Kompetensi Lulusan Guru Agama Katolik Dalam Pandangan Gereja Dewasa Ini

September 16, 2011 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra, News

(Oleh Dr. M. Purwatma)

Ketika menerima surat kepercayaan dari Duta Besar Equador untuk Tahta Suci Vatikan tanggal 22 Oktober 2010 (Zenith 22 Oktober 2010, Paus Benedictus XVI menekankan bahwa pendidikan lebih dari sekedar menanamkan pengetahuan, tetapi menanamkan cinta kebenaran. Lebih lanjut Paus menegaskan agar negara menjamin pengajaran agama di sekolah, karena Paus meyakini iman Katolik dapat memberi sumbangan besar dalam memajukan martabat pribadi manusia dan pengembangan masyarakat. Meskipun ada perbedaan situasi antara Equador dan Indonesia, namun pesan Paus ini menantang kita semua untuk meninjau apa yang mau dicapai melalui pendidikan agama baik di sekolah maupun di komunitas-komunitas basis, sehingga dapat menjadi acuan bagi perumusan kompetensi guru agama katolik lulusan Perguruan Tinggi Swasta Agama Katolik. Read more

Pembentukan Karakter Melalui Pendidikan

September 16, 2011 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra

 (Oleh: Dalifati Ziliwu)

Pendahuluan

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang bercita-cita untuk menjadi satu Negara besar, kuat, disegani dan dihormati keberadaanya di tengah-tengah bangsa-bangsa lain di dunia. Setelah kemerdekaan pencapaian cita-cita ini belum menunjukkan tanda-tanda menggembirakan. Optimisme mencapai cita-cita itu terus-menerus diharapkan, namun ditemui berbagai  macam tantangan. Semangat nasionalisme dalam menegakkan dan membangun  NKRI seakan-akan tidak dapat diimbangi karena begitu banyaknya  persoalan-persoalan yang harus diselesaikan bangsa ini. Mencuaknya beberapa hal yang bergeser dari nilai dan norma yang harus dijunjung tinggi, penegakan hukum yang belum terwujud, dampak demokrasi yang tidak diinginkan, karakter manusia yang semakin merosot. Ini semua merupakan dampak sikap orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak ada rasa memiliki akan bangsa yang hanya bersikap mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

UU No.20 tahun 2003 Sisdiknas, menegaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan iman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesem-purnaan hidup anak-anak kita. Pendidikan karakter merupakan bagian integral yang sangat penting dari pendidikan kita

Upaya pemerintah melalui Permendiknas No.23 tahun 2006, mengamanatkan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berperilaku sesuai Pasal 3 UU No.20 Tahun 2003 Tentang pendidikan Nasional. Pada SKL SMA/MA mengupayakan peserta didik dapat memiliki : (1) Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja; (2) Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya; (3) Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya; (4) Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial; (5) Menghargai keberagaman agama, bangsa,  suku, ras, dan golongan sosial-ekonomi dalam lingkup global; (6) Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif; (7) Menunjukkan  kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan; (8) Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri; (9) Menunjukkan sikap kompetitif & sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik; (10) Menunjukkan kemampuan  menganalisis dan memecahkan masalah kompleks; (11) Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial; (12) Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia; (13) Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya; (14) Mengapresiasi karya seni dan budaya; (15) Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok; (16) Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan; (17)  Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun; (18) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; (19)  Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain; (20)  Menunjukkan ketrampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis; (21)  Menunjukkan ketrampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris; (22) Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi. Dari beberapa poin diatas ada 11 dari 22 Kompetensi Sangat  dekat dengan pembentukan  karakter seorang peserta didik.

Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa emas namun kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Thomas Lickona (seorang profesor pendidikan dari Cortland University) dalam quari (2010:8) mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda jaman yang kini terjadi, tetapi harus diwaspadai karena dapat membawa bangsa menuju jurang kehancuran. 10 tanda jaman itu adalah: (1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja/masyarakat; (2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk/tidak baku; (3) Pengaruh peer-group (geng) dalam tindak kekerasan, menguat; 4) Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba;   alkohol dan seks bebas; (5) Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; (6) Menurunnya etos kerja; (7) Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; (8) Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok; (9) Membudayanya kebohongan/ketidakjujuran; dan (10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian  antarsesama.

Hakekat Karakter

 

Menurut Simon Philips  dalam quari (2010: 10), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema dalam quari (2010:12) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Sementara Winnie dalam quari memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.

Dari pendapat di atas dipahami bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi, ‘orang berkarakter’ adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Dengan demikian, pendidikan membangun karakter, secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau baik, bukan yang negatif atau buruk. Hal ini didukung oleh Peterson dan Seligman dalam quari (2010: 16) yang mengaitkan secara langsung ’character strength’ dengan kebajikan. Character strength dipandang sebagai unsur-unsur psikologis yang membangun kebajikan (virtues). Salah satu kriteria utama dari ‘character strength’ adalah bahwa karakter tersebut berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya potensi dan cita-cita seseorang dalam membangun kehidupan yang baik, yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan bangsanya.

Pendidikan Karekter

Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturisasi dan sosialisasi). Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itu mencakup sekurang-kurangnya tiga hal paling mendasar, yaitu: (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan ketrampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.

Ki Hadjar Dewantara dari Taman Siswa di Yogyakarta bulan Oktober 1949 pernah berkata bahwa “Hidup haruslah diarahkan pada kemajuan, keberadaban, budaya, dan persatuan”. Sedangkan menurut Prof. Wuryadi, manusia pada dasarnya baik secara individu dan kelompok, memiliki apa yang jadi penentu watak dan karakternya yaitu dasar dan ajar. Dasar dapat dilihat sebagai apa yang disebut modal biologis (genetik) atau hasil pengalaman yang sudah dimiliki (teori konstruktivisme), sedangkan ajar adalah kondisi yang sifatnya diperoleh dari rangkaian pendidikan atau perubahan yang direncanakan atau diprogram.

Urgensi pengembangan karakter dalam dunia pendidikan dirasa sangat berpengaruh dan penting dalam membentuk kepribadian dan watak para pemimpin masa depan bangsa karena “Selama dimensi karakter tidak menjadi bagian dari kriteria keberhasilan dalam pendidikan, selama itu pula pendidikan tidak akan berkontribusi banyak dalam pembangunan karakter” (I Gedhe Raka), dan ”Dalam kenyataanya, pendidik berkarakterlah yang menghasilkan SDM handal dan memiliki jati diri. Oleh karena itu, jadilah manusia yang memiliki jati diri, berkarakter kuat dan cerdas.”

