Kompetensi Lulusan Guru Agama Katolik Dalam Pandangan Gereja Dewasa Ini

September 16, 2011 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra, News

(Oleh Dr. M. Purwatma)

Ketika menerima surat kepercayaan dari Duta Besar Equador untuk Tahta Suci Vatikan tanggal 22 Oktober 2010 (Zenith 22 Oktober 2010, Paus Benedictus XVI menekankan bahwa pendidikan lebih dari sekedar menanamkan pengetahuan, tetapi menanamkan cinta kebenaran. Lebih lanjut Paus menegaskan agar negara menjamin pengajaran agama di sekolah, karena Paus meyakini iman Katolik dapat memberi sumbangan besar dalam memajukan martabat pribadi manusia dan pengembangan masyarakat. Meskipun ada perbedaan situasi antara Equador dan Indonesia, namun pesan Paus ini menantang kita semua untuk meninjau apa yang mau dicapai melalui pendidikan agama baik di sekolah maupun di komunitas-komunitas basis, sehingga dapat menjadi acuan bagi perumusan kompetensi guru agama katolik lulusan Perguruan Tinggi Swasta Agama Katolik. Read more

Pembentukan Karakter Melalui Pendidikan

September 16, 2011 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra

 (Oleh: Dalifati Ziliwu)

Pendahuluan

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang bercita-cita untuk menjadi satu Negara besar, kuat, disegani dan dihormati keberadaanya di tengah-tengah bangsa-bangsa lain di dunia. Setelah kemerdekaan pencapaian cita-cita ini belum menunjukkan tanda-tanda menggembirakan. Optimisme mencapai cita-cita itu terus-menerus diharapkan, namun ditemui berbagai  macam tantangan. Semangat nasionalisme dalam menegakkan dan membangun  NKRI seakan-akan tidak dapat diimbangi karena begitu banyaknya  persoalan-persoalan yang harus diselesaikan bangsa ini. Mencuaknya beberapa hal yang bergeser dari nilai dan norma yang harus dijunjung tinggi, penegakan hukum yang belum terwujud, dampak demokrasi yang tidak diinginkan, karakter manusia yang semakin merosot. Ini semua merupakan dampak sikap orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak ada rasa memiliki akan bangsa yang hanya bersikap mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

UU No.20 tahun 2003 Sisdiknas, menegaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan iman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesem-purnaan hidup anak-anak kita. Pendidikan karakter merupakan bagian integral yang sangat penting dari pendidikan kita

Upaya pemerintah melalui Permendiknas No.23 tahun 2006, mengamanatkan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berperilaku sesuai Pasal 3 UU No.20 Tahun 2003 Tentang pendidikan Nasional. Pada SKL SMA/MA mengupayakan peserta didik dapat memiliki : (1) Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja; (2) Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya; (3) Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya; (4) Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial; (5) Menghargai keberagaman agama, bangsa,  suku, ras, dan golongan sosial-ekonomi dalam lingkup global; (6) Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif; (7) Menunjukkan  kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan; (8) Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri; (9) Menunjukkan sikap kompetitif & sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik; (10) Menunjukkan kemampuan  menganalisis dan memecahkan masalah kompleks; (11) Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial; (12) Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia; (13) Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya; (14) Mengapresiasi karya seni dan budaya; (15) Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok; (16) Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan; (17)  Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun; (18) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; (19)  Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain; (20)  Menunjukkan ketrampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis; (21)  Menunjukkan ketrampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris; (22) Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi. Dari beberapa poin diatas ada 11 dari 22 Kompetensi Sangat  dekat dengan pembentukan  karakter seorang peserta didik.

Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa emas namun kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Thomas Lickona (seorang profesor pendidikan dari Cortland University) dalam quari (2010:8) mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda jaman yang kini terjadi, tetapi harus diwaspadai karena dapat membawa bangsa menuju jurang kehancuran. 10 tanda jaman itu adalah: (1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja/masyarakat; (2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk/tidak baku; (3) Pengaruh peer-group (geng) dalam tindak kekerasan, menguat; 4) Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba;   alkohol dan seks bebas; (5) Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; (6) Menurunnya etos kerja; (7) Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; (8) Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok; (9) Membudayanya kebohongan/ketidakjujuran; dan (10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian  antarsesama.

Hakekat Karakter

 

Menurut Simon Philips  dalam quari (2010: 10), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema dalam quari (2010:12) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Sementara Winnie dalam quari memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.

Dari pendapat di atas dipahami bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi, ‘orang berkarakter’ adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Dengan demikian, pendidikan membangun karakter, secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau baik, bukan yang negatif atau buruk. Hal ini didukung oleh Peterson dan Seligman dalam quari (2010: 16) yang mengaitkan secara langsung ’character strength’ dengan kebajikan. Character strength dipandang sebagai unsur-unsur psikologis yang membangun kebajikan (virtues). Salah satu kriteria utama dari ‘character strength’ adalah bahwa karakter tersebut berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya potensi dan cita-cita seseorang dalam membangun kehidupan yang baik, yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan bangsanya.

Pendidikan Karekter

Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturisasi dan sosialisasi). Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itu mencakup sekurang-kurangnya tiga hal paling mendasar, yaitu: (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan ketrampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.

Ki Hadjar Dewantara dari Taman Siswa di Yogyakarta bulan Oktober 1949 pernah berkata bahwa “Hidup haruslah diarahkan pada kemajuan, keberadaban, budaya, dan persatuan”. Sedangkan menurut Prof. Wuryadi, manusia pada dasarnya baik secara individu dan kelompok, memiliki apa yang jadi penentu watak dan karakternya yaitu dasar dan ajar. Dasar dapat dilihat sebagai apa yang disebut modal biologis (genetik) atau hasil pengalaman yang sudah dimiliki (teori konstruktivisme), sedangkan ajar adalah kondisi yang sifatnya diperoleh dari rangkaian pendidikan atau perubahan yang direncanakan atau diprogram.

Urgensi pengembangan karakter dalam dunia pendidikan dirasa sangat berpengaruh dan penting dalam membentuk kepribadian dan watak para pemimpin masa depan bangsa karena “Selama dimensi karakter tidak menjadi bagian dari kriteria keberhasilan dalam pendidikan, selama itu pula pendidikan tidak akan berkontribusi banyak dalam pembangunan karakter” (I Gedhe Raka), dan ”Dalam kenyataanya, pendidik berkarakterlah yang menghasilkan SDM handal dan memiliki jati diri. Oleh karena itu, jadilah manusia yang memiliki jati diri, berkarakter kuat dan cerdas.”

Pilar akhlak (moral) yang dimiliki (mengejawantah) dalam diri seseorang, sehingga ia menjadi orang yang berkarakter baik (good character), memiliki sikap jujur, sabar, rendah hati, tanggung jawab dan rasa hormat, yang tercermin dalam kesatuan organisasi pribadi yang harmonis dan dinamis. Tanpa nilai-nilai moral dasar (basic moral values) yang senantiasa mengejawantah dalam diri pribadi kapan dan di mana saja, orang dapat dipertanyakan kadar keimanan dan ketaqwaannya. Manusia yang berkarakter diharapkan mampu untuk : (1) Sadar sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sadar sebagai makhluk muncul ketika ia mampu memahami keberadaan dirinya, alam sekitar, dan Tuhan YME. Konsepsi ini dibangun dari nilai-nilai transendensi; (2) Cinta Tuhan. Orang yang sadar akan keberadaan Tuhan meyakini bahwa ia tidak dapat melakukan apapun tanpa kehendak Tuhan. Oleh karenanya memunculkan rasa cinta kepada Tuhan. Orang yang mencintai Tuhan akan menjalankan apapun perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; (3) Bermoral. Jujur, saling menghormati, tidak sombong, suka membantu, dll merupakan turunan dari manusia yang bermoral; (4) Bijaksana. Karakter ini muncul karena keluasan wawasan seseorang. Dengan keluasan wawasan, ia akan melihat banyaknya perbedaan yang mampu diambil sebagai kekuatan. Karakter bijaksana ini dapat terbentuk dari adanya penanaman nilai-nilai kebinekaan; (5) Pembelajar sejati. Untuk dapat memiliki wawasan yang luas, seseorang harus senantiasa belajar. Seorang pembelajar sejati pada dasarnya dimotivasi oleh adanya pemahaman akan luasnya ilmu Tuhan (nilai transendensi). Selain itu, dengan penanaman nilai-nilai kebinekaan ia akan semakin bersemangat untuk mengambil kekuatan dari sekian banyak perbedaan; (6) Mandiri. Karakter ini muncul dari penanaman nilai-nilai humanisasi dan liberasi. Dengan persamaan  subjek kehidupan maka ia tidak akan membenarkan adanya penindasan sesama manusia. Darinya, memunculkan sikap mandiahaman bahwa tiap manusia dan bangsa memiliki potensi dan samari sebagai bangsa; (7) Kontributif. Kontributif merupakan cermin seorang pemimpin.

Pendidikan dilaksanakan dari, untuk, dan oleh manusia, berisi hal-hal yang menyangkut perkembangan dan kehidupan manusia serta diselenggarakan dalam hubungan antar manusia itu sendiri. Prayitno (2010:44) mengungkapkan bahwa dalam sosok manusia mengandung tiga komponen dasar yaitu hakikat manusia, dimensi kemanusiaan, dan pancadaya kemanusiaan. Sosok kemanusiaan itu selanjutnya disebut sebagai harkat dan martabat Manusia (HMM).

Hakekat manusia menurut Prayitno (2010:44), ada lima unsur yang menegaskan bahwa manusia adalah ciptaan Allah dalam kondisi: (1) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa; (2) Diciptakan paling sempurna; (3) Berderajat paling tinggi; (4) Berstatus sebagai khalifah di muka bumi; (5) Menyandang hak asasi manusia.

Prayitno (2010: 45) mengungkapkan bahwa Dimensi  kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia terdiri dari 5 dimensi yaitu: (1) Dimensi kefitrahan, kata kunci kebenaran dan keluhuran; (2) Dimensi keindifidualan, dengan kata kunci potensi dan perbedaan; (3) Dimensi kesosialan, kata kunci komunikasi dan kebersamaan; (4) Dimensi kesusilaan, dengan kata kunci nilai dan moral; (5) Dimensi keberagamaan, kata kunci iman dan taqwa. Kesatuan kelima dimensi kemanusiaan ini dapat mewujudkan karakter – cerdas seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Panca kemanusiaan, sang pencipta memberikan perangkat  dasar potensi kemanusiaan yang disebut pancadaya. Pancadaya yang dimaksud adalah: (1) Daya taqwa; (2) Daya Cipta; (3) Daya rasa; (4) Daya Karsa; (5) dan Daya karya. Dengan lima daya tersebut manusia berkembang dalam budaya dan kemampuan kemanusiaannya. Melalui pengembangan kelima daya itu pula kehidupan yang berkarakter-cerdas ditumbuh-suburkan.

Tiga komponen dasar manusia seutuhnya sebagaimana telah diuraikan di atas dapat disarikan dengan rumusan lima- i, yaitu: (1) Iman dan taqwa meliputi kaidah agama; (2) Inisiatif berarti semangat, kemauan untuk memulai dan mencoba, berdaya upaya, pantang menyerah, untuk mencapai sesuatu yang berguna; (3) Industrius berarti bekerja keras, tekun, disiplin, produktif, pertimbangan nilai tambah, jujur, jiwa wira usaha; (4) Individu mencakup kualitas potensi, perbedaan kedirian individu dan kemandirian; (5) Interaksi mengandung makna keterkaitan individu yang satu dengan individu lainnya.

