keluarga yang meminta dan malah mendesak pastor datang ke desa mereka. Ini berarti para gembala tidak mencaplok tetapi menampung aspirasi yang menggebu yang terkandung di hati warga. Biasanya aspirasi sedemikian dijawab dengan memenuhi kriteri tertentu. Kemudian katekis diutus untuk melihat komunitas baru dan tinggal beberapa waktu bersama mereka. Kalau ada tanda baik, mereka dihimpun belajar doa-doa harian. Menyusul penghibahan tanah yang elok dipandang tanpa ganti rugi untuk tempat “losu” (kapel darurat) yang dibangun atas swadaya warga sendiri. Mungkin sesudah 3-6 bulan baru pastor datang berkunjung untuk resmi menerima para ketekumen baru. Minimal sesudah 1 tahun kemudian mereka dibaptis dan menjadi anggota Gereja Katolik. Mendirikan gedung gereja permanen tergantung situasi. Kalau komunitas itu meyakinkan, ada harapan bertahan, akan mampu berkembang dan ada personil yang ditokohkan maka direstui pembangunan gereja beton. Hitung-hitung 50% biaya ditanggung oleh umat, yang lainnya ditanggung keuskupan. Memundak bahan bangunan di jalan setapak hingga ke puncak gunung memaksa kita geleng-geleng kepala. Saya belum bisa sebutkan indahnya hidup sebagai warga Gereja Katolik yang dirindukan oleh warga pedalaman Nias sehingga mau dan rela bersusah-payah.

  1. BUAH-BUAH KEBAHARUAN

Hal-hal yang kentara sangat baru bagi komunitas Katolik Nias:

1) Kerinduan menerima sakramen

Sakramen sudah diimani sebagai momen pertemuan pribadi dengan Allah sendiri. Allah yang mengampuni dialami lewat Sakramen Tobat; Allah yang hadir dalam derita dialami dalam Sakramen Pengurapan; Allah yang memberi tugas pengutusan didengar dalam Sakramen Krisma; Allah yang memberi makan dialami dalam Sakramen Ekaristi; Allah yang meridoi dan menguduskan hidup berkeluarga dialami dalam Sakramen Perkawinan; Allah yang memberi kelahiran baru dialami dalam Sakreman Baptis. Kunjungan pastor ke stasi sangat ditunggu karena imam akan kembali menghadirkan kebaharuan atas nama Allah. Kunjungan rutin sang gembala sekali 3 bulan sudah masuk agenda komunitas desa maka baiknya jangan pernah batal.

2) Devosi Jalan Salib dan Doa Rosario

Devosi membangkitkan citarasa keanakan, kemesraan dan keterpaduan perasasn hati. Mengikuti jalan salib meragakan detik-detik yang paling kritis dalam hidup Yesus Juruselamat dunia. Mencoba merasakan kesengasaraan itu dan menjaga diri agar dalam derita pun bisa bersikap seperti sang Guru Kehidupan. Setiap hari Jumat pada masa Prapaskah Umat Katolik di seluruh Nias tepanggil mengikuti ibadat Jalan Salib. Dengan berdoa Rosario warga Gereja mencoba mengalami kasih keibuan Bunda Maria. Biar terjadi seperti di kota Kana, ibu Maria menyampaikan kesesakan hati kepada Sang Mahapengasih yang kuasa mengubah air menjadi anggur berkwalitas. Umat menerima Maria sebagai ibu, yang sering disapa dan diagungkan perannya untuk keselamatan dan bantuannya dimohonkan. Sayang rasanya bahwa doa rosario hanya digalakkan oleh para pengurus pada bulan Oktober saja dan kelupaan yang bulan Mei. Menjelang ajal, agak umum dibisikkan kepada sipenderita untuk menyebut-nyebut nama ibu Maria.