Pilar akhlak (moral) yang dimiliki (mengejawantah) dalam diri seseorang, sehingga ia menjadi orang yang berkarakter baik (good character), memiliki sikap jujur, sabar, rendah hati, tanggung jawab dan rasa hormat, yang tercermin dalam kesatuan organisasi pribadi yang harmonis dan dinamis. Tanpa nilai-nilai moral dasar (basic moral values) yang senantiasa mengejawantah dalam diri pribadi kapan dan di mana saja, orang dapat dipertanyakan kadar keimanan dan ketaqwaannya. Manusia yang berkarakter diharapkan mampu untuk : (1) Sadar sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sadar sebagai makhluk muncul ketika ia mampu memahami keberadaan dirinya, alam sekitar, dan Tuhan YME. Konsepsi ini dibangun dari nilai-nilai transendensi; (2) Cinta Tuhan. Orang yang sadar akan keberadaan Tuhan meyakini bahwa ia tidak dapat melakukan apapun tanpa kehendak Tuhan. Oleh karenanya memunculkan rasa cinta kepada Tuhan. Orang yang mencintai Tuhan akan menjalankan apapun perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; (3) Bermoral. Jujur, saling menghormati, tidak sombong, suka membantu, dll merupakan turunan dari manusia yang bermoral; (4) Bijaksana. Karakter ini muncul karena keluasan wawasan seseorang. Dengan keluasan wawasan, ia akan melihat banyaknya perbedaan yang mampu diambil sebagai kekuatan. Karakter bijaksana ini dapat terbentuk dari adanya penanaman nilai-nilai kebinekaan; (5) Pembelajar sejati. Untuk dapat memiliki wawasan yang luas, seseorang harus senantiasa belajar. Seorang pembelajar sejati pada dasarnya dimotivasi oleh adanya pemahaman akan luasnya ilmu Tuhan (nilai transendensi). Selain itu, dengan penanaman nilai-nilai kebinekaan ia akan semakin bersemangat untuk mengambil kekuatan dari sekian banyak perbedaan; (6) Mandiri. Karakter ini muncul dari penanaman nilai-nilai humanisasi dan liberasi. Dengan persamaan  subjek kehidupan maka ia tidak akan membenarkan adanya penindasan sesama manusia. Darinya, memunculkan sikap mandiahaman bahwa tiap manusia dan bangsa memiliki potensi dan samari sebagai bangsa; (7) Kontributif. Kontributif merupakan cermin seorang pemimpin.

Pendidikan dilaksanakan dari, untuk, dan oleh manusia, berisi hal-hal yang menyangkut perkembangan dan kehidupan manusia serta diselenggarakan dalam hubungan antar manusia itu sendiri. Prayitno (2010:44) mengungkapkan bahwa dalam sosok manusia mengandung tiga komponen dasar yaitu hakikat manusia, dimensi kemanusiaan, dan pancadaya kemanusiaan. Sosok kemanusiaan itu selanjutnya disebut sebagai harkat dan martabat Manusia (HMM).

Hakekat manusia menurut Prayitno (2010:44), ada lima unsur yang menegaskan bahwa manusia adalah ciptaan Allah dalam kondisi: (1) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa; (2) Diciptakan paling sempurna; (3) Berderajat paling tinggi; (4) Berstatus sebagai khalifah di muka bumi; (5) Menyandang hak asasi manusia.

Prayitno (2010: 45) mengungkapkan bahwa Dimensi  kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia terdiri dari 5 dimensi yaitu: (1) Dimensi kefitrahan, kata kunci kebenaran dan keluhuran; (2) Dimensi keindifidualan, dengan kata kunci potensi dan perbedaan; (3) Dimensi kesosialan, kata kunci komunikasi dan kebersamaan; (4) Dimensi kesusilaan, dengan kata kunci nilai dan moral; (5) Dimensi keberagamaan, kata kunci iman dan taqwa. Kesatuan kelima dimensi kemanusiaan ini dapat mewujudkan karakter – cerdas seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Panca kemanusiaan, sang pencipta memberikan perangkat  dasar potensi kemanusiaan yang disebut pancadaya. Pancadaya yang dimaksud adalah: (1) Daya taqwa; (2) Daya Cipta; (3) Daya rasa; (4) Daya Karsa; (5) dan Daya karya. Dengan lima daya tersebut manusia berkembang dalam budaya dan kemampuan kemanusiaannya. Melalui pengembangan kelima daya itu pula kehidupan yang berkarakter-cerdas ditumbuh-suburkan.

Tiga komponen dasar manusia seutuhnya sebagaimana telah diuraikan di atas dapat disarikan dengan rumusan lima- i, yaitu: (1) Iman dan taqwa meliputi kaidah agama; (2) Inisiatif berarti semangat, kemauan untuk memulai dan mencoba, berdaya upaya, pantang menyerah, untuk mencapai sesuatu yang berguna; (3) Industrius berarti bekerja keras, tekun, disiplin, produktif, pertimbangan nilai tambah, jujur, jiwa wira usaha; (4) Individu mencakup kualitas potensi, perbedaan kedirian individu dan kemandirian; (5) Interaksi mengandung makna keterkaitan individu yang satu dengan individu lainnya.

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN HOLISTIK

Pendidikan holistik membentuk manusia secara utuh (holistik) yang berkarakter yaitu mengembangkan aspek/potensi spiritual, potensi emosional, potensi intelektual (intelegensi & kreativitas), potensi sosial, dan potensi jasmani siswa secara optimal. Membangun karakter itu harus dimulai sedini mungkin, atau bahkan sejak dilahirkan, dan harus dilakukan secara terus menerus dan terfokus, Pendidikan holistik juga untuk membentuk manusia pembelajar sepanjang hayat yang sejati (life long learners). Di samping itu, pendidikan karakter juga mengembangkan semua potensi anak sehingga menjadi manusia seutuhnya. Dalam hal ini, perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademiknya maupun segi sosial dan emosinya. Pendidikan selama ini hanya memberi penekanan pada aspek akademik saja dan tidak mengembangkan aspek social, emosi, kreativitas, dan bahkan motorik. “Anak hanya dipersiapkan untuk dapat nilai bagus, namun mereka tidak dilatih untuk bisa hidup.