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN HOLISTIK

Pendidikan holistik membentuk manusia secara utuh (holistik) yang berkarakter yaitu mengembangkan aspek/potensi spiritual, potensi emosional, potensi intelektual (intelegensi & kreativitas), potensi sosial, dan potensi jasmani siswa secara optimal. Membangun karakter itu harus dimulai sedini mungkin, atau bahkan sejak dilahirkan, dan harus dilakukan secara terus menerus dan terfokus, Pendidikan holistik juga untuk membentuk manusia pembelajar sepanjang hayat yang sejati (life long learners). Di samping itu, pendidikan karakter juga mengembangkan semua potensi anak sehingga menjadi manusia seutuhnya. Dalam hal ini, perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademiknya maupun segi sosial dan emosinya. Pendidikan selama ini hanya memberi penekanan pada aspek akademik saja dan tidak mengembangkan aspek social, emosi, kreativitas, dan bahkan motorik. “Anak hanya dipersiapkan untuk dapat nilai bagus, namun mereka tidak dilatih untuk bisa hidup.

PENDIDIKAN HOLISTIK

Pendidikan Holistik memiliki ciri kurikulum sebagai berikut: (1) Spiritualitas adalah jantung dari setiap proses dan praktek pembelajaran; (2) Pembelajaran diarahkan agar siswa menyadari akan keunikan dirinya dengan segala potensinya. Mereka harus diajak untuk berhubungan dengan dirinya yang paling dalam (inner self, sehingga memahami eksistensi, otoritas, tapi sekaligus bergantung sepenuhnya kepada pencipta Nya; (3)  Pembelajaran tidak hanya mengembangkan cara berpikir analitis/linier tapi juga intuitif; (4) Pembelajaran berkewajiban menumbuhkembangkan potensi kecerdasan jamak (multiple intelligences); (5)  Pembelajaran berkewajiban menyadarkan siswa tentang keterkaitannya dengan komunitasnya, sehingga mereka tak boleh mengabaikan tradisi, budaya, kerjasama, hubungan manusiawi, serta pemenuhan kebutuhan yang tepat guna (jawa: nrimo ing pandum; anti konsumerisme); (6) Pembelajaran berkewajiban mengajak siswa untuk menyadari hubungannya dengan bumi dan “masyarakat” non manusia seperti hewan, tumbuhan, dan benda benda tak bernyawa (air, udara, tanah) sehingga mereka memiliki kesadaran ekologis; (7) Kurikulum berkewajiban memerhatikan hubungan antara berbagai pokok bahasan dalam tingkatan transdisipliner, sehingga hal itu akan lebih memberi makna kepada siswa; (8) Pembelajaran berkewajiban mengantarkan siswa untuk menyeimbangkan antara belajar individual dengan kelompok (kooperatif, kolaboratif, antara isi dengan proses, antara pengetahuan dengan imajinasi, antara rasional dengan intuisi, antara kuantitatif dengan kualitatif; (9) Pembelajaran adalah sesuatu yang tumbuh, menemukan, dan memperluas cakrawala; (10) Pembelajaran adalah sebuah proses kreatif dan artistik.

Urgensi Pendidikan holistik karena merupakan Kunci sukses dalam menghadapi tantangan berat dalam hidup itu terletak pada kualitas sumberdaya manusia (SDM) Indonesia yang handal dan berbudaya. Oleh karena itu perlu implementasi penyelenggaraan pendidikan holistik secara baik. Beberapa hal yang mendapat penekanan lebih dalam menerapkan model pendidikan karakter. Pertama, “Knowing the good. Untuk membentuk karakter, anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami mengapa perlu melakukan hal tersebut. “Selama ini banyak orang yang tahu bahwa ini baik dan itu buruk, namun mereka tidak tahu apa alasannya melakukan hal yang baik dan meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Jadi masih ada gap antara knowing dan acting,”. Berikut ini dapat diuraikan 9 Indikator pendidikan karakter yaitu : (1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya (love God, trust, reverence, loyalty); (2) Tanggung jawab Kedisiplinan dan Kemandirian (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness); (3) Kejujuran/Amanah dan Arif (trustworthines, honesty, and tactful); (4) Hormat dan Santun (respect, courtesy, obedience); (5) Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama (love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation, cooperation); (6) Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja keras (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determination, enthusiasm); (7) Kepemimpinan dan Keadilan (justice, fairness, mercy, leadership); (8) Baik dan Rendah Hati (kindness, friendliness, humility, modesty); (9) Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan; (tolerance, flexibility, peacefulness, unity)

 

FUNGSI DAN PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER MURID

Pendidik (guru) yang  profesional mempunyai tugas  utama yaitu:  (1) Mendidik; (2) Mengajar: (3) Membimbing;(4) Mengarahkan; (4) Melatih;  (5) Menilai dan mengevaluasi. Dalam mengemban tugas utama seorang guru yang profesional harus memiliki beberapa indikator yang berkarakter. Indikator yang berkarakter dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Memiliki Pengetahuan yang luas dan mengamalkannya dalam kehidupan  sehari-hari secara aktif; (2) Meningkatkan kualitas keilmuan secara berkelanjutan; (3) Zuhud dalam kehidupan, mengajar dan mendidik untuk mencari ridho Tuhan; (4) Bersih jasmani dan rohani; (5) Pemaaf, penyabar, dan jujur; (6) Berlaku adil terhadap peserta didik dan kepada semua stakeholders pendidikan (7) Mempunyai watak dan sifat robbaniyah yang tercermin dalam pola pikir, ucapan, dan tingkah laku; (8) Tegas bertindak, profesional, dan proporsional; (9) Tanggap terhadap berbagai kondisi  yang mungkin dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan, dan  pola pikir peserta didik; (10) Menumbuhkan kesadaran diri sebagai da’i.

Prayitno mengungkapkan lima pilar untuk belajar yaitu : (1) Belajar untuk mengetahui (learning to know); (2) Belajar untuk melakukan (learning to do); (3) Belajar untuk hidup bersama (learning to live together); (4) Belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be); (5) Belajar beriman dan bertaqwa (learning to beliaeve in God). Pilar yang yang dijelaskan di atas merupakan pilar yang di pegang teguh untuk menghasilkan manusia yang berguna, berkarakter,  tentunya dalam pencapaiannya menjadi usaha yang sinergi antara pendidik dan peserta didik. Bila pilar belajar ini diaktualisasikan menjadi prinsip dalam kepribadian peserta didik yang dikondisikan dengan baik oleh pendidik melalui proses pembelajaran dan penyampaian materi, kita yakin dan percaya karakter yang diharapkan itu dapat terwujudkan.

Penutup

Dalam Membentuk karakter melalui satuan pendidikan sebaiknya harus mendapatkan perhatian serius dari penyelenggara proses pembelajaran di berbagai satuan pendidikan. Berusaha semaksimal mungkin penerapanya melalui  merencanakan pengajaran, pelaksanakan pengajaran , penilai,  mengevaluasi, dan tindak lanjut. Tidak mengarah hanya bidang akademik tetapi seimbang dengan pembinaan dan pembentukan karakter calon pemimpin bangsa sehingga ketika menjadi sebagai pemimpin mampu berkarakter yang baik dan positif bagi orang lain atau lingkungannya.

Daftar pustaka

 

Majelis Luhur persatuan Taman siswa, 1961. Karja Ki Hadjar Dewantoro.Yogyakarta: Pertjetakan Taman Siswa.

Prayitno, 2009. Dasar  Teori dan Praktis Pendidikan. Jakarta: Grasindo Gramedia

Prayitno, 2010. Pendidikan karakter Dalam Membangun Bangsa Medan. Pasca Sarjana Unimed.

Peraturan Pemerintah No.23 Tahun 2006. Tentang Standar Lulusan. Kompetensi

Undang-undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistim Pendidikan Nasional.

Quari, 2010. Agama Nilai Utama Dalam Membangun Karakter Bangsa. Medan: Pasca sarjana Unimed.

Zainal, 2009. Menjadi Guru Profesional Berstandar Nasional. Bandung: Yrama Widya

Peroleh Izin Operasional

July 20, 2009 by  
Filed under Bidang Ilmu, News

STP Dian Mandala Gunungsitoli Keuskupan Sibolga telah mencatat sejarah panjang. Sudah selama 17 tahun mengelola pendidikan pastoral tingkat akademis bagi calon-calon Guru Agama Katolik, Katekis dan petugas pastoral. Tetapi jauh sebelum itu pendidikan tenaga kegerejaan ini sudah berawal di PGAK (Pendidikan Guru Agama Katolik) Dian Mandala, yang mulai beroperasi pada tahun 1979. Pimpinan masa itu antara lain: P. Paulinus Manaõ OFMCap, Sr.Theresia Hondrö SCMM, Sr. Bernadet Chandra SCMM, dan Bpk. Drs. Wilhelm Ndruru (alm). Sejalan dengan peraturan pemerintah, maka PGAK ditiadakan dan diganti dengan Institut Pastoral Dian Mandala Filial IPI Malang. Sejarah singkatnya sebagai berikut:

1.   Diterbitkan Surat Izin Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama RI No. G/PP.03.2/128/91, tanggal 2 Februari 1991, yang ditujukan kepada Rektor Institut Pastoral Indonesia (IPI) Malang untuk membuka Filial Program Diploma Dua (D2) dan Diploma Tiga (D3) Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik di Sekolah, mulai Tahun Kuliah 1991/1992 pada Keuskupan Sibolga – Sumatera Utara.

2.     Surat Keputusan Rektor IPI, Nomor: 11 Tahun 1991 dan Nomor: MLG-01/SK-DIP/IPI/III/1991, tanggal 18 Maret 1991, perihal Pembukaan Filial Program Diploma Dua (D2) dan Program Diploma Tiga (D3) Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Tinggi Pastoral Gunungsitoli – Nias – Keuskupan Sibolga.

3.     Surat Keputusan Uskup Sibolga, No: 039/KS – SK/91, tanggal 20 Maret 1991, tentang Pembukaan Filial IPI-Malang, Program D2 dan D3 Keuskupan Sibolga, cq. Gunungsitoli. Pimpinan pertama adalah Bpk. Drs. Wilhelm Ndruru (alm) dan menyusul kemudian Bpk. Zeno N. Halawa, S.Ag.

4.     Keputusan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Katolik Departemen Agama RI No: Dj.IV/Hk/005/42/2004 tentang Pemberian Ijin Penyelenggaraan Kuliah Kelas Jauh (KKJ) Program S1 Sekolah Tinggi Pastoral (STP-IPI) Malang di Nias Keuskupan Sibolga. Pimpinannya Bpk. Zeno N. Halawa, S.Ag hingga Februari 2008, menyusul dipimpin oleh P. Dr. U. Marinus Telaumbanua, OFMCap sejak tanggal 5 Maret 2008.

5.     Keputusan Ketua STP-IPI Malang Nomor 05/K/IPI/IV/2004 tentang Pembukaan Kuliah Jarak Jauh (KJJ) Program S1 Jurusan Katekese Pastoral di Nias Keuskupan Sibolga.

Jadi, sudah sejak tahun 1991 ada pengalaman berharga dalam hal seluk beluk pengelolaan dan pengaturan mekanisme Perguruan Tinggi Agama Katolik Swasta (PTAKS) yang pada tahun 2004 diberi nama Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala Gunungsitoli, Filial STP-IPI Malang di Nias.

Mendesaknya kebutuhan besar akan tenaga guru agama Katolik dan tenaga pastoral lainnya, tersedianya fasilitas yang memenuhi persyaratan akademis, sehat dan lengkap, tersedianya tenaga kependidikan dan tenaga administrasi yang tetap dikembangkan, adanya dukungan positif dan menggembirakan dari banyak pihak, adanya mahasiswa yang merasa terpanggil menjadi pelayan gerejani, adanya kemampuan finansial untuk pengelolaan yang baik dan kontinu maka dapat disimpulkan:

  • Sangat layak didirikan STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga dalam tahun akademik 2008/2009, yang berarti tidak lagi filial STP-IPI Malang.
  • Program yang dimohonkan adalah program Strata 1 (S1) jurusan Pastoral Kateketik.
  • Izin yang dimohonkan meliputi: Program S1 Reguler, Program KKK (Kuliah Kelas Khusus) dan Program KJJ (Kuliah Jarak Jauh). Ketiga program ini akan tepat menjawab kebutuhan masyarakat banyak, khususnya kebutuhan 630 sekolah (SD, SMP, SMA dan PT) se wilayah Keuskupan Sibolga. Implikaisnya tenaga pendidik pun akan berijazah S.Ag (Sarjana Agama).