3) Panggilan menjadi Biarawan-biarawati dan imam

Belum terbilang banyak, tetapi sungguh sesuatu yang tak terbayangkan dalam tatanan adat bahwa ada warga beriman Katolik yang sengaja dan sukarela tidak menikah, menundukkan kehendak kepada komunitas religiusnya dan tidak mengejar dan berpegang pada harta kekayaan. Tidak terpikirkan warga adat namun diterima. Ada lagi yang mau melulu hidup bagi Allah dan sesama lewat panggilan hidup sebagai imam, gembala umat. Setiap paroki dan malah stasi makin lama makin merindukan agar yang terpanggil untuk hidup khusus ini ada juga dari komunitasnya. Orangtua dan sanak keluarga secara rohani berbangga bahwa mereka telah mempersembahkan seorang dari keluarganya untuk kemuliaan Allah. Harapan bahwa mereka kerap didoakan tentu bisa diandaikan. Memang benar kalau dihitung, lebih banyak yang sudah memulai tetapi termasuk sedikit yang bertahan hingga akhir hidup. Saya sangka motivasi awal tidak sungguh membekas dan daya tahan terhadap tubrukan situasi kurang terbangun utuh. Bagaimanapun juga umat di Nias perlu lebih gencar berdoa untuk panggilan jenis khusus ini.

4). Bertugas tanpa imbalan jasa

Suatu yang sungguh baru bahwa para pengurus Gereja di tengah masyarakat tidak pernah diberi imbalan uang tapi melulu penugasan dan pengabdian tanpa pamrih berperiodik 3 tahun. Mereka mengayomi komunitasnya, hadir dalam suka dan kedukaan warga Gereja, menganimasi hidup kerohanian dan menghadirkan kebersamaan dan damai di stasi. Mereka dipilih resmi oleh umat dan diteguhkan oleh pimpinan paroki. Biasa merekalah yang korban bila pastor dan rombongannya berkunjung ke stasi dengan menyediakan penginapan dan jamuan. Kerasulan awam sudah dihidupi sebelum teks Konsili “Ad Gentes” diterbitkan.

5) Kunjungan Uskup suatu peneguhan

Sebagaimana halnya di Daratan Tapanuli, kunjungan uskup untuk memberkati gereja atau melayankan Sakramen Krisma adalah pesta iman warga Katolik Nias. Ketemu gembala agung disambut dengan pesiapan diri mulai dari perayaan liturgi, jamuan, penyambutan secara adat dan pemberian kenang-kenangan. Saya duga ada sebagian koleksi Musem Pusaka Nias berasal dari kenang-kenangan umat kepada Bapak Uskup Sibolga. Terakhir ini tatkala berkunjung ke Paroki Alasa beliau diberi seekor musang gemuk nan lincah. Kalau dari wilayah Selatan biasa dihadiahkan hasil ukiran batu atau ukiran kayu. Uskup berkunjung, bagi umat suatu peneguhan bahwa mereka anak keuskupan.

6). Penggunaan air kudus dan gambar-gambar kudus

Umat Nias hingga ke pelosok Pulau Tello dan Hibala sangat yakin akan berkat Tuhan yang mengalir lewat perecikan air kudus. Dalam banyak kesempatan dipergunakan, termasuk menghalau segala ketakutan dengan perecikan air kudus sekeliling rumah. Orang sakit juga banyak yang merasa dikuatkan lewat air kudus. Gambar, salib dan patung-patung biasa dipampang di rumah. Simbol-simbol ini menyimpan di dalamnya rahasia-rahasia iman.

7) Keagungan perlengkapan liturgi dan gedung ibadat

Rumat tradisonal Nias yang menjulang tinggi menandakan keagungan. Tugu batu di halaman rumah menggambarkan kerinduan akan suatu kemuliaan. Dalam konteks itu gedung ibadat yang agung, kompleks pastoran/susteran yang kokoh, pakaian liturgi Gereja Katolik yang berwarna-warni dan peralatan misa yang kuning-menguning rasanya memenuhi selera warga hingga kepedesaan. Ada rasa senang menyaksikan keagungan dan kemuliaan.