PENDIDIKAN HOLISTIK

Pendidikan Holistik memiliki ciri kurikulum sebagai berikut: (1) Spiritualitas adalah jantung dari setiap proses dan praktek pembelajaran; (2) Pembelajaran diarahkan agar siswa menyadari akan keunikan dirinya dengan segala potensinya. Mereka harus diajak untuk berhubungan dengan dirinya yang paling dalam (inner self, sehingga memahami eksistensi, otoritas, tapi sekaligus bergantung sepenuhnya kepada pencipta Nya; (3)  Pembelajaran tidak hanya mengembangkan cara berpikir analitis/linier tapi juga intuitif; (4) Pembelajaran berkewajiban menumbuhkembangkan potensi kecerdasan jamak (multiple intelligences); (5)  Pembelajaran berkewajiban menyadarkan siswa tentang keterkaitannya dengan komunitasnya, sehingga mereka tak boleh mengabaikan tradisi, budaya, kerjasama, hubungan manusiawi, serta pemenuhan kebutuhan yang tepat guna (jawa: nrimo ing pandum; anti konsumerisme); (6) Pembelajaran berkewajiban mengajak siswa untuk menyadari hubungannya dengan bumi dan “masyarakat” non manusia seperti hewan, tumbuhan, dan benda benda tak bernyawa (air, udara, tanah) sehingga mereka memiliki kesadaran ekologis; (7) Kurikulum berkewajiban memerhatikan hubungan antara berbagai pokok bahasan dalam tingkatan transdisipliner, sehingga hal itu akan lebih memberi makna kepada siswa; (8) Pembelajaran berkewajiban mengantarkan siswa untuk menyeimbangkan antara belajar individual dengan kelompok (kooperatif, kolaboratif, antara isi dengan proses, antara pengetahuan dengan imajinasi, antara rasional dengan intuisi, antara kuantitatif dengan kualitatif; (9) Pembelajaran adalah sesuatu yang tumbuh, menemukan, dan memperluas cakrawala; (10) Pembelajaran adalah sebuah proses kreatif dan artistik.

Urgensi Pendidikan holistik karena merupakan Kunci sukses dalam menghadapi tantangan berat dalam hidup itu terletak pada kualitas sumberdaya manusia (SDM) Indonesia yang handal dan berbudaya. Oleh karena itu perlu implementasi penyelenggaraan pendidikan holistik secara baik. Beberapa hal yang mendapat penekanan lebih dalam menerapkan model pendidikan karakter. Pertama, “Knowing the good. Untuk membentuk karakter, anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami mengapa perlu melakukan hal tersebut. “Selama ini banyak orang yang tahu bahwa ini baik dan itu buruk, namun mereka tidak tahu apa alasannya melakukan hal yang baik dan meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Jadi masih ada gap antara knowing dan acting,”. Berikut ini dapat diuraikan 9 Indikator pendidikan karakter yaitu : (1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya (love God, trust, reverence, loyalty); (2) Tanggung jawab Kedisiplinan dan Kemandirian (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness); (3) Kejujuran/Amanah dan Arif (trustworthines, honesty, and tactful); (4) Hormat dan Santun (respect, courtesy, obedience); (5) Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama (love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation, cooperation); (6) Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja keras (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determination, enthusiasm); (7) Kepemimpinan dan Keadilan (justice, fairness, mercy, leadership); (8) Baik dan Rendah Hati (kindness, friendliness, humility, modesty); (9) Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan; (tolerance, flexibility, peacefulness, unity)

 

FUNGSI DAN PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER MURID

Pendidik (guru) yang  profesional mempunyai tugas  utama yaitu:  (1) Mendidik; (2) Mengajar: (3) Membimbing;(4) Mengarahkan; (4) Melatih;  (5) Menilai dan mengevaluasi. Dalam mengemban tugas utama seorang guru yang profesional harus memiliki beberapa indikator yang berkarakter. Indikator yang berkarakter dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Memiliki Pengetahuan yang luas dan mengamalkannya dalam kehidupan  sehari-hari secara aktif; (2) Meningkatkan kualitas keilmuan secara berkelanjutan; (3) Zuhud dalam kehidupan, mengajar dan mendidik untuk mencari ridho Tuhan; (4) Bersih jasmani dan rohani; (5) Pemaaf, penyabar, dan jujur; (6) Berlaku adil terhadap peserta didik dan kepada semua stakeholders pendidikan (7) Mempunyai watak dan sifat robbaniyah yang tercermin dalam pola pikir, ucapan, dan tingkah laku; (8) Tegas bertindak, profesional, dan proporsional; (9) Tanggap terhadap berbagai kondisi  yang mungkin dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan, dan  pola pikir peserta didik; (10) Menumbuhkan kesadaran diri sebagai da’i.

Prayitno mengungkapkan lima pilar untuk belajar yaitu : (1) Belajar untuk mengetahui (learning to know); (2) Belajar untuk melakukan (learning to do); (3) Belajar untuk hidup bersama (learning to live together); (4) Belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be); (5) Belajar beriman dan bertaqwa (learning to beliaeve in God). Pilar yang yang dijelaskan di atas merupakan pilar yang di pegang teguh untuk menghasilkan manusia yang berguna, berkarakter,  tentunya dalam pencapaiannya menjadi usaha yang sinergi antara pendidik dan peserta didik. Bila pilar belajar ini diaktualisasikan menjadi prinsip dalam kepribadian peserta didik yang dikondisikan dengan baik oleh pendidik melalui proses pembelajaran dan penyampaian materi, kita yakin dan percaya karakter yang diharapkan itu dapat terwujudkan.

Penutup

Dalam Membentuk karakter melalui satuan pendidikan sebaiknya harus mendapatkan perhatian serius dari penyelenggara proses pembelajaran di berbagai satuan pendidikan. Berusaha semaksimal mungkin penerapanya melalui  merencanakan pengajaran, pelaksanakan pengajaran , penilai,  mengevaluasi, dan tindak lanjut. Tidak mengarah hanya bidang akademik tetapi seimbang dengan pembinaan dan pembentukan karakter calon pemimpin bangsa sehingga ketika menjadi sebagai pemimpin mampu berkarakter yang baik dan positif bagi orang lain atau lingkungannya.

Daftar pustaka

 

Majelis Luhur persatuan Taman siswa, 1961. Karja Ki Hadjar Dewantoro.Yogyakarta: Pertjetakan Taman Siswa.

Prayitno, 2009. Dasar  Teori dan Praktis Pendidikan. Jakarta: Grasindo Gramedia

Prayitno, 2010. Pendidikan karakter Dalam Membangun Bangsa Medan. Pasca Sarjana Unimed.

Peraturan Pemerintah No.23 Tahun 2006. Tentang Standar Lulusan. Kompetensi

Undang-undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistim Pendidikan Nasional.

Quari, 2010. Agama Nilai Utama Dalam Membangun Karakter Bangsa. Medan: Pasca sarjana Unimed.