Hari Selasa tanggal 26 Agustus 2008 Dirjen Bimas Katolik Depag RI Bpk. Drs. Stef Agus bersama Ibu dan rombongan datang ke Gunungsitoli untuk memenuhi permohonan Keuskupan Sibolga. Melalui SK Nomor Dj.IV/Hk.00.5/137/2008 Bapak Dirjen atas nama Pemerintah memberi izin penyelenggeraan pendidikan tenaga pastoral kegerejaan di STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga. Bapak Uskup Mgr. Dr. Ludovicus Simanullang, OFMCap. melalui Surat Keputusan Nomor 015.1/KS-SK/2008 telah menetapkan unsur pimpinan STP DM yakni: P. Dr. U. Marinus Telaumbanua, OFMCap (Ketua), Zeno N. Halawa, S.Ag (Puket I), Feronika Zai, S.Ag (Puket II), dan Stefan Y. Zebua (Puket III). Syukur kepada Tuhan Allah kita dan ribuan terimakasih kepada semua pihak.

Pembangunan Gedung Baru STP Dian Mandala

July 16, 2009 by  
Filed under News

Pada tanggal 29 Mei 2008, telah diadakan acara doa untuk memulai pelaksanaan pembangunan Gedung Baru STP Dian Mandala Gunungsitoli di lokasi Gedung SD Mutiara lama. Hadir pada saat itu, Panitia Pembangunan Gedung Baru STP Dian Mandala, P. Servas Dange, SVD mewakili Keuskupan Sibolga, Pak Vincent Lase mewakili BRR, Ketua DPRD Kab. Nias, ibu yang mewakili Darma Wanita Kab. Nias, Pak Petrus sebagai kontraktor yang akan mengerjakan pembangunan gedung STP ini, Pastor Paroki Santa Maria BPB Gunungsitoli serta dosen dan beberapa orang mahasiswa STP Dian Mandala.

Mengawali acara ini, Ketua Panitia Ibu Lenny Baeha menyampaikan kata sambutannya, dengan tetap mendukung dan meneruskan rencana pembangunan gedung STP Dian Mandala ini, yang dulu tertunda pada tahun 2004 yang lalu. Biaya yang dibutuhkan dalam pembangunan gedung ini, disampaikan oleh Ketua, sebesar 3M. Dana yang sudah ada masih belum cukup untuk itu. Maka Panitia mengharapkan partisipasi dari BRR, pihak Keuskupan dan Pemerintah Kabupaten Nias. Semua rencana ini tentu akan berhasil jika kita menyerahkannya ke dalam tangan Tuhan Yang Maha Esa, ujar beliau.

Diteruskan setelah itu, kata sambutan dari Pak Vincent Lase mewakili BRR. Beliau mengatakan bahwa sekitar tahun 2004-2006 yang lalu, kami menunggu proposal masuk dari Panitia Pembangunan Gedung STP ini, tetapi tidak tahu apa sebabnya maka sudah terlambat untuk mendapatkan bantuan tersebut. Dalam program BRR, pendidikan merupakan salah satu prioritas. Dan ini harus terus didukung. Tentu diharapkan hal ini akan masuk dalam program 2009. BRR selalu membantu dan mendukung pembangunan ini. Beliau mengatakan juga, bahwa semua ini terlaksana berdasarkan iman akan Tuhan, dan berharap semoga nantinya gedung ini akan bermanfaat dalam rangka mendukung pendidikan di Nias, menghasilkan SDM yang berkualitas, serta sistem pendidikan yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas calon-calon pemimpin masa depan.

P. Servas Dange, SVD mewakili Keuskupan Sibolga turut menyampaikan kata sambutannya. Pertama-tama beliau mengatakan rasa syukur kepada Tuhan bahwa rencana pembangunan Gedung STP Dian Mandala dapat terlaksana pada saat ini. Ucapan terimakasih juga kepada Panitia yang telah merancang pembangunan gedung baru STP Dian Mandala. Beberapa pesan dari Keuskupan yaitu:

-     Menurut keyakinan Keuskupan, gedung ini pasti kokoh, kuat dan indah. Tetapi harapan kita juga isi yang dihasilkan di dalamnya juga bagus. Mahasiswa yang dihasilkan adalah orang-orang beriman yang berbobot bagi Gereja dan masyarakat.

-     Menghimbau semua pihak untuk berpartisipasi mensukseskan pembangunan gedung baru ini, baik dari pihak pemerintah , lembaga legislatif, BRR dan pihak-pihak lainnya.

-     Pihak Keuskupan juga tidak lepas tangan untuk membantu kelancaran pembangunan Gedung ini. Keuskupan terus mendukung.

Ketua STP Dian Mandala P. Marinus Telaumbanua, OFMCap juga turut memberikan kata sambutannya dalam acara ini. Beliau bangga dan bersyukur atas terlaksananya  pembangunan gedung STP ini. Dan akan berusaha semakin meningkatkan kualitas yang akan dihasilkan  lembaga ini ke depan. Sebagai informasi, langkah awal dalam rencana kemandiriran STP ke depan ini, terbukti dengan diterimanya berkas-berkas kita di Jakarta. Semoga apa yang kita rencanakan ini akan segera terealisasi dengan baik, demi kemajuan sekolah ini dan demi untuk cita-cita kita bersama. Ditambahkan juga, supaya kontraktor melihat kembali denah gedung tersebut, karena belum termuat ruang perpustakaan. Karena, perpustakaan merupakan jantung sebuah Perguruan Tinggi. Ucapan terimakasih juga kepada Panitia dan semua pihak yang telah mendukung suksesnya pembangunan gedung baru STP Dian Mandala. Semoga Tuhan memberikan berkatnya kepada kita semua.

Dipertengahan acara ini, Pak Petrus (kontraktor) memaparkan denah Gedung Baru STP di atas tanah seluas 1,323 m², dan bertingkat atau berlantai dua (2).

Kata sambutan terakhir oleh Ketua DPRD Kabupaten Nias, menyampaikan dukungan atas pelaksanaan pembangunan gedung STP Dian Mandala ini, demi kemajuan pendidikan kita di Nias ini. . Rencana ini sudah dimasukkan dalam RAPBD Kabupaten Nias tahun ini. Kita berdoa semoga pembangunan ini dapat terwujud dan dapat berguna bagi Gereja dan juga masyarakat.

Karena pelaksanaan pembangunan  gedung baru ini didasarkan pada iman akan Yesus, maka acara ini ditutup dengan ibadat bersama yang dipimpin langsung oleh P. Agustinus Supardi, Pr sekalugus memberikan berkat kepada kontraktor dan para pekerja, supaya mereka dapat melaksanakan pekerjaan ini dengan baik dan terhindar dari segala bahaya dan kecelakaan.

Pembangunan Gedung Baru STP Dian Mandala ini, sekali lagi akan terlaksana dan terwujud berkat kasih dan kekuatan dari Allah, sehingga kelak dapat menghasilkan pekerja pastoral yang siap pakai, bagi Gereja dan masyarakat. Semoga Yesus menuntun dan membimbing kita dalam pelaksanaan pembangunan gedung baru ini.

Will You Still Love Me Tomorrow ..?

July 14, 2009 by  
Filed under Buletin, Mahasiswa

Oleh : Ermina Waruwu – Mhs Tingkat IV

Akankah kau tetap mencintaiku besok? Pernyataan ini merupakan ungkapan hati yang tidak pernah berhenti setiap hari, dalam usaha mewujudkan masa depan yang terbentang di depan. Masa depan sungguh tak bisa diketahui persis seperti apa wujudnya. Semuanya nampak lelap dalam impianku, impianmu dan impian kita semua.

Kita pasti mengetahui dan memahami bahwa waktu terus berjalan. Dan setiap kali waktu itu kita renungkan, setiap kali pula kita merenungkan makna kehidupan ini. Karena waktu tidak akan pernah kembali. Kehidupan jasmani dan rohanipun ikut berjalan bersama dengan waktu. Menghidupi waktu itu, kita sambil mengharapkan masa depan yang kian menyenangkan kita mengalami hidup bersama Kristus dalam diri sesama. Dalam tugas dan karya kita. Ada harapan, namun ada pula keputusasaan dan kesunyian jika “badai” mulai menghadang. Kita kerapkali merasa terbebani oleh masa depan yang tidak dapat diramalkan, maka kita seperti hidup bersama bayang-bayang kegembiraan dan kecemasan-kecemasan, bersama rasa suka dan duka masing-masing. Hidup jasmani dan rohani dalam waktu yang terus berputar seperti sahabat yang selalu berjalan bersama. Aku, engkau dan kita memilih yang mana? Aku, engkau dan kita boleh bermimpi dan mengharapkan sesuatu yang baik.

Waktu dapat dihitung dengan menggunakan kelender atau jam. Tapi, kehidupan jasmani dibatasi oleh waktu (waktu Kronos). Banyak hal yang didambakan dalam menjalani waktu yang seperti ini : umur yang panjang, rumah mewah, tanah yang luas, kehormatan, kedudukan/jabatan, dll. Nah, untuk apa pula semua pertentangan yang ada di sekitar kita? Ada peperangan, bencana, korban ketidakadilan, egoisme, dan bumi ini semakin panas dan seakan memberontak. Bukankah semua ini akan berakhir?  Waktu yang abadilah yang tidak berakhir. Ia adalah kehidupan yang sekarang dan kehidupan yang abadi sesudah kematian (waktu Aion). Bagaimana cara kita untuk berinvestasi agar keduanya ini seiring dan bisa tercapai? Apakah kita hanya berdiam diri saja, menonton, dan tidak pernah berpikir untuk berbuat mengisi hidup ini dengan buah-buah yang baik. Peluang selalu ada di depan kita untuk mempersatukan kehidupan jasmani dan rohani kita menuju kesempurnaan. Jika peluang itu tidak digunakan dengan baik, maka hidup jasmani dan rohani itu akan berlalu begitu saja. Peluang itu tidak akan kembali lagi (waktu Kairos). Maka kita boleh bertanya terhadap diri sendiri : apa yang sudah saya sumbangkan di dunia ini, agar dunia ini semakin indah dirasakan dan indah dipandang mata? Ataukah kita hanya bersungut-sungut dalam hati ?

Dengan sadar dan melihat serta merenungkan pertanyaan di atas, akankah setiap mimpi kita menjadi kenyataan dan akankah setiap harapan kita akan terwujud dan menjadi kenyataan? Ataukah hanya berlalu begitu saja? Mari memilih berinvestasi …!

“Mimpi” dan “harapan” adalah sesuatu yang indah dalam hidup. Hidup adalah kenyataan. Dan kenyataan itu harus dihadapi seorang diri saja. Hanya seorang diri saja. Kita selalu bertanya jika kita merasa seorang diri saja : Akankah kau tetap mencintaiku besok? Karena tak seorang pun yang dapat menguasai jalannya waktu. Kita tak bisa menghindar atau mengelak dari kenyataan. Waktu yang berlalu takkan kembali lagi. Waktu yang akan datang pula tak bisa kita kenal bagaimana wujudnya. Tetapi waktu saat ini, saat dimana kita semua berada dan mengalami, adalah suatu wujud/kenyataan kita sebagai insan yang hidup. Hidup saai ini adalah perwujudan kehidupan kita nanti. Maka diperlukan perjuangan dalam mencari pegangan yaitu Yesus Kristus sebagai jaminan hidup agar kita tidak berjalan dalam kegamangan belaka.