8). Orang kudus pelindung

Sedari awal karya misi dan semoga untuk seterusnya orang yang dibaptis diberi nama pelindung seorang kudus. Biasanya imam sendiri yang menetapkannya, tapi sudah ada perkembangan bahwa pemimpin komunitas sendiri dan malah orangtua yang memilih pelindung yang difavoritkan. Nama pelindung melengkapi nama panggilan yang ditetapkan oleh keluarga. Urutan yang cocok: nama pelindung, baru menyusul nama panggilan di rumah. Memang belum banyak berbicara nama pelindung ini karena tidak dirayakan.

3. PERJUANGAN HINGGA AKHIR

1) Dualisme iman dan keseharian

Dalam masyarakat masih kentara sekali mental dualisme: fa’alowalangi (hidup selaku anak Allah di surga) dan fa’aniha (kehidupan selaku insan yang gampang terluka dan malah mau berdosa). Agaknya hidup belum diformat sepenuhnya dalam bingkai keilahian tetapi tetap menyelinap (untuk tidak berkata menguasai) gelora kekalutan manusiawi seperti tidak mau malu, tidak kuasa menerima perendahan, tidak ingin disepelekan, tidak rela ditolak dll.

Akar dosa egoisme, primordialisme, golonganisme dan kepala batu masih mengakar dalam-dalam. Kesembilan buah-buah roh (Gal 5:22-23) agaknya belum berdaya mengubah kehidupan harian. Perdebatan yang lama untuk menetapkan pertapakan gereja atau tengkar-tengkir sewaktu pemilihan pengurus komunitas adalah tanda-tanda manusia lama yang seyogianya sudah sejak menjadi anggota Gereya sudah menghidupi jiwa manusia baru. Mungkin kebaharuan jiwa harus menjadi topik kotbah para gembala dan pengurus Gereja untuk seterusnya.

2) Kekurangpedulian sekaligus kekurangpamahan

Kurang peduli atau kurang paham akan hukum Gereja, liturgi dan ajaran iman (besar-kecil) terkait terutama dengan perkawinan, pertanda patokan adat dan pertimbangan kemanusiaan lebih mendominasi keputusan-keputusan penting.

Memang hampir tiak ada imam yang mampu menjelaskan setuntas-tuntasnya seluk beluk hukum perkawinan dalam Gereja Katolik yang begitu kompleks. Satu, sebab hukum itu akarnya tatanan romawi yang kadang tabrakan dengan perkawinan yang dimungkinkan oleh adat dan selera kemanusiaan. Kalau diurut permasalahannya terletak pada: pengumuman 3 kali menjelang nikah, hari pernikahan dan tahun liturgi, kelengkapan surat-surat, keharusan menghadap imam di paroki, pemahaman akan inti pernikahan / hidup berkeluarga, pernikahan yang berkaitan darah dan berkaitan dengan kekerabatan (menikah dengan ibu tiri, misalnya). Kedua, kami para pastor juga kadang terkesan kaku dalam penerapan hukum Gereja yang tidak dikupas habis di bangku kuliah. Ke masa depan, baik semua memahami bahwa pernikahan Katolik terikat pada hukum ilahi, hukum kodrat, hukum Gereja dan hukum sipil. Bagaimana menerapkannya pada warga yang terdidik sejak kecil dengan hukum adatnya yang termasuk unik?  Baiknya semua pihak menghadapi tiap kasus dengan tenang berkepala dingin sehingga terhalau kejengkelan dan kekurangenakkan perasaan. Dalam masyarakat Nias memproses suatu rencana pernikahan seumpama masuk jejaring yang kait-mengait, melibatkan banyak pihak, butuh perundingan yang berlarut dan biaya kerap di atas kemampuan riil. Proses ini perlu dimengerti dan diterima. Usul, bila ada kasus, baik sekali bagi kita para pastor untuk berkonsultasi dengan para pastor misionaris yang sudah mahir memilah-milah dan tentu dengan pihak keuskupan di Sibolga.