Zainal, 2009. Menjadi Guru Profesional Berstandar Nasional. Bandung: Yrama Widya

Karakteristik Masyarakat Nias (5)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Karya Tulis, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Bahasa Daerah Nias

Bahasa Daerah Nias sangat unik. Sungguh beda dengan keseluruhan bahasa daerah lain di Indonesia, terutama karena kata-kata terdiri dari huruf-huruf vokal (huruf hidup). Tak kenal konsonan double, setiap kali selalu diantarai dengan huruf vokal (misal, bilang pastor jadi pasitoro). Tidak kenal konsonan pada akhir kata, tidak kenal huruf p (pendeta dibilang fandrita) dan sangat dominan huruf z, f, kh, ndr dan huruf ö. Mengenal huruf d yang keras (möido= aku pergi) dan lembut (tuada= kakek kita) begitu juga huruf w yang keras (Lahewa) dan w yang lembut (Bawalia). Sangat biasa kata terdiri dari kombinasi huruf vokal (ue= rotan dan u’u = kumur). Lidah orang Nias agak berat mengucapkan kombinasi huruf mb (seperti membimbing) dan kombinasi huruf nd (seperti pendidikan, mendidik). Dikenal tiga buah dialek: utara (agak lembut), selatan (agak keras-keras) dan tengah (terkenal dengan huruf cu maka bilang tuada jadi cuada). Aksen ada beberapa: aksen Lahewa (terkenal dengan gelombang suara), aksen Sirombu (terkenal dengan hendre), aksen Nias Tengah (terkenal dengan cu dan ine). Sundermann melihat kesulitan bagi orang asing menguasai bahasa Nias karena konjunksi kata (morfofonemik) yakni terjadinya pertukaran kata seperti teu ke deu (hujan) misalnya teu toho (hujan deras), tohare deu (datang hujan).

Perasaan, kepercayaan dan tradisi diungkapkan lewat: amaedola (peribahasa), hoho (mite), umanö (cerita), fo’ere (doa), maedo-maedo (umpama, misal), dahö-dahö (teka-teki), lailö dan ngenu-ngenu (ratapan hidup). Sifat syair-syair ini kental dengan paralelisme, ritme irama dan ulangan idomatik. Sambil omong dengan mengalir saja mereka menyelipkan peribahasa atau pepatah atau pemeo untuk mengungkapakan pendapatnya atau secara halus menolak pendapat orang lain. Ini memang menyulitkan orang luar bila berhadapan dengan orang desa.

8. Ragam Seni

Biasa dikatakan bahwa warga Nias musikal, suka nyanyi. Alat-alat musik yang sempat dikenal: aramba, göndra, faritia, fondrahi, tutu, lagia, doli-doli (bue, hagita), sigu, tabalia (koko), tutuhao, famaerua, tamburu, duri mbewe dan duri ahe. Lagu traditional yang diiringi gerakan tari: hiwö, maluaya, maena, tari moyo dll. Menurut Bapak Ama Yana Zebua melodi musik Nias bervariasi: lento-amoroso, allegro-animoso/brioso dan moderato-maestoso. Agaknya tersirat dalam lagu “TANÖ NIHA”, lagu pujaan masyarakat Nias. Kalau ada pesta nikah atau pesta gereja atau pesta massa, biasa ada acara maena yang mengekspresikan  kekompakan, menandakan kemeriahan dan memperkokoh identitas.

9. Masalah Sosio-Ekonomi: yang Tumbuh dari Dalam dan Luar

1).  Penghasilan / pendapatan secara umum tidak tetap (tergantung musim dan cuaca). Biaya sekolah, pengobatan, tambahan gizi dan rekeasi hampir tidak ada. Karena itu penciptaan lahan pekerjaan sangat mendesak.

2).  Jumlah anggota dalam keluarga rata-rata banyak (pertambahan penduduk di atas 2% per tahun).

3).  Infrastruktur (jalan-jembatan) yang minim sekali sehingga hasil bumi dan barang kebutuhan kebanyakan masih dipundak. Sudah lumayan pelebaran jalan raya yang dihotmix, berkat bantuan kemanusiaan warga dunia yang tersalur lewat BRR NAD Aceh-Nias sesudah bencana gempa. Sepanjang masa akan disyukuri kabaharuan ini.

4).  Hampir tidak ada pabrik apalagi industri yang menyerap tenaga kerja. Harap dalam 30 tahun mendatang akan ada tambang minyak dan tambang batubara.

5).  Kendala bahasa (kurang terbiasa berbahasa Indonesia apalagi Bahasa Eropa modern) menghambat pergaulan dan komunikasi dengan orang luar.

6).  Gampang konflik yang menghambat terobosan usaha dan ragam kegiatan.

7).  Cukup berakar alam pikir / mentalitas: salio (yang cepat), sebua (yang besar-besar), saoha (yang gampang), soroma (yang nampak, kasat mata), saro (yang kokoh). Ini pertanda kurang sabaran dan tanpa mau banyak capek.

8).  Pemborosan dalam pesta-pesta keluarga khususnya dalam pesta nikah dengan biaya tinggi dan juga untuk pesta pemakaman orangtua. Mungkin warga Nias yang terbanyak makan daging babi dalam hitungan bulan. Asal ada sedikit pesta, potong babi besar/kecil, atau minimal beli daging kilo. Daging ayam atau ikan tidak terhitung makanan bernilai adat.

9).  Penyakit yang menahun: malaria, asma/tbc, kematian anak lahir, hypertensi. kolestrol karena terlalu kerap konsumsi daging babi. Penyakit stroke akhir-akhir ini merata di mana-mana juga.

10).Kelewat melindungi kaum perempuan sehingga mereka sulit bergerak atau berkreativitas.

11).Pujian warga terhadap pendatang dari suku lain atau pendatang dari luar negeri: I’ila dödöda (tau keinginan kita, mau memberi dan menolong), I’ila lida (tahu bahasa kita), I’ila hada khöda (paham  adat kita), fahuwu ia khöda (bersahabat dengan kita), I’a göda (dia ikut makan bersama kita).

Penutup

Bulan di langit memang selalu punya sisi gelapnya, tak ada gading yang utuh sempurna, tapi syukurlah matahari kan bersinar besok dan untuk seterusnya. Mudah-mudahan untaian goresan budaya ini walau hanya sekilas pandang memompakan semangat dan tekad baru untuk berbakti di tengah warga yang jauh dari pusat keramaian dan dari pusat dunia. Tenaga kependidikan, teristimewa yang di bidang pastoral-kateketik (kegembalaan dan pembinaan iman) perlu mendalami basic values dan local condition warga setempat. Mereka dituntut menyadari power yang sudah ada, meminimalisasi weekness dan memanfaatkan peluang. Begitu akan terbentang hamparan panen yang akan dituai. Nias yang baru dan maju akan bisa terwujud berkat budi, hati dan tangan yang dibaharui.