Kita dihadang oleh problema pada saat mengalami suatu kebimbangan yang tidak terpecahkan. Namun, semakin kita mencari pemecahan problem yang menghadang itu, namun jawaban yang kita kehendaki seakan juga semakin kabur. Tapi yang pasti perubahan terus terjadi. Dalam perubahan dan kebimbangan itu, kita merindukan seseorang yang mencintai kita, berjalan bersama kita dalam mengarungi hidup. Dan cepat atau lambat, kita semua akan sadar, betapa hidup fana ini terus melaju menuju akhir. Namun, hidup yang fana itu, akan berubah menjadi kehidupan abadi yaitu hidup bersama Allah, yang merupakan “mimpi” dan “harapan” kita yang seharusnya kita capai dalam hidup ini.

Will you still love me tomorrow? Yesus menjawab : “Ya”, Dia tetap mencintaiku, mencintai engkau dan kita semua, hari ini, besok, dan selama-lamanya dalam menghadapi kenyataan hidup bersama sang waktu. Tak ada lagi kebimbangan, karena Dia adalah Sang Penebus, yang tidak pernah mengecewakan setiap kita. Kita pasti akan berjumpa dengan-Nya. Dia yang telah bangkit selalu menanti, menghibur dan menolong kita dengan cinta-Nya. Maka kita diundang menjawab cinta-Nya dengan menghidupi sabda-Nya, kapan dan diman pun kita berada.

Narasi Yubileum

July 14, 2009 by  
Filed under Mahasiswa, Sejarah

NARASI YUBILEUM MENGENANG DAN MENSYUKURI JASA PARA MISSIONARIS KEUSKUPAN SIBOLGA, SUMATERA UTARA

(Pembukaan Yubileum, 18 November 2008)

(Dipresentasikan oleh Mahasiswa STP Dian Mandala)

Narator 1: Walau sepintas…, pada pembukaan Yubileum dan Sinode Perdana Keuskupan Sibolga ini, mari kita kenang jasa para misionaris Keuskupan Sibolga. Kita syukuri Allah yang Mahapengasih atas jasa hamba-hambanya dan berterimakasih kepada mereka yang pernah ikut serta mematri wajah Kristus dalam benak, hati dan sikap kita.

Narator 2: Berlayar dari Pulau Penang Malaysia 2 orang misionaris Perancis menuju wilayah Sibolga. Namanya Pastor Jean-Pierre Vallon dan Jean-Laurent Berard. Mereka ditemani sepasang suami-isteri Nias yang sudah menetap di Penang pada masa itu. Akhir tahun 1831 mereka mulai menempuh perjalanan jauh, menumpang perahu layar bersama sejumlah muslim yang baru kembali dari Mekah menuju Aceh. Tiba di Sibolga kedua imam muda belia ini berpisah, yang satu menuju Padang dan yang satu lagi menuju Gunungsitoli.

Pada bulan Maret 1832 Pastor Jean-Pierre Vallon tiba di Nias dan tinggal di desa Lasara Gunungsitoli. Pada bulan Juni beliau jatuh sakit. Diduga karena malaria, beliau meninggal dunia pada bulan Juni 1832 dalam usia 30 tahun. Temannya dari Padang datang juga ke Gununsitoli setelah mendengar kematian rekannya sang saksi Kristus pertama di Pulau Nias. Beliau juga meninggal Juni 1832, juga pada usai 30 tahun. Mungkin sudah ada beberapa yang mulai percaya kepada Kristus di Lasara waktu itu. Tapi alam dan penyakit menguburkan impian dalam-dalam menunggu waktu yang tepat.

Narator 3: Sebagai tanda syukur kepada kedua misionaris asal Perancis 176 tahun lalu, kita diajak berdiri untuk mengenang dan mensyukuri upaya mereka. Krans bunga akan dihantar ke batu pusara mereka di dinding luar kiri gereja. (diantar Krans bunga, Koor  Mater Dei 1 ayat)

Narator 1: Awal pengakaran Gereja Katolik Keuskupan Sibolga terwujud dengan datanganya misionaris dari Belanda. Mulanya tiba di Gunungsitoli Pastor Projo Caspar de Hesselle pada tahun 1854, tapi beliau meninggal sangat cepat. Di pusaranya di dinding Gereja Santa Maria Gunngsitoli tertulis: “C. de Hessele, Missionarius Apostolicus, meninggal dunia 31 Agustus 1854”

Narator 2: Menyusullah berturut-turut misionaris Belanda yang sungguh menanamkan akar kekatolikan. Beginiliah kisahnya. Tahun 1929 tiba di Sibolga Pastor Kapusin Chrysologus Timmermans. Kegiatan pastoralnya mulanya hanya untuk warga Belanda dan Tionghoa kota Sibolga. Pada tahun 1930 menyusul tiba 6 orang Suster SCMM yang menolong di bidang pendidikan anak sekolah. Menyusul beberapa waktu kemudian para Frater CMM dari negeri Belanda.

Barulah pada tahun 1933 Pastor diberi izin keluar kota Sibolga dan membuka stasi Katolik di Pintubosi dan Pangaribuan dan yang lainnya.

Narator 3: Pada tahun 1939 Pastor Kapusin Burchradus van der Weijden tiba di Pulau Nias. Dan tgl 31 Agustus 1939… dirayakan Misa Kudus yang pertama di Nias di rumah Bapak Stefanus Sibee Laia, warga desa Lahusa Masio (kecamatan Lahusa sekarang). Beliau dan keluargnaya sudah menjadi Katolik selagi merantau di Padang

Narator 1: Tentang Pastor Van der Weijden ini, ada komentar Pastor Anicet Flechtker: “Karena tahu, betapa penting gerakan dan pengaruh para Katekis, ia (Pastor van der Weijden) terutama sibuk mendidik dan melatih dalam kursus-kursus orang yang berbakat untuk menjadi Katekis.”

Narator 2: Pada permulaan tahun 1940 tiba misionaris baru yakni Pastor Ildefonsus van Straalen, seorang periang dan punya rasa humor yang tinggi. Mereka berdua menetap di Hilisaimaetanö untuk membentuk komunitas Katolik dan mendidik para katekis sebanyak 3 gelombang. Mereka menciptakan cukup banyak buku teks yang kemudian dipergunakan oleh para Katekis untuk memimpin ibadat Hari Minggu, mengajar para Katekumen, memberi pembaptisan, mengunjungi orang sakit dan menguburkan yang meninggal.

Narator 1: Begitulah jadi… tatkala Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942. Para pastor, Bruder dan Suster dari Belanda ditawan, dan dibuang terpencar-pencar. Sejumlah suster kita mati karena kerja yang kelewat berat dan karena diberi terlalu sedikit  makanan. Para Katekis di Nias dan Sibolga mengambil alih tugas kegembalaan. Umat jadinya bertambah. Uskup Anicetus B. Sinaga mencatat bahwa selama masa internir (1942-1950) umat di Nias dari 500 orang bertambah menjadi 3.500 jiwa,  sedang di Sibolga umat pribumi  berjumlah 400 orang. Mewakili keseluruhan katekis pantas disebut nama Bpk. B. Siregar dan Bpk. Hendrikus Sohiro Dakhi.

Narator 2: Sesudah merdeka, pada tahun 1951 Pastor Guido de Vet tiba di Nias dan menetap di Hilimaria Orahili. Beliau dikarunia talenta berkomunikasi yang prima: tau baik peribahasa Nias, menguasai baik tata-krama bertegur sapa dan pandai merebut hati para Siulu di Selatan dan para Salawa Mbanua di bagian Utara. Namanya lama diingat-ingat karena pergaulannya yang sungguh merakyat.

Narator 3: Kepada semua misionaris dari negeri Belanda kita acungkan jempol, kita tundukkan kepala tanda hormat, dan sebagai kenangan dengan berdiri kita saksikan arakan krans bunga, tanda cinta dan syukur kita (diantar krans bunga ke altar, Koor Mater Dei 1  ayat).

Narator 1: Sesudah Gereja di wilayah Sibolga diakarkan oleh tangan dan hati suci dari Belanda, datanglah rombongan misionaris lain. Mereka membangun dan memberi bentuk dan menunjuk arah ke depan. Rombongan besar ini datang dari Jerman dan Sud Tirol. Jumlah keseluruhan Imam dan Bruder Kapusin sebanyak 40 orang ditambah dengan  beberapa Suster OSF dan Suster Klaris, juga dari Jerman. Hanya sebagian kecil yang masih hidup dan tinggal di antara kita. Kebanyakan telah meninggal dunia menikmati hidup bahagia di surga; dan sejumlah lain sedang menikmati usia senja di negeri asal Jerman dan Tirol.

Narator 2: Rombongan pertama datang, dipimpin oleh Uskup Gratianus Grimm bersama Pastor Romanus Jansen, Pastor Norbert Kurzen, Bruder Pankratius, Br. Joakim dan Br. Blasius. Usia mereka rata-rata 52 tahun saat itu. Peristiwa bersejarah itu terjadi tgl 27 Maret 1955. Mereka menghadirkan misi kasih sayang. Ditumbuh-kembangkan stasi-stasi di pedalaman yang sulit terjangkau, dan dibangun pusat-pusat paroki yang menyebar ke seluruh Pulau Nias hingga ke Pulau Tello. Kemudian menyusul pembukaan paroki ke arah Padangsidimpuan/ Pinangsori, Tarutung-Bolak/Sorkam dan Tumba/Manduamas. Badan mereka kekar, tatapan wajahnya menembus hingga ke lubuk hati orang-orang penderita dan yang belum berpendidikan. Asrama-asma dibangun, juga panti-panti asuhan yang mengangkat harkat pribadi manusia. Didirikan gereja-gereja permanen dan bangunan-bangunan bernuansa adat lokal yang tahan gempa,  dan juga Sekolah Pertukangan LPTK Mela Sibolga, dikembangkan lagu-lagu gereja inkulturatip yang menyentuh rasa, dan dibangun Museum Pusaka Nias yang menjadi kebanggaan karena melestarikan identitas. Terimakasih atas segala jasa baik, terimakasih kepada prokurator, penghimpun dana di negeri Jerman dan daerah Tirol.

Narator 3: Begini isi catatan Pastor Barnabas, “Tgl 17 November 1959 daerah misi Sibolga dan Nias menjadi Prefektur Apostolik Sibolga. Sebelumnya wilayah ini  bagian Vikariat Medan. Tgl 15 Agustus 1960 Mgr. Grimm menjadi Administrator Apostolik Sibolga. Sedang pada pihak Ordo Pastor Norbert Kurzen menjabat Superior Regularis Misi Kapusin Sibolga.”

Narator 1: Wilayah gerejani Sibolga telah diangkat oleh Tahta Suci menjadi Prefektur Apostolik tgl 17 Nopember 1959, dan kemudian ditingkatkan menjadi Keuskupan pada tgl 24 Oktober 1980. Dan mulai hari ini … tgl 18 Nopember 2008 kita membuka tahun Yubelium sambil bersinode. Acara puncak yubileum nanti di Sibolga pada tgl 17 Nopember 2009, di bawah pimpinan Uskup Dr. Ludovicus Simanullang OFMCap.

Narator 2: Kita ingin bersyukur dan berdoa, berefleksi bersama, mengkaji dan mendata bersama, serta meniti bersama arah keuskupan tercinta. Semoga seluruh umat (yang sukarang sudah berjumlah 207.000 lebih) merasakan bahwa hidup keuskupan ada di tangan kita semua dan tanggungjawab kita. Mari bergandeng tangan baik imam (projo dan biarawan) maupun umat awam, bersama para biarawan/ti dari seluruh tarekat (Kapusin, SCMM, CMM, OSF, Klaris, OSC, BRUDER BUDI MULIA, SVD, FCJM, KSFL, Suster ALMA), dan dengan dukungan pemerintah daerah kita dan warga Kristen lainnya kita bertekad: ‘JADILAH SAKSI KRISTUS: MELALUI YUBILEUM 50 TAHUN PREFEKTUR APOSTOLIK / KEUSKUPAN SIBOLGA, MARILAH KITA MEMBANGUN GEREJA YANG MANDIRI DAN SOLIDER.”

Narator 3: Pemazmur berseru): “Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari” (Mzm 96:2).