4. MEMFORMAT KEKRISTENAN SEJATI

Selaku seorang imam, sering saya sangat terharu melihat umat Katolik Nias yang dengan takwa berlutut di bangku gereja. Semua, kaum wanita dan pria dewasa begitu juga anak-anak. Sementara doa syukur agung mereka tahan terus berlutut. Tanpa kecuali miskin-kaya, yang berpendidikan, mahasiswa maupun orang yang sangat tak berwawasan memberi intensi ke altar, karena ada ujud yang mohon diberkati Tuhan Allah dan diinginkan campur tangan Allah sendiri. Tak jarang terjadi mereka kirimkan intensi ke pastoran, kepada Suster Klaris di Gunungsitoli, bahkan kepada Bapak Uskup untuk disatukan dalam kurban Kristus sewaktu perayaan ekaristi.

1). Doa dalam keluarga (nyanyi dan berdoa kadang baca teks alkitab) pagi dan malam syukur-syukur masih tersisa. Terkurasnya waktu untuk bekerja, bersekolah dan bermasyarakat menyebabkan makin menghilang kebiasaan saleh itu sekarang ini. Sebelum punah betul harus dicarikan penyelamatannya.

2). Partisipasi dan kehadiran dalam kedukaan warga Gereja dan sesama warga desa harus digalakkan. Terkadang tetangga sebelah rumah berduka, ada yang nongkrong di rumah sendiri, seakan mau berkata “peduli amat… itu urusanmu.” Hidup bersama sebagai saudara sangat sering ditandaskan Tuhan Yesus (“kamu semua adalah saudara” Mat. 23:8; 18:21) dan oleh surat-surat Rasul Paulus (“saling mengasihi sebagai saudara” Rm. 12:10; 2 Tes. 3:15; 1 Tim 6:2).

3). Kesediaan menyumbang dan beramal, membagi yang ada dari diri perlu juga ditingkatkan di masa depan. Ada kesan, warga Katolik Nias agak kikir menyumbang untuk sesuatu kegiatan baik kerohanian maupun kemasyarakatan (“Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” 2 Kor. 9:7; Kis. 20:35).

4). Panggilan untuk hidup menggapai kesempurnaan seperti dipraktekkan oleh para kudus sudah waktunya ditanamkan. Ringkasnya, menjadi pria dan wanita kudus harus menjadi dambaan dalam hati, jiwa dan cita warga Gereja di Nias di seluruh Kabupaten dan Kota (Kab. Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat dan Kota Gunungsitoli). Topik ini pun bisa ditampilkan dalam katekese dan hamili. Mungkin masih butuh ratusan tahun ke depan tetapi sejak kini disemaikan dalam hati umat oleh siapa saja. Berpangkal pada Injil Tuhan dan surat-surat para Rasul (Mat. 5:48; 1 Tes. 3:13) yang telah terwujud dalam Gereja sepanjang masa, panggilan untuk hidup kudus dan tak bercela harus dikobarkan dan dibiarkan menyala dalam batin umat Katolik. Pada waktu Reuni Tahunan, baik sekali bila dihadiahkan kepada para Lektor dan DPPI buku Kisah Hidup Orang-orang Kudus yang sudah tersedia dalam bahasa Indonesia.

5). Satu lagi harus diformat untuk ke depan yakni semangat misioner. Keluar dari daerah sendiri untuk menjadi saksi Kristus Tuhan di tempat lain malah di Negara lain perlu masuk agenda kehidupan umat. Kaum muda Nias haruslah siap sedia menghadirkan dan memberitakan Kristus di tempat jauh. Jadilah rasul-rasul kecil seperti para katekis kita di masa misionaris kita ditawan Jepang (1942-1950). Begitu kekatolikan kita akan kentara sungguh mengakar.

Penutup

Identitas dan karakteristik umat Katolik Nias harus ditanamkan, dikelola dan disuburkan hingga berbuah dan akan menyenangkan hati Allah terutama, dan juga hati sesama manusia. Kalau Musem Pusaka Nias berjuang melestarikan jati diri etnis maka umat Allah bersama para gembala dan biarawan/tinya berjuang terus agar terpatri mendalam citarasa kekatolikan walau kita hidup di atas pulau yang suka bergoyang.

Wasalam, Postnovisat Kapusin Gunungsitoli (8 Des. 08)