Karakteristik Masyarakat Nias (4)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.


6. Ideal dan Karakteristik fisik, Psikologis dan Etik Masyarakat

Ø   Yang didambakan orang Nias dalam hidupnya ada 4 hal utama. Pertama mongaötö (berketurunan), kedua moharato (berkepunyaan), ketiga molakhömi (terpandang, agung) dan keempat tobali bawa (pengambil keputusan). Dalam acara adat, dimohonkan berkat seputar keempat komponen ini. Terkait dengan itu ada sejumlah ucapan pujian yang menyenangkan pribadi berdarah Nias: sindruhu ono namau ndraugö, ono fangali zatua, ono sangila ngaroro, ono götö-götö (sungguh anak penerus / pemenuh adat kebiasaan leluhur); atau pujian kepada desa: banua sato niha, banua solahkömi, ngaötö duha, banua safönu ba hada (kampung besar, agung dan pewaris adat).

Ø   Yang dielakkan: perendahan dan dipermalukan (abölö sökhi mate morai na aila(artinya baikan mati daripada malu) dan juga kalau dijadikan fotu (contoh berkelakuan buruk).

Ø Ciri-ciri fisik: rambut lurus, hidung agak pesek, bibir tipis, tulang pipi tidak menonjol, mata bulat tapi sejumlah orang agak sipit, tinggi badan sedang, warna kulit cerah dan bersih, berbadan tipis (sedikit saja yang gemuk-gemuk), tergolong atletis.

Ø   Sifat-sifat yang dominan: periang, hidup-hidup, lincah, suka pesta, nyanyi dan menari, cerdas, gampang bergaul, hobbi olahraga (sangat populer berolahraga bola volley), energik dan sangat tinggi harga diri.

Ø         Sifat umum lain yang cepat terlihat dan mengganggu: pemalu/penyegan, emosional, gampang meledak sampai adu kuat, omong berliku-tidak langsung, pandai bohong, gampang bersyak-wasangka dan cemburu, sangat melekat pada tahyul, perlente, keras kepala, suka bersaing, gampangan omong, angkuh dan  kurang ulet/gigih.

Karakteristik Masyarakat Nias (3)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Peran Perempuan

Masyarakat Nias menganut patrilineal, maka kaum prialah pewaris keturunnan dan harta warisan. Namun toh nampak peran istimewa wanita dalam adat kehidupan. Dalam pesta pernikahan misalnya di bagian Utara, kaum wanita membentuk kelompok adat dengan saling mangowai dan mame afo (acara sekapur sirih) dengan berbalas pantun dalam bentuk hendri-hendri. Di tiap desa akan selalu ada ina mbanua dan ere huhuo, seorang ibu yang dituakan dan mahir sebagai juru pantun. Kepada mereka ini akan dihidangkan makanan adat yang bernilai tinggi. Dalam pembicaan atau acara adat kaum perempuan diperkenankan untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Pada acara pernikahan mempelai wanita di utara diberi gelar adat keagungan (barasi atau balaki atau sa’usö). Menurut adat kuno si mempelai wanita akan ditandu dan dibawa ke rumah memplai pria. Di Selatan kaum perempuan harus diberi hak utama memakai inti jalan bila berpapasan. Ada kebiasaan bagi petugas pastoral, bila umat berencana ingin membangun gedung gereja, maka diupayakan mendengarkan suara dan pendapat kaum ibu sebab mereka yang akan lebih memberi hati dan dengan demikian harapan besar bangunan suci akan terwujud.

Keagamaan

Dulunya para leluhur menganut aliran kepercayaan animis dengan menjadikan patung leluhur sebagai medium pembawa berkat dan penyembuhan. Zending Protestan memulai misi evangelisasi pada tahun 1865 dan misionaris Gereja Katolik tiba tahun 1939. Praktis sejak tahun 1940 seluruh wilayah Nias telah menjadi penganut agama monoteis. Secara statistik yang beragama Kristen (Protestan dan Katolik) mencapai 96% selebihnya Islam dan Budha/Kongfucu. Tak heran bahwa di seluruh Nias bertebaran gereja-gereja besar kecil dan sejumlah ada yang bercorak rumah adat Nias. Gedung gereja sarana perhimpunan massa seakan-akan seperti rumah adat leluhur tempat bertemu sesama warga.

Macam-macam begu

Sekalipun telah menganut kepercayaan kepada Allah Yang Mahaesa (hampir 150 tahun), namun masyarakat masih dihantui ketakutan kepada begu-begu seperti bekhu zimate (begu dari orang meninggal), bekhu lauru dan bekhu gafore (pengatur takaran), bekhu hogu geu (begu pepohonan) dan bekhu gurifö (begu ternak). Warga juga masih takut kepada bekhu nadaoya, bekhu narödanö (penyangga bumi), bekhu bauwadanö si penyebab gempa dan takut kepada roh-roh leluhur. Sedangkan afökha kekuatan jahat dianggap sangat mengganggu dan merusak kehidupan manusia dan harus dihadapi terus-menerus.

Konstruksi masing-masing pribadi manusia

Menurut konsep kuno manusia terdiri dari boto (tubuh), noso (roh), eheha (buih berbusa saat meninggal), lumö-lumö (bayangan sesudah mati), bekhu (roh dari alam kematian), dan mökö-mökö (sisa jasad dalam makam).

  1. 1. Cosmogony

Kami urutkan beberapa versi perihal terciptanya cosmos (alam semesta) khususnya pulau Nias sendiri.

A). Myte Asal Muasal Dunia

Ø     Menurut catatan misionaris Jerman Thomas, suku Nias beranggapan bahwa dunia ini terdiri dari 9 lapis, yang ada satu sesudah yang lain. Pada lapisan kedelapan (di atas bumi ini) ada negeri bernama Teteholi Ana’a (Chatelin: 1881). Sang penguasanya adalah Sirao. Karena kepadatan penduduk dan di sana-sini mulai longsor, maka Sirao memerintahkan Hadiduli dan kemudian Silauma untuk menciptakan globe baru dari anasir angin dan rumput dll. Maka terjadilah bumi, tempat hidup manusia. Pada dasar globe ini melingkar cincin besar yang berubah menjadi ular raksasa berkat mantra-mantra dari sang menantu Silusi atau Silewe Nazarata.