Keselamatan itu terwujud dalam diri Kristus Tuhan, yang telah tiba di keuskupan kita lewat sapaan dan ulurkan kasih para misionaris, demi untuk membaharui kita dulu… kini dan selamanya. Kita sambut Kristus Penyelamat, Sang Raja Damai dengan Koor Yubileum sembari menghantar bunga lambang cinta, mengenang dan mensyukuri jasa para misionaris tercinta dari negeri Jerman dan Tirol. Selamat Beryubileum! (Krans bunga diantar ke altar).

Karakteristik Masyarakat Nias (5)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Bahasa Daerah Nias

Bahasa Daerah Nias sangat unik. Sungguh beda dengan keseluruhan bahasa daerah lain di Indonesia, terutama karena kata-kata terdiri dari huruf-huruf vokal (huruf hidup). Tak kenal konsonan double, setiap kali selalu diantarai dengan huruf vokal (misal, bilang pastor jadi pasitoro). Tidak kenal konsonan pada akhir kata, tidak kenal huruf p (pendeta dibilang fandrita) dan sangat dominan huruf z, f, kh, ndr dan huruf ö. Mengenal huruf d yang keras (möido= aku pergi) dan lembut (tuada= kakek kita) begitu juga huruf w yang keras (Lahewa) dan w yang lembut (Bawalia). Sangat biasa kata terdiri dari kombinasi huruf vokal (ue= rotan dan u’u = kumur). Lidah orang Nias agak berat mengucapkan kombinasi huruf mb (seperti membimbing) dan kombinasi huruf nd (seperti pendidikan, mendidik). Dikenal tiga buah dialek: utara (agak lembut), selatan (agak keras-keras) dan tengah (terkenal dengan huruf cu maka bilang tuada jadi cuada). Aksen ada beberapa: aksen Lahewa (terkenal dengan gelombang suara), aksen Sirombu (terkenal dengan hendre), aksen Nias Tengah (terkenal dengan cu dan ine). Sundermann melihat kesulitan bagi orang asing menguasai bahasa Nias karena konjunksi kata (morfofonemik) yakni terjadinya pertukaran kata seperti teu ke deu (hujan) misalnya teu toho (hujan deras), tohare deu (datang hujan).

Perasaan, kepercayaan dan tradisi diungkapkan lewat: amaedola (peribahasa), hoho (mite), umanö (cerita), fo’ere (doa), maedo-maedo (umpama, misal), dahö-dahö (teka-teki), lailö dan ngenu-ngenu (ratapan hidup). Sifat syair-syair ini kental dengan paralelisme, ritme irama dan ulangan idomatik. Sambil omong dengan mengalir saja mereka menyelipkan peribahasa atau pepatah atau pemeo untuk mengungkapakan pendapatnya atau secara halus menolak pendapat orang lain. Ini memang menyulitkan orang luar bila berhadapan dengan orang desa.

8. Ragam Seni

Biasa dikatakan bahwa warga Nias musikal, suka nyanyi. Alat-alat musik yang sempat dikenal: aramba, göndra, faritia, fondrahi, tutu, lagia, doli-doli (bue, hagita), sigu, tabalia (koko), tutuhao, famaerua, tamburu, duri mbewe dan duri ahe. Lagu traditional yang diiringi gerakan tari: hiwö, maluaya, maena, tari moyo dll. Menurut Bapak Ama Yana Zebua melodi musik Nias bervariasi: lento-amoroso, allegro-animoso/brioso dan moderato-maestoso. Agaknya tersirat dalam lagu “TANÖ NIHA”, lagu pujaan masyarakat Nias. Kalau ada pesta nikah atau pesta gereja atau pesta massa, biasa ada acara maena yang mengekspresikan  kekompakan, menandakan kemeriahan dan memperkokoh identitas.

9. Masalah Sosio-Ekonomi: yang Tumbuh dari Dalam dan Luar

1).  Penghasilan / pendapatan secara umum tidak tetap (tergantung musim dan cuaca). Biaya sekolah, pengobatan, tambahan gizi dan rekeasi hampir tidak ada. Karena itu penciptaan lahan pekerjaan sangat mendesak.

2).  Jumlah anggota dalam keluarga rata-rata banyak (pertambahan penduduk di atas 2% per tahun).

3).  Infrastruktur (jalan-jembatan) yang minim sekali sehingga hasil bumi dan barang kebutuhan kebanyakan masih dipundak. Sudah lumayan pelebaran jalan raya yang dihotmix, berkat bantuan kemanusiaan warga dunia yang tersalur lewat BRR NAD Aceh-Nias sesudah bencana gempa. Sepanjang masa akan disyukuri kabaharuan ini.

4).  Hampir tidak ada pabrik apalagi industri yang menyerap tenaga kerja. Harap dalam 30 tahun mendatang akan ada tambang minyak dan tambang batubara.

5).  Kendala bahasa (kurang terbiasa berbahasa Indonesia apalagi Bahasa Eropa modern) menghambat pergaulan dan komunikasi dengan orang luar.

6).  Gampang konflik yang menghambat terobosan usaha dan ragam kegiatan.

7).  Cukup berakar alam pikir / mentalitas: salio (yang cepat), sebua (yang besar-besar), saoha (yang gampang), soroma (yang nampak, kasat mata), saro (yang kokoh). Ini pertanda kurang sabaran dan tanpa mau banyak capek.

8).  Pemborosan dalam pesta-pesta keluarga khususnya dalam pesta nikah dengan biaya tinggi dan juga untuk pesta pemakaman orangtua. Mungkin warga Nias yang terbanyak makan daging babi dalam hitungan bulan. Asal ada sedikit pesta, potong babi besar/kecil, atau minimal beli daging kilo. Daging ayam atau ikan tidak terhitung makanan bernilai adat.

9).  Penyakit yang menahun: malaria, asma/tbc, kematian anak lahir, hypertensi. kolestrol karena terlalu kerap konsumsi daging babi. Penyakit stroke akhir-akhir ini merata di mana-mana juga.

10).Kelewat melindungi kaum perempuan sehingga mereka sulit bergerak atau berkreativitas.

11).Pujian warga terhadap pendatang dari suku lain atau pendatang dari luar negeri: I’ila dödöda (tau keinginan kita, mau memberi dan menolong), I’ila lida (tahu bahasa kita), I’ila hada khöda (paham  adat kita), fahuwu ia khöda (bersahabat dengan kita), I’a göda (dia ikut makan bersama kita).

Penutup

Bulan di langit memang selalu punya sisi gelapnya, tak ada gading yang utuh sempurna, tapi syukurlah matahari kan bersinar besok dan untuk seterusnya. Mudah-mudahan untaian goresan budaya ini walau hanya sekilas pandang memompakan semangat dan tekad baru untuk berbakti di tengah warga yang jauh dari pusat keramaian dan dari pusat dunia. Tenaga kependidikan, teristimewa yang di bidang pastoral-kateketik (kegembalaan dan pembinaan iman) perlu mendalami basic values dan local condition warga setempat. Mereka dituntut menyadari power yang sudah ada, meminimalisasi weekness dan memanfaatkan peluang. Begitu akan terbentang hamparan panen yang akan dituai. Nias yang baru dan maju akan bisa terwujud berkat budi, hati dan tangan yang dibaharui.

Karakteristik Masyarakat Nias (4)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.


6. Ideal dan Karakteristik fisik, Psikologis dan Etik Masyarakat

Ø   Yang didambakan orang Nias dalam hidupnya ada 4 hal utama. Pertama mongaötö (berketurunan), kedua moharato (berkepunyaan), ketiga molakhömi (terpandang, agung) dan keempat tobali bawa (pengambil keputusan). Dalam acara adat, dimohonkan berkat seputar keempat komponen ini. Terkait dengan itu ada sejumlah ucapan pujian yang menyenangkan pribadi berdarah Nias: sindruhu ono namau ndraugö, ono fangali zatua, ono sangila ngaroro, ono götö-götö (sungguh anak penerus / pemenuh adat kebiasaan leluhur); atau pujian kepada desa: banua sato niha, banua solahkömi, ngaötö duha, banua safönu ba hada (kampung besar, agung dan pewaris adat).

Ø   Yang dielakkan: perendahan dan dipermalukan (abölö sökhi mate morai na aila(artinya baikan mati daripada malu) dan juga kalau dijadikan fotu (contoh berkelakuan buruk).

Ø Ciri-ciri fisik: rambut lurus, hidung agak pesek, bibir tipis, tulang pipi tidak menonjol, mata bulat tapi sejumlah orang agak sipit, tinggi badan sedang, warna kulit cerah dan bersih, berbadan tipis (sedikit saja yang gemuk-gemuk), tergolong atletis.

Ø   Sifat-sifat yang dominan: periang, hidup-hidup, lincah, suka pesta, nyanyi dan menari, cerdas, gampang bergaul, hobbi olahraga (sangat populer berolahraga bola volley), energik dan sangat tinggi harga diri.

Ø         Sifat umum lain yang cepat terlihat dan mengganggu: pemalu/penyegan, emosional, gampang meledak sampai adu kuat, omong berliku-tidak langsung, pandai bohong, gampang bersyak-wasangka dan cemburu, sangat melekat pada tahyul, perlente, keras kepala, suka bersaing, gampangan omong, angkuh dan  kurang ulet/gigih.

Karakteristik Masyarakat Nias (3)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Peran Perempuan

Masyarakat Nias menganut patrilineal, maka kaum prialah pewaris keturunnan dan harta warisan. Namun toh nampak peran istimewa wanita dalam adat kehidupan. Dalam pesta pernikahan misalnya di bagian Utara, kaum wanita membentuk kelompok adat dengan saling mangowai dan mame afo (acara sekapur sirih) dengan berbalas pantun dalam bentuk hendri-hendri. Di tiap desa akan selalu ada ina mbanua dan ere huhuo, seorang ibu yang dituakan dan mahir sebagai juru pantun. Kepada mereka ini akan dihidangkan makanan adat yang bernilai tinggi. Dalam pembicaan atau acara adat kaum perempuan diperkenankan untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Pada acara pernikahan mempelai wanita di utara diberi gelar adat keagungan (barasi atau balaki atau sa’usö). Menurut adat kuno si mempelai wanita akan ditandu dan dibawa ke rumah memplai pria. Di Selatan kaum perempuan harus diberi hak utama memakai inti jalan bila berpapasan. Ada kebiasaan bagi petugas pastoral, bila umat berencana ingin membangun gedung gereja, maka diupayakan mendengarkan suara dan pendapat kaum ibu sebab mereka yang akan lebih memberi hati dan dengan demikian harapan besar bangunan suci akan terwujud.

Keagamaan

Dulunya para leluhur menganut aliran kepercayaan animis dengan menjadikan patung leluhur sebagai medium pembawa berkat dan penyembuhan. Zending Protestan memulai misi evangelisasi pada tahun 1865 dan misionaris Gereja Katolik tiba tahun 1939. Praktis sejak tahun 1940 seluruh wilayah Nias telah menjadi penganut agama monoteis. Secara statistik yang beragama Kristen (Protestan dan Katolik) mencapai 96% selebihnya Islam dan Budha/Kongfucu. Tak heran bahwa di seluruh Nias bertebaran gereja-gereja besar kecil dan sejumlah ada yang bercorak rumah adat Nias. Gedung gereja sarana perhimpunan massa seakan-akan seperti rumah adat leluhur tempat bertemu sesama warga.

Macam-macam begu

Sekalipun telah menganut kepercayaan kepada Allah Yang Mahaesa (hampir 150 tahun), namun masyarakat masih dihantui ketakutan kepada begu-begu seperti bekhu zimate (begu dari orang meninggal), bekhu lauru dan bekhu gafore (pengatur takaran), bekhu hogu geu (begu pepohonan) dan bekhu gurifö (begu ternak). Warga juga masih takut kepada bekhu nadaoya, bekhu narödanö (penyangga bumi), bekhu bauwadanö si penyebab gempa dan takut kepada roh-roh leluhur. Sedangkan afökha kekuatan jahat dianggap sangat mengganggu dan merusak kehidupan manusia dan harus dihadapi terus-menerus.

Konstruksi masing-masing pribadi manusia

Menurut konsep kuno manusia terdiri dari boto (tubuh), noso (roh), eheha (buih berbusa saat meninggal), lumö-lumö (bayangan sesudah mati), bekhu (roh dari alam kematian), dan mökö-mökö (sisa jasad dalam makam).

  1. 1. Cosmogony

Kami urutkan beberapa versi perihal terciptanya cosmos (alam semesta) khususnya pulau Nias sendiri.

A). Myte Asal Muasal Dunia

Ø     Menurut catatan misionaris Jerman Thomas, suku Nias beranggapan bahwa dunia ini terdiri dari 9 lapis, yang ada satu sesudah yang lain. Pada lapisan kedelapan (di atas bumi ini) ada negeri bernama Teteholi Ana’a (Chatelin: 1881). Sang penguasanya adalah Sirao. Karena kepadatan penduduk dan di sana-sini mulai longsor, maka Sirao memerintahkan Hadiduli dan kemudian Silauma untuk menciptakan globe baru dari anasir angin dan rumput dll. Maka terjadilah bumi, tempat hidup manusia. Pada dasar globe ini melingkar cincin besar yang berubah menjadi ular raksasa berkat mantra-mantra dari sang menantu Silusi atau Silewe Nazarata.

Ø     Menurut S.W. Mendröfa, pada awalnya hanya ada Sihai yang bermukim di Tanö Nihae-hae nangi (1981). Tempat itu selalu terang benderang walaupun tidak ada matahari atau bulan dan bintang-bintang. Tempat itu tidak mengenal kematian. Suatu saat Sihai mempertemukan angin yang berjenis-jenis maka muncullah butiran sebesar biji jagung. Dari itu dia ciptakan manusia bernama Sitahu. Butiran itu seterusnya diberi kepada Sitahu yang menciptakan globe tertingi yakni lapis yang kesembilan. Begitu seterusnya dari butiran yang sama dia ciptakan globe kedelapan, ketujuh hingga yang pertama. Globe di atas bumi ini dinamai Teteholi di mana terdapat gunung Hili Maruge dan sungai Idanö Zea dengan  9 anak sungainya. Segumpal tanah dari Teteholi diambil oleh sang Sihai dan diciptaknnya globe bumi ini melalui asistennya Silauma. Kemudian asisten Sitahu diminta mengambil butiran angin lagi dan menanam di bumi pohon feto (sejenis palma). Tumbuh tunas baru dan terjadilah nadaoya, sang roh kejahatan penyebab penyakit. Barulah kemudian dari butiran yang sama tercipta air, api, matahari, ikan, binatang-binatang, burung-burung, pepohonan, bijian, umbian dan barang tembaga.

  • Menurut S. Zebua, Lowalangi atau Soaya mempertemukan angin di tempat tersembunyi di mana belum ada pemukiman manusia. Dari pertemuan itu muncullah butiran yang bertambah besar dan menjadi sebidang tanah, di atasnya didirikan rumah sembahyang. Kemudian berkembang terus dan akhirnya tercipta bumi ini (Zebua: sine data).

B. Sejumlah Legenda Asal Muasal Manusia

Koleksi Chatelin

Sirao di Teteholi Ana’a (dunia atas) berputra 9 orang. Siapa bakal pewaris dunia atas, ditentukan lewat pelombaan ketangkasan memanjat sebilah lembing yang ditancapkan di halaman. Yang mampu memanjat hingga ke pucuk dan bertengger di atasnya seumpawa seekor ayam jago dialah sang pewaris. Yang berjaya adalah si bungsu Luomewona, maka para saudaranya harus turun ke bumi, yakni:

Ø Bauwadanö menjadi penghuni dasar bumi

Ø     Sorogae menjadi pilar  bumi

Ø     Tuha Sangaröfa  menghuni dasar laut

Ø     Hia diturunkan di Mazingö (Gomo) bersama rumah adat yang sungguh berat

Ø     Gözö turun ke Nias bagian utara bersama Sawae

Ø     Daeli ke Idanoi bersama batu pengasah dan daun ubi jalar

Ø     Hulu Sebua ke barat sungai Oyo

Ø     Börönadu ke selatan menjadi cikal bakal kaum imam (ere)

Versi S.W. Mendröfa

Ø     Hia diturunkan di Mazingö Gomo

Ø     Gözö ke utara

Ø     Hulu ke Laehuwa

Ø     Daeli ke Laraga

Ø     Cucu Luomewöna ke Daso Noyo

Koleksi Johannes Hämmerle

Ø         Salawa Holia di Teteholi Ana’a berputra 3 orang yakni Hia, Gözö dan Ho. Hia berputra 9 orang di antaranya bernama Zedawa. Zedawa berputra 6 orang di antaranya bernama Mölö. Mölö berputra 5 orang yakni: Fau, Tachi, Boto, Maha dan Hondrö, yang menjadi moyang warga Nias daerah Selatan dan sekitarnya (Hämmerle: 1986

Karakteristik Masyarakat Nias (2)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

  1. 1. Sejarah dan Asal-usul

Elio Modigliani, antropolog/etnolog Italia dalam bukunya Un Viaggio a Nias (1890) menghimpun sejumlah catatan sejarah tentang Nias yang tertulis dalam manuskript pedagang Persia seperti Sulayman (thn 852 AD), Adjaib (thn 900-950 AD), Edris (thn 1154) dan Rashid ad Din (thn 1310 AD). Dalam catatan mereka tercatat nama Nias terutama dalam tulisan Edris. Nias muncul pertama kali dalam peta pada tahun 1610. Kontak dagang terjadi dengan Belanda (thn 1669), dengan Inggris (thn 1750) dengan Perancis (1809). Besar kemungkinan Thomas Stamfod Raffles telah mengunjungi Nias pada tahun 1820, yang berjuang untuk melarang perdagangan budak yang ternyata tidak berkenan di hati pemerintah Inggris.

Perihal asal-usul

  • Modigliani berkesimpulan bahwa etnis Nias berasal dari pantai Malabar di India Selatan (suku Koraver = Kurumber = Korawa) dengan ciri-ciri menanam padi, berburu, memahat kayu dan berperawakan Malesoid.

Ø   Kleiweg de Zwaan, antropolog Belanda melalui investigasi fisiognomik (1914) berpendapat bahwa etnis Nias tidaklah homogen tetapi terdiri unsur-unsur etnik yang bervarian. Ia membedakan utara dan selatan dan kombinasi lain. Dengan mengukur tinggi badan dari 1295 orang maka rata-rata tinggi badan 154.73 cm.  Dengan meneliti tengkorak-tengkorak beliau menyimpulkan bahwa etnis Nias termasuk Proto-Melayu.

Ø   F.M. Schnitger (1938) dengan meneliti batu-batu megalit dan arsitektur  menyimpulkan bahwa  etnis Nias berasal dari Nagas di Assam (lembah Irrawady). Menurut beliau orang-orang Nagas, Nias, Dayak, Philippinos dan Formosa adalah satu rumpun besar. Tentang batu-batu tugu di Nias Schnitger berkesimpulan “the megalith culture of Nias, however, came from Burma”. Agaknya leluhur bertolak dari India Selatan, baru menetap di Birma dan kemudian mencari pemukiman baru lagi. Sejumlah tiba dan menghuni pulau Nias.

  1. 2. Corak Hidup Masyarakat

Masyarakat Nias hidup dari bercocok tanam dan beternak. Jenis tanaman umum: padi, ubi, pisang, talas, sagu dan jagung dan ragam jenis sayuran seperti bayam, kangkung, kecipir dan kacang panjang. Hasil bumi utama karet, kopra, coklat, pisang, pinang, pala dan nilam. Ternak kesayangan utama adalah babi, ayam dan sejumlah kecil yang beternak kambing dan lembu. Hidangan adat adalah daging babi yang dimasak dengan merebus dan dihidangkan keseluruhan bagian (lambang kesempurnaan, ketulusan dan keutuhan). Mereka yang sekitar pantai hidup dari hasil tangkapan ikan dalam jumlah kecil. Buah-buahan yang populer: durian, langsat, manggis, rambutan, kuaeni, mangga, marpala dan kedondong. Durian Nias disanjung karna lebih manis dan lezat. Yang lebih top adalah “duria balaki”, dagingnya kuning dan tebal, berbiji kecil. Minuman lokal beralkol adalah tuak dari pohon kelapa dan aren. Agak khas tuak Gunngsitoli berwarna kemerahan karena raru dari kulit batang durian. Bila tuak mentah dididihkan maka akan dihasilkan arak yang dinamai tuo nifarö yang bisa membuat seseorang sesaat high. Jenis kayu-kayuan lumayan banyak yang dipakai untuk kebutuhan papan. Orang Nias berupaya sangat agar rumahnya dibangun oleh tukang yang pandai. Tentang kemahiran bertukang kayu, W. Marsden menulis (1811): “This people are remarkable for their docility and expertness in handycraft work, and become excellent house-carpenters and joiners …” Aktivitas lain adalah pandai emas, pandai besi, membuat anyaman dan berburu. Dalam bercocok tanam, membangun rumah dan pekerjaan lain, warga Nias sangat peduli pada sejumlah tabu pertanda sifat takluk pada tahyul-tahyul. Misalnya, mendirikan tiang-tiang rumah haruslah di pagi subuh. Peralatan pertanian sungguh sangat sederhana, bekerja lebih banyak dengan parang dan kampak. Mencangkul dan membajak kurang dikenal. Corak hidup ini menyebabkan masyarakat sangat melekat pada bidang tanah warisannya.

Magistra, Jurnal Pendidikan Pastoral-Kateketik, Tahun I, No.I, Juni 2009
  1. 3. Organisasi Sosio-politik dan Relasi Sosial

Ø   Masyarakat Nias tidak mengenal raja atau sultan dan tidak mengenal kerajaan. Hidup warga pada dasarnya diatur dalam lingkup banua (kampung/desa) dan dalam lingkup öri (federasi kampung). Adat-istiadat dalam hal pesta dan acara kematian telah ditata dalam hukum fondrakö=famadaya saembu antar beberapa öri (negeri). Menurut S.W. Mendröfa, fondrakö memuat norma untuk mencapai kepenuhan hidup yang terdiri 5 hal pokok (1981): amonita (terkait dengan bakti sembah dan pantang), fokhö fo’ölö (terkait dengan harta milik), hao-hao (perilaku yang terpuji), fowanua (cara berkomunitas dalam kampung) dan böwö masi-masi (terkait dengan anak dan orang berkesusahan). Sesudah kemerdekaan mulailah diterapkan sistim pemerintahan Negara Republik Indonesia yang kita kenal sekarang walikota, bupati, camat, kepala desa, sekretaris desa lengkap dengan badan yudikatip dan legislatip. Kalau dulunya yang dikenal di Utara adalah tuhenöri dan salawa bersama satua mbanua, kalau di Selatan dikenal istilah tuhenöri, siulu dan siila mbanua. Jabatan ini diperoleh karena keturunan dan prestasi adat.

Ø   Kesatuan terkecil warga adalah rumahtangga (ngambatö), yang membentuk keluarga inti (sifatalifusö), dan menghimpun diri menjadi (banua) dan federasi banua adalah negeri (öri). Masing-masing punya marga (sampai 300 marga) tapi marga kurang berperan dibanding dengan banua. Di antara se marga boleh menikah asal tidak dekat hubungan darah. Dalam berelasi, saat ketemu satu sama lain saling menyapa (ya’ahowu atau yaugö a) kemudian berjabat tangan (fatabe) dan bertukar sirih atau rokok (yae nafo, yae rokoda). Orang yang sudah berkeluarga diberi nama panggilan, misalnya Ama Zaroli atau Ina Roi. Sapaan ramah dan lembut antar satu sama lain terungkap dengan sapaan Bapak Ama Zaroli atau ibu Ina Roi. Cara ini termasuk sikap hormat atau fasumangeta.