Ø     Menurut S.W. Mendröfa, pada awalnya hanya ada Sihai yang bermukim di Tanö Nihae-hae nangi (1981). Tempat itu selalu terang benderang walaupun tidak ada matahari atau bulan dan bintang-bintang. Tempat itu tidak mengenal kematian. Suatu saat Sihai mempertemukan angin yang berjenis-jenis maka muncullah butiran sebesar biji jagung. Dari itu dia ciptakan manusia bernama Sitahu. Butiran itu seterusnya diberi kepada Sitahu yang menciptakan globe tertingi yakni lapis yang kesembilan. Begitu seterusnya dari butiran yang sama dia ciptakan globe kedelapan, ketujuh hingga yang pertama. Globe di atas bumi ini dinamai Teteholi di mana terdapat gunung Hili Maruge dan sungai Idanö Zea dengan  9 anak sungainya. Segumpal tanah dari Teteholi diambil oleh sang Sihai dan diciptaknnya globe bumi ini melalui asistennya Silauma. Kemudian asisten Sitahu diminta mengambil butiran angin lagi dan menanam di bumi pohon feto (sejenis palma). Tumbuh tunas baru dan terjadilah nadaoya, sang roh kejahatan penyebab penyakit. Barulah kemudian dari butiran yang sama tercipta air, api, matahari, ikan, binatang-binatang, burung-burung, pepohonan, bijian, umbian dan barang tembaga.

  • Menurut S. Zebua, Lowalangi atau Soaya mempertemukan angin di tempat tersembunyi di mana belum ada pemukiman manusia. Dari pertemuan itu muncullah butiran yang bertambah besar dan menjadi sebidang tanah, di atasnya didirikan rumah sembahyang. Kemudian berkembang terus dan akhirnya tercipta bumi ini (Zebua: sine data).

B. Sejumlah Legenda Asal Muasal Manusia

Koleksi Chatelin

Sirao di Teteholi Ana’a (dunia atas) berputra 9 orang. Siapa bakal pewaris dunia atas, ditentukan lewat pelombaan ketangkasan memanjat sebilah lembing yang ditancapkan di halaman. Yang mampu memanjat hingga ke pucuk dan bertengger di atasnya seumpawa seekor ayam jago dialah sang pewaris. Yang berjaya adalah si bungsu Luomewona, maka para saudaranya harus turun ke bumi, yakni:

Ø Bauwadanö menjadi penghuni dasar bumi

Ø     Sorogae menjadi pilar  bumi

Ø     Tuha Sangaröfa  menghuni dasar laut

Ø     Hia diturunkan di Mazingö (Gomo) bersama rumah adat yang sungguh berat

Ø     Gözö turun ke Nias bagian utara bersama Sawae

Ø     Daeli ke Idanoi bersama batu pengasah dan daun ubi jalar

Ø     Hulu Sebua ke barat sungai Oyo

Ø     Börönadu ke selatan menjadi cikal bakal kaum imam (ere)

Versi S.W. Mendröfa

Ø     Hia diturunkan di Mazingö Gomo

Ø     Gözö ke utara

Ø     Hulu ke Laehuwa

Ø     Daeli ke Laraga

Ø     Cucu Luomewöna ke Daso Noyo

Koleksi Johannes Hämmerle

Ø         Salawa Holia di Teteholi Ana’a berputra 3 orang yakni Hia, Gözö dan Ho. Hia berputra 9 orang di antaranya bernama Zedawa. Zedawa berputra 6 orang di antaranya bernama Mölö. Mölö berputra 5 orang yakni: Fau, Tachi, Boto, Maha dan Hondrö, yang menjadi moyang warga Nias daerah Selatan dan sekitarnya (Hämmerle: 1986

Karakteristik Masyarakat Nias (2)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

  1. 1. Sejarah dan Asal-usul

Elio Modigliani, antropolog/etnolog Italia dalam bukunya Un Viaggio a Nias (1890) menghimpun sejumlah catatan sejarah tentang Nias yang tertulis dalam manuskript pedagang Persia seperti Sulayman (thn 852 AD), Adjaib (thn 900-950 AD), Edris (thn 1154) dan Rashid ad Din (thn 1310 AD). Dalam catatan mereka tercatat nama Nias terutama dalam tulisan Edris. Nias muncul pertama kali dalam peta pada tahun 1610. Kontak dagang terjadi dengan Belanda (thn 1669), dengan Inggris (thn 1750) dengan Perancis (1809). Besar kemungkinan Thomas Stamfod Raffles telah mengunjungi Nias pada tahun 1820, yang berjuang untuk melarang perdagangan budak yang ternyata tidak berkenan di hati pemerintah Inggris.

Perihal asal-usul

  • Modigliani berkesimpulan bahwa etnis Nias berasal dari pantai Malabar di India Selatan (suku Koraver = Kurumber = Korawa) dengan ciri-ciri menanam padi, berburu, memahat kayu dan berperawakan Malesoid.

Ø   Kleiweg de Zwaan, antropolog Belanda melalui investigasi fisiognomik (1914) berpendapat bahwa etnis Nias tidaklah homogen tetapi terdiri unsur-unsur etnik yang bervarian. Ia membedakan utara dan selatan dan kombinasi lain. Dengan mengukur tinggi badan dari 1295 orang maka rata-rata tinggi badan 154.73 cm.  Dengan meneliti tengkorak-tengkorak beliau menyimpulkan bahwa etnis Nias termasuk Proto-Melayu.

Ø   F.M. Schnitger (1938) dengan meneliti batu-batu megalit dan arsitektur  menyimpulkan bahwa  etnis Nias berasal dari Nagas di Assam (lembah Irrawady). Menurut beliau orang-orang Nagas, Nias, Dayak, Philippinos dan Formosa adalah satu rumpun besar. Tentang batu-batu tugu di Nias Schnitger berkesimpulan “the megalith culture of Nias, however, came from Burma”. Agaknya leluhur bertolak dari India Selatan, baru menetap di Birma dan kemudian mencari pemukiman baru lagi. Sejumlah tiba dan menghuni pulau Nias.