Ø   Rumah adat Nias terbagi dalam 3 type: utara (oval), tengah (segiempat) dan selatan (segi empat yang berderet-deret). Tiang rumah relatip tinggi-tinggi terdiri dari pilar vertikal dan horizontal. Lantai luas selalu punya bangku yang lengket ke dinding dan atap menjulang tinggi ke atas beratap rumbia berlapis dua. Banyak penelitian mencengangkan tentang konstruksi rumah adat Nias baik dari keharmonisan, fungsi dan hygienisnya. Tapi tentu juga tergambarkan konsep mereka tentang dunia: bawah, tengah dan dunia atas yang sangat agung (Viaro: 1984). Rumusan Viaro: “All of them have a vertical tri-partition: infrastucture, domestic nucleus and superstructure.” Karna curah hujan banyak dan merajanya malaria serta kelembaban yang tinggi maka rumah kediaman diberdirikan di atas bukit atau di tempat ketinggian. Atap tinggi dan tajam agar air hujan turun mengalir dan sekurang-kurang punya 3 ventilasi di atap (bisa diturun-naikkan) agar cahaya matahari masuk ke seluruh sudut rumah. Lantai dan dinding rumah dari kayu pilihan yang ditata dengan rapi. Rumah-rumah adat Nias sangat cocok sebagai tempat pertemuan massa dan persidangan desa. Tiang-tiangnya sangat cocok menyangga beratnya rumah dan rupanya sesuai sekali untuk anti kegempaan. Pertingkatan dalam masyarakat memang terasa ada terutama di selatan antara keluarga siulu (bangsawan) dan sato (orang kebanyakan).

Karakteristik Masyarakat Nias (1)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Hantaran

Topik ini ramuan dari ragam tulisan, didukung juga oleh pengalaman dan pengamatan pibadi. Diperkaya dengan informasi-informasi lewat perjumpaan dengan banyak pihak selagi menjalankan tugas pastoral. Buah pemikiran ini tidak berdasar pada kajian yang spesifik ilmiah antropologis-etnologis, sehingga sungguh terbuka bagi pengembangan dan penafsiran yang mungkin berbeda. (Artikel ini penah dipresentasikan  dalam Rafe Hada II UNORC {United Nations Office of the Recovery Coordinator} Jumat tgl 30 Nopember 2007 di Museum Pusaka Nias Gunungsitoli).

Faktor-Faktor Pembentuk Budaya, Nilai-Nilai
dan Karakteristik Masyarakat
Nias

  1. 1. Letak Geografis Pulau Nias

Pulau Nias dan kepulauan sekitarnya terpisah dari daratan besar Pulau Sumatera berjarak sekitar 80 mil atau 120 km. Terletak di pantai barat Sumatera. Panjangnya k.l. 140 km dan lebar 40 km. Berstruktur pegunungan yang sambung-menyambung dengan aliran-aliran sungai besar-kecil yang sangat banyak. Curah hujan sangat tinggi mencapai 17 hari hujan dalam sebulan akibatnya juga kelembaban udara tinggi. Letak geografis ini menjadikan Nias ujung terjauh di pantai barat, dilihat dari pusat pemerintahan Negara Republik Indonesia di Jakarta dan dari ibukota Provinsi Sumatera Utara di Medan. Letak geografis inilah faktor penyebab masayarakat Nias sering luput dari perhatian pusat dan dari pemerintah propinsi Sumatra Utara. Untung saja ada hombo batu (atraksi loncat batu) dan lomba bersilancar, dan untung ada Museum Pusaka Nias, yang punya andil besar mempopulerkan Nias ke manca negara. Realisasi ketiga daerah otonom baru (Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias Utara dan Kabupaten Nias Barat, Mei 2009) membuka peluang percepatan pertumbuhan transportasi, kegiatan ekonomi rakyat dan pelayanan publik. Pantas disyukuri pengertian dan dukungan pemerintah pusat dan usaha keras Bupati kabupaten induk.

Bencana gempa (28 Maret 2005 dengan kekuatan 8.7 skala Richter) membuat Nias menjadi berita dunia hingga di bangku kuliah di Eckersly School Oxford, Inggris. Korban nyawa 846 orang dan hampir dua-pertiga gedung sekolah / kantor dan rumah penduduk begitu juga jalan dan jembatan anjlok dan ambruk.

Karena kebanyakan wilayahnya bergunung-gunung sungguh sangat terbatas jumlah jalan raya dan sungguh sulit transportasi. Banyak jalan sempit dan berliku-liku. Yang terbilang daerah datar hanyalah sekitar daerah pantai yang tidak seberapa luas. Faktor ini penyebab pulau Nias agak sulit dicapai dari pebagai penjuru, minim kontak dengan dunia luar yang  menyebabkan masyarakat agak tertutup dan tebilang tertinggal dalam banyak hal. Biaya transportasi dan komunikasi di kelima wilayah kabupaten/kota (Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat dan Kota Gunungsitoli) sungguh sangat mahal.

Kata Sambutan Ketua STP Dian Mandala

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

Sebagai Perguruan Tinggi yang otonom, SEKOLAH TINGGI PASTORAL (STP) DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI, KEUSKUPAN SIBOLGA disahkan pada tgl 13 Agustus 2008. Momentum itu telah dimeriahkan dan disyukuri dalam Perayaan Ekaristi Mahakudus pada tgl 26 bulan yang sama. Proses kelahirannya berjalan sangat mulus.

Selaku unit pendidikan tinggi dengan jenjang Strata 1 (S-1), maka Dian Mandala tanpa menunda ingin menunjukkan jati dirinya dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dalam rangka perwujudan diri diterbitkanlah Jurnal Pendidikan Pastoral-Kateketik. Diberi nama “MAGISTRA.”  Kata Latin magister/magistra berarti guru. Dalam hati terkandung harapan bahwa sekolah keagamaan STP Dian Mandala ini akan sungguh dialami sebagai guru yang menggembirakan dan menakjubkan. Seluruh perangkatnya baik visi-misinya, tata pamong, sistim pengayoman dan pengelolaannya, fasilitas, kurikulum, sistim informasi, suasana akademiknya, dukungan dari Pemda Nias dan Ditjen Bimas Katolik Depag RI, dan terlebih dosen-dosennya berdaya “mengkristalkan kegembiraan dalam belajar dan kebersamaan” (Educare, Mei 2009, hlm. 49).

Magistra ini akan terbit 2 kali setahun. Sebagai jurnal pendidikan pastoral-kateketik maka muatannya berkisar pada hal-hal ilahi, manusiawi dan kegerejaan. Pastoral punya karakter penggembalaan dan kateketik berfokus pada pewartaan yang bergaung dalam relung jiwa setiap insan ciptaan Sang Ilahi. Melalui aktivitas ini Gereja semakin berakar dan berkembang dan semakin dipersatukan dengan Kristus (LG art. 3).

Kita mohonkan curahan rahmat untuk segenap pengasuh jurnal ini sehingga tidak akan henti menyajikan dan mencerahi kita dengan untaian ide dan pandangan, yang mengingatkan kita akan Allah, diri manusia dan dunia sekitar kita. Sebab di dunia ini kita terpanggil memelihara martabat kita sebagai anak-anak terang (Luk.16:8).

Untuk melukiskan peranserta masing-masing dalam menyangga suatu karya agung, leluhur kita di Nias telah merumuskan kata-kata mutiara unik ini untuk kita: “Andrõ wa so gehomo, andrõ wa so ndriwa, tundrehera nawõra, fa lõ a’ozu aso’a.” Berkat tiang-tiang vertikal dan horizontal sebagai penyangganya, maka rumah adat tidak akan pernah rebah. Penyangga utama Magistra adalah kita semua murid Kristus, Sang Guru Kehidupan umat manusia.

(Pastor Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.)

Pembiayaan Selama Lima Tahun (2008-2013)

July 7, 2009 by  
Filed under Mahasiswa, Mahasiswa Baru, News

1) Dana investasi untuk tahun 2008-2013: untuk rehap, peralatan baru, studi lanjut dosen, perjalanan dinas, pengembangan pendidikan disediakan sebesar Rp 1.050.000.000 (satu miliar limapuluh juta rupiah).

2)   Biaya penyelenggaraan: gaji, honor, ATK, perpustakaan, majalah dan koran, telpon, listrik, pos, tehnisi, kebutuhan rutin, seminar, studi banding, penataran, rapat dll. diprediksi Rp 1.200.000.000 (satu miliar duaratus juta rupiah).

3)   Proyeksi aliran dana (2008-2013):

- Uang kuliah mahasiswa = Rp. 600.000.000,-

- Sumbangan Pemda Nias = Rp. 500.000.000,- (5xRp 100 juta)

- Sumbangan Ditjen Bimas Katolik Depag RI = Rp. 1.750.000.000,- (5xRp 350 juta)

- Subsidi Keuskupan = Rp. 400.000.000,-

Perihal subsidi keuskupan, kami para fungsionaris sudah bertekad untuk meminta semakin sedikit. Insya Allah Bapak Uskup, sesudah 5 tahun subsidi tidak kami mohon lagi mengingat kebutuhan-kebutuhan pendanaan untuk 21 paroki tidak pernah tetap ada habisnya sepanjang tahun.

KESIMPULAN

Mendesaknya kebutuhan besar akan tenaga guru agama Katolik dan tenaga pastoral lainnya, tersedianya fasilitas yang memenuhi persyaratan yang akademis, sehat dan lengkap, tersedianya tenaga kependidikan dan tenaga administrasi yang tetap dikembangkan, adanya dukungan positip dan menggembirakan dari banyak pihak, adanya mahasiswa yang merasa terpanggil menjadi pelayan gerejani, adanya kemampuan finansial untuk pengelolaan yang baik dan kontinu maka dapat disimpulkan:

1) Sangat layak didirikan STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga pada tahun ajaran 2008/2009 ini.

2)   Program yang diselenggerakan adalah program S1.

3)   Ijin yang diberi hendaknya meliputi: Program S1 reguler, program KKK (Kuliah Kelas Khusus) dan program KJJ (Kuliah Kelas Jauh). Ketiga program ini akan tepat menjawab kebutuhan masyarakat banyak khususnya sekolah-sekolah, dan selain itu tenaga pendidik pun akan berijazah S1 (Sarjana Agama).

Di antara kami dosen sempat memang muncul pertanyaan: Apa karakter/keunggulan STP Dian Mandala nantinya? Kami masih bermenung, mungkin di bidang kerasulan, mungkin di bidang penerbitan buku-buku bina iman, mungkin dengan menggalakkan Komunitas Basis Gerejani atau akan unggul di bidang analisis sosial.

Mari kita nantikan dan kita sambut Keputusan Dirjen Bimas Katolik Depag RI Bpk. Drs. Stef Agus. Beliau membawa kado yang amat berharga bagi Keuskupan Sibolga yang dengan sepenuh hati mendukung pemerintah dalam hal pendidikan yang berkwalitas demi kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara Republik Indoesia. Motto STP kita: “STP DIAN MANDALA BERCAHAYALAH” (Mt 5:16).

Akhir kata kami kutip seruan Pemazmur (Mzm 33:20-21): “Jika kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong kita dan perisai kita. Ya, karena Dia hati kita bersukacita sebab kepada Nama-Nya yang kudus kita percaya.”

Sekian dan terimakasih, P. Marinus Telaumbanua OFMCap. (Selasa, 14 Oktober 2008)

Prospek Minat Mahasiswa

July 7, 2009 by  
Filed under Mahasiswa

Jumlah mahasiswa bervariasi tergantung pada minat dan bakat, kemampuan finansial, dukungan dari pelbagai pihak dan penempatan bagi mereka yang telah tamat. Jumlah mahasiswa baru dalam 5 tahun terakhir:

Tahun                       Mahasiswa Baru

2003                          64

2004                          22

2005                          30

2006                          44

2007                          58

2008                          67

Dapat diperkirakan bahwa setiap tahun akan mendaftar sekitar 30 orang mahasiswa baru dari seluruh wilayah Keuskupan Sibolga.

Keadaan Aktual Guru Agama Katolik di Dekanat Nias

July 7, 2009 by  
Filed under Mahasiswa, Mahasiswa Baru, News

Ø Kabupaten Nias (data tahun 2007)

No.

Jenis Sekolah

Jlh Sekolah

Jlh Guru Agama Katolik yang ada

Jlh Kebutuhan Guru Agama Katolik

Kekurangan

Guru Agama

1. SD 444 Unit 98 Orang 288 Orang 190
2. SMP 103 Unit 11 Orang 51 Orang 40
3. SMA 59 Unit 2 Orang 30 Orang 28
4. Perguruan Tinggi 2 Unit - Orang 2 Orang 2
111 orang 371 Orang 260

Ø Kabupaten Nias Selatan (data tahun 2008)

No.

Jenis Sekolah

Jumlah Sekolah

Jumlah Guru Agama Katolik yang ada

Jumlah Kebutuhan Guru Agama Katolik

Kekurangan

Guru Agama

1. SD 298 Unit 37 Orang 261 Orang 224
2. SMP 68 Unit 9 Orang 59 Orang 50
3. SMA 29 Unit 2 Orang 27 Orang 25
4. Perguruan Tinggi 1 Unit - Orang 1 Orang 1
48 orang 348 Orang 300

Total kekurangan Guru Agama Katolik di Dekanat Nias 260 + 300 = 560 orang.

Kekurangan Guru Agama di Dekanat Tapanuli bisa mencapai 130 orang (data akurat masih dalam penantian). Jadi di seluruh Keuskupan Sibolga dinantikan saat ini sebanyak 630 orang Guru Agama Katolik.

Bidang Ilmu Yang Diselenggarakan

July 7, 2009 by  
Filed under Bidang Ilmu

Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala menyelenggarakan pendidikan Jurusan Pastoral Kateketik, Program Studi Ilmu Pastoral Kateketik, dengan jenjang pendidikan Strata Satu (Sarjana Agama).

Sumber Dana Kegiatan

July 7, 2009 by  
Filed under Mahasiswa, Mahasiswa Baru, News

Keuskupan Sibolga selaku pemilik dan pendiri Sekolah Tinggi Pastoral (STP) bertindak sebagai penyandang dana utama dan pertama demi keberadaan dan kelangsungan hidup STP Dian Madala. Secara rinci kami urutkan sumber dana.

1)   Keuskupan Sibolga menyediakan tanah yang sekarang dijadikan lokasi baru Kampus Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga seluas = 2.500m.2

2)   Dana operasional Sekolah Tinggi Pastoral (STP) ini, berkisar Rp 13.000.000/bulan sepenuhnya menjadi tugas dan tanggung jawab Keuskupan Sibolga melalui Dewan Pembina STP Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga.

3)   Uang kuliah mahasiswa setiap semester turut menjadi dana pengelolaan pendidikan.

4)   Dana bantuan diterima dari Pemerintah Daerah Kabupaten Nias setiap tahun, yang besarnya tergantung pada kemurahan hati Pemda Nias dan kebaikan Anggota-anggota Legislatip.

5) Dana bantuan pengelolaan pendidikan diterima juga dari Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia setiap tahun.

Dosen

July 7, 2009 by  
Filed under Magistra

Ketenagaan DOSEN

TAHUN

Dosen Tetap

Jumlah

Dosen Tidak Tetap

Jumlah

Total

S1

S2

S3

S1

S2

S3

2008

5

1

1

7

14

3

-

17

24

2009

5

1

1

7

14

3

-

17

24

2010

4

3

1

8

13

5

-

18

24

2011

4

3

1

8

13

5

-

18

26

2012

3

4

1

8

13

5

-

18

26

2013

3

5

1

9

13

5

-

18

27

TENAGA ADMINISTRASI

Tahun

Pegawai

Jumlah

Tetap

Tidak Tetap

2008

1

2

3

2009

2

3

5

2010

3

3

6

2011

3

4

7

2012

3

4

7

2013

3

4

7

Berita Kampus ..

March 30, 2009 by  
Filed under News

1. SEMINAR NASIONAL STP DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI

Suatu kebanggaan bagi Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Dian Mandala Gunungsitoli dapat mengadakan Seminar Nasional  dengan tema : “Pendidikan Yang Holistik” pada tanggal 30 Maret 2009 di Aula Paroki Santa Maria Bunda Para Bangsa Gunungsitoli. Seminar Nasional ini dihadiri oleh 650 orang peserta, yang terdiri: undangan istimewa 135 orang, peserta dari luar 290 orang, dan mahasiswa STP 175 orang. Ini berarti bahwa antusias orang dalam mengikuti seminar ini sangat besar, terutama para guru-guru yang mengajar di sekolah.

Seminar Nasional ini dibuka secara resmi oleh Bapak Bupati Nias Binahati B. Baeha, SH dan sekaligus memberikan arahan serta bimbingan kepada para peserta yang hadir. Dalam arahan dan bimbingannya, beliau memberikan dukungan atas kegiatan ini dan menghimbau agar seluruh peserta mengikuti Seminar ini dengan serius. Tak lupa, beliau juga menyampaikan terimakasih banyak kepada kedua nara sumber dari Jakarta, yang telah meluangkan waktu dan tenaga datang ke Nias untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman lewat Seminar ini.

Setelah arahan dan bimbingan dari Bupati Nias, diteruskan dengan kegiatan inti Seminar. Nara sumber I, Bapak Fidelis Elisati Waruwu, M.Sc.Ed memberikan materi tentang : “Pendidikan Yang Holistik: Menyentuh Aspek Spiritual, Psikis, Sosial dan Fisik Setiap Pribadi Manusia”. Nara sumber II, Bapak Antonius Atosökhi Gea, S.Th, MM memberikan materi tentang: “Sebuah Usaha Penggalian dan Pengembangan Berbasiskan Budaya Nias”. Dalam Seminar ini juga, Panitia menghadirkan nara sumber penunjang yaitu: Bapak Dr. Sadieli Telaumbanua, M.Pd sebagai perangkum, dan juga memberikan materi tentang: “Pendidikan, Karakter dan Budaya Lisan Nias”. Makalah-makalah dari nara sumber ini, akan dimuat dalam Majalah “MAGISTRA” (Jurnal Pendidikan Pastoral STP Dian Mandala).

Akhirnya, Deo Gratia (Syukur kepada Tuhan), karena semua kegiatan ini dapat terlaksana dengan sukses. Ketua Panitia Bapak Yohanes Bohalima, S.Ag dan seluruh Panitia lainnya mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak atas kerjasamanya, sehinggga acara ini dapat terlaksana dengan baik.

2. UJIAN SKRIPSI  DAN  UJIAN NEGARA S-1

Mahasiswa reguler STP-IPI Malang, Filial STP Dian Mandala Gunungsitoli  Tahun 2009 yang seyogianya diadakan tanggal 20-21 April diundur menjadi tanggal 4-5 Mei 2009. Peserta Ujian tahun ini berjumlah … orang. Sementara Ujian Negara dilaksanakan pada tanggal 18- 20 Mei 2009.

3.   BERITA DUKA CITA

TURUT  BERDUKA CITA

Segenap keluarga besar STP Dian Mandala Gunungsitoli, mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya:

Orangtua (Ibunda) tercinta dari Heppy Simanullang (Mhs Tk. IV)

pada tanggal 14 April 2009, dan jenazahnya dikebumikan di Pangaribuan.

Orangtua (Ayahanda) tercinta  dari Agus Laowö (Mhs. Tk. I)

pada tanggal 1 Mei 2009, dan dimakamkan di Pulau Tello.

“Semoga arwah orangtua kami ini, diterima di sisi Allah yang Maha Kuasa,

dan mendapat kebahagiaan kekal di surga, serta keluarga yang ditinggalkan

mendapat penghiburan dan diberi ketabahan”.

INFO LAIN

Tahbisan Imam Baru di Keuskupan Sibolga

Keuskupan Sibolga kembali kedatangan Imam Baru. Kamis, 23 April 2009, Uskup Keuskupan Sibolga Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap telah mantahbiskan 8 Diakon/Frater  menjadi Pastor di Gereja Kristus Raja Semesta Alam< Kecamatan Sarudik Kabupaten Tapanuli Tengah. Kedelapan Imam Baru tersebut adalah:

  1. P. Emanuel Mole Wae, Pr
  2. P. Rudolfus Supratman, Pr
  3. P. Eduard Aryanto Talu Oly,Pr
  4. P. Yusuf Silaban, OFMCap
  5. P. Martinus Situmorang, OFMCap
  6. P. Pius Ndruru, OFMCap
  7. P. Dominikus Sibagariang,OFMCap
  8. P. Kamilus Duha, OFMCAp

Semoga menjadi Imam yang baik, dan dapat menggembalakan  umat di Keuskupan Sibolga dengan baik dan penuh semangat sesuai dengan amanat Yesus Kristus. Profisiat.

Perekaman Lagu-Lagu “Laudate”

Dalam rangka merayakan Yubileum 50 Tahun Prefektur Apostolik/ Keuskupan Sibolga, sedang diadakan pelatihan dan perekaman lagu-lagu LAUDATE (lagu-lagu liturgis dalam bahasa Nias) dan PSALLITE (buku mazmur tanggapan dalam bahasa Nias). Diharapkan program ini dapat membantu umat kita seluruhnya untuk dapat menyanyikan Laudate dan Psallite secara benar. Rekaman tersebut ditargetkan akan selesai sebelum penutupan perayaan Jubileum, sehingga umat di stasi-stasi dapat memperolehnya. Kegiatan ini dikoordinir oleh P.Bernard Telaumbanua, OFMCap dan P.Hadrian Hess, OFMCap dan Timnya.

Festival “SEKAMI” Dekanat Nias-Keuskupan Sibolga 2009

”SEKAMI” (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner) bertujuan untuk menyemangati dan menumbuhkembangkan iman anak dan remaja dengan menghimpun mereka dalam keterlibatan di berbagai kegiatan-kegiatan, baik yang bersifat menyegarkan jiwa (rohani) maupun menyegarkan raga (fisik).

Pada tanggal 8-9 Mei 2009, Dekanat Nias – Keuskupan Sibolga mengadakan Festival “SEKAMI” di Aula Paroki Santa Maria Bunda Para Bangsa Gunungsitoli. Ada beberapa kegiatan yang diperlombakan, yaitu :

  • Koor “SEKAMI” (Mars Dan Hymne “SEKAMI”)
  • Senam ADITUKA
  • Kotbah Mini Anak
  • Kuis Seputar ”SEKAMI”

Mimbar Agama Katolik di RRI Gunungsitoli

Mimbar Agama Katolik di RRI Gunungsitoli diadakan 2 (dua) kali dalam seminggu, yaitu hari Rabu dan Jumat. Berikut tanggal dan petugas yang telah dan akan bertugas untuk mengisi acara ini :

TANGGAL

PETUGAS

TEMA RENUNGAN

1 Maret 2009

Laverna

-

8 Maret 2009

P. Marinus Tel.

Sejarah Gereja Katolik

Keuskupan Sibolga

15 Maret 2009

STP Dian Mandala

-

22 Maret 2009

Bimas Katolik Kab. Nias

-

29 Maret 2009

Komkat Keuskupan Sibolga

-

5 April 2009

LAverna

-

12 April 2009

Bimas Katolik Kab. Nias

-

19 April 2009

P. Marinus Tel.

Yubileum dan Sinode

26 April 2009

Dekanus Dekanat Nias

-

3 Mei 2009

STP Dian MAndala

Pendidikan

10 Mei 2009

Laverna

Maria

17 Mei 2009

PSE Keuskupan Sibolga

-

24 Mei 2009

Komsos Keuskupan Sibolga

-

31 Mei 2009

Bimas Katolik Kab. Nias

-

7 Juni 2009

-

Biarawan/biarawati

14 Juni 2009

Laverna

-

21 Juni 2009

STP Dian Mandala

Orang Kudus

28 Juni 2009

Bimas Katolik Kab. Nias

-