  1. 2. Corak Hidup Masyarakat

Masyarakat Nias hidup dari bercocok tanam dan beternak. Jenis tanaman umum: padi, ubi, pisang, talas, sagu dan jagung dan ragam jenis sayuran seperti bayam, kangkung, kecipir dan kacang panjang. Hasil bumi utama karet, kopra, coklat, pisang, pinang, pala dan nilam. Ternak kesayangan utama adalah babi, ayam dan sejumlah kecil yang beternak kambing dan lembu. Hidangan adat adalah daging babi yang dimasak dengan merebus dan dihidangkan keseluruhan bagian (lambang kesempurnaan, ketulusan dan keutuhan). Mereka yang sekitar pantai hidup dari hasil tangkapan ikan dalam jumlah kecil. Buah-buahan yang populer: durian, langsat, manggis, rambutan, kuaeni, mangga, marpala dan kedondong. Durian Nias disanjung karna lebih manis dan lezat. Yang lebih top adalah “duria balaki”, dagingnya kuning dan tebal, berbiji kecil. Minuman lokal beralkol adalah tuak dari pohon kelapa dan aren. Agak khas tuak Gunngsitoli berwarna kemerahan karena raru dari kulit batang durian. Bila tuak mentah dididihkan maka akan dihasilkan arak yang dinamai tuo nifarö yang bisa membuat seseorang sesaat high. Jenis kayu-kayuan lumayan banyak yang dipakai untuk kebutuhan papan. Orang Nias berupaya sangat agar rumahnya dibangun oleh tukang yang pandai. Tentang kemahiran bertukang kayu, W. Marsden menulis (1811): “This people are remarkable for their docility and expertness in handycraft work, and become excellent house-carpenters and joiners …” Aktivitas lain adalah pandai emas, pandai besi, membuat anyaman dan berburu. Dalam bercocok tanam, membangun rumah dan pekerjaan lain, warga Nias sangat peduli pada sejumlah tabu pertanda sifat takluk pada tahyul-tahyul. Misalnya, mendirikan tiang-tiang rumah haruslah di pagi subuh. Peralatan pertanian sungguh sangat sederhana, bekerja lebih banyak dengan parang dan kampak. Mencangkul dan membajak kurang dikenal. Corak hidup ini menyebabkan masyarakat sangat melekat pada bidang tanah warisannya.

Magistra, Jurnal Pendidikan Pastoral-Kateketik, Tahun I, No.I, Juni 2009
  1. 3. Organisasi Sosio-politik dan Relasi Sosial

Ø   Masyarakat Nias tidak mengenal raja atau sultan dan tidak mengenal kerajaan. Hidup warga pada dasarnya diatur dalam lingkup banua (kampung/desa) dan dalam lingkup öri (federasi kampung). Adat-istiadat dalam hal pesta dan acara kematian telah ditata dalam hukum fondrakö=famadaya saembu antar beberapa öri (negeri). Menurut S.W. Mendröfa, fondrakö memuat norma untuk mencapai kepenuhan hidup yang terdiri 5 hal pokok (1981): amonita (terkait dengan bakti sembah dan pantang), fokhö fo’ölö (terkait dengan harta milik), hao-hao (perilaku yang terpuji), fowanua (cara berkomunitas dalam kampung) dan böwö masi-masi (terkait dengan anak dan orang berkesusahan). Sesudah kemerdekaan mulailah diterapkan sistim pemerintahan Negara Republik Indonesia yang kita kenal sekarang walikota, bupati, camat, kepala desa, sekretaris desa lengkap dengan badan yudikatip dan legislatip. Kalau dulunya yang dikenal di Utara adalah tuhenöri dan salawa bersama satua mbanua, kalau di Selatan dikenal istilah tuhenöri, siulu dan siila mbanua. Jabatan ini diperoleh karena keturunan dan prestasi adat.

Ø   Kesatuan terkecil warga adalah rumahtangga (ngambatö), yang membentuk keluarga inti (sifatalifusö), dan menghimpun diri menjadi (banua) dan federasi banua adalah negeri (öri). Masing-masing punya marga (sampai 300 marga) tapi marga kurang berperan dibanding dengan banua. Di antara se marga boleh menikah asal tidak dekat hubungan darah. Dalam berelasi, saat ketemu satu sama lain saling menyapa (ya’ahowu atau yaugö a) kemudian berjabat tangan (fatabe) dan bertukar sirih atau rokok (yae nafo, yae rokoda). Orang yang sudah berkeluarga diberi nama panggilan, misalnya Ama Zaroli atau Ina Roi. Sapaan ramah dan lembut antar satu sama lain terungkap dengan sapaan Bapak Ama Zaroli atau ibu Ina Roi. Cara ini termasuk sikap hormat atau fasumangeta.

Ø   Rumah adat Nias terbagi dalam 3 type: utara (oval), tengah (segiempat) dan selatan (segi empat yang berderet-deret). Tiang rumah relatip tinggi-tinggi terdiri dari pilar vertikal dan horizontal. Lantai luas selalu punya bangku yang lengket ke dinding dan atap menjulang tinggi ke atas beratap rumbia berlapis dua. Banyak penelitian mencengangkan tentang konstruksi rumah adat Nias baik dari keharmonisan, fungsi dan hygienisnya. Tapi tentu juga tergambarkan konsep mereka tentang dunia: bawah, tengah dan dunia atas yang sangat agung (Viaro: 1984). Rumusan Viaro: “All of them have a vertical tri-partition: infrastucture, domestic nucleus and superstructure.” Karna curah hujan banyak dan merajanya malaria serta kelembaban yang tinggi maka rumah kediaman diberdirikan di atas bukit atau di tempat ketinggian. Atap tinggi dan tajam agar air hujan turun mengalir dan sekurang-kurang punya 3 ventilasi di atap (bisa diturun-naikkan) agar cahaya matahari masuk ke seluruh sudut rumah. Lantai dan dinding rumah dari kayu pilihan yang ditata dengan rapi. Rumah-rumah adat Nias sangat cocok sebagai tempat pertemuan massa dan persidangan desa. Tiang-tiangnya sangat cocok menyangga beratnya rumah dan rupanya sesuai sekali untuk anti kegempaan. Pertingkatan dalam masyarakat memang terasa ada terutama di selatan antara keluarga siulu (bangsawan) dan sato (orang kebanyakan).

Karakteristik Masyarakat Nias (1)

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

SEKILAS TINJAUAN BUDAYA

Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.

Hantaran

Topik ini ramuan dari ragam tulisan, didukung juga oleh pengalaman dan pengamatan pibadi. Diperkaya dengan informasi-informasi lewat perjumpaan dengan banyak pihak selagi menjalankan tugas pastoral. Buah pemikiran ini tidak berdasar pada kajian yang spesifik ilmiah antropologis-etnologis, sehingga sungguh terbuka bagi pengembangan dan penafsiran yang mungkin berbeda. (Artikel ini penah dipresentasikan  dalam Rafe Hada II UNORC {United Nations Office of the Recovery Coordinator} Jumat tgl 30 Nopember 2007 di Museum Pusaka Nias Gunungsitoli).

Faktor-Faktor Pembentuk Budaya, Nilai-Nilai
dan Karakteristik Masyarakat
Nias

  1. 1. Letak Geografis Pulau Nias

Pulau Nias dan kepulauan sekitarnya terpisah dari daratan besar Pulau Sumatera berjarak sekitar 80 mil atau 120 km. Terletak di pantai barat Sumatera. Panjangnya k.l. 140 km dan lebar 40 km. Berstruktur pegunungan yang sambung-menyambung dengan aliran-aliran sungai besar-kecil yang sangat banyak. Curah hujan sangat tinggi mencapai 17 hari hujan dalam sebulan akibatnya juga kelembaban udara tinggi. Letak geografis ini menjadikan Nias ujung terjauh di pantai barat, dilihat dari pusat pemerintahan Negara Republik Indonesia di Jakarta dan dari ibukota Provinsi Sumatera Utara di Medan. Letak geografis inilah faktor penyebab masayarakat Nias sering luput dari perhatian pusat dan dari pemerintah propinsi Sumatra Utara. Untung saja ada hombo batu (atraksi loncat batu) dan lomba bersilancar, dan untung ada Museum Pusaka Nias, yang punya andil besar mempopulerkan Nias ke manca negara. Realisasi ketiga daerah otonom baru (Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias Utara dan Kabupaten Nias Barat, Mei 2009) membuka peluang percepatan pertumbuhan transportasi, kegiatan ekonomi rakyat dan pelayanan publik. Pantas disyukuri pengertian dan dukungan pemerintah pusat dan usaha keras Bupati kabupaten induk.

Bencana gempa (28 Maret 2005 dengan kekuatan 8.7 skala Richter) membuat Nias menjadi berita dunia hingga di bangku kuliah di Eckersly School Oxford, Inggris. Korban nyawa 846 orang dan hampir dua-pertiga gedung sekolah / kantor dan rumah penduduk begitu juga jalan dan jembatan anjlok dan ambruk.

Karena kebanyakan wilayahnya bergunung-gunung sungguh sangat terbatas jumlah jalan raya dan sungguh sulit transportasi. Banyak jalan sempit dan berliku-liku. Yang terbilang daerah datar hanyalah sekitar daerah pantai yang tidak seberapa luas. Faktor ini penyebab pulau Nias agak sulit dicapai dari pebagai penjuru, minim kontak dengan dunia luar yang  menyebabkan masyarakat agak tertutup dan tebilang tertinggal dalam banyak hal. Biaya transportasi dan komunikasi di kelima wilayah kabupaten/kota (Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat dan Kota Gunungsitoli) sungguh sangat mahal.

Kata Sambutan Ketua STP Dian Mandala

July 10, 2009 by  
Filed under Artikel, Buletin, Magistra

Sebagai Perguruan Tinggi yang otonom, SEKOLAH TINGGI PASTORAL (STP) DIAN MANDALA GUNUNGSITOLI, KEUSKUPAN SIBOLGA disahkan pada tgl 13 Agustus 2008. Momentum itu telah dimeriahkan dan disyukuri dalam Perayaan Ekaristi Mahakudus pada tgl 26 bulan yang sama. Proses kelahirannya berjalan sangat mulus.

Selaku unit pendidikan tinggi dengan jenjang Strata 1 (S-1), maka Dian Mandala tanpa menunda ingin menunjukkan jati dirinya dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dalam rangka perwujudan diri diterbitkanlah Jurnal Pendidikan Pastoral-Kateketik. Diberi nama “MAGISTRA.”  Kata Latin magister/magistra berarti guru. Dalam hati terkandung harapan bahwa sekolah keagamaan STP Dian Mandala ini akan sungguh dialami sebagai guru yang menggembirakan dan menakjubkan. Seluruh perangkatnya baik visi-misinya, tata pamong, sistim pengayoman dan pengelolaannya, fasilitas, kurikulum, sistim informasi, suasana akademiknya, dukungan dari Pemda Nias dan Ditjen Bimas Katolik Depag RI, dan terlebih dosen-dosennya berdaya “mengkristalkan kegembiraan dalam belajar dan kebersamaan” (Educare, Mei 2009, hlm. 49).

Magistra ini akan terbit 2 kali setahun. Sebagai jurnal pendidikan pastoral-kateketik maka muatannya berkisar pada hal-hal ilahi, manusiawi dan kegerejaan. Pastoral punya karakter penggembalaan dan kateketik berfokus pada pewartaan yang bergaung dalam relung jiwa setiap insan ciptaan Sang Ilahi. Melalui aktivitas ini Gereja semakin berakar dan berkembang dan semakin dipersatukan dengan Kristus (LG art. 3).

Kita mohonkan curahan rahmat untuk segenap pengasuh jurnal ini sehingga tidak akan henti menyajikan dan mencerahi kita dengan untaian ide dan pandangan, yang mengingatkan kita akan Allah, diri manusia dan dunia sekitar kita. Sebab di dunia ini kita terpanggil memelihara martabat kita sebagai anak-anak terang (Luk.16:8).

Untuk melukiskan peranserta masing-masing dalam menyangga suatu karya agung, leluhur kita di Nias telah merumuskan kata-kata mutiara unik ini untuk kita: “Andrõ wa so gehomo, andrõ wa so ndriwa, tundrehera nawõra, fa lõ a’ozu aso’a.” Berkat tiang-tiang vertikal dan horizontal sebagai penyangganya, maka rumah adat tidak akan pernah rebah. Penyangga utama Magistra adalah kita semua murid Kristus, Sang Guru Kehidupan umat manusia.

(Pastor Dr. U. Marinus Telaumbanua OFMCap.)

Dosen

July 7, 2009 by  
Filed under Magistra

Ketenagaan DOSEN

TAHUN

Dosen Tetap

Jumlah

Dosen Tidak Tetap

Jumlah

Total

S1

S2

S3

S1

S2

S3

2008

5

1

1

7

14

3

-

17

24

2009

5

1

1

7

14

3

-

17

24

2010

4

3

1

8

13

5

-

18

24

2011

4

3

1

8

13

5

-

18

26

2012

3

4

1

8

13

5

-

18

26

2013

3

5

1

9

13

5

-

18

27

TENAGA ADMINISTRASI

Tahun

Pegawai

Jumlah

Tetap

Tidak Tetap

2008

1

2

3

2009

2

3

5

2010

3

3

6

2011

3

4

7

2012

3

4

7

2013

3

4

7